Senin, 02 Maret 2015

Dies Natalis ke 37, STPNB, 27 Maret 2015 (1)






Tulisan ini merupakan bagian I dari Trilogi Tulisan  yang dibuat dalam rangka Dies Natalis ke 37 Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, tanggal 27 Maret 2015.

“The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn”. Alvin Toffler, Sang Futuristik menyampaikan pemikirannya. Hal ini memberi gambaran pada kita semua, bahwa setiap orang akan selalu bergerak dinamis mengikuti perubahan dan perkembangan dalam kehidupan ini, untuk selalu belajar, belajar dan belajar. Tidak menyerah kalah oleh beragam situasi dan kondisi yang ada.

Lembaga pendidikan yang beralamat di jalan raya Dharmawangsa Kampial ini, pada awalnya berada di dalam area  BTDC dengan nama Pusat Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata Bali. Berdiri semenjak tahun 1978, kini bernama Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang berada di bawah naungan Kementerian Pariwisata, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali memiliki tenaga pengajar berstatus dosen sebanyak 79 dosen pria, 66 dosen wanita, dengan total jumlah dosen 145. Dari jumlah tersebut, 128 orang merupakan dosen tetap, 17 orang dosen honorer, dan 64 orang sudah tersertifikasi sebagai dosen. Bersama kekuatan 242 pegawai yang mendukung kelancaran operasional lembaga ini sehari-harinya.

Kepemimpinan yang telah bergulir semenjak tahun 1978, dengan nama Pusat Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata Bali (P4B), kemudian berganti nama menjadi Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata Bali (BPLP). Sesuai Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 1993 berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua. Semenjak ketua pertama, Drs. I Gde Ardika (1978 – 1985), Drs. Nyoman Bagiarta (1985 – 1992), I Gde Wijana (1992 – 1998), Prof. Dr. Dra. N.K. Mardani, M.S. (1998 – 2000), Drs. Sumekto Djayanegara (Januari – Agustus 2000), Drs. I Gusti Putu Laksaguna, CHA., M.Sc.(Agustus 2000 – April 2002), I Made Sudjana, SE, MM, CHT. (April 2002 – Juni 2010). Dr. I Nyoman Madiun, M.Sc.(23 Juni 2010 – 28 Januari 2013). Semenjak 28 Januari 2013, Drs. Dewa Gede Ngurah Byomantara, M.Ed. menjadi Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, hingga saat ini.

Mengemban Visi : Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua Bali is The Centre of Excellence in The Tourism Education

Juga Misi berikut :
  • Conducting Professional and/or Academic Education and Training to Support The National Tourism Development
  • Conducting Tourism Researches and Studies to Optimize the Tourism Development
  • Conducting Community Service to Develop Sustainable Tourism, Community Empowering and Environmental Maintenance

Sebanyak 103 dosen telah memiliki sertifikat workplace asesor. Sembilan orang dosen telah menamatkan pendidikan S3, 104 dosen telah menamatkan pendidikan S2, dan S1 sebanyak 23 orang, DIV sebanyak 9 orang.

Jumlah keseluruhan 2794 mahasiswa yang tersebar pada berbagai semester di berbagai Jurusan dan Program Studi, meliputi S1 Bisnis Hospitaliti sebanyak 235, DIV Administrasi Perhotelan berjumlah 450, DIV Manajemen Akunting Hospitaliti sebanyak 140 mahasiswa, DIII Manajemen Divisi Kamar berjumlah 264 mahasiswa, DIII Manajemen Tata Hidangan sebanyak 395 mahasiswa, DIII Manajemen Tata Boga sebanyak 416 mahasiswa, DIV Destinasi Pariwisata berjumlah 116 mahasiswa, DIV Manajemen Kepariwisataan berjumlah 159, DIV Manajemen Bisnis Perjalanan berjumlah 119 mahasiswa, DIV Manajemen Konvensi dan Perhelatan sebanyak 134 mahasiswa, DIII Manajemen Perhotelan berjumlah 159 mahasiswa, DII Kantor Depan berjumlah 35 mahasiswa, DII Tata Hidangan berjumlah 57 mahasiswa, DII Tata Boga sebanyak 54 orang, DII Tata Graha 49 mahasiswa, DII Spa berjumlah 4 mahasiswa, dan DIII Manajemen Spa berjumlah 8 mahasiswa.

Beragam gelar dan penghargaan yang telah diperoleh selama berpuluh tahun berkembang, memperlihatkan betapa penerapan konsep disiplin, dedikasi, determinasi, differensiasi, dan devotion membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, baik internal maupun eksternal lembaga ini.

STPNDB meraih THK 3 kali berturut2, 2009, 2010, 2011 medali emas, maka berhak atas emerald, yang diserahterimakan Gubernur Bali Made Mangku Pastika pada ketua STPNB Dr. I NYoman Madiun, M.Sc., pada tanggal 26 November 2011 di Taman Safari Bali, Gianyar. Yayasan Tri Hita Karana merupakan sebuah yayasan independen yang menilai pelaksanaan konsep Tri Hita Karana di berbagai lembaga, termasuk lembaga pendidikan, berdasar segi parahyangan, palemahan, pawongan.

STP Nusa Dua juga mendapat pengakuan Tourism Education Quality dari WTO dan ini adalah predikat pertama tingkat Asean sedangkan tingkat Asia, STP Nusa Dua adalah perguruan tinggi ke-4 yang meraih pengakuan tersebut.

29 Mei 2013 menerima sertifikat Tourism Education Quality (Tedqual) dari UN-WTO ini, dunia telah mengakui pendidikan tinggi  pariwisata di Indonesia sudah berkelas dunia,” kata Menbudpar Jero Wacik  ketika menerima penghargaan Hildiktipari (Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia) dan sertifikat Tedqual (Tourism Education Quality ) dari UN-WTO di balairung Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu (16/9/2013)
Toffler dalam bukunya Syok Future berpendapat bahwa perubahan teknologi sejak abad kedelapan belas telah terjadi sehingga cepat sehingga banyak orang yang mengalami stres berlebihan dan kebingungan karena ketidakmampuan mereka untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan strategis. 

Dia menciptakan istilah " future shock" didasarkan pada konsep 'budaya shock' untuk menggambarkan kondisi ini . Siap tidak siap, mau tidak mau, setiap orang dituntut ontuk berhadapan dengan situasi dan kondisi yang akan selalu berubah dan berkembang. Perubahan terkadang mencakup pula situasi dan kondisi strategis dan mengeksplorasi sosial, ekonomi, dan implikasi politik perkembangan teknologi di masyarakat

Budi Sepang bilang, “Kita hidup di jaman aneh : orang2 bekerja membanting tulang siang dan malam, agar banyak uang. Karena kerja keras itu kemudian mereka stress, lalu membayar mahal untuk hiburan. Karena uang banyak itu kemudian mereka makan apa saja yang disuka, lalu menghabiskan banyak uang untuk berobat karena kolesterol dan untuk menguruskan badan. Dan kita bangga menyebut absurditas itu sebagai modernitas. Membayangkan itu semua terkadang membuat saya merasa sedih”.

Namun, kesedihan dan bermuram durja, berpangku tangan, mencaci, takkan menuntaskan problema kita. Hidup akan selalu bergulir, datang silih berganti dengan beragam situasi, tuntutan, halangan dan rintangan. Terkadang, kita tidak bisa memprediksikan atau mengendalikan situasi yang ada.

Hal ini memberi gambaran bahwa seluruh jajaran dan jejeran manajemen, Dosen dan Pegawai, Mahasiswa dan juga stake holder terkait Sekolah Tinggi Pariwisata untuk selalu siap dengan segala yang dinamis, berubah dan berkembang, namun tetap berpijak erat pada akar logika, norma dan juga etika yang berlaku, dimanapun, kapan pun, bagaimana pun caranya…..

Selamat Dies Natalis, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Semoga selalu jaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar