Senin, 11 Maret 2013

Ogoh-ogoh.... ketika para bhuta kala bersimbol

Coma Wage Julungwangi, Senin, 11 Maret 2013

(http://www.balistarisland.com/Balinews/BaliNews-Apr0601.htm)
''Mecaru'' diikuti oleh upacara ''pengerupukan'', yaitu menyebar (nasi) tawur, mengobori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu )sejenis bahan makanan), serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. 



Mulai tahun 1990 an, di Bali pada saat Pengerupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai Ogoh-ogoh, sebagai perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.





Bagi sebagian orang, Ogoh-ogoh hanya buang waktu, tenaga dan biaya belaka. Apalagi bila disertai dengan keributan akibat pergesekan yang sering bermula dari saling guyon, saling sindir dan menjadi ketersinggungan, ditambah dengan minum bir atau arak. Namun bagi orang lainnya, Ogoh-ogoh juga adalah sebuah bentuk bersyukur, memuji kebesaran Hyang Widhi Wasa, sarana penyaluran kreativitas anak muda, kerjasama antara sekehe teruna teruni, belajar berorganisasi dengan beragam pihak, hingga termasuk ajang persaingan serta uji gengsi bila banyak yang mengagumi, dan mampu memenangkan lomba, hingga layak untuk tampil diarak mengelilingi suatu daerah.




 
Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyarakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.





Pemuda pemudi Br. Anyar yang berkumpul bersama, merancang dan mengerjakan obor mini sebagai penerang jalan di malam Pengerupukan. Botol bekas dikumpulkan, kemudian diikat menggunakan lakban pada sebatang bambu, diisi dengan minyak tanah, kemudian ditancapkan pada potongan batang pohon pisang.









Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar