Sabtu, 04 April 2020

Moksa Sraddha



Moksa Sraddha
Apuryamanam acala pratkstam,
Samudram apah prawisanti yadwat
Tadwat kania yanm prawisanti sarve
Sa santun apnoti na kama kami
(Bhagawad Gita II, 70)

Bagaikan air mengalir menuju samudra, walau terus menerus, namun tetap tenang tidak bergeming. Demikian pula halnya dengan orang yang berjiwa tenang mencapai kedamaian. Walau berbagai peristiwa dan pengalaman dialami, tidak mudah melepaskan hawa nafsu tanpa kendali.

Sudah sepatutnya, kita semua belajar mengendalikan hawa nafsu. Menghadapi berbagai kejadian di dalam perjalanan hidup, tidak mudah tergoda atau mengumbar emosi / ego. Belajar tetap tenang. Sebagaimana setiap perjalanan hidup, berakhir pada kematian, untuk mencapai moksa, dimana kita kembali menjadi satu dengan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tidak mengalami terlahir kembali, sudah terlepas bebas dari Punarbhawa atau Samsara, mencapai kebahagiaan tertinggi. 

Moksa adalah tujuan akhir bagi para penganut agama Hindu. Umat Hindu menghendaki agar bisa hidup hanya sekali saja di dunia ini, kemudian dapat mencapai kehidupan abadi dan kebahagiaan selamanya, bersatu dengan Tuhan. Sebagaimana tercantum pada “Moksartham Jagadita Ya Ca Iti Dharma”. Bersatunya sang atman dengan sang Brahman. Namun, jika memang tujuan akhir adalah bersatunya roh dengan Tuhan, mengapa terkadang orang takut akan kematian?? Bisa jadi karena begitu tingginya tingkat ego, masih emosian, dan berat meninggalkan berbagai materi yang dimiliki. Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya, pasrah akan jalan hidup, akan senantiasa bekerja keras, tetap bersemangat, namun tidak terikat pada hasil. Orang-orang seperti ini lebih memilih menjalani kehidupan dengan sebaik mungkin, melaksanakan setiap tugas, hak dan kewajiban, tanpa bersikap berlebihan. Disaat suka dan duka, bisa tetap fokus berdoa dan bekerja, tidak meremehkan orang lain, bisa menempatkan diri sendiri, memotivasi orang lainnya. Hal ini mengajarkan kita untuk senantiasa waspada dan siap terhadap berbagai aspek kehidupan, namun tidak panik berlebihan dalam menyikapi hal tersebut.

Sebagaimana tertulis pada Bhagawadgita VII: 19, Bahunam janmanam ante, Jnanawan mam prapadyate, Wasudewah sarwam iti, Sa mahatma sudurlabha. Pada akhirnya, dan banyak kelahiran, orang yang bijaksana menuju kepada Ku, karena mengetahui bahwa Tuhan adalah semua dari yang ada di dunia ini…..

Setiap orang berbuat kebajikan sesuai dengan keyakinan dan kemampuan, melepaskan diri dari keterikatan, Suka tan pawali duka, agar bersatu kembali dengan sang Brahman, menjadi Awatara.

Santidiwyarthi, 5 April 2020

Referensi:
Babadbali.com
Dodek Isa Siawan. 2011. Sraddha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar