Rabu, 29 Juni 2016

Cuwi : Keindahan adalah mencintai secara sederhana. Tanpa basa basi.....



Keindahan adalah mencintai secara sederhana. Tanpa basa basi……



Ketika masih di Batu, Malang, menikuti Rangkaian Kegiatan Outbound terkait Pembinaan Jiwa Korsa STPNB, aku menerima telpon bahwa Cuwi melahirkan. Anaknya dua, satu betina, dan satu lagi jantan, dengan warna kehitaman.

Hmmm….. Cuwi, adalah anjing betina yang kutemukan sedang berlarian kebingungan menyeberangi jalanan Mahendradatta, hampir dua bulan lalu. Aku bertanya pada orang yang kutemui di sekeliling jalan tersebut, jika ada yang tahu pemiliknya. Namun tidak ada yang mengakui…. Maka, ditengah deras hujan, kuselimuti dia dengan jas hujan yang kukenakan, lalu ku bawa pulang. Sempat kuumumkan di berbagai sosmed yang kuikuti, namun tetap tak kunjung ada yang mengakui sebagai pemilik Cuwi.


Akhir tahun lalu, Mochi, anjing betina ras Golden kami, pernah dikawinkan dengan anjing betina ras Golden milik Alit, sahabat anakku. Saat itu kami bahkan menggunakan jasa pawang anjing. Namun perkawinan gagal, dan tidak terjadi pembuahan. Ada lagi Molly, anjing campuran dari jenis Golden dan lokal. Ada juga Poppy, anjing ras jenis Mini Pomerian. Ada lagi, Blessing, anjing Bali lokal, yang kudapatkan dua minggu lalu, tanggal 18 Juni 2016, di depan BNI yang terletak di jalan Sudirman, di samping Toko Buku Toga Mas. Satpam bank tersebut, menemukannya sedang dipermainkan anak-anak. Dan, dia tidak mungkin membawanya pulang, meski juga seorang Doglover, karena tinggal di sebuah kamar kost bersama istrinya, juga sudah memiliki dua ekor anjing. Semua anjingku sudah disuntik rabies, dan  rutin disuntik agar sehat dan tidak sakit kulit oleh dokter hewan setahun dua kali. Kuminta dokter hewan yang terletak di dekat rumah kami untuk dating berkunjung.

Selama Cuwi tinggal bersama kami hampir dua bulan ini, tak pernah kami sadari jika Cuwi hamil. Sudah ada empat anjing betina lain yang kami miliki. Dan, ke empat anjing betina lain menganggap bayi-bayi Cuwi sama seperti tikus yang biasa mereka buru dan bunuh. Sudah tentu Cuwi marah dan menyerang balik. Jadilah, selama tiga hari kepergianku ke Jawa Timur tersebut, anak-anakku dan suami, mengurung Cuwi di Dapur kami, agar tidak berantem dengan ke empat anjing betina lainnya.


Setibanya dari Jawa Timur, kubelikan kandang anjing bagi Cuwi dan bayi-bayinya, sehingga aman dari gangguan para anjing betina lain. Bergantian dengan anak-anakku, kami memberi makan dan membersihkan kandangnya. Kuperkenalkan pada anakku, Yudha, bagaimana naluri keibuan, bahkan seekor binatang, akan melindungi bayi dan anaknya. Betapa, bayi begitu lemah dan tidak berdaya, membutuhkan bantuan ibunya dan lingkungan sekitar, agar dapat tumbuh besar dan siap untuk berdiri sendiri. Bahwa, setidaknya, diperlukan waktu selama seminggu, sebelum kelopak mata bayi anjing terbuka dengan sendirinya, dan, beberapa minggu kemudian, gigi mereka akan mulai bermunculan. Bahwa, ibu juga bisa stress dalam mengurus bayi-bayinya, maka mereka harus mendapat ruang dan waktu untuk beristirahat mengurus dirinya, seperti, tidur, makan yang cukup, jalan-jalan sekeliling perumahan……

Well, kini sudah  satu minggu usia anak2nya. Belum tahu lagi, bagaimana masa depan mereka. Kini kami memiliki enam ekor anjing betina dan satu ekor anjing jantan. Doglover, animal lover, human lover….. apa pun istilahnya, aku membimbing anak-anakku, keluargaku, untuk menyayangi setiap binatang, bersyukur atas segala anugerah yang kami terima, mencintai setiap insan manusia, mahluk hidup, dan benda mati, apa pun itu……. Cinta yang sederhana itu indah. Indah yang sederhana itu cinta. Sederhana dalam mencintai itu indah. Keindahan adalah mencintai secara sederhana. Tanpa basa basi……

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar