Minggu, 08 November 2009

Penggangguran, kekerasan dan tingkat spiritual

Hmmm

Running text Metro TV barusaja jelaskan : Bulan Oktober 2009, tingkat pengangguran di AS menjadi 10,2 %. Itu berarti, 15,7 juta orang. Bukan lagi suatu jumlah kecil. Bagaimana di Indonesia? Di Bali? S'pore mulai protect diri dg berbagai peraturan ketat bagi para TKI. Malay dan berbagai negara lain pula. Hujan batu dan hujan emas kah yang bakal terjadi di negeri orang atau di negeri sendiri.

Salah satu dampak peningkatan pengangguran adalah prediksi bakal terjadi peningkatan tindak kriminal berupa kekerasan. Bicara tentang kekerasan, bisa terjadi karena lemahnya ketidakpercayaan. Ah, ini bagai siklus yang tidak berkesudahan...
Dapatkah kita hanya sekedar bersembunyi dari ribuan sloka atau ajaran Weda? Tertutup dalam bilik spiritual semata? Baru selesai menangani satu kasus, sudah menanti ribuan masalah lain lagi... Hmm.
Ada yg pendek akal, mencuri jadi salah salu solusi, atau... bunuh diri? Atau, gunakan kekerasan sebagai bentuk pelampiasan emosi jiwa di dada.
Apa yang dapat dilakukan bagi peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah, kemampuan pemimpin, kemampuan kita semua, terhadap hukum yang berlaku di negeri ini, untuk terlibat dan saling peduli, sekecil apapun, terhadap penderitaan orang lain?

Ketidakpercayaan masyarakat terhadap praktik keadilan yang diatur oleh sistem hukum juga menjadi penyebab, mengapa mereka menyelesaikan sendiri persoalan hidup mereka dengan caranya sendiri. Menurut Lewis Coser, kekerasan bisa menjadi isyarat atau tanda, betapa masih banyaknya problem dalam sistem sosial yang harus dikoreksi. Hal-hal yang harus dikoreksi mesti dikembalikan pada sistem, struktur sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang melahirkan situasi negatif yang kurang manusiawi. Tanda-tanda ini menampilkan diri dalam masyarakat yang tidak adil dan dalam masyarakat yang hidup terkekang dan terkungkung oleh represi pihak yang berkuasa. Tidak terlalu mengherankan jika dalam hal ini, masyarakat pada level paling bawah, orang miskin, mereka yang terpinggirkan / termarjinalkan, buruh, nelayan, petani ternyata sangat peka terhadap berbagai masalah seperti kesenjangan dan ketidak adilan sosial.

Untuk mempertajam pemahaman atas persoalan-persoalan di atas, tampaknya tepat jika merujuk analisis yang dilakukan Johan Galtung. Galtung membedakan dua kekerasan: kekerasan personal dan kekerasan struktural. Kekerasan personal itu bisa tampil dengan sangat jelas, apalagi kalau peristiwanya hadir di depan mata. Pelaku kekerasan personal bisa dilacak dan ditemukan dengan mudah. Namun, seseorang akan dapat terkecoh dan lupa bahwa kekerasan struktural yang tidak menampakkan diri, bak udara di sekitar kehidupan ini yang terhirup setiap hari, bisa lebih kejam dan mematikan. Kekerasan struktural itu dipahami sebagai suasana struktur yang menekan (Alfian,1980:3-7).

Kekerasan struktural ini adalah kekerasan yang bersifat anonim, para pelakunya tidak bisa dilihat secara gamblang. Kekerasan model ini terjadi dalam kasus-kasus penggusuran,ketimpangan sosial ekonomi, persoalan korupsi, kolusi, manipulasi, ketidak adilan dalam hukum, kemiskinan, rendahnya upah buruh, serta rendahnya nilai tukar hasil tani terhadap industri. Bila massa rakyat hidup dalam kesenjangan yang semakin tajam dan hidup dalam serba kekurangan, maka hal itu dapat dipandang sebagai pertanda bahwa di situ terjadi kekerasan struktural.

Kesimpulan?
Pengangguran tingkatkan kriminalitas, dan, kurangi tingkat spiritual? Hiiiiii

5 komentar:

  1. Selama orang bilang, "marah itu tandanya saya". Saya rasa kita sebenarnya tetap menyayangi kekerasan...

    BalasHapus
  2. Ups..., maksudnya, ... tandanya sayang

    BalasHapus
  3. Akan lebih baik lagi bila setiap orang bisa menyatakan perasaan sayang bagi tiap orang lainnya lagi tanpa suatu kemarahan. Ah, alangkah santi nya dunia.....

    BalasHapus
  4. Kalau Mbak Santi pernah membaca buku Christ of Khasmiris, nanti mungkin bisa melihat sisi lain, mengapa seseorang marah :)

    BalasHapus
  5. Krishna adalah seorang gembala, Yesus adalah anak tukang kayu, Muhammad adalah seorang yatim piatu yang buta huruf, dan kalaupun Siddhartha adalah seorang putra raja, Ia harus melepaskan semuanya untuk memperoleh pencerahan. Mereka tidak menyandang gelar Profesor, Doktor atau Master. Sederhana. Mereka berusaha membebaskan kita dari pikiran evil / pikiran liar?

    Kenyamanan yang berlebihan akan menidurkan kita. Penderitaan berlebihan juga akan menidurkan anda. Kemelaratan akan membuat anda terobsesi pada harta benda.

    Dalam keadaan senang dan sehat kita selalu lupa Tuhan. Kita lupa
    bahwa ada Kekuatan Yang Maha Tinggi, yang mengendalikan kita semua. Kita
    menjadi angkuh, arogan, sombong. Mabuk harta, mabuk takhta, kita ingin menguasai segala sesuatu. Dan Tuhan tidak dapat dikuasai. Kemudian kita mulai mencari dukun dan
    peramal. Mereka akan mencari pendeta atau pastor atau ustad atau bhiku yang dapat kita kuasai. Agama dan keagamaan sulit dikuasai tetapi lembaga keagamaan dapat dikuasai.

    Pikiran-pikiran liar, emosi-emosi terpendam mengotori jiwa kita. Tuhan adalah sang
    pembersih. Allah Maha Membersihkan, Memurnikan, Menjernihkan. Untuk
    membersihkan noda-noda jiwa kita, kadang-kadang Tuhan menggunakan
    air keras penderitaan. Seseorang yang telah mencapai Puncak Kesadaran
    Tertinggi akan menyatu dengan alam semesta. Hanya pasrah yg dapat bantu kita lalui ini.

    Ah, Christ of Khasmiris.....

    BalasHapus