Minggu, 12 Januari 2014

Brahmavihara Arama, Saniscara Kliwon Uye, Tumpek Kandang, di Banjar Tegehe, Desa Banjar, 11 Januari 2014


"Always chase your dreams instead of running of your fears" - Anonymous
Seringkali kita sibuk memikirkan hal-hal yang tidak kita miliki yang terkadang membuat kita takut untuk melangkah. Quote di atas yang berarti "Lebih baik berlari mengejar mimpi daripada berlari dari rasa takutmu," seolah mengingatkan kita untuk fokus terhadap tujuan dan tidak membiarkan hal-hal sepele menghancurkannya.




Sabtu, 11 Januari 2014, Saniscara Kliwon Uye, Tumpek Kandang. Tanpa rencana sebelumnya, aku tiba di depan wihara ini. Sudah berkali lewat disini, namun belum sempat sekalipun mampir. Dan..... kupikir, kinilah saat yang tepat.

Setelah berangkat pukul 8 pagi dari rumah, menuju Banjar Cemenggaon, Sukawati, Gianyar, pernikahan Ayu. Kemudian Kerobokan, Baturiti, pernikahan Uttari. Terakhir, pernikahan Putu Liong, di Munduk, Buleleng. Dan, mengunjungi anak asuhku, Maisiah, di Banjar Tegehe, Banjar, Buleleng. Pukul 16.00 akhirnya aku tiba di depan wihara ini. Brahmavihara Arama. Beberapa mobil wisatawan asing terlihat sedang parkir di bagian depan wihara. Rombongan turis Perancis terlihat berjalan masuk ke lobby wihara.




Brahmavihara-Arama adalah sebuah vihara yang indah dan merupakan tempat ibadah umat Buddha terbesar di Bali. Tempat ini lebih dikenal dengan nama Vihara Buddha Banjar karena letaknya yang ada di desa Banjar, Buleleng. Vihara ini tepatnyat terletak di daerah perbukitan di Dusun Tegeha, Kecamatan Banjar, 22 kilometer sebelah barat Singaraja dan 11 kilometer dari kawasan wisata Lovina. Sedangkan, dari kota Denpasar, vihara ini bejarak sekitar 100 kilometer yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 2,5 – 3 jam melalui jalur Denpasar-Bedugul-Singaraja. 

Selain tempat beribadah umat Buddha, vihara ini juga merupakan tempat untuk bermeditasi. Brahmavihara-Arama terletak di kawasan perbukitan. Di bagian Utara terlihat indahnya pemandangan laut Bali Utara serta areal perkebunan dan persawahan dari ketinggian. Suasananya yang sepi dan tenang serta pemandangan langsung ke pantai Lovina menyebabkan vihara Buddha ini sebagai tempat meditasi yang sempurna. Bangunannya yang artistik dan unik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan

























Brahmavihara-Arama didirikan tahun 1969 di atas lahan seluas kurang lebih 4 hektar dan diselesaikan satu tahun setelahnya. Pada tahun 1973 bangunan suci ini baru diresmikan sebagai vihara Buddha utama. Sebelumnya memang sudah berdiri vihara yang berlokasi di Pemandian Air Panas Banjar, namun pada saat itu pengikutnya (upcaka) masih sangat terbatas sehingga Brahmavihara-Arama dipandang sebagai tempat yang lebih layak. 



Brahmavihara-Arama terdiri dari tiga kata yaitu: Brahma, Vihara dan Arama. Brahma berarti terpuji/mulia. Vihara berarti cara hidup, dan Arama berarti tempat. Dari gabungan kata tersebut, dapat disimpulkan bahwa makna dari Brahmavihara-Arama adalah suatu tempat untuk melatih diri, menempa perilaku luhur/terpuji yang dalam ajaran Buddha meliputi Metta, Karuna, Mudita dan Upekkha





Wihara ini terdiri atas lima kompleks utama  (http://balitour.net/id/view/brahmavihara-arama-buleleng-tempat-wisata-yang-damai-penuh-spiritualitas)

1. Uposatha Gara, berlokasi di puncak sebelah Barat. Tempat ini berupa sebuah ruangan yang dihiasi dengan relief-relief kelahiran Sang Buddha, dan di tengah-tengahnya terdapat patung Buddha dalam keadaan mencapai Nirwana. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat penobatan para calon bhiku.

2. Dharmasala, terletak di bagian timur. Tempat ini berupa ruang kuliah dimana para bhikku membahas serta mempelajari ajaran suci. Tempat ini juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk melakukan kebaktian dan segala aktivitas spiritual.

3. Stupa, terletak di sudut barat laut Vihara. Bangunan yang berbentuk lonceng raksasa bersepuh cat keemasan.

4. Pohon Bodi, terdapat di sudut barat daya Vihara. Di sekitar pohon ini terdapat relief-relief indah yang melambangkan kemenangan Sang Buddha saat mencapai kesempurnaan yang abadi.

5. Kuti, adalah tempat tinggal para bhiku dan siswa yang sedang menuntut ilmu. Selain itu juga dipergunakan sebagai tempat latihan para bhiku.

Uniknya, ketika memasuki Brahmavihara-Arama, rasanya seperti memasuki sebuah pura. Memang unsur budaya Bali terasa kental di Vihara ini karena dibangun dengan arsitektur Bali tanpa kehilangan ciri khasnya sebagai tempat ibadah agama Buddha. Hal ini memperlihatkan modifikasi budaya pada beragam bentuk dan simbol yang hadir di wihara Brahmavihara Arama. 
 
Setiap halaman yang ada dihubungkan dengan beberapa anak tangga yang masing-masing berisi prinsip-prinsip ajaran Buddha. Misalnya yang terdapat pada anak tangga menuju Dharmasala, tulisan yang terdapat pada setiap anak tangga.
 















 
Jaya Maranam : Hari tua dan kematian -  Penderitaan sampai diakhiri dengan kematian
Jati Paccaya Jaya Maranam : Kelahiran - Hari tua dan kematian (Penderitaan - Terikat)
Bhava Paccaya Jati : Proses penjelmaan - Kelahiran
Upadanam Paccaya Bhavo : Kemelekatan - Proses - Penjelmaan.
Tanha Paccaya Upadanam : Keinginan - Rendah - Kemelekatan.
Vedana Paccaya Tanha : Perasaan - Keinginan - Rendah hati.















Pada bagian tertinggi dari areal vihara ini, terdapat lapangan luas dengan halaman indah dihiasi rerumputan dan pohon, dan di ujungnya terdapat sebuah bangunan stupa berupa miniatur candi Borobudur. Di bagian dalam stupa tersebut terdapat sebuah ruangan yang berisi 4 patung Buddha berwarna emas menghadap ke 4 penjuru mata angin. Tempat ini adalah tempat untuk melaksanakan meditasi. Biasanya, pada perayaan hari besar agama Buddha ratusan orang akan memenuhi lapangan tersebut untuk melakukan persembahyangan. Wihara ini juga sering mendapatkan kunjungan-kunjungan dari kelompok-kelompok pecinta meditasi baik dari Indonesia maupun mancanegara










Wihara ini juga menjadi tempat tujuan untuk bersembahyang, bersamadhi, bagi umat lain. Termasuk mereka, Astri dan Heni, remaja muslim yang mengenakan jilbab. "Kami dari Yeh Biu, sudah berkali kemari untuk bersembahyang", demikian ujar mereka. Hmmm..... indahnya, bila toleransi dan harmoni tercipta di seantero negeri. Yang ada hanya damai, kebersamaan dan persahabatan.....











Hmmm, sungguh, damai terasa. Aku bersyukur, masih bisa menikmati hari-hari dalam kehidupanku, mengunjungi beragam tempat dengan nilai spiritual yang mampu membuat hati terasa damai, memberikan motivasi bagi diri ini, untuk menjadi semakin shantih......


"In this world, some people will always throw stones. It depends on what you make from them, a wall or a bridge" - anonymous
"Dalam hidup ini, orang akan selalu melempar batu di jalan kita. Semuanya tergantung pada Anda, apakah membuat batu itu menjadi tembok atau jembatan." Kita tahu bahwa orang akan berusaha menghalangi kita untuk sukses, tapi jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik, justru hal tersebut bisa menjadi penyemangat untuk berjuang lebih keras lagi. Bangkitlah..... kumpulkan semangat dan inspirasi, wujudkan mimpi dengan kerjasama juga karya nyata dan segera meraih cita-cita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar