Jumat, 28 Maret 2014

Melasti Sukra Umanis Ukir, 28 Maret 2014 (3)




Apakah yang melatarbelakangi upacara Melasti sesungguhnya? Mengapa orangtua, anak kecil, perempuan dan lelaki, melakukan aktivitas ini? Mengapa mereka menempuh belasan kilometer dengan penuh semangat ? Euforia semata, dan demi prestisius di mata masyarakat??? Ikatan yang kuat mengatur kehidupan mereka?




Ah, kusebut ini.... jalan pilihan hidup. Sekecil apapun yadnya, dan, dengan segala macam cara yang kita bisa dan mampu, untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa......


















Anak kecil yang kulihat merajuk, menangis dan mogok melanjutkan perjalanan. Kaum muda yang berjalan beriringan dan bekerjasama dalam mengarahkan gerak jempana dengan beragam pretima atau benda suci yang disakralkan. Kaum perempuan yang mengenakan topi lebar atau menutupi wajah dengan koran untuk melindungi sengatan matahari. Ayah yang menggendong anaknya, dan berkali langkahnya terhenti di pinggir jalan. Dan, beragam gaya lainnya lagi tatkala mengikuti rangkaian upacara melasti.
















Ini semua adalah jalan pilihan hidup. Budaya hanya akan berjalan dan berkembang bila ada masyarakat penjunjung dan penyungsung budaya itu sendiri. Dan, melasti atau melis, adalah bagian dari komponen budaya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita semua adalah bagian dari struktur atau sistematika yang berkembang di tengah masyarakat.














Dengan melasti masyarakat berharap dapat membersihkan diri, menyucikan beragam benda suci, memelihara kesakralan pretima dan beragam simbol atau perlambang yang disucikan oleh masyarakat. Dengan melasti masyarakat bersiap menyambut hari raya Nyepi, Tahun Baru Saka. Dengan melasti masyarakat berharap agar di tahun yang akan datang mereka akan menjadi semakin bijak dan shantih.....
 

 


 
 
 

 
 
Rahajeng Nyanggra Rahinan Jagate. Rahajeng Nyepi Tahun Baru Saka Bali 1936. Dumogi irage sareng sinamian setate ngemangguhin lan nganemoning kerahayuan .....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar