Sabtu, 21 Januari 2012

Diplomasi Bungut Paon

Diplomasi Bungut Paon. Istilah ini pertama kali kukenal tahun 2008 tatkala pak Jero Wacik, selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata mewisuda lulusan STPNDB di BICC.

Sejenak pikiran ku melayang, menerawang dan memastikan makna yang terkandung di dalam kata tersebut. Sungguh dalam maknanya.

1327137993518063004

Bila kita menghadapi masalah dan problema, terkadang, akar dan inti permasalahan adalah karena pemenuhan kebutuhan yang tidak tercapai. Istilahnya menurut Abraham Maslow, level kebutuhan tingkat dasar dalam diri tiap manusia tidak terpenuhi, yakni kebutuhan akan sandang, pangan, papan.

Hla, bagaimana mau berpikir secara maksimal bila kita sedang lapar? bagaimana bekerja keras dan memperlihatkan hasil maksimal, bila kebutuhan fisik mengalami gangguan? Dan, ini terus berlanjut ke permasalahan lain, berkembang, berakar pinak, hingga kemana-mana....

1327137901805754412

Hmmm, ada benarnya pula.

Jika sepasang suami istri sudah tidak saling berbicara, sepasang kekasih terlibat adu mulut dan saling emosi, bertetangga namun saling curiga dan sepenuh dendam, bersahabat namun menghadapi kebuntuan dalam bekerjasama, bersaudara tapi saling terpecah belah, hubungan yang tidak harmonis dengan orang lain.... Ada baiknya istirahat sejenak, duduk bersama, menikmati hidangan makanan. Bahkan, jika perlu, masak bareng, melakukan aktivitas bersama-sama.

13271377981663857462

Seperti yang pernah ibuku sering sampaikan kepada kami dahulu..... Apapun yang terjadi, seberapa sibuk pun kami dengan sejuta aktivitas yang menuntut kesempurnaan. Sempatkan sesekali, duduk bersama, sekecil apapun hidangan, semurah dan tidak beragam jenis pun.... bila perut kenyang, hati akan senang, emosi ikut tenang, ego akan surut perlahan....

Seperti yang kami lakukan, me prani sehabis ngodalin, Ida Bethare mesineb, dan kami seluruh anggota keluarga besar duduk bersama di Bale Piyasan. Menikmati hidangan secara bersama-sama.

1327137625537480557

Diplomasi Bungut Paon. Mungkin saja hadir dalam beraneka bentuk, fungsi dan makna bagi kita semua. Dengan melakukan aktivitas bersama-sama, menikmati hidangan yang tersedia, mengolah hidangan tersebut bersama, megibung atau makan bersama, prani atau haturan makanan setelah selesai odalan. Tanpa memandang, tua - muda, kaya - miskin, terdidik - tak pernah tahu bangku sekolah, sehat - sakit, inilah sebuah bentuk kearifan budaya peninggalan nenek moyang yang sungguh adiluhung. Genius Local Wisdom. Upaya mengeliminasi konflik yang terentang di antara umat manusia, yang membuat jarak kita saling berjauhan. Diplomasi Bungut Paon, wajib dilestarikan.......


Tidak ada komentar:

Posting Komentar