Selasa, 12 April 2016

Arie Smit dan Suteja Neka, Keluarga adalah bersama, meski tak selalu sama dan bisa ada bersama





Buku berjudul Arie Smit Memburu Cahaya Bali karya Putu Wirata, Hartanto, Garret Kam (1996, hal. 15) menjelaskan Arie Smit sudah tinggal di Villa Sanggingan, milik Suteja Neka, semenjak bulan Juni tahun 1991. Semenjak menerima Anugrah Seni “Dharma Kusuma” dari Pemda Provinsi Bali pada tahun 1992, 14 Agustus, Arie Smit memutuskan tinggal seumur hidup di Villa Sanggingan. Arie Smit menggambarkan hubungannya dengan Suteja Neka bagaikan hubungan orang tua dan anak yang membimbing dan mengarahkan, juga memotivasi demi kemajuan kehidupannya. 

Ayahnya adalah seorang saudagar keju bernama Johanes Smit. Ibunya bernama Elisabeth Ahling. Terlahir pada tanggal 15 April 1916 dengan nama Adrianus Wilhelmus Smit, Arie Smit sejak kecil sudah memperlihatkan ketertarikan akan keindahan alam dengan pemandangan penuh pesona warna - warni alami dan artistik. Hal ini yang membuatnya memilih sekolah seni, Akademi Seni Rupa di Rotterdam, Belanda. Semasa menempuh pendidikan di Rotterdam, ia berkenalan dan bersahabat dengan seorang anak Indonesia yang berkulit sawo matang. Kisah sahabatnya mengenai Indonesia, dengan pemandangan menakjubkan hutan tropis, pegunungan, lembah dan berbagai hewan daerah tropis menggugah hasratnya untuk mengunjungi Indonesia suatu saat kelak.

Belum tuntas pendidikan, ia memilih ikut dalam aktivitas wajib militer, dan bergabung pada tahun 1934 saat berusia 18 tahun dengan ketentaraan Belanda. Ia diberangkatkan pada tahun 1938 untuk bertugas di Hindia Belanda.  Masa-masa tugasnya di Batavia terkait bidang litografi dan topografi membuatnya senang mengelilingi daerah dimana dia berada. Perang yang pecah dengan Jepang pada tahun 1941 dengan invasi Jepang, membuatnya menjadi tahanan perang dan dikirim ke Thailand dan Burma. Sejenak kembali ke Indonesia, dan kembali bekerja pada bidang topografi, Arie Smit mengalami saat dimana Belanda pada tanggal 27 Desember 1949 mengakui kedaulatan Indonesia yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
 

Arie Smit memilih menetap di Indonesia, menjadi warga negara Indonesia, dan mengajar Seni Grafis dan Litografi di Seni Rupa Institut Teknologi Bandung pada tahun 1950 - 1956. Ia mulai memiliki ketertarikan terhadap pulau Bali, sebuah pulau kecil yang terkenal indah dan keunikan seni budaya, berdasar tutur ceritera para sahabat yang pernah berkunjung ke pulau Bali. Dengan semangat tinggi dan berbekal hasil penjualan dari pameran karya seninya di berbagai kota, seperti Jakarta, Plaju, dan Balikpapan, pada tahun 1956 Arie Smit berangkat menuju Bali. Tempat pertama dia mendaratkan kaki setelah berlayar adalah Buleleng. Dari sana ia bergerak menuju Kintamani, lalu ke Ubud.

Bentangan alam yang membuatnya terpesona, keindahan warna-warni alam di sekeliling, para petani yang menuntun sapi ke sawah untuk membajak, para perempuan menjunjung bakul nasi untuk sang suami, orang-orang yang mandi bersama di sungai, budaya yang sangat asri, penuh keramahtamahan, serta berbagai hasil karya seni lain, sungguh membuatnya terpesona.


Tahun 1960 Arie Smit diundang oleh Cokorda Agung Sukawati untuk menempati paviliun yang sebelumnya ditempati oleh Walter Spies di Campuhan, Ubud. Ia mulai mengajar melukis bagi anak-anak. Nyoman Cakra adalah beberapa murid pertama yang menerima bimbingan mengenai The Young Artist oleh Arie Smit.

Persahabatan Arie Smit dengan Pande Wayan Suteja Neka berawal pada tahun 1973. Saat itu Arie Smit menetap di Nyuh Tebel Karangasem, dan Suteja Neka berkunjung bersama sang istri, Ni Gusti Made Srimin. 

“Bu Santi, tahukah makna persahabatan sejati? Bisa saling menguatkan dan berjalan dengan tulus…” Pande Wayang Suteja Neka bertutur tentang makna persahabatan beliau dengan sosok Arie Smit. “Persahabatan kami adalah karena adanya persamaan apresiasi terhadap kebudayaan. Budaya, khususnya seni, merupakan sesuatu yang harus dijaga dan dipelihara, dikembangkan dan diwariskan bagi anak cucu, sehingga kita bisa memiliki roh, jiwa, semangat, taksu, dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari”. 





 Secara pribadi, Arie Smit kagum pada Suteja Neka yang berjuang gigih membangun museum dengan biaya sendiri, tanpa bantuan pemerintah, dipelihara dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan. Betapa Suteja Neka merintis pendirian museum untuk mengoleksi karya seni rupa tradisional dan kontemporer, mengumpulkan berbagai karya seni dan menjadikan museumnya sebagai tempat dalam mempelajari sejarah perkembangan aliran seni tradisional, dari yang klasik hingga terkini, juga aliran kontemporer. Karena kecintaannya pada Museum Neka, Arie Smit tidak segan untuk menyumbangkan berbagai karya seninya bagi museum ini. 

Semangat Arie Smit dalam memotivasi para pelukis muda sungguh luar biasa. Ia tak segam memberikan bimbingan, mengajarkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan di bidang seni lukis untuk berbagi bersama para pelukis lain. "Kalau ada yang saya suka, saya beli, dan saya taruh beberapa bulan di studio milik saya. Setelah itu, saya menyumbangkan ke Neka Art Museum" ujarnya. 

Hingga kini, tercatat 37 lukisan, 14 di antaranya merupakan karya lukis orang lain, yang telah disumbangkan Arie Smit bagi museum Neka.

Kini, sosok pelukis itu telah tiada. Ia tidak bisa lagi menorehkan kuas dengan jari jemari menari-nari mengelilingi kanvas. Namun ceritera tentang Arie Smit takkan pernah berlalu. Sejarah panjang mengenai seni lukis kontemporer beraliran Young Artist akan selalu mengalir bersama para pengikutnya juga penikmat seni.

Arie Smit meninggal, di Rumah Sakit Puri Raharja, Denpasar, 23 Maret 2016, 23 hari jelang hari ulang tahunnya yang ke seratus., didampingi sahabat karibnya, Pande Wayan Suteja Neka….. Jenasah beliau disemayamkan di rumah duka Rumah Sakit Angkatan Darat. Doa kebaktian menurut agama Kristen dilakukan pada hari Kamis, 24 Maret 2016. Seusai doa kebaktian, jenasahnya dibawa menuju Krematorium Kristen di Mumbul untuk dikremasi, dan abunya dilarung di Pantai Matahari Terbit yang terletak di Sanur. Sahabat sejati adalah sahabat yang saling menguatkan dan berjalan dengan tulus.


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar