Senin, 28 Oktober 2019

Ubud Writers and Readers Festival, 23-27 Oct 2019



Berpuluh tahun menggelar kegiatan Ubud Writers and Readers Festival, telah memperlihatkan sinergi berbagai pihak dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Bukan berarti di dalamnya tidak terdapat pertarungan kekuasaan, pergulatan perjalanan panjang dari penyusunan perencanaan, operasional kegiatan yang menyita perhatian, serta evaluasi tindakan yang berulangkali dilakukan, agar dapat dijadikan pelajaran dan pengalaman mengurangi kegagalan atau kekecewaan berbagai pihak.


Tidak ada gading yang tidak retak, inilah perwujudan kolaborasi dunia seni dan budaya, harmoni di antara penguasa dan pengusaha, pencipta dan pemelihara seni itu sendiri, penerus serta penikmat seni yang akan menghadirkannya lagi, kembali dan kembali, dalam berbagai ruang dan waktu. Sehingga akan senantiasa lahir berjuta karya seni, ribuan kegiatan terkait budaya, tidak hanya Ubud Writers and Readers Festival, tidak hanya di Ubud, berwujud pencipta karya, pelestari budaya, pengembang budaya, pencinta dan penikmat budaya, penutur dan penjual budaya, yang mampu mengemas budaya sedemikian menarik, mengikuti selera jaman, tanpa mengabaikan spirit maupun taksu dari budaya itu sendiri.



Pembelajaran dan pengalaman sekian lama akan membuat berbagai pihak kian dewasa dan bijak dalam penyelenggaraan berbagai event selanjutnya. Bagaimana partisipasi masyarakat setempat dalam perencanaan awal harus didukung penuh oleh jaringan komunikasi dan teknologi informasi yang baik dengan berbagai pihak. Kesiapan sumber daya manusia dalam melestarikan unsur-unsur budaya local genius wisdom, mengembangkan dengan selera kekinian yang disertai upaya mengemas berbagai paket menarik, banyaknya alternatif pilihan kegiatan tanpa mengurangi fokus dan makna dari kegiatan itu sendiri. Hal ini yang membuat Ubud Writers and Readers Festival mampu bertahan hingga tahun ke 16 dari kegiatan mereka, dan dengan tekad serta harapan masih akan terus berjalan hingga ber puluh tahun lamanya. 


Dunia Baca Tulis tidak hanya terkait dengan puisi dan novel absurd belaka, di sekelilingnya juga terdapat budaya, kecanggihan teknologi, jejaring pemasaran dan penjualan, interaksi yang terjalin, pada kalangan wisatawan, generasi berbeda dengan arus genre bermacam pula, kajian sejarah sastra se kaliber dunia, wisata alam yang menaungi, pengenalan beragam topik bahasan sebagai pelampiasan hasrat dan semangat jiwa yang ingin tersalurkan. Maka, inilah implikasi Ubud Writers and Readers dalam hajatan yang melibatkan berpuluh negara, lebih dari 30 negara yang ada di dunia, baik penguasa maupun pengusaha negara tersebut, sastrawan, budayawan, ilmuwan, kaum teknokrat.
Seperti yang dikemukakan oleh Laksmi Pamuntjak sang koki dan juga penulis beberapa buku terkenal, yang akan berulang tahun ke 49 bulan Desember ini. Dia menyampaikan bahwa ajang diskusi seni dan budaya semacam ini akan membuat kita semakin terbuka, semakin termotivasi untuk berkarya secara kreatif, berpikir yang out of the box, siap terhadap kritikan orang lain. 


Chef ternama, Bara Raoul Pattiradjawane (55 th), menjelaskan bahwa terdapat banyak konsep dan ide yang ada pada setiap buah karya manusia, entah itu makanan, filosofi yang terkandung di dalamnya. Berbagai daerah memiliki kearifan lokal masing-masing, setiap orang memiliki keunikan sendiri, dan disaat mereka bertemu, mungkin saja terjadi benturan, ketidakcocokan. Ubud Writers and Readers Festival ini mempertemukan banyak pihak dalam serangkaian diskusi berkepanjangan, dengan didukung berbagai riset yang memadai, membuka ruang pameran untuk berkarya dan menyajikan  produk masing-masing akan membawa kita semua pada beragam informasi terkini yang sifatnya lintas budaya.


Maka, jadilah diskusi berkepanjangan kami mengenai perjalanan sejarah, saksi hidup dan perjuangan mereka dalam beragam buah karya, entah itu berupa cinema, film screening, beragam asesoris dari berbagai komunitas masyarakat dan budaya, art culinary, art exhibition, art performance, para jurnalis, kaum muda dan juga lansia, kanak-kanak, para pencinta seni dan kaum budayawan, para kritikus hingga para penjaja atau pengusaha jitu bertemu menjadi satu. Lima hari terlalu singkat, namun memiliki kesan mendalam, mampu menjadi ajang interaksi berkepanjangan, bagi sebuah peluang melahirkan banyak rencana ke depannya, terkait sastra, seni, desain dan pertunjukan.


Stigma dimana festival mampu menjadi ajang yang tidak hanya sekedar workshop, diskusi panel dan ruang ekspresi karya seni ini yang dibangun oleh Ubud Writers and Readers Festival. Namun juga membangun persahabatan, mengembangkan jejaring komunikasi, membentuk persaudaraan, melahirkan kritik yang membangun, saling memotivasi satu sama lain dalam melahirkan banyak karya kreatif dan produktif. Suatu destinasi yang fantastik dan berlangsung secara terus menerus dalam membangun kepedulian kita bersama terhadap lingkungan juga masyarakat yang ada di sekelilingnya.


Minggu, 27 Oktober 2019

Maladjustment, Pameran Seni, UWRF2019, Kubisme dan Dekonstruksi



Stigma keindahan memiliki ambang batas absurd yang berbeda dalam diri masing-masing kita. Tampilan indah dan cantik merupakan suatu meta narasi tiada henti yang selalu mengalir untuk dikupas berkali-kali. Hal ini yang ingin ditampilkan oleh Ubud Writers and Readers Festival. Dan, salah satu event yang digelar terkait Ubud Writers and Readers Festival adalah Pameran Seni Rupa di Museum Neka, berlangsung dari tanggal 26 Oktober hingga 25 November 2019.

Setelah enam belas kali menggelar event ini, ajang bergengsi ini mampu tampil menarik sesuai rangkaian pengalaman dalam menangani dan melibatkan berbagai pihak, dari berbagai penjuru dunia. Terbukti dari 180 an lebih para pakar penulis yang berafiliasi, dengan 30 an Negara yang terlibat dalam penyelenggaraannya, panitia Ubud Writers and Readers Festival mampu mengemas beragam kegiatan yang memancing gairah semangat eksotik dari berbagai pihak yang terlibat. 


Maladjustment yang berlangsung di Museum Neka dan dibuka pada hari Sabtu, 26 Oktober, memperlihatkan keindahan absurd perupa perempuan yang terlibat di dalamnya. Inilah pembongkaran makna yang telah berlaku di tengah masyarakat selama ini. Betapa, pembalut perempuan yang dipergunakan saat menstruasi justru ditampilkan sebagai latar dari karya Arahmaiani. Terdapat lebih dari enam ratus pembalut di sekeliling karyanya, menjadi latar buah seni, dengan dihiasi lampu sorot yang membuat seolah karya tersebut berada di tengah hamparan busa indah nan empuk.


“Saya ingin menampilkan keindahan karya bagi saya. Hal yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan, dibahas terbuka, justru bisa tampil vulgar. Ratusan pembalut hadir disini, dihiasi cahaya yang membuatnya tampil menarik dan eksotik”, ujar Arahmaiani saat diwawancarai, 26 Oktober 2019.



IGAK Murniasih menampilkan lukisan bagian belakang tubuh, dengan pola tubuh perempuan yang seolah membelakangi penikmat karyanya, menungging, sehingga bagian pantat tergambar dalam pola tersebut. ”Murniasih sudah berada di langit biru, namun mendapat tempat tersendiri bagi para penikmat karyanya. Inilah gambaran kepolosan, cermin keluguan dari kita semua, yang menolak wajah berpura-pura”. Ujar JMK Pande Wayan Suteja Neka saat diminta pendapatnya.

Kita terkadang berpura-pura, berlaku munafik, mengabaikan penyimpangan yang terjadi di sekeliling kita, bahkan pada diri kita sebagai pelakunya. Bahasa simbolik ini yang dibongkar ulang, di dekonstruksi oleh para perupa perempuan ini, bahwa bagian intim tubuh kita yang terlarang untuk dibahas secara terbuka, sesungguhnya bisa tampil apa adanya, menyeruak keluar, meski tidak diakui, terlarang dan tabu untuk dibahas secara terbuka, namun ada, tumbuh berkembang di tengah masyarakat. 

“Beranikah anda membahasnya? Menyuarakannya ? menyatakan secara terbuka, tanpa berlaku munafik dan menutup mata terhadap hal ini ? meski terkadang menyakitkan, memalukan, namun persepsi ini, perasaan ini, ada, tumbuh, mengalir, meski dalam diam, bukan? Ini esensi dari aliran kubisme“. Ujar I Gusti Agung Ngurah Kresna Kepakisan menyampaikan kupasan nya terkait pameran yang berlangsung tersebut. 



Inilah aliran Kubisme sebagai suatu gerakan seni avant – garde abad ke 20 yang dirintis Pablo Picasso dan Georges Braque. Dan aliran Kubisme ini merupakan suatu gerakan seni yang membuat revolusi di dalam karya seni, sebagai upaya menciptakan bentuk-bentuk abstrak dari berbagai benda tiga dimensi ke media lukis dua dimensi. Aliran ini telah membongkar habis suatu pakem yang berlaku selama ini, bahwa seni lukis hanya wadah karya dua dimensi belaka. Aliran ini juga telah membuat shock dunia luas, karena dengan telak telah menampar wajah kita semua, membongkar beragam hal tabu dan tidak mungkin dinikmati dalam karya seni sesuai kriteria yang berlaku selama ini.

Ada yang menarik ketika menatap karya Mary Lou Pavlovic. Sosok perempuan pada karyanya, berbalut kain berwarna merah, biru dan putih, dan terdapat tulisan liar !, Pembohong !. warna merah, biru dan putih ini mengingatkan kita pada bendera Belanda, yang serupa dengan bendera Rusia, juga Perancis.  Ada apa di sebalik simbol warna tersebut ?, siapa yang dicapnya sebagai pembohong ?, apa pergulatan yang ingin ditampilkan oleh Mary Lou ini ? Siapa sasaran buah karya nya ? Begitu banyak tanda tanya, begitu banyak persepsi yang bergantung di dada. Terkadang kita gampang menghakimi orang lain dengan berbagai stigma, tuduhan, yang berdasar dari persepsi dan rasa, tanpa menyelami makna di dalamnya.

Ketiga perupa ini telah menyajikan karya yang membuat pencinta seni harus mengernyitkan alis dengan dalam, membongkar makna keindahan yang berlaku tentang tubuh wanita, mendekonstruksi karya seni berdasar persepsi yang diharapkan tercipta, dan kemudian menghancurkan batas tabu serta ruang semu dalam bahasan di ruang publik. Ini lah aliran yang tampil apa adanya, menyeruak daya nikmat dalam diri, bahwa langit tak selalu biru, bahwa bokong tak selalu harus tertutupi dan ditempatkan di bawah, mempermainkan dan memporakporandakan batas norma yang berlaku sepanjang waktu…….

Dari STPNDB ke Poltekpar Bali



Martin Luther King Jr. Aktivis HAM AS pernah berkata, “Jika anda bisa membuat orang lain tertawa, anda akan mendapatkan semua cinta yang anda inginkan”….. Maka, mari tertawa bersama, menebar kebaikan dan kebahagiaan di sekeliling kita.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, sudah tentu Poltekpar Bali mengalami banyak peristiwa juga, baik suka dan duka, bersama-sama dalam segala perjuangan, baik diantara para pegawai, dosen, mahasiswa. Tidak melulu tercapainya juara dan jawara, prestasi dan kompetensi yang diharapkan. 

Perkembangan lembaga ini mengawali sejarahnya pada tahun 1972. Sebagai suatu upaya mengantisipasi perkembangan kepariwisataan Bali, Pemerintah Indonesia melakukan kerjasama dengan UNDP dan ILO melaksanakan studi kelayakan. Salah satu output studi tersebut adalah rekomendasi untuk membangun lembaga pendidikan dan pelatihan perhotelan dan kepariwisataan yang mampu menghasilkan SDM Pariwisata yang profesional. Sebagai tindak lanjut dari rekomendasi studi tersebut, maka di bentuk Pusat Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata Bali (P4B) yang ide pembangunannya dicetuskan pada tanggal 25 Januari 1975.
Secara historis, hingga saat ini STP Nusa Dua Bali telah mengalami beberapa perubahan dalam hal pucuk pimpinan, lokasi kampus, dan lembaga yang menaungi. Secara kronologis, pucuk pimpinan P4B / BPLP / STPNDB / Poltekpar Bali adalah sebagai berikut:
  1. Drs. I Gde Ardika (1978 – 1985);
  2. Drs. Nyoman Bagiarta (1985 – 1992);
  3. I Gde Widjana (1992 – 1998);
  4. Prof. Dr. Dra. N.K. Mardani, MS (1998 – 2000);
  5. Drs. Sumekto Djajanegara (Januari – Agustus 2000);
  6. Drs. I Gusti Putu Laksaguna, CHA, M.Sc (Agustus 2000 – April 2002);
  7. I Made Sudjana, SE., MM., CHT (April 2002 – Juni 2010);
  8. Dr. I Nyoman Madiun, M.Sc. (23 Juni 2010 - 28 Januari 2013)
  9. Drs. Dewa Gde Ngurah Byomantara, M.Ed. (28 Januari 2013 – 21 Oktober 2019)
  10. Drs. Ida Bagus Putu Puja, M.Kes. (21 Oktober 2019 - …)
Bila NHI (STP Bandung) dimaksudkan untuk menyiapkan kader pariwisata kawasan Indonesia Barat, lembaga pendidikan P4B dimaksudkan untuk menyiapkan kader/insan pariwisata profesional untuk kawasan Indonesia Timur, dan juga memenuhi kebutuhan industri pariwisata dan perhotelan yang ada di Bali. Kampus lembaga pendidikan P4B di bangun di atas tanah seluas sekitar 7 ha di kawasan wisata Nusa Dua. P4B merupakan salah satu unit pelaksanaan dari PT. Pengembangan Pariwisata Bali atau Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang mengelola kawasan wisata Nusa Dua. Setelah penyusunan kurikulum pendidikan selama tahun 1976-1977, maka pada tahun 1978 lembaga ini mulai melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelatihan (Prevocational Training Programme) bagi 120 orang tamatan Sekolah Dasar atau Siswa Drop Out SLTP yang berasal dari Bualu, Tanjung, Sawangan, Bukit dan Jimbaran. Pada tahun 1978 mulai menerima mahasiswa reguler dari lulusan SMA dan yang sederajat.
Pada tanggal 22 Januari 1982 pengelolaan P4B dialihkan dari PT. BTDC kepada Badan Pendidikan dan Latihan Departemen Perhubungan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Perhubungan nomor: 303/DL. 005/ PHB-81 tanggal 18 Desember 1981, tentang pendirian Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) Bali. Melalui surat tersebut, P4B dirubah namanya menjadi Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata Bali yang disingkat BPLP Bali.
Pada tahun 1983 sesuai Surat Keputusan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Deparpostel) No: Km.08/OT.083/PPT-83 tentang Organisasi dan Tata Kerja Deparpostel, pengelolaan BPLP Bali dialihkan pada Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi. Pada periode ini pendidikan dan pelatihan perhotelan dan pariwisata untuk program reguler dikonsentrasikan pada jenjang Diploma I, II, dan III. Konsentrasi program tersebut disesuaikan dengan (a) kebutuhan industri pariwisata saat itu yang sebagian terbesar memerlukan tenaga pelaksana, penyelia, hingga kepala bagian dan (b) kemampuan lembaga untuk menyiapkan insan pariwisata dan perhotelan profesional pada jenjang tertentu.
Sebagai antisipasi atas perkembangan industri pariwisata ke depan dan tuntutan industri pariwisata akan SDM pariwisata tingkat pimpinan yang profesional, maka status BPLP Bali ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata yang disingkat STP Nusa Dua Bali dengan konsentrasi program pendidikan dan pelatihan pada jenjang diploma III dan IV. Peningkatan status BPLP menjadi STP didasarkan atas Keputusan Presiden Nomor 102 tahun 1993.
Peralihan dari Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali menjadi Politeknik Pariwisata Bali, dan pemberhentian Ketua STPNDB, Drs. Dewa Gde Ngurah Byomantara, M.Ed.,  serta pengangkatan Direktur Poltekpar Bali, Drs. Ida Bagus Putu Puja, M.Kes., dengan berdasar Surat Keputusan Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya, Nomer. KM.308/KP/04/MENPAR/2019.
Erich Fromm, Pakar Sosiologis, Psikologi Sosial, Filsuf Humanis, berkata,
"Di masa lalu, pemimpin adalah bos. Namun kini, pemimpin harus menjadi partner bagi mereka yang dipimpin. Pemimpin tak lagi bisa memimpin hanya berdasarkan kekuasaan struktural belaka." 
Hal ini membimbing kita semua, bahwa pemimpin dan yang dipimpin harus selalu bersinergi dengan cara-cara inovatif dan kreatif, bukan lagi dengan pola-pola otoriter dan monoton, atau kaku. Sebagai sebuah lembaga pendidikan, Politeknik Pariwisata Bali tidak terlepas dari berbagai aspek yang ada di dalamnya, sumber daya berupa Teknologi dan informatika, tenaga pengajar, dosen, pegawai, mahasiswa, dan masyarakat serta lingkungan dimana mereka berada.
Lokasi Kampus
Kampus Politeknik Pariwisata Bali berlokasi di Jl. Darmawangsa, Kampial Nusa Dua, Kabupaten Badung sejak tahun 2000. Sebelumnya, kampus ini berada di kawasan pariwisata ITDC, Desa Bualu sejak tahun 1978.

Lembaga-lembaga yang menaungi Politeknik Pariwisata Bali
Perubahan Lembaga yang menaungi Politeknik Pariwisata Bali terus berlanjut yakni dari BTDC, Departemen Perhubungan, Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, dan kini bernaung di bawah Kementerian Pariwisata

Visi
Menjadi Pusat Unggulan dalam Bidang Pendidikan Tinggi Hospitaliti, Kepariwisataan, dan Perjalanan di kawasan Asia Pasifik.

Misi Politeknik Pariwisata Bali
  1. Menciptakan SDM yang unggul dan memiliki kompetensi di bidang Hospitaliti, Kepariwisataan, dan Perjalanan melalui pendidikan dan pelatihan jalur vokasi, akademi, dan profesi.
  2. Melaksanakan penelitian yang unggul dan berguna bagi masyarakat di bidang Hospitaliti, Kepariwisataan, dan Perjalanan.
  3. Melaksanakan pengabdian pada masyarakat di bidang Hospitaliti, Kepariwisataan, dan Perjalanan untuk mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif.
  4. Menjalin hubungan kerjasama dengan pemangku kepentingan di bidang Hospitaliti, Kepariwisataan, dan Perjalanan.
Tujuan Politeknik Pariwisata Bali
  1. Menghasilkan mahasiswa yang kompeten di bidang Hospitaliti, Kepariwisataan, dan Perjalanan.
  2. Menghasilkan hasil penelitian yang unggul di bidang Hospitaliti, Kepariwisataan, dan Perjalanan.
  3. Meningkatnya kompetensi, daya kerjasama, dan produktivitas masyarakat di bidang Hospitaliti, Kepariwisataan, dan Perjalanan.
  4. Terjalinnya kerjasama dengan lembaga pendidikan, instansi pemerintah, asosiasi profesi, industri Hospitaliti, Kepariwisataan, dan Perjalanan.
Kebijakan Mutu
Surat yang dikirim oleh LO UNWTO, Lucy Garner, tertanggal 18 Maret 2015, membuktikan hasil yang diperoleh lembaga pendidikan Politeknik Pariwisata Bali terkait TedQual Certification Process.

“It is a great pleasure for me to attach the official notivication of Results of The UNWTO Tedqual Certification Process your Institution applied for. I would like to congratulate you and the whole team there for the excellent result. I am also attaching the final audit report in which we include our recommendations for the future”.

Sebagai Perguruan Tinggi Negeri di bidang pariwisata, Politeknik Pariwisata Bali wajib memperoleh akreditasi oleh BAN–PT sebagai jaminan bahwa mutu pendidikan di Politeknik Pariwisata Bali diakui dalam skala nasional. Sedangkan TedQual adalah akreditasi yang dikeluarkan oleh United Nation’s World Tourism Organization (UNWTO) Themis Foundation untuk Lembaga Pendidikan Pariwisata. Terakreditasinya Politeknik Pariwisata Bali oleh UNWTO Themis Foundation mengindikasikan bahwa kiprah alumni di dunia Internasional akan semakin diakui.

Di awal tahun 2015, Politeknik Pariwisata Bali (STPNB) berhasil meraih prestasi gemilang dengan memperoleh akreditasi dari BAN-PT, TedQual dan Sertifikasi ISO 9001:2008. Keberhasilan ini merupakan merupakan hasil kerja keras dan perjuangan panjang dari seluruh Civitas Akademika Poltekpar Bali.

Politeknik Pariwisata Bali juga berhasil meraih sertifikasi ISO 9001:2008 sebagai bukti unggulnya mutu yang dimiliki oleh Poltekpar Bali. ISO 9001:2008 adalah Standar Internasional yang digunakan untuk menetapkan kebijakan dan sasaran mutu (quality objective) serta pencapaiannya yang bisa diterapkan dalam setiap jenis organisasi/perusahaan berdasarkan persyaratan 8 klausul ISO 9001:2008.  STPNB telah memperoleh sertifikat akreditasi oleh BAN-PT, TedQual dan ISO 9001:2008 merupakan bukti bahwa seistem penjaminan mutu telah berjalan dengan baik. Diharapkan kedepannya prestasi ini akan mampu dipertahankan dan ditingkatkan demi mewujudkan Visi Poltekpar Bali sebagai Pusat Unggulan dalam Bidang Pendidikan Tinggi Hospitaliti, Kepariwisataan, dan Perjalanan di Kawasan Asia Pasifik.

Sertifikasi kompetensi yang juga dibekalkan pada para mahasiswa Politeknik Pariwisata Bali membuktikan kesungguhan lembaga pendidikan ini dalam hal kualitas mahasiswa dan lulusan melaksanakan aktivitas di tengah masyarakat luas. Sertifikasi kompetensi merupakan pengakuan kompetensi atas prestasi kelulusan yang sesuai dengan keahlian dalam cabang ilmunya dan/atau memiliki prestasi di luar program studinya. Sertifikat diterbitkan oleh perguruan tinggi bekerjasama dengan organisasi profesi, lembaga pelatihan, atau lembaga sertifikasi yang terakreditasi kepada lulusan yang lulus uji kompetensi. 
Sertifikat kompetensi sangat penting bagi para mahasiswa dan lulusan Poltekpar Bali, sebagai bukti kompeten di bidang terkait pariwisata dan perhotelan, dan pada bidang pekerjaan tertentu. Terkait dengan hal tersebut, pendidikan dan pengembangan seluruh komponen sumber daya manusia di Poltekpar Bali selalu ditingkatkan.Termasuk langkah-langkah  pengembangan sumber daya manusia berupa perlunya asesor kompetensi yang kompeten dan profesional.
Kompetensi tidak juga berarti bahwa orang yang berkompeten akan selalu terhindar dari masalah dan situasi konflik. Kompetensi berarti kita siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, dan akan selalu berusaha sepenuh semangat, selalu kreatif, dalam mencari solusi, bekerja sama, di mana pun berada, dengan cara bagaimanapun.
Mahasiswa lainnya juga, memiliki prestasi masing-masing, karena setiap orang memiliki karakter unik, perbedaan yang mampu menjalin harmoni indah di dalam diri, di antara mereka, dan juga di tengah masyarakat, yang mampu menghasilkan segudang prestasi unik pula. Bukan hanya prestasi yang terukur dan terlihat mata saja, namun pula dalam banyak bidang prestasi-prestasi berkualitas lainnya. 
Yang teranyar adalah Juara pertama Flower Arrangement Competition yang diadakan oleh Housekeeping Community, dalam rangka The 2nd Housekeeping Expo, bertempat di Hotel Four Point by Sheraton di Ungasan. Pada perlombaan kali ini, STP diwakili oleh para mahasiswi dari Program Studi Administrasi Perhotelan semester 3 kelas A, Sinthya Dennis dan Tarisa  Murdiasa. Ini sekaligus menjadi Hadiah bagi Lembaga Pendidikan kami, Politeknik Pariwisata Bali, yang baru beralih nama pada Hari Senin, 21 Oktober 2019, melalui SK.Men.No. KM.308/KP.304/MENPAR/2019, tertanda Arief Yahya.