Sabtu, 28 Desember 2013

Astungkara... Kebanjiran lagi. "Tinggi, Tan?". Hmmm, lumayan, sepinggang.







Senin, 16 Desember 2013. Hari ini adalah hari pertama Ujian Akhir Semester untuk ujian teori di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali.. Sudah semenjak dua minggu lalu para mahasiswa mengikuti ujian praktik untuk beragam mata kuliah yang berisi materi praktek.


Simbok dan Yudha berada di rumah sedari pagi. Aku bertugas di Nusa Dua, Adi juga sedang menghadapi Ujian Akhir Semesternya, suami bertugas di UNUD. Bertugas hingga sore, aku mengawasi Prodi Manajemen Perhotelan hingga pukul 5 sore. Hujan deras sedari pagi, ditambah dengan aliran listrik yang padam semenjak pukul 3 sore semakin membuat suasana di ruang ujian semakin tidak nyaman. Tak bisa kubayangkan mereka akan mampu melewati Ujian ini hingga pukul 6.30 sore nanti.

Sudah semenjak pukul 3 sore Yudha menjelaskan bahwa hujan disertai petir membuatnya takut. Kuyakinkan dia bahwa kami akan baik2 saja. Kuminta simbok untuk selalu mendampinginya. Pukul 4 sore Yudha kembali menelponku di mobile phoneku, menjelaskan bahwa air di jalan di depan rumah kami sudah tinggi. Pukul 5 sore kembali dia menjelaskan bahwa air sudah melampaui tanggul semen yang kami buat di pagar depan rumah. Hhhhh, kuminta mereka menaikkan perabotan yang berada di lantai, dan, apa pun yang terjadi, untuk pasrah saja.

Aku membungkus diri dengan jas hujanku, ransel dipunggung berisi laptop dan beberapa kertas kerja, kukendarai motor Honda tua milikku, dan mulai menerobos hujan deras. Banjir melanda sepanjang jalan yang kulalui, By Pass Gusti Ngurah Rai, simpang menuju jalan tol Bali Mandara, daerah dekat Perum Taman Griya, seputran Patung Ngurah Rai. Macet total karena banjir yang membuat perjalanan Nusa Dua - Denpasar harus kutempuh dalam waktu hampir 2 jam sebelum tiba di perum kami pukul 6.30 sore jelang malam. Kulihat Bu Dayu Puspaadi, beliau teman se kantorku, juga tetanggaku, berteduh di teras rumah tetangga, masih mengenakan pakaian kerja juga. Dia menjelaskan kondisi rumahku yang kebanjiran, dan Yudha masih berdiam di rumahku. 



 
Ah..... kutitipkan motor di pinggir tembok rumah tetanggaku, kutitipkan pula ranselku di rumah tetangga, bu Nyoman Runteg. Aku masih mengenakan jas hujan, berjalan menerobos hujan deras dan banjir setinggi lutut, kulihat suami berdiri di tengah banjir dan hujan deras, berbicara dengan beberapa bapak lainnya tentang aliran air yang makin tidak terkendali. Aku masuk ke halaman rumah, banjir merendamku hingga pinggang. Kulihat anakku berdiri di tengah banjir di halaman rumah kami, kupeluk erat dia, kukatakan bahwa kami akan baik2 saja. Kuminta dia mengungsi ke rumah tetangga yang tidak kena banjir dan berganti dengan baju kering. Yudha menolak. Dia bersikeras untuk tetap bersama kami, apa pun yang terjadi.

Duh Gusti, Tuhan...... Haruskah aku menangis, menjerit, atau meraung menyesali hidup??? Hmmm, tidak ada waktu untuk mencaci atau mengutuk hidup, tidak ada waktu untuk berkeluh kesah. Aku masuk ke dalam rumah. Aliran listrik tidak mati. Ku cek agar tidak ada kabel mengarah ke air. Kudiskusikan dengan suami apakah kami akan membiarkan aliran listrik hidup atau harus kumatikan. Kulihat tempat tidur kami mengapung seolah melayang di tengah banjir, kulkas dua pintu terendam banjir, beras yang baru kubeli tadi pagi satu karung sebanyak 25 kg, terendam banjir, buku-buku kami, lemari baju........ Ahhhh.

 
 
 

Aku beranjak ke rumah sebelah. Rumah kami terdiri dari 2 kaplingan. Rumah yang terletak di belakang ini dijadikan perpustakaan oleh suamiku. Lebih tinggi 50 cm kontur lantainya, lumayan menghibur, ribuan buku koleksi suamiku dalam kondisi aman, terhindar dari banjir. Kedua anjing peliharaan kami berada di teras berpasir, monyet peliharaan di dalam kandang, dan kedua motor lain berada di bawah teras, terlindung dari hujan. Kuambilkan baju kering untuk ganti baju Yudha yang basah kuyup, kuminta simbok mengganti bajunya juga dengan pakaian kering.

Aku bersyukur masih punya satu magic com nasi hangat dan semangkuk ayam goreng kecap. Yudha yang baru merasa lapar, kusuapi, dan dia dengan lahap menghabiskan makanannya. Kuingatkan suami untuk menggunakan jas hujan yang lebih tebal untuk melindungi tubuhnya di tengah hujan deras dan banjir yang masih menggenangi rumah kami. Kami juga bersyukur memiliki satu pompa air untuk memompa air yang menggenangi keluar menuju selokan. Kuminta simbok bersama Yudha tidur beralas karpet di lantai perpustakaan. Mereka telah lelah mengangkut barang2 untuk terhindar dari banjir. Kusempatkan memberitahu Adi, putra sulungku, tentang banjir. Dia bersikeras untuk pulang. Aku juga bersikeras melarangnya pulang. Butuh waktu 2 jam untuk menembus perjalanan di tengah hujan deras dan banjir, sedang dia masih dalam minggu ujian. Whatever it is, kuminta dia menjaga kesehatan dan bersiap hadapi ujiannya, itu akan jauh lebih baik bagi kami semua.






 
Pukul 11 malam, air mulai surut. Kami tidak bisa bersantai. Lumpur yang memenuhi lantai rumah harus segera dibersihkan selagi basah, atau esok akan semakin sulit membersihkan. Aku dan suami saling bahu membahu bekerja sama dengan sapu dan kain pel mendorong sisa air dan kotoran yang menggenangi lantai rumah kami. Pukul satu malam, setelah menikmati segelas susu hangat, kami tidur kelelahan di atas tempat tidur yang telah dialasi jas hujan.

Tanggul sungai kecil yang jebol menjadi penyebab aliran sungai dengan bebas terjun memasuki perumahan kami. Inilah banjir terparah yang kami alami semenjak tinggal disini, dari tahun 1993 dahulu. Banyak rumah yang terendam di perumahan kami. Kubayangkan, rumah Ibu Nyoman Karang yang barusan ditinggal suaminya meninggal 2 minggu lalu, dengan putra bungsu yang masih berusia 2 tahun, dan kini harus alami kebanjiran hingga setinggi dada. Kubayangkan pula rumah ibu Bintoro yang juga terendam hingga sedada, membuat suaminya terpeleset di depan kamar mandi, kakinya terluka hingga harus diamputasi karena penyakit diabetes, dan akhirnya meninggal. Kubayangkan rumah Pak Ronny yang terendam hingga dada. Ahh..... ujian Tuhan bagi kami semua.

Selasa pagi, 17 Desember 2013, bersama simbok kubawa 3 karung besar berisi baju basah kami yang terendam banjir ke laundry di depan perum. Kusempatkan ke pasar, membeli lauk pauk bagi makan siang keluiargaku. 4 bungkus nasi bagi sarapan kami bersama. Dan, kusadari, tak satupun aku punya pakaian dalam. Semua terendam banjir dengan sukses. Masih bersyukur, aku masih memiliki cukup uang di kartu atm ku. Ku beli celana dalam bagi suami, anak, dan juga diriku, serta bh di mini market dekat rumah. Dheuh...... sungguh-sungguh terasa seperti orang yang mengungsi karena banjir, hanya baju yang melekat di badan. Aku kemudian pamit pada suami dan anakku, kembali bertugas menuntaskan Ujian Akhir Semester di Nusa Dua, rapat persiapan Akreditasi BAN-PT.

Bencana, malapetaka, musibah..... haruskah membuat kita merana dan nestapa? Menangis sungguh sangat wajar, itu adalah hak setiap orang untuk menikmati kesedihan dan mengekspresikan dalam beragam cara. Namun, aku belajar dari setiap permasalahan yang kutemui dan kuhadapi, bahwa aku tetap cuma manusia biasa, yang bisa terluka, yang bisa hadapi mara bahaya, yang bisa temui masalah, dalam berbagai bentuknya, di kehidupan ini. Brazilia menghadapi banjir terparah di negaranya dengan puluhan orang meninggal. Di Amerika badai dan banjir telah menyebabkan aliran listrik putus berhari, juga ribuan orang mengungsi, serta puluhan orang meninggal. Di negara-negara Eropa juga alami banjir terparah kali ini. Musibah ini bisa terjadi pada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Dan, aku juga belajar menjadi smakin tangguh, pasrah, dan selalu berdoa, juga berusaha, melakukan segala hal yang mungkin, dalam mengatasi setiap cobaan dan rintangan yang kutemui.






Senin, 23 Desember 2013, di tengah deras hujan yang melanda, dan aku sedang melaksanakan tugas mewawancarai 25 kandidat calon pegawai negeri sipil di STPNDB, aku kembali menerima berita, rumahku kembali kebanjiran, kali ini setinggi 5 cm di atas lantai rumah. Pasrah.... dan, tetap dengan bersyukur, ada Adi sang putra sulung di rumah. Dia bisa diandalkan dalam mengatasi kepanikan adik dan simbok, dan bisa dengan tenang hadapi situasi yang mungkin terjadi. 

Kujelaskan pada kedua putraku, bahwa kita semua mungkin saja hadapi beragam cobaan dari Tuhan, kita bisa saja hadapi situasi yang lebih buruk lagi. Namun, bila situasi tersebut tiba, yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya dengan sebaik mungkin yang bisa kita lakukan. Manja dan emosi tidak akan bisa tuntaskan masalah dengan baik. Mereka suatu saat kelak akan menjadi kepala keluarga yang harus bisa membimbing keluarganya dengan sikap bijak dan dewasa, entah dimana pun mereka berada, dan apapun yang terjadi pada mereka.......


Rabu, 25 Desember 2013, kami sempatkan sejenak menikmati makan malam bersama di sebuah restoran, dan bermain bersama, sebelum kembali pulang dan tertidur lelap bersama...... Hidup adalah sebuah anugerah terindah, demikian juga kesempatan untuk belajar dari pengalaman yang kita peroleh dari kebanjiran, yakni kebersamaan.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar