Senin, 03 Februari 2014

Pinge





Mengupas Pinge membuat mereka galau dan minta ijin curcol. Di tengah beberapa rangkaian kegiatan yg ingin segera dituntaskan, kuijinkan mereka katarsis melepas galau......  Jangan lama, karena banyak karya menanti kerja keras kita bersama.

Well, anak-anakku sayang. Kebersamaan dan kerjasama akan membantu menghasilkan karya yang baik pula, bukan???

Desa secara umum lebih sering dikaitkan dengan pertanian. Egon E. Bergel (1955: 121) mendefinisikan desa sebagai “setiap pemukiman para petani (peasants)”. Namun ciri utama yang terlekat pada setiap desa adalah fungsinya sebagai tempat tinggal (menetap) dari suatu kelompok masyarakat yang relatif kecil. Koentjaraningrat (1977) memberikan pengertian tentang desa melalui pemilahan pengertian komunitas dalam dua jenis, yaitu komunitas besar (seperti: kota, negara bagian, negara) dan komunitas kecil (seperti: desa, rukun tetangga dan sebagainya). Dalam hal ini Koentjaraningrat mendefinisikan desa sebagai “komunitas kecil yang menetap tetap di suatu tempat” (1977:162). Beliau menggambarkan bahwa masyarakat desa sebagai sebuah komunitas kecil itu dapat saja memiliki ciri-ciri aktivitas ekonomi yang beragam, tidak di sektor pertanian saja

Peraturan perundangan RI Indonesia (PP No. 72 Tahun 2005) tentang Pemerintahan Desa yang dapat pula diperbandingkan dengan PP No. 73 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Kelurahan. Di dalam PP No. 72 Tahun 2005 yang antara lain didasarkan atas penerapan UU otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, dinyatakan bahwa: ... desa atau disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut dengan desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Atas dasar ini pulalah maka masing-masing daerah menyesuaikan dengan keadaan-keadaan setempat, misalnya di Provinsi Sumatra Barat, mengaturnya sendiri dengan menerapkan istilah kenagarian (nagari) yang terdapat di daerah kabupatennya, di Bali dengan istilah banjar.
Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. (Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3)
Pinge termasuk salah satu desa wisata. Desa Pinge terletak 34 km dari Denpasar. Lokasinya 17 Km di bagian utara kota Tabanan. Desa Wisata Pinge memiliki hawa sejuk karena terletak pada ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Di desa ini terdapat situs arkeologis, Pura Natar Jemeng, yang menggelar tarian sakral, Wali Pendet, setiap perayaan piodalannya. .
Desa wisata Pinge sering dikunjungi para wisatawan asing yang ingin menikmati suasana pedesaan dan keindahan serta hamparan sawah yang berundak. Setiap 210 hari sekali yaitu pada hari Rabu Kliwon Ugu adalah hari upacara Petoyan di Pura Natar Jemeng yang menggelar juga tarian Wali Pendet yang bersifat sakral.
Desa Pinge termasuk salah satu obyek wisata dengan panorama yang indah. Tata letak desa yang teratur memanjang dan dibelah oleh satu jalan besar dengan tata letak bangunan yang rapi dan sejajar. Objek wisata alam berupa panorama sawah berundak-undak dengan latar belakang gunung berhutan lebat. Wisata tour desa wisata Pinge sering kali dirangkai dengan wisata tour Bedugul – Pertigaan Desa Pacung – Jati Luwih – Yeh Panes – Desa Wisata Pinge-Tabanan – Alas Kedaton.
Referensi:
http://desawisata.wordpress.com/2009/09/25/wisata-pedesaan-pinge-tabanan-bali
Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3
http://budisuminarto.blogspot.com/2012/11/desa-wisata.html
Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya.Yogyakarta: Gajah Mada University
Press . Tahun 1993
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/11/11/d2.htm
http://marga.tabanankab.go.id/profil-desa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar