Senin, 20 Oktober 2014

Hari Raya Tumpek Landep dan Sang Guru: Pande Wayan Suteja Neka (2)





I.Hari Raya Tumpek Landep dan Sang Guru, Pande Wayan Suteja Neka

Upacara Tumpek Landep yang hadir setiap Saniscara Kliwon wuku Landep adalah pemujaan kepada Bhatara Siwa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Pasupati. Tumpek Landep terutama menjadikan senjata dan semua peralatan yang terbuat dari besi menjadi sthana Sanghyang Pasupati. 

Upacara ini merupakan wujud bhakti dan karma umat Hindu, baik sebagai sarana pemujaan, ucapan terima kasih, sekaligus permohonan kepada Hyang Widhi atas anugerah berupa peralatan dari besi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Namun demikian makna Tumpek Landep adalah landeping idep, yakni mengasah kekuatan idep (citta) dan berpuncak pada pengetahuan rohani mengenai pengendalian citta untuk mencapai jivanmukta.

Guru Pande Wayan Suteja Neka menuturkan (17 Oktober 2014), 
“Perlu saya sampaikan bahwa yang disebut Pusaka adalah :
- Sesuatu yang mempunyai arti dan makna yang terkandung didalamnya.
-Memiliki nilai historis.
-Merupakan warisan dari leluhur.

Apa makna keris Pusaka :
-Di Bali pada umumnya memandang Keris Pusaka itu sebagai keris pajenengan, simbol kekuatan leluhur dan alam semesta.
-Keris Pusaka adalah keris yang disakralkan melalui upacara pasupati sehingga mempunyai kekuatan/kesaktian dan mempunyai sifat kandel atau andalan sebagai pengameng-ameng.

Mengapa keris pusaka dipandang mewakili kepemimpinan berkarisma?.
Keris merupakan suatu benda sakral yang penuh dengan simbol-simbol yang mempunyai arti & makna yang sangat mendalam bagi kehidupan manusia.





Apa yang diuraikan Sang Guru menjelaskan bahwasanya dalam kehidupan masyarakat modern, perekmbangan teknologi tidak dapat terpisah dari kemampuan mengasah keselarasan diantara pikiran – budi – ego, cipta – rasa – karsa, kognitif – afeksi - konasi. 

Kekuatan citta yang terdiri atas pikiran (manah), kecerdasan (buddhi), dan ego (ahankara) dapat diarahkan menjadi spirit dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK). Manusia sebagai mahluk mulia yang diberi kemampuan berpikir dan mengolah rasa, menilai dengan disertai standar norma. Tumpek Landep bagi umat Hindu menjadi ritual untuk membangun kesadaran idep secara berkesinambungan dalam sistem makna yang selalu terbuka untuk didialogkan pada setiap zaman.


REFERENSI:
Geria, I Wayan. 2000. Transformasi Kebudayaan Bali Memasuki Abad XXI. Denpasar.
Magetsari, Noerhadi. 1986. Local Genius Dalam Kehidupan Beragama, dalam Kepribadian Budaya Bangsa, Jakarta: Pustaka Jaya.
Pendit, Nyoman S. 1994, Bhagavad Gita, Jakarta, P.T. Hanuman Sakti, Jakarta.
Suamba, I.B.Putu. 2007. Siwa-Buddha di Indonesia: Ajaran dan Perkembangannya. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan bekerjasama dengan Penerbit Widya Dharma.
Sudharma, I Made. 2000. “Acara Agama Hindu”. Artikel. Disampaikan dalam Pelatihan Pemangku dan Sarathi Banten, Kanwil Agama Prov. Bali.
Sudharta & Punyatmadja, 2001. Upadesa. Surabaya: Paramita.
Sugito,ed. 2007. Jagat Upacara Mengungkap Realitas Sakral dan Profan. Yogyakarta: Gajahmada University Press.
Tim. 1989. Lontar Sundarigama: Teks dan Terjemahan. Pemerintah Daerah Tk. II Kabupaten Badung.
Yasa, I Wayan Suka. 2006. Teori Rasa: Memahami Taksu, Ekspresi & Metodenya. Denpasar: Penerbit Widya Dharma Bekerjasama dengan Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia Denpasar.

Zaehner, R.C. 1993. Kebijaksanaan Dari Timur: Beberapa Aspek Pemikiran Hinduisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar