Sabtu, 24 Oktober 2009

Saniscara Kliwon wuku Kuningan, 24 Oktober 2009.
Terjaga pukul lima pagi, kuawali urusan rumah tangga wanita yg sangat biasa. Memasak dan mencuci baju. Ah, simbok sedang mudik dalam rangka Galungan dan Kuningan. Saat hari lain, suami akan ikut membantu membersihkan halaman rumah, anak-anak akan ikut menyiapkan makanan, menyapu dan membersihkan rumah, mencuci motor. Tapi, hari ini semua harus selesai lebih awal. Perjalanan panjang lain sudah menanti.

Pukul 6, suami bergerak ke Jalan Nangka, untuk bergabung dengan mertua dan ipar, menuju Banjarangkan Klungkung. Setelah bersembahyang dalam rangka Kuningan, dan meyakinkan semua dupa telah kumatikan, memberikan instruksi pada anak-anak untuk selalu menjaga kekompakan di antara mereka selama kedua ortunya bepergian, dan kemungkinan baru kembali keesokan hari. Pukul 7 pagi, kumulai bergerak perlahan menuju Banjarangkan. Hmm, dimana mana, pemandangan banyak orang bepergian dengan mengenakan pakaian adat. Wanitanya mengenakan kebaya dan kain, menyunggi banten di atas kepala, yang pria, berkain dan saput terbaik. Tak lupa, udeng menghiasi kepala. Ah, Kuningan yang semarak dengan perjalanan spiritual memuja dan memuji Beliau, Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pukul 8 kurang, tiba di Menang, Rumah bajang Mbok Ketut Sukati. Iparku ini sakit, dan, hasil dari nunas baos, terlihat bahwa ia belum mepamit saat menikah dahulu. Anehnya, begitu dinyatakan akan naur sesangi di tegak otonnya, dia langsung perlahan sembuh kembali... Belum ada rombongan tiba dari Buleleng. Aku masih duduk menunggu, se jam kemudian, dan, berjam lagi, hingga waktu menunjukkan pukul jelang pukul 11 siang. Ah... Betapa tidak enaknya duduk menunggu. Mereka terjebak kemacetan di jalan. Jarak Buleleng - Klungkung sungguh butuh perjuangan di hari raya seperti ini.

Pukul 11 hingga pukul 13.10, seluruh rangkaian upacara me pamit iparku yang baik dan lugu ini berjalan lancar. Lalu rombongan yang terdiri dari Nengah Puja, iparku pula, juga Wayan Nuka, Nyoman Ngempi, bergegas menaiki colt berwarna putih dengan pelat DK 903 UC yang dikendarai oleh Wayan Balok bergerak perlahan meninggalkan rombongan lain.

"Supir dari kampung terkenal lagas dan rengas", demikian seru iparku mengingatkanku agar berhati mengikuti rombongan bermobil ini dari belakang, menuju Sepang, Buleleng.
Hmmm, keluar dari Nyalian, beriringan menuju ke Banjarangkan, mobil colt berbelok arah ke kanan, memasuki jalan raya Tulikup, hawa panas mulai menyergap. Asap knalpot kendaraan yang kentut seenaknya dan debu jalanan menerpa seluruh tubuh. Untung, kaos kaki, sarung tangan, dan slayer yg kukenakan mampu meredam kejamnya sinar ultra violet mentari siang hari, dan angin yang menerpa tubuh mampu usir panas dan pengap diri ini.

Menuju ke arah kota Gianyar, berbagai mobil dan motor yang banyak mengangkut penumpang berpakaian adat dan membawa banten berwadah sok atau bokor kami temui. bahkan, tak jarang, sebuah motor ditumpangi kedua orangtua dan anaknya yang juga kenakan pakaian bersembahyang terbaiknya. Hmm, inilah makna mudik dan perjalanan spiritual dalam rayakan sebuah hari raya keagamaan.... Kebesaran dan kemuliaan Hyang Widhi, Sangkan Paraning Dumadi, Hyang Prama Kawi, yang menggoda umat manusia untuk menghampirinya dan selalu menggingat Nya dalam setiap langkah dan tindakan.

Selepas lampu lalu lintas, kami berbelok ke kanan, menyusuri jalan Raya Nyuh Kuning, lalu tembus di Peliatan, Ubud. Hmm, bahkan, banyak pertokoan tidak mau kalah dalam mempercantik diri merayakan Galungan dan Kuningan, berbagai penjor dalam berbagai bentuk gaya di depan toko mereka masing-masing. Bukankah, hanya dengan sebatang bambu berhiaskan sampian penjor galungan, sudah cukup membuktikan penghargaan umat, bagi kebesaran Tuhan, sebagai simbol kemampuan pengendalian diri, sikap dewasa untuk memuluskan langkah dalam beragama, dan terapkan yadnya tidak hanya semata dibilang spiritual, namun pula dalam laku kerja dan berumah tangga....

Dari Peliatan, mobil menyusuri jalan jalan pedesaan, tembus di daerah Pengosekan, Art Shop Gajah Mas, lalu melewati jalan raya Semana, melintasi Villa Semana Resort & Spa. Hmm, semaraknya aroma pedesaan, persawahan dan ladang, lumayan sejukkan mata. Akhirnya, tiba di Mambal. Pasar Abian Semal. Mobil tidak berhenti, terus melalu menyusuri jalan aspal, kami tembus di Beringkit, pasar ternak di dekat jalan raya Mengwi ini. Dari sini, sudah kukuasai jalan raya, hapal ku dengan liku jalanan, Kusalip rombongan agar bisa mempersingkat waktu tempuh. Jalan Raya Denpasar - Gilimanuk, berbelok ke Utara di Pengeragoan, memasuki hutan Bading Kayu - Dapdap Putih - dan, Sepang kelod, Asah Badung.

Pk 16.40 tiba di Pangkung Singsing, dan dering telpon simbok, Putu Ayu, memanggilku.
Ia sudah tidak betah menunggu hadirku. Memang, aku berjanji akan melaksanakan upacara odalan di Saniscara Kliwon wuku Kuningan ini, dan kembali ke Denpasar bersamanya dengan mengendarai motor. Ah, para bapak dan ibu rumahtangga akan menyadari, betapa susahnya kini mencari seorang babysitter, dan, aku beruntung memiliki dia, sudah hampir 4 tahun kami lewati bersama.

Berjalannya upacara odalan di Pangkung Singsing tidak lah sesuai yang kuharapkan. Seluruh rangkaian upacara baru berakhir menjelang pukul 8 malam. Padahal, saat odalan yang sudah sudah, pukul 4 sore biasanya sudah berakhir. Para ipar yang asyik mampir dan berbelanja di Bajra, lalu supir, Wayan Balok, yang mampir ke dokter, telah lumayan menyita waktu kami. Bahkan, Mangku Patra harus menunggu hingga satu jam lebih sebelum semua anggota keluarga bertemu. Hal yang se umur umur tidak pernah terjadi.

Mertua dan seluruh saudara besar berharap aku tidak kembali ke Denpasar malam itu, namun simbok yang meminta untuk kembali tidur di rumah orangtuanya jika harus bermalam, satu jam berjalan kaki, telah membuatku berpikir, kami harus berangkat malam itu pula.

Hmm, pukul 8 malam, melewati jalan curam, penuh kerikil lepas mendaki, melewati hutan tanpa lampu penerangan jalanan, yang konon ada begalnya, dua jam setengah waktu yang diperlukan untuk perjalanan ini, hmmm. Namun, itulah yang terjadi, kami berdua berangkat juga. Alami hujan angin di Pantai Soka, selip di Tabanan. Dan, tiba pukul 22ari .45 malam hari di rumah. Situasi gelap gulita, sedang ada Upacara mesucian / Ngereh Ida Bhatara di Setra Kahyangan Umadui dari Pura Dalem Pejarakan Ulun Lencana Desa Padang Sambian Kelod, yang diempon oleh tiga banjar, Umedui, Jabapura, dan Batubolong.

Begitu tiba di rumah, sambutan pertama dari suami tercinta, "Ada telpon dari emak, Dewa Biyang masuk RS Dharma Kerti Tabanan, karena sesak napas. Sekarang juga kita berangkat ke Tabanan".

Ah ha......
Wayan, kau benar.
Kelas percepatan sungguh berat. Sangat berat terasa, semakin hari semakin berat...









Senin, 19 Oktober 2009

Pak Made Andi Arsana

"Saya sedang memasak...." . Demikian komentar bapak kita yg satu ini, saat saya sapa di chat box fb, suatu ketika belum lama ini. Tidak heran, seorang pria bisa memasak. Banyak orang pintar masak, lihai dibidang kuliner. Mereka yang jawara dalam berbagai lomba masak, Chef handal, seni ukir buah, pahat es. Bahkan, banyak murid Food & Beverage Management lakukan ini, hingga ke local genius kita, orang orang di Kemoning sana, di Sepang, di Banjarangkan, di Tejakula, di Mendoyo, pinter nge lawar, ngae betutu, tum klungah, serapah, sate lilit.

Namun, akan menjadikan kita kagum, jika orang se kaliber pak Andi yang melakukannya. Di tengah kesibukan mengejar disertasi, menjadi tiang rumah tangga, mengurus keluarga, masih sempat mengikuti berbagai aktivitas tingkat dunia, bikin buku, dan... memasak.

Banyak orang yang masih ber mental priyayi, laku priyayi, mengutamakan ego dan nilai nilai pribadi, tidak mau merendahkan diri, lebih minta dilayani.

Dari Pak Andi, saya belajar nilai - nilai keluarga seharusnya, jabatan, karir, dan tugas, tidak membuat seseorang malu dan risih lakukan tugas memasak bagi keluarga
Dari Pak Andi saya belajar, bahwa menulis bukan sesuatu hal yg harus ditakuti,
belajar terbuka pada dunia luar tentang isi hati kita, pengalaman kita, berbagi ceritera dan berita
Dari Pak Andi saya belajar, bahwa kita bisa lakukan banyak hal sekaligus, tanpa harus merasa malu dan jatuh martabat, dan, tetap berprestasi. .

I Made Andi Arsana, S.T., M.Eng., adalah dosen Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Teknik (FT) UGM, yang menorehkan prestasi gemilang dalam Olimpiade Karya Tulis Inovatif yang digelar oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Perancis.

Dalam kompetisi tersebut, Arsana berhasil meraih juara umum dalam kategori sosial, politik, hukum, dan ekonomi, sehingga berhak atas hadiah sebesar 750 Euro.
Olimpiade Karya Tulis Inovatif (OKTI) merupakan sebuah forum ilmiah yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Paris, Perancis, pada tanggal 10 s.d. 11 Oktober 2009. Tema OKTI tahun ini adalah "Kontribusi Pelajar Indonesia untuk Menjawab Tantangan Masa Kini dan Masa Depan".

Ketua PPI Perancis, Endra Saleh Atmawidjaja, seperti dilansir Antara dan Rakyat Merdeka Online, mengatakan penyelenggaraan OKTI adalah untuk menghimpun berbagai pemikiran orisinal, aktual, dan inovatif dari para pelajar Indonesia sedunia dalam kategori sains terapan dan teknologi, serta sains sosial, hukum, politik, dan ekonomi. Selanjutnya, berbagai hasil riset yang inovatif dan aktual tadi menjadi landasan perumusan butir-butir rekomendasi kepada pemerintah Indonesia. Selain itu OKTI juga bertujuan untuk membangun jaringan keilmiahan antarpelajar Indonesia di berbagai belahan dunia sebagai calon penerus kepemimpinan Indonesia di masa yang akan datang.

Arsana adalah kandidat doktor di Australian Natonal Centre for Ocean Resources and Security (ANCORS), University of Wollongong, Australia, dan kini juga dipercaya menjabat sebagai Presiden PPI Australia-Wollongon g. Setelah melalui seleksi ketat, 45 juri dari berbagai disiplin ilmu menetapkan Arsana unggul atas 16 finalis yang telah dipilih untuk mempresentasikan karya masing-masing. Secara keseluruhan, ia berhasil menyisihkan 54 karya tulis dari 16 PPI yang mengikuti kompetisi ini, yakni Perancis, Jerman, Belanda, Inggris, Rusia, Italia, Swedia, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Taiwan, Korea Selatan, Philipina, Australia, dan Indonesia.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Panca Sradha

Panca Sradha bersumber dari Panca Sanhita Weda. Lima kitab suci agama Hindu. Reg Weda, Yayur Weda, dkk. Kelimanya membahas Panca Sradha.
Panca Sradha adalah lima keyakinan atau kepercayaan dalam agama Hindu, yang dalam pelaksanaannya tergantung dari masing-masing individu. Mau di Bali, kek, di Papua sana, kek, di Jakarta, kek, di Bali ujung utara atau ujung selatan. Yaitu;
Widhi Sradha, percaya dengan adanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Atma Sradha, percaya dengan adanya jiwatma, spirit, roh. Karma Phala Sradha, percaya dengan karma atau hasil dari perbuatan kita, hubungan sebab akibat. Punarbhawa Sradha, percaya dengan adanya reinkarnasi (kelahiran kembali). Moksa Sradha, percaya dengan terlepas dan bebasnya jiwa dari menitis kembali jadi manusia, kehidupan dalam bentuk lain yang kekal abadi.
Cara kita mewujudkannya adalah dengan Catur Marga, empat jalan kehidupan. Ini juga tergantung gaya / life style masing-masing orang. Suami istri aja punya gaya yang unik dan beda-beda. Gak bisa dipaksa-paksa. Yaitu; Bakti Marga, dengan bersujud dan berbakti pada Tuhan / manifestasinya, menyembah dewa, memuja malaikat. Karma Marga, dengan berbuat baik pada sesama mahluk hidup, hormat pada orang tua, menghargai pendapat anak, enggak melecehkan wanita, gembel, tukang ojek, donasi untuk korban banjir. Jnana Marga, menempuh kebijaksanaan filsafati, lewat ilmu pengetahuan, selalu belajar jadi dewasa, kayak guru-guru itu, 'kali ya? Pemimpin enggak korup, tahu IT enggak untuk jadi hacker, gak pelit ilmu, Prof. tapi pinter sendiri. Yoga Marga, dengan disiplin diri sendiri, pengendalian dan pembersihan pikiran dan batin. Gak ngeres melulu pikirannya, udah enggak mikirin matre lagi, anak, harta, warisan, dah bener bener pasrah. Gue sih enggak bisa, duit masih bikin mata ijo. Disakitin orang masih pikir balas dendam.
Dalam pelaksanaannya, akan kelihatan deh yang mana paling menonjol dalam diri seseorang. Misalnya, masih aja berbuat baik walau dah dilukai berkali-kali. Ada yang berjalan dari satu pura ke pura lain, tapi enggak tahu apa sesungguhnya makna dibalik perjalanan spiritualnya itu.
Cara kita untuk melaksanakan atau mengadakan perjalanan (Catur Marga) ini adalah Yadnya. Yadnya bisa pula diartikan sebagai ketulusan lahir maupun batin dalam melakukan kegiatan memuja Beliau. Saya hanya mampu bikin pejati dengan biaya duapuluh ribu perak, kenapa harus memaksa diri cari pinjaman lagi untuk bikin pejati seharga seratus ribu rupiah. Tuhan kan enggak menerima sujud kita dinilai dari harga, tapi dari makna. Standar kita aja yang bikin begitu, kan? Dimana untuk pelaksanaan Yadnya sendiri enggak bisa dipisahkan dengan Wariga - Upakara - Upacara. Wariga, adalah perhitungan waktu / hari, misalnya dewasa baik untuk kegiatan Yadnya agar mulus. Upakara, adalah seluruh peralatan dan perlengkapan untuk kegiatan Yadnya kita, antara lain uang kepeng, keris, kelapa. Upacara, adalah kegiatan kita, aktivitas yang kita lakukan, termasuk perjalanan dalam melakukan Yadnya tersebut, seperti memotong rambut bayi, mengasah gigi, natab.
Ajaran Agama Hindu: Moksartham Jagatdhita ya ca iti dharma, sebagai tuntunan kehidupan kita, membimbing kita dalam bekerja dan belajar, bergaul, beretika dengan lingkungan. Untuk mencapai tujuan hidup kita, tentu perlu empat hal, yaitu Catur Purusa Artha. Dharma, kebenaran. Artha, benda / materi. Kama, kesenangan / kenikmatan, Moksa, kebahagiaan abadi dan kekal. Munafik kan kalau bilang keluarga saya bahagia tinggal di kolong jembatan atau pinggir jalanan, tanpa makanan dan minuman. Apalagi bagi yang sudah terbiasa punya pembantu RT lima, tiap malam dinner bareng keluarga di hotel bintang lima. Saya paling benci dibohongi, walau kadang enggak siap dikagetin. Bagi saya, nikmat tuh, makan mie goreng bikinan sendiri, dua porsi sendiri, sambel botol, telor setengah mateng, tanpa diminta anak atau suami sekalipun. Jadi, biarkan mereka kekenyangan makan, baru makan sendiri. He.he.
Intinya, Panca Srada bersumber dari Tuhan, disusun oleh para pakar agama Hindu, para bijak yang menyusunnya menjadi lima buah Kitab Suci kita, berdasar wahyu yang mereka dapatkan. Tapi kemudian berkembang dan beradaptasi, tergantung dari persepsi kita sendiri dalam menjadikan Weda sebagai Sundih / Suluh kehidupan saat berjalan dalam terang sekalipun, apalagi saat gelap.

Pura Catur Sari Kandapat Pengideran nawa Sanga

Dulu, saya pikir, orang yang tingkat spiritualnya sudah tinggi hanya lah orang yang sudah tua. Dulu, saya kira, orang yang sudah terbebas dari ikatan duniawi tidak akan pernah lagi tergoda imannya, sudah suci, hanya berfikir tentang agama, dan bersiap menuju moksa. Dulu, saya bayangkan, orang yang ngiring, Pinandita, Ratu Peranda, Shri Empu, hanya gunakan pakaian serba putih polos, rambut panjang tergelung tinggi dengan wajah serius, tanpa pernah bercanda, tidak boleh diganggu dengan diajak guyon, harus selalu penuh tata krama, etika, dll, dll....
Dulu, saya pikir pula, hidup dan meninggalnya beliau beliau ini, hanya demi agama, bergerak dari satu sloka ke sloka lain, dengan rangkaian upacara dan upakara yang sangat ribet, standar baku, harga mati.
Dulu, saya bayangkan, agama dan spiritual adalah bahasan orang-orang waskita dengan topik bahasan religius atau mengenai spiritual tingkat tinggi.

Namun, perjalanan hidup menghantarkan pada pemahaman yang bervariasi, menghasilkan cakrawala bianglala kehidupan yang beraneka corak dan warna...
Aplikasi dalam berbagai bentuk, pada berjenis ruang dan rangkaian waktu, memberikan cakrawala informasi dinamis pula. Betapa kagumnya pada penampilan chic Ibu Made Mangku, betapa mempesonanya tutur kata dan juga perilaku Ibu Desak Wati, betapa cantiknya dan besar taksu pada Ibu Tatiek Hartanadi, betapa teguh dan dalamnya tatapan seorang Mangku Gede, betapa polos dan rendah dirinya seorang guru Ida Bagus Aji, betapa sederhana seorang Putu namun bisa jadi tempat konfirmasi banyak hal, betapa saktinya kemampuan Nyoman yang sekarang sedang mesineb, betapa logic pemikiran Wayan yang termehek pada spiritual dan jatuh bangun dalam mengejarNya.

Beliau beliau ini, tidak luput pula dari segala salah dan amarah. Hal ini yang buka wawasan pengalaman, bahwa menjadi seorang penekun spiritual dan hamba Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, tidak selalu terbebas dari dosa dan kesalahan. Bahwa utusan Tuhan, damuh Ide, mereka yang menjadi orang pilihan dan diminta ngiring juga berhak atas pilihan mereka, menjaga penampilan, nyetir mobil mahal, pakaian dari butik ternama, termasuk ngecat rambut dengan berbagai warna.

Seringkali, pesona terhadap Tuhan dan "satria nusantara", sebutanku bagi orang orang pilihan Tuhan dalam menegakkan ajaran Beliau dan menjalankan perintahNya, mengingatkan orang lainnya pula, pesona ini muncul begitu besar, dan membuatku terpukau. Hingga bahkan tak mampu melahirkan ungkapan apa pun, baik dalam perkataan, maupun tulisan...... Bahkan, berjam jam setelah tiba dari Pura Catur Kandapat Sari Pengideran Nawa Sanga, Jum'at, 9 Oktober 2009, rasa itu masih bertahan.

Pura ini menghadirkan secara lengkap Dewata Nawa Sanga, atau sembilan utusan Sang Hyang Perama Kawi, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menguasai ke sembilan penjuru mata angin dalam konsep Agama Hindu, Yaitu Siwa, Wisnu, Sambu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, dan Sangkara.

Namun, hadirnya Beliau, dari berbagai penjuru Bali, berkali kali, dalam berbagai perwujudan, dalam bentuk tutur kata Jero Tapakan dan Jero Utusan saat itu, termasuk berkenan me solah bersama "asisten Beliau" menurut istilahku, atau "Para Hulubalang" meminjam istilah Kelian Babad Bali, Pak Donny Harimurti, di hadapan umat, jelas menggambarkan jalinan hubungan mendalam Beliau dengan umat manusia, pertanda Bahwa Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak pernah meninggalkan umat manusia, bahwa para leluhur dan Bethare selalu mendampingi dan hadir di sisi kita, di tengah berbagai cobaan dan tantangan, penderitaan dan kebahagiaan yang diterima manusia. Entah berupa pewisik, pertanda dan penanda, rasa, via mimpi, melalui astral, berbagai upacara dan upakara, bahkan hadir langsung dengan berbagai penampakan.

Sungguh, suatu fenomena yang begitu indah, takkan sanggup dicerna logika mentah begitu saja, entah dengan mencoba meng gathuk kan, mencari alasan dari cetek nya pemahaman diriku terhadap gejala ini, lalu, kuputuskan, menikmati satu lagi berkah Tuhan, mendapatkan tambahan pengalaman spiritual sejati, bagai ekstasi, termehek mehek pada Hyang Widhi, mencapai orgasme, menyatu dengan Beliau.... Begitu sederhana dan polos, tanpa perlu ribet mencari alasan apa pun.

Wisnu. Dewa Wisnu merupakan penguasa arah utara (Uttara), bersenjata Chakra Sudarshana, wahananya (kendaraan) Garuda, warnanya hitam, bhutanya taruna, shaktinya Dewi Sri, aksara sucinya "A", di Bali beliau dipuja di Pura Batur.

Sambhu
. Dewa Sambhu merupakan penguasa arah timur laut (Ersanya), bersenjata Trisula, wahananya (kendaraan) Wilmana, warnanya abu-abu, bhutanya pelung, shaktinya Dewi Mahadewi, aksara sucinya "Wa", di Bali beliau dipuja di Pura Besakih.

Iswara.
Dewa Iswara merupakan penguasa arah timur (Purwa), bersenjata Bajra, wahananya (kendaraan) gajah, warnanya putih, bhutanya jangkitan, shaktinya Dewi Uma, aksara sucinya "Sa", di Bali beliau dipuja di Pura Lempuyang.

Maheswara
. Dewa Maheswara merupakan penguasa arah tenggara (Gneyan), bersenjata Dupa, wahananya (kendaraan) macan, warnanya dadu, bhutanya dadu, shaktinya Dewi Lakshmi, aksara sucinya "Na", di Bali beliau dipuja di Pura Goa Lawah.

Brahma
. Dewa Brahma merupakan penguasa arah selatan (Daksina), bersenjata Gada, wahananya (kendaraan) angsa, warnanya merah, bhutanya langkir, shaktinya Dewi Saraswati, aksara sucinya "Ba", di Bali beliau dipuja di Pura Andakasa.

Rudra
. Dewa Rudra merupakan penguasa arah barat daya (Nairiti), bersenjata Moksala, wahananya (kendaraan) kerbau, warnanya jingga, bhutanya jingga, shaktinya Dewi Samodhi/Santani, aksara sucinya "Ma", di Bali beliau dipuja di Pura Uluwatu.

Mahadewa
. Dewa Mahadewa merupakan penguasa arah barat (Pascima), bersenjata Nagapasa, wahananya (kendaraan) Naga, warnanya kuning, bhutanya lembu kanya, shaktinya Dewi Sanci, aksara sucinya "Ta", di Bali beliau dipuja di Pura Batukaru.

Sangkara.
Dewa Sangkara merupakan penguasa arah barat laut (Wayabhya), bersenjata Angkus/Duaja, wahananya (kendaraan) singa, warnanya hijau, bhutanya gadang, shaktinya Dewi Rodri, aksara sucinya "Si", di Bali beliau dipuja di Pura Puncak Mangu.

Siwa.
Dewa Siwa merupakan penguasa arah tengah (Madhya), bersenjata Padma, wahananya (kendaraan) Lembu Nandini, warnanya panca warna, bhutanya tiga sakti, shaktinya Dewi Durga (Parwati), aksara sucinya "I" dan "Ya", di Bali beliau dipuja di Pura Besakih.

Selasa, 06 Oktober 2009

Pura Bukit Mentik Gunung Lebah Batur

Selasa, 6 Oktober 2009. Pukul 10.00,
setelah tiba dari Padma A. Building dan selesai bersama ADH C / 3, temui ibu Kadek Ratnasih, dan mengadakan pertemuan singkat dengan team PPM STPNDB, kuputuskan mulai membuka komputer, menyelesaikan beberapa laporan yang tertunda....

"Mangkin nyorean jagi tangkil ring Pura Bukit Mentik Gunung Lebah, Batur. Wenten wayang Cenkblonk pk. 20.00. Jagi sareng?" demikian ajakan seorang sahabat via fb ku. Ah, suatu ajakan yang sangat menggugah jiwa spiritual, tapi, deretan tugas yang belum selesai ini membuatku tak berani berharap berlebihan. Namun panggilan Tuhan tak mungkin kutolak. "Sangat menyenangkan...seandai nya tityang boleh bergabung...bisa berkumpul dimana? boleh kah tityang menumpang?" Harapku padanya. Setelah memastikan hal ini, kukebut menyelesaikan laporan, fotokopi arsip, dan mengedarkan beberapa data juga informasi.

Waktu menunjukkan pukul 15.00. Hanya punya waktu dua jam untuk pulang ke Denpasar, berbelanja buah dan kue untuk kuhaturkan di Pura nanti, menyelesaikan urusan keluarga, diskusi singkat dengan suami tercinta, mempersiapkan diri lalu bersembahyang sejenak, dan berangkat ke Jalan Veteran memenuhi janji hadir pukul 17 sore.

Pukul 18.30, rombongan kami bergerak meninggalkan jalan Patih Nambi, menyusuri jalan Raya Mambal, menjemput Jero Mangku Tusan, lalu melanjutkan pergerakan menyeruak malam melewati Payangan menuju Batur. Kelokan turun menuju kawah Batur ini mengingatkanku pada perjalanan menuju kawah Bromo. Jalan dengan tikungan tajam dan curam, beberapa batu kapur yang diletakkan di sisi kiri maupun kanan jalan jadi penanda bahwa jalan itu rapuh dan rawan longsor. Jalan ini pula yang ingatkan perjuangan masyarakat mengarungi jalan rusak parah Asah Badung - Dapdap Putih kini.

Menjelang pukul 21.00, kami tiba di Pura Bukit Mentik. Sapaan hangat para pemedek lain dan para pengayah menggambarkan semangat mereka dalam memberikan pelayanan terbaik di rumah Tuhan ini. Ini semakin memantapkan hati bersembahyang. Bayangan dalam berhari, bahkan dalam hitungan bulan, mungkin pula tahun, mereka mencurahkan tenaga demi berikan yang terbaik bagi umat dalam pelaksanaan upakara ini. Wajah lelah dan lesu terlihat pada beberapa dari mereka, namun terlihat kedamaian dan kepuasan di baliknya... Aku dihadapan mereka bukan lah apa apa, belum lah ada artinya.

Pukul 22.45, suara gamelan para penabuh team wayang Cenkblonk mulai terdengar, perlahan, para pengayah yang telah selesai melaksanakan tugasnya, bergerak menghampiri, mendekat. Mereka duduk di depan kelir wayang, ada yang duduk dilantai bersemen, ada yang memilih berdiri, mengenakan jaket tebal dan selendang yang dilingkarkan dipundak menentang udara dingin malam yang terasa menusuk. Hmm, inilah hiburan rakyat, yang juga diadakan dalam rangkaian Karya Agung di Pura Bukit Mentik ini, dengan dalangnya, yang baru saja menamatkan pendidikan master bulan lalu. Ah, andai ada Putu, Nyoman dan juga Wayan di sini.... akankah mereka terlibat perbincangan panjang tentang wayang, berbagai tokohnya, dan makna wayang itu sendiri berdasar tinjauan mereka masing masing bagai dahulu lagi? Ini kah bagian dari perjuangan satria nusantara dalam atasi konflik di negeri ini dan persatukan disintegrasi bangsa yang porak poranda pada banyak sisi?

Pukul 1 dini hari, Rabu tanggal 7 Oktober 2009. pentas wayang berakhir. Betapa banyak dan dalamnya makna kehidupan yang bisa disarikan disini... Kami kembali bergerak menuju Denpasar. Di jalan tanjakan untuk keluar dari kawah Batur, sebuah mobil carry di depan kami merosot turun.

Hmmm, Tuhan, sebegini kerasnya kah perjuangan umatMu, memuliakan namaMu, dalam berbagai cara, agar semakin mendekatkan dirinya? Aku, betapa kecilnya diriku di hadapan mereka, di hadapanMu, tertunduk malu ku dengan segala egoku yang sudah sudah... Bahkan aku harus mencubit lenganku untuk menyadarkan diri ini. Perjalanan ini kulakukan bersama Jero Mangku Tusan dan Pak Donny Harimurti, sang Kelian Babad Bali, dan juga keluarganya, yang bahkan baru kali ini kutemui. Ah, ini bukan mimpi.... Satu kali lagi keberuntungan dan kesempatan yang kudapat sebagai berkah dari Sang Hyang Widhi dalam perjalanan spiritual, untuk semakin mendekatkan diri padaNya.....

Ajarkan aku, untuk semakin mensyukuri hidupku, tiap detik dalam kehidupanku, yang sangat jauh lebih beruntung, dibanding orang lainnya, yang masih terpuruk dalam bencana dan berbagai masalah...


Menjelang pukul 2 hari Rabu, 7 Oktober 2009, aku tiba di pondok kecilku. seluruh anggota keluarga terlelap. Hmmm, saat yang baik untuk menikmati malam dengan doa bersyukur pada Tuhan, sebelum bersiap hadir di kantor, dan berikan UTS dipagi hari, sesuai janjiku pada mereka minggu lalu.