Jumat, 28 Maret 2014

Melasti Sukra Umanis Ukir, 28 Maret 2014 (1)




Bapakku pernah bertutur.... "Bimbinglah anak-anakmu dengan baik selagi masih ada cukup waktumu, agar dia mampu memimpin dirinya sendiri dengan baik pula, agar dia jadi lebih baik darimu....". Ah, aku mungkin bukan seorang ibu yang baik dan bisa berikan yang terbaik bagi mereka, namun aku berjanji akan membimbing mereka semampuku dan sebisaku, bapakku sayang.......




Ibuku pernah berkata: Tidak mudah jadi seorang perempuan, pekerja, istri, dan seorang ibu. Tidak ada yg mudah di dunia ini. Namun bisa kita jalani jika mau, semoga akan selalu ada jalan mudah bagimu, anakku".
Ibu... Terkadang, hidup tidak hadir mudah bagiku. Tidak seperti impian dan anganku. Namun aku berjanji, terjatuh dan tersungkur, aku akan bangkit kembali berkali dan berkali.


Maka, kucoba membimbing mereka semua, anak-anakku, keluargaku, mengenali dan memahami jutaan makna kehidupan, baik suka dan duka, baik dan buruk, persahabatan dan kekerabatan yang ada.  Kami tinggal di tengah masyarakat desa ini, desa Padang Sambian Kelod. Mereka harus bisa beradaptasi dimanapun, kapanpun, dan, dengan siapapun mereka berada bersama. Dimana bumi dipijak, disana pula langit dijunjung, mengembangkan semangat spiritual, jiwa kebersamaan dalam menjalin harmoni, dan mengembangkan wawasan pengetahuan mereka seluas mungkin, untuk menjadi semakin bijak dan dewasa dari hari ke hari.....


Jum'at, 28 Maret 2014. Terjaga semenjak pukul 5 pagi, kutuntaskan urusan rumah tangga, dari memasak, mencuci, dan kemudian berangkat kerja seperti biasa. Kantorku terletak di Nusa Dua. Membutuhkan 45 menit berkendara di atas sepeda motor tuaku tercinta. Menuntaskan beberapa berkas bimbingan dari para murid, mengecek surat yang masuk, dan aku berpamitan untuk pulang lebih awal, karena aku ingin mengikuti rangkaian kegiatan melasti di desa dimana aku tinggal dan memiliki pondok mungil.








Ada beberapa anak tetangga yang ingin ikut serta. Maka, kami bersiap diri dan bergabung bersama rombongan. Pura Dalem Pejarakan Ulun Lencana,  Umadui. Banjar Jabapura, desa Padang Sambian Kelod. Kami bergerak perlahan di bagian belakang iringan rombongan jempana, kereta yang berisikan berbagai benda, simbol, perlambang, yang disucikan, dianggap keramat, disakralkan, oleh masyarakat penyungsungnya. Kami bergerak bersama menuju ke Pura Petitenget, Kerobokan.









Melasti kali ini jatuh pada hari Jum'at, Sukra Umanis Ukir, 28 Maret 2014. Udara panas di pagi hari ini tidak menyurutkan semangat mereka. Berjalan perlahan menuju Pantai Petitenget Kerobokan..... inilah Genius Local Wisdom, Indigenous Wisdom, Melasti, Melis, Melukat, dan, entah dengan beragam istilah lain, sebagai bentuk dari upaya membersihkan beragam pretima, benda yang disucikan, perlambang atau simbol yang dianggap sakral, menyucikan diri, menyucikan hati, sucikan pikiran, perkataan dan perbuatan kita semua.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar