Minggu, 10 April 2016

Adrianus Wilhemus Smit, Pande Wayan Suteja Neka, dan Makna Sahabat Sejati



“Arie Smit meninggal pada Hari Rabu malam, 23 Maret 2016, pukul 20.30, di Rumah Sakit Puri Raharja….” Ujar Pande Wayan Suteja Neka. Jasad beliau disemayamkan di Rumah Sakit Angkatan Darat, dilanjutkan dengan doa kebaktian dan kremasi di Krematorium Kristen di Mumbul pada hari Kamis, 24 Maret 2016. “Ini sesuai dengan permintaan Smit, yang menyatakan dia terlahir sebagai Kristen dan ingin meninggal juga sebagai pemeluk Kristen”, Pande Wayan Suteja Neka bertutur mengenai sosok Arie Smit.

Arie Smit, terlahir dengan nama Adrianus Wilhelmus Smit tahun 1916, bulan April tanggal 15 di negeri Kincir Angin, Belanda. Beliau meninggal tanggal 23 Maret 2016, 23 hari lagi menjelang ulang tahunnya ke seratus…….

Jenasah beliau disemayamkan di rumah duka Rumah Sakit Angkatan Darat. Doa kebaktian menurut agama Kristen dilakukan pada hari Kamis, 24 Maret 2016. Seusai doa kebaktian, jenasahnya dibawa menuju Krematorium Kristen di Mumbul untuk dikremasi, dan abunya dilarung di Pantai Matahari Terbit yang terletak di Sanur.

Pande Wayan Suteja Neka menjelaskan, almarhum selama empat tahun terakhir mengalami kelumpuhan dan buta sehingga tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. 

 

“Bu Santi, tahukah makna persahabatan sejati? Bisa saling menguatkan dan berjalan dengan tulus…” Pande Wayang Suteja Neka bertutur tentang makna persahabatan beliau dengan sosok Arie Smit. “Persahabatan kami adalah karena adanya persamaan apresiasi terhadap kebudayaan. Budaya, khususnya seni, merupakan sesuatu yang harus dijaga dan dipelihara, dikembangkan dan diwariskan bagi anak cucu, sehingga kita bisa memiliki roh, jiwa, semangat, taksu, dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari”.



Buku berjudul Arie Smit Memburu Cahaya Bali karya Putu Wirata, Hartanto, Garret Kam (1996, hal. 15) menjelaskan Arie Smit sudah tinggal di Villa Sanggingan, milik Suteja Neka, semenjak bulan Juni tahun 1991. Semenjak menerima Anugrah Seni “Dharma Kusuma” dari Pemda Provinsi Bali pada tahun 1992, 14 Agustus, Arie Smit memutuskan tinggal seumur hidup di Villa Sanggingan. Arie Smit menggambarkan hubungannya dengan Suteja Neka bagaikan hubungan orang tua dan anak yang membimbing dan mengarahkan, juga memotivasi demi kemajuan kehidupannya.



Secara pribadi, Arie Smit kagum pada Suteja Neka yang berjuang gigih membangun museum dengan biaya sendiri, tanpa bantuan pemerintah, dipelihara dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan. Betapa Suteja Neka merintis pendirian museum untuk mengoleksi karya seni rupa tradisional dan kontemporer, mengumpulkan berbagai karya seni dan menjadikan museumnya sebagai tempat dalam mempelajari sejarah perkembangan aliran seni tradisional, dari yang klasik hingga terkini, juga aliran kontemporer. Karena kecintaannya pada Museum Neka, Arie Smit tidak segan untuk menyumbangkan berbagai karya seninya bagi museum ini.



Arie Smit percaya bahwa seni bisa menggugah semangat dan cinta dalam diri seseorang, baik mencintai diri sendiri, mencintai lingkungan di mana dia berada, dan belajar menghargai perbedaan yang ada. Seni mampu mendorong taksu yang ada di dalam diri, untuk hadir dalam berbagai aktivitas hidup masyarakat Bali, dalam bentuk semangat untuk terus berkarya dan mengembangkan bakat seni masing-masing.

Arie Smith datang ke Bali sejak tahun 1956. Namun jauh sebelum tahun kedatangannya ke pulau Bali, dia telah berharap untuk dapat berkunjung dan menikmati keindahan alam pulau Bali yang digambarkannya dalam berbagai bentuk litografi hasil karyanya. 



Smit merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara dengan orangtua pedagang dan produsen keju di kota Zaandam. Keluarganya pindah ke Rotterdam pada tahun 1924, dimana di kota ini ia mulai mempelajari desain grafis pada sebuah Akademi Seni. Di masa mudanya, ia terinspirasi oleh tiga seniman terkenal, Signac, Gauguin dan Cezanne. Pada tahun 1938 ia bergabung dengan pasukan tentara kerajaan Belanda untuk India Timur, dimana ia bekerja sebagai seorang litografis, bertugas memetakan wilayah archipelago, atau kepulauan, di Batavia. Pada saat kesempatan melakukan proses pemetaan pegunungan Bali, semangatnya tergugah untuk mengunjungi pulau Bali.

Pada awal tahun 1942, Smit dipindahkan untuk bergabung dengan pasukan di Jawa Timur, namun tertangkap oleh pasukan Jepang. Tiga tahun setengah dilaluinya di kamp penahanan untuk membangun jalan, jembatan, dan rel kereta api di Thailand dan Burma. Setelah Perang berakhir pada tahun 1945, Smit dibebaskan, dan kembali ke Republik Indonesia, Smit menjadi penduduk Indonesia semenjak tahun 1951, mengajarkan grafis dan litografi di Institut Teknologi Bandung di Jawa Barat. Di sela-sela waktu luang, ia sering melukis, hingga akhirnya malakukan pameran perdana di Jakarta.

Atas undangan seniman Belanda, Rudolf Bonnet, Arie Smit mengunjungi Bali pada tahun 1956, bersama-sama dengan seniman Auke Sonnega. Di Bali, Arie Smit berjumpa pedagang berbagai benda seni, James Clarence Pandy, hingga akhirnya Arie Smit tinggal di rumah Pandy di Sanur. Pandy juga merupakan pedagang benda seni yang memiliki galeri seni di Sanur, yang kerap dikunjungi oleh Bung Karno beserta tamu kenegaraan. Smit begitu megagumi dan mencintai warna-warni terang, yang dilihatnya pada detail lanskap pulau Bali, terasering persawahan, pedesaan, pura dan beragam tanaman. Hal ini pula yang tertangkap pada pada berbagai benda seni yang dihasilkannya.

Smit juga mengagumi bakat seni yang telah terlihat semenjak usia dini pada masyarakat Bali. Bakat seni yang tumbuh secara alami, di dukung oleh budaya yang berkembang pada masyarakat Bali, bagi nya, merupakan suatu modal yang mampu membimbing masyarakat Bali menjadi seniman dengan maha karya pada berbagai hasil karya seni. Masyarakat Bali mampu menjadi seniman ahli dengan maha karya. Berawal dari tahun 1960 semenjak perjalanannya ke wilayah pedesaan Penestanan di Ubud, ia mulai memiliki murid dan mengembangkan karya seni dengan corak lukisan yang kemudian dikenal dengan “Young Artists’ style, bahkan hingga 300 sampai 400 pengikut. Arie Smit bahkan dikenal sebagai bapak dari gerakan seni beraliran warna-warna terang dan kuat ini. 



Dari beragam murid Arie Smit, ada yang layak untuk dikenal sebagai titik awal sejarah perkembangan kegiatan seninya di Bali, yakni murid yang pertama dibimbing Arie Smit. Kedua orang murid yang pertama kali mendapat bimbingan langsung dari Arie Smit adalah Nyoman Cakra dan Ketut Saki. Mereka adalah penggembala bebek, namun Arie melihat memiliki bakat seni yang luar biasa pada mereka. Tidak butuh waktu lama, murid nya ini telah mampu melahirkan berbagai karya seni beraliran “Young Artis” dengan warna-warna terang dan kuat.

Upaya Arie Smit membimbing dan melahirkan seniman ini berhasil. Banyak pemuda desa setempat yang juga ikut tertarik menekuni aktivitas seni lukis pada kanvas. Karya seni yang dihasilkan para pengikutnya ini membuat kesejahteraan masyarakat di Ubud juga perlahan mulai meningkat.

Semenjak tahun dimana Arie Smit tiba di Bali, ia telah berpindah-pindah hingga 40 kali. Karangasem dan Buleleng merupakan tempat favorit dimana ia menetap. Namun akhirnya pada tahun 1992, beliau menetap di desa Sanggingan, di dekat Ubud, di bawah asuhan bapak Pande Wayan Suteja Neka, pendiri Museum Seni Neka.

Smit menerima anugrah seni "Dharma Kusama" dari Pemerintah Propinsi Bali pada tahun 1992, sebagai penghargaan atas pengabdian seni yang telah dilakukan, kepedulian terhadap masyarakat Bali dalam mengajar seni lukis dan seni patung, juga prestasi yang sangat menonjol dalam bidang seni dengan banyaknya hasil karya seni. Pada tahun 1992 juga, ia menerima penghargaan seni "Wija Kusuma" dari Pemerintah Kabupaten Gianyar. Selain itu, ia pernah mendapat anugrah “Lempad” dari Nyoman Gunarsa, pemilik Museum Seni Lukis Klasik Gunarsa, bekerja sama dengan Sanggar Dewata Indonesia.



Pada tahun 1994, Pande Wayan Suteja Neka mendirikan Paviliun Arie Smit di salah satu bagian Museum Seni Neka, untuk memamerkan hasil karya seni beliau dan karya seni para seniman kontemporer Bali lainnya. Karya seni Arie Smit juga dikoleksi oleh berbagai museum Bali di Denpasar, termasuk pula Museum Penang, di Malaysia. Karya seni beliau dipamerkan di berbagai tempat, seperti Singapura, Honolulu, Tokyo. 

Arie Smit meninggal, di Rumah Sakit Puri Raharja, Denpasar, 23 Maret 2016, 23 hari jelang hari ulang tahunnya yang ke seratus., didampingi sahabat karibnya, Pande Wayan Suteja Neka….. Sahabat sejati adalah sahabat yang saling menguatkan dan berjalan dengan tulus.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar