Minggu, 05 Januari 2014

Telepon untuk Dewa Biyangku tersayang..... Minggu, 5 Januari 2014


Jarak yang memisahkan keberadaan seseorang dengan orang lain, terkadang menimbulkan banyak masalah. kerinduan, kesalahpahaman, kejelasan informasi, kebersamaan, kerja sama, dan..... serentetan kompleksitas situasi juga kondisi lain. Banyak cara yang dilakukan untuk membantu terjalinnya interaksi. Baik dengan mempersering pertemuan, saling berkunjung, berkirim surat, bertelepon, akses  internet.

Dewa Biyang Nyoman adalah adik kandung bapakku. Beliau bersama keluarga besar berada di kampung halaman, desa Batuaji kelod, kecamatan Kerambitan, kabupaten Tabanan. Sudah semenjak 3 bulan ini telepon rumah Dewa Biyang Nyoman bermasalah. Tidak bisa dipergunakan lagi. kami hanya bisa saling berhubungan melalui mobile phone para Dewa Aji, pamanku lainnya. Hmmm, tentu rada ribet jika rindu melanda, dan ingin menghubungi beliau, atau bila beliau ingin menghubungi kami.......

Aku berjanji untuk segera mengganti telepon rumah Dewa Biyang Nyoman. Dan, bahkan, sudah kudapatkan semenjak dua bulan lalu. Namun, yang belum sempat kulakukan adalah membawa telpon tersebut ke kantor Telkom Tabanan, dan mendaftar untuk mendapatkan nomer telepon yang ditembakkan atau disuntikkan ke dalam telepon bersangkutan, sehingga mudah dipergunakan. Dan..... yang lebih indahnya lagi, karena telepon tersebut kuletakkan di bagian bawah meja kerjaku di rumah, sedang rumah kami kebanjiran hingga sepinggang pada hari Senin, tanggal 16 Desember 2013 lalu, telepon tersebut dengan suksesnya terendam, sehingga rusak parah..... Hmmm, hidup memang tidak selalu indah seperti harapan dan keinginan kita.



Sudah berkali aku ingin pulang ke jeroan, pulang ke kampung halaman di Kerambitan, namun beragam kesibukan begitu menekan..... Dan, jujur, aku belum mampu membelikan beliau telepon sesuai keinginannya. Namun, kerinduan takkan tinggal diam hanya menjadi kerinduan yang menghujam. Justru di tengah hujan deras dan sesekali ditingkahi petir, aku beranjak pulang. Mengendarai motor tua tersayang, mengenakan jas hujan, dengan ransel tersampir di pundak, aku pulang.

Tiba di Tabanan Kota, aku mampir di salah satu toko penjual telepon di pinggir jalan. Berceritera sejenak dengan sang pemilik toko tentang situasi di kampung halaman, dia menawarkan solusi bagiku. Ehm.... jadi ingat salah satu iklan di teve, "Menawarkan solusi tanpa solusi", atau iklan salah satu badan usaha pemerintah, "Mengatasi masalah tanpa masalah". Kuambil salah satu mobile phone bekas yang paling sederhana cara penggunaannya bagi Dewa Biyang Nyoman ku tersayang. Kuminta bapak tua penjual telepon yang ramah tersebut untuk membuat format yang paling gampang, sehingga cukup mudah untuk digunakan. kemudian kami memasukkan beberapa nomer penting yang akan langsung muncul berturutan pada mobile phone tersebut.



Setelah yakin cukup mudah untuk dipergunakan, kubelikan pulsa untuk dipergunakan sebulan oleh Dewa Biyang Nyoman, kutuntaskan pembayaran, dan segera pamit pada sang penjual untuk kembali melanjutkan perjalananku. Kubeli beberapa roti dan jaje bali, soto ayam dan lontongnya, juga sekotak gula jagung, karena Dewa Biyang Nyoman juga mengidap penyakit diabetes mellitus......

15 menit kemudian, aku tiba di kampung halaman, berjumpa Dewa Biyang Nyoman, memberikan mobile phone berwarna hijau tersebut, mengajari beliau, dan mencoba menghubungi beberapa nomer yang telah kutanam di dalamnya. Setelah cukup yakin beliau akan mampu gunakan mobile phone tersebut, aku merasa tenang. Kemudian mengunjungi bagian rumah yang lain, menyapa keluarga besarku, bertutur kata dan bertukar ceritera. 


 







 

Tidak lama, karena aku harus segera kembali ke Denpasar, acara lain kembali menanti. Hmmm, kerinduan ini, seperti apa yang kubaca dari sang bijak, pak Made Andi Arsana..... "Kita tidak tahu kemana harus melangkah jika lupa dari mana kita".

Benar sekali, pak Andi. Karena kita tentu memiliki keluarga, leluhur, juga budaya asal. Tidak menghargai dan berusaha melupakan mereka adalah bagai Kacang Lupa dengan Kulitnya. Walau terkadang terdapat kenangan yang menyakitkan, gambaran yang buruk dan menakutkan, namun, selalu indah untuk berpijak dan tumbuh berkembang dengan segala kompleksitas yang ada. Maka...... Aku pulang, berlari membawa rinduku, di tengah hujan deras dan petir, meski hanya sekejap bisa membunuh rindu pada mereka, keluargaku...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar