Sabtu, 20 Maret 2010

Menuju Desa Ngis, Kec.Manggis, Kab. Kr.Asem, 20 Maret 2010

Setelah selesai melewati ujianku di Pasca Sarjana Kampus Kedokteran Unud dari pagi hingga siang, berkumpul bersama para kandidat doktor dan dokter, kepala berdenyut karena soal yang seabreg-abreg, huruf bacaan kecil-kecil, kacamata baca terlupakan, lelah, lapar. Melanjutkan dengan berkumpul bersama para sahabat lain dan makan siang bersama, akhirnya pukul dua siang tiba di rumah, dan bercengkerama bersama keluarga.

Selesai memastikan kondisi rumah berjalan lancar, meninggalkan suami dan putra sulung yang sedang search di Google untuk pertanian dan revolusi hijau demi proyek penelitian bersama mereka, aku bersiap beranjak menuju Karangasem kali ini. Karena sudah menunjukkan jelang pukul tiga, dan, simbok serta pangeran bungsuku ikut serta, tak mungkin kugunakan Astrea 800 yang tercinta, agar bisa tiba di rumah kembali sebelum malam tiba. Kukeluarkan pesawatku dari kandangnya, Yamaha MZ rem cakram. Maaf , Honda, sejenak kupalingkan cintaku pada Yamaha… Anakku duduk ditengah, dan, masing-masing kami, terbungkus jaket tebal, sarung tangan dan kaus kaki, kaca mata gelap, walau murahan.

Kami menyusuri jalan Teuku Umar, bergerak menuju Sanur, memasuki jalan By Pass Ngurah Rai, lalu berbelok ke arah jalan Prof. IB Mantra. Di beberapa ruas jalan yang sedang dalam proses pengerjaan, kami harus berkali menyeberang jalan. Jalanan berkerikil, debu beterbangan, asap knalpot dari berbagai jenis kendaraan menyeruak udara. Sungguh bukan udara yang baik demi kesehatan. Hmm, sungguh sebuah ujian berat bagi mereka yang harus lalui jalan ini tiap hari… bahkan, beberapa kali dalam sehari. Namun, jangan pernah ragukan kesungguhan sebuah niat dan keyakinan, karena hanya ini kunci jejak langkah tidak akan surut sebelum tujuan tercapai.

Kulihat arah jalan menuju Banjarangkan. Baru bulan lalu kami lewati, namun, kali ini, bukan itu tujuan kami. Kulihat pula jalan menuju desa Pikat, namun, kali ini, bukan pula ke Pura Luhur Andakasa yang menjadi tujuan kami. Kupapas jalan menuju Angantelu dan Padang Bay. Arah kami adalah Desa Manggis. Di pertigaan, motor berbelok ke kiri. Kutemui SDN 1 Manggis. Semakin yakin, inilah jalannya.

Ya. Pak Ketut Manik menikah. Dia memuat undangannya di milist, dia memuat pula di FB. Aku belum pernah berjumpa dengannya. Namun, jangan pernah remehkan sebuah keyakinan, dan… jika niat serta keyakinanku untuk hadiri dan penuhi undangannya, kucoba lakukan itu. Orang mungkin berpikir… aneh ibu ini. Ah, tidak juga lah. Berpikir simple dan logis. Ada undangan, walau tak kukenal dia, apa salahnya? Suamiku bukan tipe orang yang suka ber basa basi dan ikuti berbagai acara pertemuan atau jalan-jalan, tapi, kuminta ijinnya dan berpamitan. Aku juga bisa menikmati perjalanan bersama anak dan simbok mengenalkan pada mereka tentang banyak hal, sama seperti jika kami ke Tabanan, ke Uluwatu, ke Buleleng, ke Negara, ke Grokgak, ke Batukaru, ke Besakih, ke Padang Bay.

Tiba di dusun Apit Yeh, kami masih harus melanjutkan perjalanan menyusuri jalan beraspal menuju dusun Selumbung, sebelum akhirnya tiba di Desa Ngis. Setelah sempat bertanya pada sekelompok bapak yang sedang berkumpul di penataran Pura Puseh Desa Ngis, kami memastikan rumah Pak Ketut Manik, karena menurut info, ada tiga upacara pernikahan yang berlangsung di desa tersebut.

Kuberanikan diri mengendarai motor memasuki pekarangan rumah. Seorang pria tua menyapa kami, memperkenalkan diri sebagai orang tua dari Pak Ketut Manik. Lalu, berikutnya, seorang wanita tua lagi menyapa ramah, “Dimana ya, rasanya pernah ketemu” beliau berkata. Ah… percakapan lalu mengalir, bersama Pak Made Kresna, istrinya, lalu Pak Ketut Sarbini. “Jangan panggil Pak, karena saya lebih muda” komentar Pak Made. Hm.. bukankah, sebutan itu demi menghormati juga? Bli, Pak, Gus, mungkin Cuma istilah, tapi, ada baiknya digunakan untuk menunjukkan penghormatan pula, ya? Eh he he… Pak Nengah Smerti, termasuk aktif hadiri seminar yang diadakan KMHD UGM jamanku dahulu, Ibu Nengah Smerti masih ingat kunjungan ku ke rumah Beliau. Sudah hampir 20 tahun berlalu… Ya, ibu dan bapak, sayalah yang dahulu biasa naik sepeda keliling kampus, mengunjungi sahabat, kuliah, jalan-jalan, dengan rambut diekor kuda, atau dikepang. Parahnya, saya yang lupa. Sama seperti saat saya coba memastikan, sepertinya, pernah kenal akrab dengan beliau beliau ini, tapi…. dimana, ya. Baru ngeh, setelah dijelaskan bahwa mereka tinggal di Jogja, bukan di Bali, tepatnya, bukan di Ngis. Ehm, pikun. Mohon dimaafkan, deh… sama seperti, kutinggalkan kaos kaki anakku di teras rumah. Hihi…

Oke, Pak Ketut Manik. Selamat ya? Maafkan, simbok gak bawa apa-apa, gak bisa ngasih apa-apa. Tapi, doaku, restuku, rasa bersyukur, dan niat serta keyakinan menempuh jarak jauh untuk turut hadir mengucapkan selamat, mungkin bisa gambarkan ini semua. That’s what friends are for …. Memberikan dukungan dan memotivasi, bisa hadir dalam berbagai cara, bukan? (Cari pembenaran.com). Sama seperti waktu tiba di rumah IGEN tatkala pernikahannya berlangsung dengan wajah lecek, abis tiba dari Kerambitan. Eh hehehe….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar