Minggu, 19 Oktober 2014

Sang Maha Guru : Pande Wayan Suteja Neka (1)





















Tumpek Landep, Pagerwesi, dan Saraswati ......

Ketiga hari bersejarah ini selalu mengingatkan aku pada Sang Guru..... Pande Wayan Suteja Neka. Tak dapat kuurai secara memadai menurutku sendiri, namun, Beliau begitu bersungguh-sungguh akan harga mati sebuah penghargaan terhadap leluhur, budaya, dan kreativitas abadi di bidang budaya.








”abdhir gatrani suddhayanti
manah satyena suddhyati
vidyatapobhyam bhuttatma,
buddhir jnanena suddhyati”

(Manawadharmasastra Bab V, sloka 109) 

Artinya:

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran (satya), jiwa disucikan dengan pelajaran suci dan tapa brata, dan kecerdasan disucikan dengan pengetahuan yang benar (jnana).

Sloka ini menegaskan bahwa kita wajib senantiasa menjaga kesucian, baik fisik maupun psikis, jasmani atau rohani, jiwa maupun budi. Kesucian ini akan membantu mengembangkan kualitas diri manusia sehingga siap menghadapi kehidupan yang penuh kontradiksi nilai dan norma. 

Kekuatan diri ini juga menjadi syarat mutlak bagi manusia untuk memenangi berbagai kompetisi dalam kehidupannya. Dalam hal ini manah dan buddhi sebagai pembangun sistem pengetahuan manusia perlu diasah dan disucikan terus menerus dengan kebenaran dan pengetahuan yang benar. Oleh karena itu pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dalam pemaknaan terhadap upacara Tumpek Landep.

Seringkali orang merasa bahwa pemahaman dan kecerdasan yang dimilikinya sudah sangat tinggi, jauh melebihi masyarakat pada umumnya. Hal ini yang seharusnya diwaspadai, karena kesombongan dan keangkuhan akan menjadi titik awal kejatuhan dan kerapuhan.

“Jangan pernah sombong dan cepat merasa puas” Tutur Guru padaku. Teruslah mengasah ketajaman indra dan budi pekerti, demi kesucian dan kelangsungan eksistensi diri kita. 

Ah…… Betapa, Tumpek Landep, Pagerwesi, dan Saraswati, senantiasa menghantar ingatanku pada Sang Guru.








 Ayah beliau, I Wayan Neka (1917 – 1980), dikenal sebagai seorang tokoh seni patung yang mendapat penghargaan di bidang seni oleh pemerintah pada tahun 1960.  Sekaligus juga dikenal sebagai pembuat patung burung garuda setinggi 3 meter di pameran tingkat dunia di New York pada tahun 1964, dan juga patung sama setinggi 3 meter pada tahun 1970, di Osaka Jepang. 

Sebagai orang yang memiliki darah budayawan, melalui perjuangan panjang, keberhasilan beliau juga ditandai pada tanggal 7 Juli 1982 sebagai tanggal dibukanya Museum Neka, dan diresmikan oleh Dr. Daoed Yoesoef.

“Saya tidak akan pernah berhenti berkarya”. Ujar beliau dengan sepenuh semangat. Guru, saya berjanji, akan meneruskan semangat Sang Guru, kepada banyak orang, kepada ribuan, bahkan jutaan orang. Semangat untuk pantang menyerah kalah, meski penuh halangan dan rintangan di dalam kehidupan.

Terkadang. Hidup tidaklah mudah. Tidak seindah impian dan harapan yang kita inginkan. Tidak seperti angan yang kita cita-citakan. Terjatuh dan tersungkur berkali, bangkit kembali berkali dan berkali lagi…..






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar