Jumat, 16 November 2012

Pawiwahan Ngah Nik di Nyalian, Klungkung, & Ngaben Ibu Sariati di Tangkup, Karangasem

Jum'at, 9 November 2012. Pagi ini aku berencana untuk mengumpulkan laporan hasil penelitian yang telah selesai dikerjakan. Sebagai salah satu lembaga pendidikan di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali juga berlandaskan pada tiga pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, dimana salah satunya adalah kewajiban seorang tenaga pengajar mengadakan penelitian.

Dan, penelitian individu yang kuambil kali ini berjudul Keterlibatan Masyarakat dalam Usaha Jasa Wisata Tirta di Kelurahan Benoa. Maka, setelah menuntaskan cucian di kamar mandi, menjemurnya, menyiapkan bekal makan siang anak2ku tercinta, aku bergerak melaju ke Nusa Dua. Tiba di kantor, menyerahkan laporan pada para rekan yang akan menindaklanjuti. Berikutnya, aku bersiap untuk berangkat kembali menuju Klungkung.


Klungkung?? Hmmm, yap. Ponakanku menikah hari ini. Suami dan para ipar bersama keluarga sudah berkumpul di sana, Dusun Kapit, Desa Nyalian, Kec. Banjarangkan, Kab. Klungkung. Biasa kami memanggilnya dengan nama panggilan, Ngah Nik. Dia menikah dengan gadis yang berasal dari Bakas.


Dusun Kapit ini adalah tempat asal mula mertuaku dilahirkan, maka sepantasnya kami memanggil dusun ini sebagai kampung halaman pula. Meski mertua telah merantau ke Buleleng, kami tetap melaksanakan aktivitas yang terkait dengan banyak rangkaian upacara di lingkungan keluarga disini. Terdapat sanggah dadia, atau tempat bersembahyang bagi umat Hindu bagi keluarga besar kami, dengan hari peringatannya (Odalan) jatuh pada anggara kasih julungwangi, dimana sebagian keluarga besar dari berbagai daerah berkumpul untuk mempersiapkan perangkat upacara, banten, dan bersembahyang bersama.





Aku tiba dengan mengendarai motor, pada pukul 10.30 pagi, ku parkir motorku di pinggir jalan di samping rumah tua milik keluarga besar ini. Kumasuki halaman rumah, dan kusapa seluruh anggota keluarga yang ada disana. Ada para ponakan, ada para ipar, dan para undangan yang hadir.



Rombongan sedang bersiap untuk berangkat ke desa Bakas, masih dalam satu kecamatan, yaitu Banjarangkan. Beberapa mobil disiapkan. Sementara banyak anggota keluarga sedang memilih dan memilah, akan duduk didalam mobil yang mana, aku dengan santai langsung melompat naik ke sebuah mobil pick up, lalu langsung duduk di lantai mobil tersebut.



Hmmm, enjoy saja, menikmati semilir angin yang menerpa wajah sepanjang jalan. Di belakang mobil pick up tersebut juga duduk suami dan para ipar lain.



Tiba di desa Bakas, pihak mempelai bersembahyang bersama di pura keluarga milik mempelai puteri. Tuntas dengan acara ini, rombongan kembali menghantar mempelai puteri berpamitan pada seluruh keluarga, ke rumah para paman, ke rumah kakek dan neneknya. 



Ya, beragam adat istiadat yang ada di setiap lingkungan, dan di lingkungan Klungkung daerah ini berlaku adat pihak mempelai puteri juga berpamitan dengan mengunjungi rumah keluarga yang berbeda natah / pekarangan.





Selesai acara berpamitan pada pihak keluarga mempelai wanita, kami kembali beranjak menuju ke rumah keluarga kami di dusun Kapit.



Waktu menunjukkan pukul 2 siang tatkala kami berpamitan. Masih ada acara lain di tempat lain yang ingin kami hadiri.

Ni Made Sariati, ipar Kadek Ratmini, yang istri dari ponakan, dr. Wayan Merta, meninggal dunia. Upacara ngaben akan dilangsungkan keesokan hari, namun kami putuskan untuk berkunjung ke sana hari ini. Maka, kuparkir motor di jalan raya Banjarangkan, Klungkung - Karangasem, dan bergabung bersama suami dan iparku dengan mobilnya.



Mobil bergerak menuju desa Tangkup, Karangasem. Di jalan raya menuju Pura Besakih, kami berbelok ke kanan, memasuki daerah Desa Selat. Jalan desa ini menghantar kami menuju ke rumah dimana jenasah disemayamkan.



Ibu Made Sariati memiliki tiga orang anak. Dia mengalami kecelakaan di Denpasar, sehabis pulang bekerja pagi dini hari. dari salah satu hotel, Banyan Tree Ungasan.



Hmmm, perpisahan, selalu menghasilkan kesedihan. Apalagi bagi orang-orang terdekat yang sungguh mengasihi. Kulihat, suasana muram menyelimuti keluarga ini. Namun, wajah tabah yang terpampang pada ke tiga anak beliau, juga sang suami, membuat hati setiap orang yang hadir menjadi trenyuh.



Kubayangkan, mampukah aku, bila kehilangan dan ditinggal pergi oleh suami dan anak-anakku, atau, bagaimana bila aku yg meninggal, apa kah yang akan terjadi pada kedua anak dan suami tercintaku.



Perjalanan hari ini, sepanjang Denpasar - Nusa Dua - Klungkung - Karangasem, dan kembali ke Denpasar, menghantarku pada pemahaman, bahwa kita harus siap terhadap apa pun yang akan mungkin terjadi. Karena lahir dan mati, suka dan duka, lara pati, sedih bahagia, sedikit banyak, semua yang warnai jalan kehidupan manusia dengan sepenuh bianglala.... Dan,  Hidup terkadang tidak hadir semudah harapan dan impian kita.... Semoga aku bisa menjadi tangguh, kian bijak dan dewasa menyikapi kehidupan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar