Kamis, 14 Maret 2013

Takdir.....

Terkadang...... Hidup tidak lah selalu indah, tidak semudah impian dan harapan. Terjatuh dan tersungkur berkali. Hingga ke titik ter nista yang pernah ada.

Pagi ini berangkat kerja bersama motor tuaku, menembus jalanan panjang dan berdebu yang tak kunjung usai proyeknya terentang sepanjang masa. Tiba di kantor kutuntaskan dengan bimbingan skripsi bagi mahasiswa yang sedang menuntaskan tugas akhir mereka. Bu Diah Sastri Pitanatri yang seminggu lagi akan melahirkan sedang bersiap melaksanakan ujian laporan hasil training bagi para mahasiswanya, bu Ni Putu Suastini sedang menuntaskan beberapa tugas di meja kerjanya.



Aku kemudian berjalan bersama bu IGA Mirah D menuju ke Aula. Ada seminar mengenai HIV / AIDS yang dibawakan oleh beberapa anggota ROTARACT cabang Bali. 1000 an mahasiswa semester 2 dan 4 Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali berada di dalamnya. Selesai mengawasi kegiatan mahasiswa di sini, kami bergerak menuju gedung MICE (meeting, incentive,  conference, event). Disini sedang berlangsung kegiatan dari MarkPlus, mengenai marketeer comunity. Terdapat 500 an mahasiswa semester 6 dan 8 yang mengikuti seminar ini. Hmmm, sungguh aktivitas dinamis sebuah lembaga pendidikan.


Tuntas berkeliling dan mengamati sejenak, aku bergerak kembali ke dalam ruang kantorku. Berkumpul bersama rekan kerja, dan berencana mengunjungi anak bu Luh Nyoman Tri Ariani, rekan kerja kami yang termasuk kelompok dosen di Manajemen Divisi Kamar. Namanya Putu Ugi Narendra. Tamatan STAN dan merupakan pengantin baru, kini bertugas di kantor dinas pajak di Surabaya. Kini sedang opname di RS Wangaya. Kondisinya semakin drop setelah jalani operasi akibat derita kanker kelenjar getah bening. Berkisah tentang situasi anaknya, bu Tri meneteskan airmata kesedihan saat berkumpul bersama kami. Dheuh..... derita seorang ibu yang anaknya sedang sakit.


Kembali kususuri jalanan panas berdebu Nusa Dua - Denpasar, menuju RS Wangaya, bersama ibu IGA Mirah dan ibu Nyoman Sukerti. Tiba di RS, kami bergegas menuju ke ruang Belibis 8, mendapati Ugik Narendra sedang duduk di atas tempat tidur, ditunggui para paman dan bibinya. Ah... tak sampai hati kami berlama di sana. Menatap tubuh kurus tersebut, tersentuh hatiku.... kubayangkan, anak-anakku mengalami sakit yg sama, tak ingin rasanya. Bahkan, mungkin, akan kuserahkan hidupku bila bisa memberi mereka kebahagiaan sepanjang masa.

Hujan angin mendadak turun, membuatku ber basah kuyup dalam perjalanan menghantar ibu Mirah ke rumahnya sebelum aku sendiri pulang ke rumahku. Sore ini ada rencana lain yang ingin kupenuhi.

Yudha hari ini tidak bersekolah karena badannya panas demam. Teman suamiku berduka karena ayahnya meninggal dunia, aku belum sempat berkunjung ke rumah mereka karena beberapa kesibukan. Maka, kuputuskan berangkat bersama Ayu, cucuku. Kali ini kami bergerak ke Denpasar Utara. Menyusuri jalan Marlboro, masuk ke Teuku Umar, lalu Diponegoro, hingga akhirnya jalan Antasura, berbelok ke Cekomaria, dan Gang Tanjung. Tiba di rumah bapak Ketut Sandi. Hmmm, sebuah rumah asri di tepi sawah dan berbatasan dengan hutan. Meninggal dua hari sebelum Nyepi, jenasah pak Ketut Sandi baru dibawa hari ini, Kamis, 14 Maret 2013, ke rumah ini, setelah dititipkan di RS Sanglah. Rencana ngaben akan dilaksanakan pada tanggal 18 Maret. Hmmm, meninggal di usia tua akibat terserang stroke. Namun sungguh sebuah kasih yang diperlihatkan oleh anak mantu dan para cucu, menghantarkan beliau berpulang dengan sepenuh damai. Semoga ini mampu memberi dharma lapang bagi siapa saja yang berbhakti pada kedua orang tua dan siapa saja di dunia ini....

Malam hari..... terbiasa berdiskusi dengan para sahabat, dan, baru kusadari, sahabatku alami kecelakaan. Pak Abdul Wahid, sesama rekan se angkatan di program pascasarjana S3 program studi Kajian Budaya Universitas Udayana angkatan 2009. Dia mengalami kecelakaan di salah satu mall di Jakarta, hingga wajahnya terluka, dan harus di operasi.



Hmm, sungguh kasihan sahabat kami ini.Salah satu staf pengajar di IAIN Lombok, berasal dari Bima Sumbawa, dengan istri yang sedang ikuti tugas belajar di Australia, ketiga anak lelaki yang masih kecil-kecil. Semoga beliau lekas pulih dan seluruh anggota keluarganya tabah.


Ah, Tuhan..... Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Malam ini aku terpekur dalam doaku...... sungguh, hidup tak dapat ditebak, untung rugi, baik buruk, benar salah, sedikit banyak, kita semua hanyalah pelakon, hanya pejalan dalam setiap kehidupan, yang menjejakkan langkah, satu demi satu, bagai pengembara dengan setiap harapan di pundak. Apapun yang terjadi dengan hidupku, siapa pun yang telah mengisi setiap bagian dari hidupku, dengan cara bagaimana pun kujalani hidupku, ini lah aku..... Akan terus ku langkahkan kakiku, meski terkadang, bulir tangis menggenangi pelupuk mata, galau tiada berkesudahan karena mimpi tak terwujud nyata, desah lirih tentang harap yang tak kunjung bisa terraih..... kusyukuri semua, kusyukuri semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar