Selasa, 21 Oktober 2014

Hari Raya Pagerwesi dan Sang Guru : Pande Wayan Suteja Neka (3)



Bhagavadgita, Adhyaya XIII, sloka 6-7 sebagai berikut.
“Maha bhutany ahankaro buddhir avyaktam eva ca Indriyani dasaikam ca panca cendriya gocarah”

“Iccha dvesah sukham duhkam sanghatas cetana dhrtih
Etat ksetram samasena sa vikaram udahrtam”

Artinya :
Lima unsur besar (panca mahabhuta), keakuan palsu (ahamkara), kecerdasan (buddhi), yang tidak berwujud (avyaktam), sepuluh indria (dasendriya) dan pikiran, lima objek indria, keinginan, rasa benci, kebahagiaan, duka cita, jumlah gabungan, gejala-gejala hidup, dan keyakinan-keyakinan -- sebagai ringkasan, semua unsur tersebut merupakan lapangan kegiatan dan hal-hal yang saling mempengaruhi dari lapangan kegiatan.

Upacara Pagerwesi juga merupakan manifestasi menjaga kesucian hati, jiwa dan pikiran dari belenggu beragam sisi negatif duniawi, selayaknya direfleksikan untuk memahami hakikat idep atau citta. Artinya, untuk mendapatkan pengetahuan rohani yang benar adalah benar untuk memahami terlebih dahulu seluruh kekuatan materi yang melingkupinya. Manusia yang berkesadaran tentu adalah mereka yang mampu membedakan antara “yang rohani” (hakikat) dan “yang materi” (instrumen/alat). Mengingat kegagalan dalam membedakan kedua aspek ini akan membawa manusia pada belenggu dualisme paradoks yang akan menghalangi sang atman menuju pembebasan sejati (moksa).



Terlahir pada tanggal 21 Juli 1932, Sang Guru pernah berkata……
“Hanya diri kita yang bisa membentengi diri dari berbagai benturan yang mungkin mengakibatkan kejatuhan kita sendiri.”

Lama….. Bertahun sesudahnya, baru kupahami makna kalimat tersebut. Budaya, Seni, Ritual, Pembimbing, bahkan seorang Guru yang selalu menjadi inspirasi di setiap langkah, hanya fasilitator yang membantu kita mengembangkan pola di setiap aspek kehidupan. Namun, diri kita sendiri, yang harus selalu menyaring, menjaga, mengembangkan pola yang pas dan sesuai bagi diri kita.

Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap Rabu Kliwon wuku Sinta. Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta). Hari ini dirayakan mengandung filosofis sebagai simbol keteguhan iman, Pagerwesi berasal dari kata Pager yang berarti pagar atau pelindung, dan Wesi yang berarti besi. Pagar Besi ini memiliki makna suatu sikap keteguhan dari iman dan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, sebab tanpa ilmu pengetahuan kehidupan manusia akan mengalami kegelapan (Awidya).

“Kembangkan ilmu pengetahuan, perluas cakrawala pemikiran, jangan membatasi diri terhadap lingkungan dan masyarakat yang datang menghampiri, jangan pelit berbagi informasi, atau merasa takut tersaingi. Namun bentengi diri terhadap beragam gempuran yang membawa efek negatif. Waspada selalu ya”. Demikian Sang Guru menguraikan bimbingannya berkali-kali.

Ah Guru….. Bagaimana caranya?
Ritual di kala Pagerwesi, dengan melakukan ayoga semadhi, menenangkan hati dan melakukan sembah bhakti pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, melakukan widhi widhana atau menghaturkan sesembahan di Sanggah / Merajan / Pura.

Apa yang telah dilakukan oleh Sang Guru, Pande Wayan Suteja Neka, telah mengajarkanku, bahwa, terkadang, mencapai cita-cita membutuhkan perjuangan dan semangat tidak pernah kenal lelah. Sungguh, sebuah perjuangan berpuluh tahun, berkeliling melanglang buana, sebelum beliau dapat membuka sebuah museum seni dan budaya, Museum Neka, pada tahun di Ubud, mengumpulkan potongan sejarah, beragam benda seni dan budaya, sebelum beliau pada akhirnya diakui sebagai seorang Maestro Keris.  

Jika saja beliau tidak bersungguh-sungguh, tidak kukuh dalam sikap, tidak membentengi diri dengan semangat dan disiplin tinggi, mungkin beliau tidak dapat menjadi seorang maestro seperti adanya saat ini.



Pada saat Pagerwesi, umat hendaklah ayoga semadhi, yakni menenangkan hati serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Juga pada hari ini diadakan widhi widhana seperlunya, dihaturkan dihadapan Sanggar Kemimitan disertai sekedar korban untuk Sang Panca Maha Butha. Pada hari ini kita menyembah dan sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata yang sedang melakukan yoga. Menurut pengider-ideran Panca Dewata itu ialah:

1. Sanghyang Içwara, berkedudukan di Timur
2. Sanghyang Brahma, berkedudukan di Selatan
3. Sanghyang Mahadewa, berkedudukan di Barat
4. Sanghyang Wisnu, berkedudukan di Utara
5. Sanghyang Çiwa, berkedudukan di tengah

Ekam Sat Tuhan itu tunggal. Dari Panca Dewata itu kita dapatkan pengertian, betapa Hyang Widhi dengan 5 manifestasiNya dilambangkan menyelubungi dan meresap ke seluruh ciptaanNya (wyapi-wiapaka dan nirwikara). Juga dengan geraknya itulah Hyang Widhi memberikan hidup dan kehidupan kepada kita. Hakekatnya hidup yang ada pada kita masing-masing adalah bagian daripada dayaNya. Pada hari raya Pagerwesi kita sujud kepadaNya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstuiNya dengan kesentosaan, kemajuan dan lain-lainnya.

Widhi-widhananya ialah: suci, peras penyeneng sesayut panca-lingga, penek rerayunan dengan raka-raka, wangi-wangian, kembang, asep dupa arum, dihaturkan di Sanggah Kemulan (Kemimitan). Yang di bawah dipujakan kepada Sang Panca Maha Bhuta ialah Segehan Agung manca warna (menurut urip) dengan tetabuhan arak berem. Hendaknya Sang Panca Maha Bhuta bergirang dan suka membantu kita, memberi petunjuk jalan menuju keselamatan, sehingga mencapai Bhukti mwang Mukti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar