Sabtu, 13 Juli 2013

PKB bagi Laskar Pelangiku, Jum'at, 12 Juli 2013

Pesta Kesenian Bali telah berlangsung semenjak lama.....
Sejak tahun 1979, semenjak pertama digagas oleh IB Mantra, dan hingga kini, telah berlangsung sebanyak 34 kali, karena kali ini adalah yang ke 35.



Dan kali ini berlangsung semenjak Sabtu, 15 Juni hingga 13 Juli 2013. Bertempat di Art Center Denpasar Bali.

Semenjak kesibukan mendera, entah karena kesibukanku, mulai dari mengawasi ujian akhir semester para mahasiswa, hingga penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi dimana aku bekerja.



Berkali sudah, kukunjungi Pesta Kesenian Bali ke 35 pada tahun 2013 ini. Entah bersama simbok dan Yudha, bersama simbok, sendirian, dan juga suami tercinta. Entah untuk sekedar menikmati Parade Gong Kebyar anak-anak, para perempuan, juga dewasa pria yang berlangsung di Ardha Candra, panggung terbuka. Atau mengikuti berbagai seminar di gedung Ksirarnawa, berkaitan dengan PKB, menyusuri ruang pameran di sekitar area PKB.






Kali ini aku berniat mengajak anak-anakku bersama. Jum'at, 12 Juli 2013. Sepulang dari rutinitas bekerja di Nusa Dua, dan berlanjut dengan bimbingan bagi penyusunan Disertasiku, bimbingan bersama Profesor AA Anom Kumara di kampus UNUD. Letih??? Ah, tiada kata letih bila melihat wajah polos dan tatapan bersemangat mereka semua. Sedikit waktu luang akan membuat mereka berbahagia dalam keceriaan bersama.



Bagaimana caranya? Ada 10 anak-anak tetangga yang berkumpul di depan pagar rumah, menatapku dengan wajah kekanakan mereka, berharap untuk kuajak serta. Sedangkan aku tak punya mobil. Haruskah kubunuh harapan mereka? No way....

Kami hubungi pak Ridwan, pemilik mobil pick up sewaan. Setelah harga disepakati, 200.000 rupiah, untuk mengantar kami semua, dan menunggui 3 jam di lokasi PKB, kemudian kembali lagi ke Pondok, perumahan kami.



Kuminta para pasukan ini, Laskar Pelangi, untuk pulang mandi, dan berpamitan pada para orang tua mereka, menyiapkan bekal makanan untuk kami makan bersama di area PKB kelak. Namun tetap, kupersiapkan pula nasi dalam kotak bekal makanan, mie goreng, telur goreng, dan ayam goreng yang kumiliki. beberapa botol air minum, dan bersiap menunggu kedatangan mereka. 








Langit senja temaram terlihat indah. Untung tidak ada mendung menggantung yang membuat khawatir akan turun hujan. Kumasukkan bekal ke dalam tas go green yg kumiliki. Memastikan anak-anak sudah duduk rapi di dalam mobil pick up kami, memastikan mereka sudah mengajukan ijin pamit bepergian sejenak pada kedua orangtua, dan meluncur berangkat.





Ada AA Wipa, Gung Bagus, Annika, Epin, Kodi, Komang Mahesa, Komang, Dek Tut Suryantara, Dewa Kadek Angga Juliantara, dan, anakku, Yudha. Beberapa anak lain yg ingin bergabung tidak mendapat ijin dari orangtuanya. Well, tidak mengapa lah. Masih banyak waktu untuk bergabung lain kali....









Berkeliling bersama menyusuri beberapa stand pameran yang ada, kami beristirahat di panggung kalangan Ayodya. Kubuka bekal dalam beberapa kotak nasi, dan membagikannya pada mereka untuk dinikmati bersama. Megibung, makan bersama, menikmati hidangan apa adanya. Kubelikan es krim bagi mereka.





Berikutnya, kami masuk ke dalam arena panggung terbuka Ardha Candra. Disini berlangsung Parade Gong Kebyar Dewasa, Duta Kabupaten Jembrana tampil bersama Duta Gong Kabupaten Bangli. Ribuan orang yang turut memadati deretan bangku di sekitar arena panggung terbuka tersebut membuat kami berhati-hati berjalan dan melangkah mencari posisi tepat. Sungguh beruntung kami mendapat bangku di bagian paling depan.

























Betapa......
Tatapan wajah mereka, dengan bersungguh, menikmati tampilan demi tampilan dalam Parade Gong Kebyar tersebut membuat ku kagum. Menyampaikan pembelajaran dalam sebuah proses unik pada anak-anak, mengenalkan pada mereka, budaya luhur negeri ini. Menanamkan penghargaan bagi diri mereka, juga belajar menghargai beragam karya orang lain.......


















Anak-anak......
Tetaplah anak-anak. Dengan segala kepolosan dan tawa canda ria mereka. Aku belajar banyak dari mereka. guru kehidupan dalam bentuk kanak-kanak.

Laskar Pelangiku terkasih.....
"Menarilah dan terus tertawa, meski dunia tak seindah surga...... Bersyukurlah pada Yang Kuasa, cinta kita di dunia........"






Pesta Kesenian Bali (PKB) yang merupakan agenda rutin tahunan Pemerintah Provinsi Bali, yang dijadikan sebagai wadah aktivitas dan kreativitas para seniman dalam upaya ikut mendukung program pemerintah dalam hal penggalian, pelestarian dan pengembangan nilai – nilai seni budaya Bali yang adhiluhung. Festival atau parade Gong Kebyar merupakan salah satu acara dalam agenda Pesta Kesenian Bali yang sangat bergengsi. Dalam festival acara tersebut, kita dapat melihat atau menyaksikan karya seni sebagai hasil kreativitas para seniman dan kepiawaian para pengrawit dalam memainkan gambelan Gong Kebyar.

Pesta Kesenian Bali

Pesta Kesenian Bali diselenggarakan sebagai upaya persembahan karya cipta seni terbaik masyarakat. Bilapun kini masyarakat berkeinginan memilih antara kesenian dan kerajinan, profan dan sekular, pesanan dan kreativitas murni masyarakat Bali, semua itu mereka kerjakan dengan semangat “persembahan “. Perbedaan itu tidak akan mengurangi hakekat berkesenian. Kegiatan berkesenian didasari oleh motivasi sebagai persembahan yang terbaik dan “spirit” dalam segala aktivitas masyarakat Bali.

Seni yang ditampilkan adalah persembahan dan karya cipta yang dihasilkan juga sebagai persembahan. Hal ini yang masih dijadikan. Persembahan seni dan karya cipta mengandung makna pembebasan yang iklas yang dalam ajaran Hindu sering disebut dengan yadnya. Yadnya yang dipersembahkan melalui seni dan karya cipta menjadikan hasil ciptaannya sebagai persembahan terbaik, maka sedapat mungkin seseorang seniman tidak akan mempersembahkan miliknya atau karyanya yang paling jelek atau seadanya, apalagi persembahan itu berupa seni dan karya cipta yang terlahir dari budi daya sebagai hulu cinta kasih dan peradaban rohani seni masyarakat.

Pesta Kesenian Bali merupakan media dan sarana untuk menggali dan melestarikan seni budaya serta meningkatkan kesejahteraan. Penggalian dan pelestarian seni budaya meliputi filosofi, nilai-nilai luhur dan universal, konsep-konsep dasar, warisan budaya baik benda atau bukan benda yang bernilai sejarah tinggi, ilmu pengetahuan dan seni sebagai representasi peradaban serta pengembangan kesenian melalui kreasi, inovasi, adaptasi budaya dengan harapan agar tetap hidup dan ajeg berjcelanjutan dalam konteks perubahan waktu dan jaman serta dalam lingkungan yang selalu berubah.

Sejarah

Menampung hasil karya cipta, seni dan aspirasi berkesenian baik kesenian hasil rekonstruksi, seni hasil inovasi, atraksi kesenian serta apresiasi seni dan budaya masyarakat , maka Pemerintah Propinsi Bali, sejak tahun 1979, oleh Almarhum Prof. Dr. Ida Bagus Mantra menggagas dan memprakarsai suatu wadah pesta rakyat, yang sampai sekarang disebut ” Pesta Kesenian Bali ” (PKB), yang pertama kalinya di gelar.

Dasar Penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali adalah Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 07 Tahun 1986 tentang” Pesta Kesenian Bali “. Pesta Kesenian Bali yang digelar pertama kali pada tahun 1979, berlangsung kurang lebih 2 bulan tepatnya dari tanggal 20 Juni 1979 sampai 23 Agustus 1979, dan setiap tahun telah memberikan kesempatan untuk menampilkan karya-karya seni terbaik, sebagai wahana pembinaan, pelestarian dan pengembangan seni budaya masyarakat.Pelestarian seni budaya dengan menampilkan keseniankesenian klasik yang sudah hampir punah dan terpendam di masyarakat.Melalui Pesta Kesenian Bali, memotivasi masyarakat untuk menggali, menemukan dan menampilkan kepada masyarakat pada pesta rakyat ini. Penyelenggaraan PKB dari tahun ketahun telah memberikan nuansa tersendiri bagi keajegan seni budaya Bali dengan menampilkan thema yang selalu berbeda-beda.Kiranya cara berkesenian masyarakat Bali yang dipersembahkan kedalam wadah Pests Kesenian Bali, setiap tahunnya juga berbeda-beda. Seperti pada Pesta Kesenian Bali yang berlangsung Juni 2003 ini merupakan Pesta Kesenian Bali ke 25 yang bertepatan dengan Jubillium Perak Pesta Kesenian Bali. Kesempatan ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk melakukan koreksi, perbaikan dan perubahan serta introspeksi diri, ditengah-tengah keterpurukan kepariwisataan Bali saat ini.

Pesta Kesenian Bali membuat masyarakat Bali untuk selalu beraktivitas dan berkreativitas untuk memenuhi kehidupan kita. Dengan demikian aktivitas dan kreativitas berkesenian untuk menghasilkan karya cipta dan seni masyarakat Bali tidak akan pernah berhenti, untuk menggali dan mengembangkan gagasan-gagasan baru, baik itu gagasan barn berkesenian maupun dalam kegiatan sehari hari, dalam rangka menyambung kelangsungan kehidupannya. Penggalian dan pengembangan gagasan baru berkesenian, dipakai untuk mengimbangi adanya distribusi budaya asing sebagai akibat globalisasi menyeluruh, karena dengan adanya gagasan barn akan dapat menuntun prilaku masyarakat dalam konteks berfikir, berkata dan berbuat yang diinplementasikan dan diwujudkan dalam bentuk karya cipta seni budaya.

Dalam sejarah perjalanan pesta seni rakyat yang akbar ini pada umumnya selalu dibuka oleh pejabat tinggi negara. Hanya pada PKB yang pertama kali tahun 1979 dibuka oleh Almarhum Prof DR. Ida Bagus Mantra yang saat itu menjabat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali sekaligus sebagai penggagas PKB. Selebihnya pembukaan PKB dilaksanakan oleh Menteri, Wakil Presiden, Presiden dan Ibu Negara.[1]

Referensi

  1. Sejarah Pesta Kesenian Bali, kevinabali.wordpress.com. Access date:23 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar