Minggu, 23 Maret 2014

PKL 2014 Prodi ADH smt 6, 20 - 22 Maret 2014 (3)



Hari Kamis, 20 Maret 2014. Waktu menunjukkan pukul 9.30, sesaat setelah rombongan para mahasiswa peserta Praktek Kerja Lapangan 2014 dari Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, Program Studi Administrasi Perhotelan angkatan 2011, kelas A, B dan C semester 6 menikmati mandi, makan dan istirahat sejenak di Rumah Makan Bromo Asri, Probolinggo. Setelah selama 9 jam duduk di dalam bis semenjak Nusa Dua, menyeberangi selat Bali, menyusuri Pantura Propinsi Jawa Timur, kami semua menikmati kebersamaan dalam keberagaman dosen - mahasiswa - mahasiswi, supir, kenek, dan orang-orang yang kami jumpai.



Tiba waktunya melanjutkan aktivitas kami.

Bis A dengan penumpang Prodi ADH angkatan 2011, kelas A semester 6, berjumlah 29 mahasiswa - mahasiswi, dan dosen pendamping, Bapak Drs. Dewa Ketut Sujatha, M.Si., Ibu Dra. Ni Luh Ketut Sri Sulistyawati, M.Par., Drs. I Nyoman Wirtha, berangkat menuju Desa Wisata yang berlokasi di Desa Ngadisari, di Dataran Tinggi Tengger, Gunung Bromo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Propinsi Jawa Timur.

Bis B dengan penumpang Prodi ADH angkatan 2011, kelas B semester 6, berjumlah 30 mahasiswa - mahasiswi, dan dosen pendamping, Ibu Ni Luh Gde Sri Sadjuni, SE., M.Par.CHT, dan Ibu Ni Nyoman Sukerti, SE., M.Si,  berangkat menuju Desa Wisata yang berlokasi di Desa Tanggul Rejo, dengan koordinat 7°5'13"S   112°32'13"E,  Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur.

Bis C dengan penumpang Prodi ADH angkatan 2011, kelas C semester 6, berjumlah 29 mahasiswa - mahasiswi, dan dosen pendamping,Bapak Drs. I Wayan Jata, M.Phil.Ag., Ibu Dra. Ni Desak Made Santi Diwyarthi, M.Si, Ibu Dra. I Gusti Ayu Mirah Darmayanty, M.Si., dan staf prodi ADH, bapak Nyoman Sukarma,  berangkat menuju Desa Wisata yang berlokasi di Desa Wonokitri, Kecamatan Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Propinsi Jawa Timur.



Desa Ngadisari pada tahun 2013 berhasil meraih desa terbaik pada tingkat nasional dalam hal gotong royong dengan berdasar hasil penilaian pada empat indikator, yakni : bidang kemasyarakatan, bidang ekonomi, bidang sosial budaya dan agama, serta bidang lingkungan hidup. Hal yang paling menonjol keberadaannya pada masyarakat Ngadisari di Kecamatan Sukapura ini adalah dalam hal adat istiadat, budaya dan semangat gotong royong di tengah masyarakatnya.

Desa Tanggul Rejo terletak di kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Desa ini berbatasan langsung dengan desa Dukutunggal, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan. Penduduk desa Tanggul Rejo sebagian besar adalah petani tambak dengan hasil seperti nener, gelondongan, udang fanami, yang sebagian hasil nya di kirim ke pulau Bali. Desa Tanggul Rejo terdiri dari tiga Kelurahan, yakni Tanggul Rejo Utara (Tanggul Tengah / Dalam), Tanggul Rejo Selatan, dan Dagang.


























Desa Wonokitri merupakan salah satu dari empat alternatif pintu masuk menuju Bromo. Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger mencakup 50.273.30 hektar dataran tinggi yang dipenuhi jajaran pegunungan dan hamparan hutan yang eksotis. Seluas 5.250 ha di dalamnya berupa lautan pasir. Terletak pada ketinggian 2393-3000 mdpl, temperature berkisar antara 3-20 derajat Celcius. Taman Nasional Gunung Bromo terbagi dalam 4 kabupaten yaitu: Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. Dan, Desa Wonokitri sering dilalui para wisatawan yang ingin menikmati alam Kawasan Nasional Bromo.

Desa ini terdiri dari 101 kk dengan 3074 jumlah masyarakat, dimana hampir setiap KK memiliki kendaraan Jeep Land Rover.

Adat istiadat dan kehidupan masyarakat di Desa Wonokitri sangat unik. Mereka termasuk masyarakat suku Tengger.  Menurut kepala Desa yang seorang ibu ramah nan cantik, Ibu Aidarwati, 99 % penduduknya beragama Hindu. Masyarakat sebagian besar merupakan petani dan beraktivitas di bidang pariwisata. Jarang sekali masyarakat yang merantau, mereka beranggapan, hanya disini mereka lahir, hanya disini mereka belajar hingga disini pula mereka kembali kepada Sang Hyang Widi.

Beberapa semboyan hidup yang mereka miliki seperti, Ajak adigang adigung adiguna. Aji neng diri saka jati. Aji neng roca saka busana, Manusia hendaknya tidak mengandalkan dan menyombongkan kelebihan yang dimiliki, meliputi kekuasaan, kekayaan, dan kepintaran.  Termasuk pula salam bila saling menyapa bagi masyarakat Bromo Tengger yang meyakini Tuhan Yang Maha Tunggal, seperti "Hong Ulung Basuki Langgeng" yang bermakna Semoga Sang Hyang Widhi senantiasa memberikan Kedamaian, kemakmuran dan kesehatan bagi kita semua.

Ketika turun dari kendaraan, kita akan dihampiri para pemuda warga asli Wonokitri, yang menyapa ramah dan menanyakan maksud kedatangan. Mereka menawarkan penginapan, ada yang menawarkan jasa pemandu wisata, ada juga yang menawarkan mobil Hardtop untuk menuju ke Puncak Bromo. Semenjak th 2010 diberlakukan aturan baru, kendaraan roda 4 dilarang memasuki kawasan wisata, jadi pengunjung yang mambawa mobil pribadi harus memarkir kendaraan mereka di parkir area yang telah disediakan di pos terakhir, desa Wonokitri. Kemudian Hardtop siap mengantar dari Wonokitri ke Pananjakan-Lautan pasir Bromo tanpa terbatas waktu, dengan membayar 450 ribu rupiah per Hardtop yang berkapasitas 6 orang (termasuk 1 sopir) sampai kembali ke tempat parkir mobil semula.

Di beberapa rumah dan pondok wisata yang kami kunjungi, terlihat pula peralatan memasak seperti kompor gas, berdampingan dengan luweng (kompor tradisional dari tanah yang masih pakai kayu bakar).

Tuntas melaksanakan Praktek Kerja Lapangan, rombongan kembali bergerak. Kali ini menuju kota Malang. Berhubung situasi dan kondisi tidak memungkinkan, maka rombongan terbagi menjadi dua. Prodi DIV ADH smt 6 Kelas A dan C menginap di Hotel Ollino Garden, dan Kelas C menginap di hotel


Referensi:
http://ridho-kurniawan.blog.ugm.ac.id/tag/wonokitri/

http://probolinggokab.go.id/newest/index.php?option=com_content&view=article&id=410:desa-ngadisari-juara-pertama-nasional&catid=1:latest-news&Itemid=102

http://aduh2104.blogspot.com/2012/09/sejarah-tanggul-rejo.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar