Jumat, 01 Januari 2016

The Story Behind The Scene : Ramah Tamah 2015





Bahagia itu sederhana….
 

Namun, butuh waktu lama untuk menyadarinya. Bahagia itu sederhana. Hanya dengan selalu berusaha menghargai diri sendiri, menghargai orang lain di sekeliling kita, dan mencintai Tuhan.

Seiring waktu berjalan, sudah 20 tahun kami berkumpul bersama di perumahan ini. Kami besarkan anak-anak kami bersama di sini, melakukan aktivitas bersama pula, tempat bernaung kami dengan segala situasi dan kondisi yang menyertainya. Bukan waktu yang sedikit untuk mengenal, memahami, dan berinteraksi dengan sesame warga.

Pelaksanaan kegiatan Ramah Tamah di hari terakhir tahun 2015 ini juga sudah kami rencanakan semenjak awal bulan. Dari menyusun rencana berkumpul bersama, mengisi dengan beragam acara, berbagai lomba, pertandingan, kegiatan menari bersama, dan berkumpul bersama pada hari Kamis, 31 Desember 2015. 

Sudah tentu, menyatukan hampir seratusan KK dengan anggota keluarga, mulai dari yang belum bisa berjalan karena baru berumur beberapa minggu, yang balita, masih SD, SMP, SMA, masih kuliah, sudah bekerja, hingga para pensiunan, tidaklah gampang. Butuh kesabaran dan kesadaran dalam merangkai kebersamaan.

 

Aku sebenarnya bukanlah guru tari. Bahkan, menari pun tidak becus. Namun, dengan semangat berjuang, belajar dari mbah google, minta bantuan Adi meng cut tari Pendet yang aselinya 15 menit menjadi 5 menit saja, sampai ikut menari mendampingi para penari cilik saat pentas, kulakukan demi keberanian mereka untuk tampil menari di depan umum.

Termasuk di saat mereka telah sepakat menari Pendet, ternyata satu penari ngambul dan bersikukuh untuk menari Manuk Rawa. Dan menjelang pentas, ada penari cilik yang menolak didandani oleh bu Dayu Puspaadi, karena hanya mau menunggu tantenya yang baru pulang kerja pukul 7 malam, sedangkan kami sudah mulai pentas pukul 7 malam.

Bahkan, saat acara sedang berlangsung pun, kami harus sigap sekaligus menjadi MC, merangkap para pengasuh anak-anak yang sibuk berlarian kian kemari, memenuhi tempat pentas, sibuk memilih sendiri hadiah yang mereka inginkan dan menolak hadiah yang diberikan panitia, hingga mencari juri dadakan bagi lomba tumpeng ibu-ibu warga perumahan.

Saat pelaksanaan berbagai jenis lomba juga butuh kesabaran tersendiri. Waktu yang telah ditetapkan mulai lomba pada pukul 9 pagi hari Sabtu dan Minggu, 27 – 28 Desember 2015, mundur menjadi pukul 10, menunggu para Laskar Pelangiku ini bangun tidur dalam suasana libur panjang mereka. Jenis lomba yang bisa berubah-ubah juga membutuhkan kreativitas tersendiri. Dari yang ketiadaan karung lomba balap karung, hingga tarik tambang antar para balita yang akhirnya dibantu oleh para emaknya. Dari para perempuan cilik peserta lomba yang pemenangnya sebagian besar orang yang sama sehingga aku harus melakukan sedikit kelicikan kecil, melarang perempuan cilik pemenang berkali2 lomba untuk ikut lomba lagi. Hehehe…..

Well….
Inilah seni nya kita tinggal dalam suatu lingkungan permukiman. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita diminta beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ada begitu banyak perbedaan, namun bukannya tidak mungkin untuk menjadikan perbedaan tersebut suatu hal yang mewarnai kehidupan kita, dan belajar dari pengalaman yang sudah ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar