Minggu, 30 Mei 2010

Kembali ke Nusa Penida, Salah Satu RumahMu, Tuhan...

Berkali kudapatkan sms ini. Namun tidak pernah bisa kuikuti acara mereka berangkat adakan perjalanan tirtayatra ke berbagai tempat spiritual yang bangkitkan kerinduan akan religiusitas dalam diri. Kali ini bunyinya "Perjalanan Suci Cahaya Padma ke Nusa Penida, Jum'at 28 Mei 2010. Sembahyang di Pura Goa Giri Putri, Pura Puncak Mundi, Pura Dalem Bungkut, mekemit di Pura Penataran Peed. Biaya satu kali penyeberangan 16.000 / orang. Transport di Nusa 50.000 / orang. Pendaftaran di Hayam Wuruk mulai hari Rabu dan Kamis, 26 & 27 Mei 2010".

Hmm...
Tiga tahun sudah, telah berlalu, semenjak aku berangkat bersama rombongan para pemangku dari Sangsit, Singaraja, menuju pulau Nusa Penida, melakukan perjalanan persembahyangan bersama. Dan kini, ada tawaran untuk kembali hadir ke Rumah Tuhan ini. Sungguh, getaran kalbu menggelora dan berkecamuk dalam dada. Hyang Widhi, aku kangen padaMu. Rindu ini hadir kembali, berkali dan berkali...

Ingin aku berangkat bersama suami dan kedua anakku. Namun, si sulung harus menerima ijasah SMP nya hari Sabtu pagi. Si kecil, menolak ikut karena kakak tidak ikut. Dan, suamiku memilih konsentrasi pada disertasinya, sambil menemani anak-anak di rumah. Beberapa sahabat spiritual yang berkali adakan perjalanan bersama sudah memastikan tidak ikut. Marlon dan Nanangnya, juga ibunya, tidak bisa. Sri, tiada berita, juga Uchie, namun Dian memastikan akan ikut.

Maka, kubersiap diri. Sukra Umanis Langkir, Jum'at, 28 Mei 2010. Tiga pejati, jas hujan karna cuaca yang tidak menentu, seperangkat baju ganti, bekal makanan selama di jalan, dan 50 canang beserta dupa terharumku. Jelang berangkat, pk 7.00 pagi hari Jum'at tanggal 28 Mei 2010, motorku kudapati ban belakangnya kempes. Motor kedua, bensinnya habis sama sekali. Hmm, masih ada 2 motor lagi, namun, kuminta simbok mengantar untuk mencari taksi di pinggir jalan. Namun dengan suksesnya kudapati tak satupun taksi, hingga tiba di persimpangan jalan Teuku Umar dan Imam Bonjol. Hujan turun menggelitik wajahku yang menanti berharap ada satu atau dua sarana bakal menghantar ke tempat pemberangkatan. Sungguh cobaan di awal perjalanan. Ah. bersyukur seorang bapak tukang ojek lewat. dan aku bisa segera meluncur bersamanya. Tiba di Bali Clinic Beauty Center ini, kudapati bahwa Dian juga tidak bisa ikut karena diajak ibunya memancing dalam rangka pengumpulan dana sebuah kegiatan sosial. Hmmm...

Ada sekelompok orang yang sudah tiba terlebih dahulu. Jujur, tidak ada satupun di antara mereka yang telah pernah kukenal. Aku tidak pernah ikuti perkumpulan ini. Namun, sejauh niatan kita baik, maka kuyakini semua akan berjalan baik pula atas nama Tuhan... Aku ditempatkan dalam sebuah mobil kijang inova hitam bersama dengan Ibu Lis, Ibu Dayu Surastini dan Bapak Mangku Gusti Ngurah Suteja yang berdiam di Perumnas Monang Maning, PakMan, dan Ibu Liesyan yang tinggal di Desa Beraban, Banjar Batan Buah Kelod, Tabanan.

Pukul 9.00 kami berangkat, tiba pukul 10.00 di depan Pura Goa Lawah. Hujan turun semakin deras, namun tidak menyurutkan langkah kami dari 5 mobil beraneka jenis yg beriringan, dari APV, kijang Innova, toyota avanza dan suzuki ini. Kami bergabung dengan rekan lain yang telah berkumpul di wantilan Pura, mendengarkan wejangan dari sang guru yoga, dr. Made Astawa, mengenai rencana kegiatan perjalanan kami. Ada sekitar 125 orang berkumpul dan duduk bersila. Lalu dilanjutkan dengan persembahyangan bersama. Tiba waktunya melanjutkan perjalanan. Pukul 11.30 kami tiba di pelabuhan Padang Bay. Informasi yang kami dapatkan, Roro baru akan tiba pukul 15.00 dari pulau Nusa Penida. Hmm, bakal jadi waktu yang panjang menunggu kapal tiba. Kusempatkan diri menjelajah seputran pelabuhan. Dari para pedagang yang menjajakan berbagai jenis makanan dan minuman ringan, para penumpang yang tertidur kelelahan menanti keberangkatan, anak yang merengek minta mainan, para supir yang diskusi dengan sesama pedagang kacamata sambil nikmati minum kopi, hingga kujumpai Sabar, sahabat yang merupakan dosen baru di STP Nusa Dua Bali. Dia berangkat bersama rombongan teman-temannya, juga dengan tujuan Pura Dalem Peed.

Setelah sempat tertidur di deretan kursi penunggu pelabuhan, menikmati makanan berupa nasi goreng yang kubeli di pasar Sri Kerthi pagi harinya, akhirnya, aku dan para penumpang lainnya pada pukul 16.00 memasuki kapal ber cat merah yang bakal membawa kami menyeberangi lautan menuju pulau Nusa Penida. Penumpang penuh sesak di ruang penumpang ini, ibu pedagang menjajakan makanan berkeliling, terlihat tumpukan barang bawaan di bagian depan deretan kursi dan di beberapa bagian lainnya. Tak tega kulihat seorang ibu menaiki tangga dan melirik kalau-kalau masih ada kursi kosong bagi dia dan anak yang digendongnya. Kupanggil dia, namun tak dilihatnya. Setelah berkeliling, dia kembali ke bagian depan dari deretan kursi penumpang, kusentuh lengannya dan kutawarkan kursiku. Aku bergegas bangkit, dan duduk di jejeran anak tangga. Bukan cuma sekedar idealisme, namun apa salahnya jika berbuat sedikit kebaikan di tengah dunia yang penuh kompleksitas ini...

Pukul 17.30 kami merapat di pelabuhan pulau Nusa Penida ini. menaiki mobil yang berada di deretan parkir. Sekali sewa bagi route tujuan ke Pura Goa Giri Putri, Pura Puncak Mundi, Pura Penataran Peed, dan kembali ke pelabuhan adalah sebesar Rp. 450.000. Mobil muat bagi 10 orang di bagian belakang, dengan duduk saling berhadapan. Sahabat ku dalam perjalanan itu adalah Bapak Dewa dari Desa Pacang Sari, Bedugul. Mereka ber 40 orang berangkat dari Bedugul untuk bergabung di pelabuhan Padang Bay dengan rombongan bapak dr. Made Astawa dalam perjalanan spiritual kali ini. Ada pula Bayu, pemuda yang baru menamatkan pendidikan SMA nya, dan akan kuliah di IHDN Program Ayurveda bulan September kelak, dia baru menempuh perjalanan 3 jam berkendaraan motor dari Pulaki, Grokgak, Kabupaten Jembrana. Orang tuanya tinggal disana. Ah, sungguh beragam warna yang ada di tengah masyarakat yang tunjukkan identitas kita pula. Denpasar, Singaraja, Gianyar, Klungkung, Jembrana, berpuluh desa berbeda. Alangkahnya indahnya sebuah toleransi dan kebersamaan.

Perjalanan berliku menyusuri pinggiran pulau memberikan pemandangan menakjubkan. Hamparan panen tanaman rumput laut yang dijemur sepanjang jalan, laut yang menghijau bergelombang, para petani rumput laut yang membersihkan areal tanaman laut agar siap di olah kembali, jukung yang berjejer karena istirahat dari ombak ganas dengan layar kain tergulung rapi. Hmmm... suasana pinggir pantai yang tak kan terlupa. Dan, akhirnya, kami tiba di depan pura. Turun dari mobil, menurunkan banten yang akan dipersembahkan bagi Tuhan dan segala manifestasi Beliau, bersiap menaiki undagan yang berdiri menjulang, menantang, di hadapan mata. Kusempatkan diri mengambil beberapa foto sebelum menggerakkan kaki lebih jauh lagi.

Selesai bersembahyang di Pura Goa Giri Putri dengan dihantar oleh doa dan mantra suci Mangku Gede Satya Darma, kami beranjak turun ke dalam Goa. Sungguh sebuah lubang kecil untuk masuk ke dalam perut bumi. Namun, segemuk apapun orang, dia bisa masuk kesana jika memang sungguh niatnya untuk bersembahyang. Banyak pendapat yang membuktikan pengalaman mereka, tidak setiap orang bisa masuk dan melakukan persembahyangan di sana. Hmm, bersyukur ku panjatkan, kini kudapat kembali kesempatan itu, masuk dan menghaturkan puja dan puji syukur di rumah Tuhan ini untuk yang kedua kalinya, setelah tiga tahun lebih berlalu...

Setelah berjalan dengan berjongkok selama lima belas langkah, kami tiba pada sebuah gua yang sangat besar dan tinggi, berukuran lebih dari tiga lapangan sepakbola, dengan pola unik dan indah pada bagian langit nya, sungguh sebuah karya alam selama sekian ratus tahun. Ada 5 pelinggih di dalam Goa. Pelinggih Ida Hyang Besuki, Pelinggih Ida Hyang Dewi Gangga. Pelinggih Ida Hyang Giri Pati. Pelinggih Ida Hyang Giri Putri. Pelinggih yang merupakan gabungan dari Ida Hyang Siwa Amertha, Ida Hyang Sri Sedana, Ida Hyang Ratu Manik Mas Melanting, Ida Hyang Ratu Syahbandar dan Ida Hyang Ratu Dewi Kwan Im.

Selesai bersembahyang di pelinggih Ida Hyang Besuki, kami melukat di pelinggih Ida Hyang Dewi Gangga, dinginnya malam tidak membuat kami gentar, air sejuk basahi rambut dan wajah, bahkan sebagian pemedek sengaja membasahi sekujur tubuhnya merasakan nikmat anugerah tirta Beliau, yang, entah kapan lagi dapat kami temui. Lalu kami lanjut bersembahyang di pelinggih Ida Hyang Giri Pati, setelah selesai, menaiki undagan anak tangga yang lumayan curam menuju pelinggih Ida Hyang Giri Putri, dan pelinggih Payogan, namun kini undagan tersebut sudah ber semen. Kuingat, tiga tahun lalu masih berupa anak tangga dari besi yang sungguh menggetarkan nyali jika menapakinya. Kemudian rombongaku melanjutkan bersembahyang ke pelinggih yang merupakan gabungan dari ida Hyang Siwa Amertha, Ida Hyang Shri Sedana, Ida Hyang Ratu Manik Mas Melanting, Ida Ratu Syahbandar, dan Ida Ratu Dewi Kwan Im. Aroma lembab dan tanah goa yang basah mengentalkan suasana spiritual yang terlahir dari niat bersungguh dalam menyatakan kebesaran Sang Hyang Widhi Wasa. Namun, jika tiada lampu penerangan yang disediakan pagi para pemedek yang tangkil bersembahyang, sungguh tidak menyenangkan berjalan di tengah kegelapan ini. Seakan tiada tuntunan dalam hidup kita.

Waktu sudah menunjukkan jelang pk. 9.00 malam saat keluar dari mulut Goa. Kami beriringan menuruni anak tangga berjumlah 100 lebih itu, menuju deretan mobil yang sudah menanti untuk melanjutkan persembahyangan pada tujuan pura berikutnya. Hujan turun semakin deras, kupercepat langkahku, melompat naik ke dalam mobil sewaan, dan menunggu kehadiran teman-teman lainnya. Ah, kubayangkan, perjalanan orang-orang lain yang gunakan motor untuk mencapai pura ini, kubayangkan mereka yang memikul berbagai bahan bangunan untuk memperindah dan melengkapi bangunan pura, dalam berbagai situasi dan kondisi. Hmm, derita ku belumlah seberapa, tekadku masih lah kalah, rencanaku tidaklah sejeli dan sebesar mereka, para pejuang di jalan agama ini... Tuhan, ajarkan aku untuk selalu rendah diri, mampu kendalikan segala emosi dan angkara murka yang kerap melanda jiwa, sehingga menyakiti dan menyiksa diriku sendiri, juga orang lainnya.

Mobil kami merayap, merambat, menyeruak malam, jalan yang rusak, hujan yang hembuskan hawa semakin dingin di malam gelap. Tujuan kami berikutnya adalah Pura Dalem Krangkeng dan Pura Puncak Mundi yang terletak pada satu lokasi. Sekitar satu jam perjalanan dengan berkendara mobil yang kami sewa ini. Tiba di lokasi yang kami tuju, istirahat sejenak dengan se butir pisang susu yang diberikan ibu Liesyan, kucakupkan tangan memulai persembahyangan. Hujan yang jatuh luruh menimpa wajah dan basahi tubuh, duduk kami bersimpuh seakan tidak mampu tergeserkan cuaca alam yang kurang ramah. Sungguh, disini tidak ada beda antara tua dan muda, kaya dan miskin, kuat dan lemah, berbagi canang dan dupa bagi sesama rekan peserta bersembahyang bersama, semua duduk dalam hening memuja kebesaran nama Tuhan.

Pukul 23.30 malam, rombongan kami tiba di wantilan Pura Penataran Peed. Sudah ada sekitar 20 orang yang duduk di dalamnya. Tiba waktunya membersihkan diri, mandi di tengah malam, mengganti pakaian yang basah dengan satu stel pakaian sembahyang, dan bersiap melanjutkan pemujaan. Ada deretan kamar mandi berjumlah 12 yang disediakan bagi para pemedek. Atau bisa juga dengan penumpang di rumah-rumah penduduk. Selesai mandi, masih cukup waktu untuk menikmati santap malam. Kubeli empat bungkus nasi putih yang kami nikmati bersama dengan lauk ikan pindang cakalan bumbu bali asem manis yang kubawa dari rumah. Lalu kusempatkan diskusi dengan Pemangku Suar yang kali ini bertugas sebagai pemuput di Pura Penataran Peed. Beliau jelaskan, bertugas dijadwalkan berganti setiap 2 X 24 jam.

Pukul 00.30 dini hari Sabtu, tanggal 29 Mei 2010, kami mengawali persembahyangan di Pura Segara. Kisah yang diantarkan salah satu pemangku dalam diskusi sungguh memperlihatkan bahwa mereka juga sudah dibekali dengan teknik guiding. Sungguh modal awal yang bagus dalam mengembangkan proses bimbingan umat semakin lebih baik dan bijak lagi dari hari ke hari... Ku bawa pejatiku ke hadapan meja untuk menghaturkan persembahan. Menata canang yang kubawa di lantai pura, dan mulai bersila mempersiapkan diri bersembahyang. Selesai bersembahyang, tak lupa, kumintakan tirta suci bagi keluargaku yang tidak sempat ikut mendampingi ku dalam perjalanan ini. Juga kusempatkan diri mengambil beberapa gambar dari kamera murahan yang kubeli agar kumiliki foto sebagai kenang-kenangan bagi perjalanan spiritualku ini. Berikutnya adalah Pura Taman. Sebuah pura unik yang terletak di bagian tengah, dikelilingi oleh kolam air berisi bunga dari tanaman tunjung, namun malam gulita yang kurang ramah bagi kami membuat beberapa gambar indah tidak bisa kudapatkan.

Kembali ke lokasi di dekat wantilan, kuambil jerigen air berwarna merah yang kupersiapkan dari Denpasar. Lalu rombongan kami masuk ke halaman Pura Dalem Ratu Gede, memindahkan air tirta ke dalam jerigen, membiarkannya selama sepanjang malam dan baru diambil jelang pagi hari. Lalu kami memulai bersembahyang disini. Setelah berakhir, aku beranjak mendekati tempat duduk Pemangku. Aku berharap dapatkan gelang yang terbuat dari benang Tri Datu, berwarna merah, hitam dan putih. Namun, pemangku Suar katakan, benang Tri Datu hanya diberikan jika saat upacara keagamaan berlangsung. Hmmm, tidak mengapa, bukankah Tuhan berikan karunianya dalam banyak cara dan bentuk?

Terakhir adalah Pura penataran Peed. Kuhaturkan pejati terakhir, menurunkan canang berisi segehan, merapikan tatanan pejatiku, dan mengambil posisi bersembahyang, bersiap mengawali puja ku.

Akhirnya, kulirik sang waktu, jelang pukul 3 pagi. Kami akhiri seluruh rangkaian persembahyangan, bergerak menuju wantilan. Ada sebagian yang telah terlelap, sebagian lagi tetap melanjutkan obrolan, sebagian menikmati lungsuran berupa ketupat dan saur.

Pukul 6.30 pagi, kami berkumpul kembali di wantilan, duduk bersila atau bersimpuh mendengar wejangan Sang Guru, dr. Made Astawa. Bersyukur bahwa betapa sebuah perjalanan dalam memuja kebesaran Tuhan terkadang tidaklah gampang. Ujian berliku dengan hujan, waktu lama menunggu kapal Roro, perjalanan malam hari, jalan rusak, bukti perjuangan kami. Lalu, kami lanjutkan dengan Yoga dan samadhi. Walau ini adalah kali pertama kugabung dengan mereka dalam ber yoga bersama kelompok ini, sedikit banyak, aku tahu karena pola yang sama dengan Yoga Asanas yang ada di Kampus kami. Maka, tidak ada kesukaran ikuti tiap gerakannya. Tiba-tiba, Pemangku Gusti Komang Suteja terjatuh, ah.. rasa lelah yang mendera akibat perjalanan jauh seharian, kondisi tubuh yang telah tua, penyakit tensi tinggi yang diderita, membuat kesehatannya drop. Dr. Made menghampiri, memberi pijatan lembut di beberapa anggota tubuh, dan meminta pemangku ini untuk tetap berbaring. Berikutnya, dalam gerakan menggeser kaki untuk bergerak ke belakang, terdengar lagi suara gedebuk. Seorang peserta terjatuh karena pijakan kaki yang licin. Ia tergelincir hingga jatuh ke tanah dari posisi wantilan yang lumayan tinggi, setengah meter. Ah.. sungguh, sehat itu mahal, dan upaya sehat juga melibatkan proses yang membutuhkan pengorbanan. Harus lebih berhati2. Setengah jam kemudian, acara kami berakhir. Menunggu keberangkatan pukul 9 pagi ke pelabuhan Nusa Penida, ada yang memanfaatkan dengan ber japa di dalam Pura Dalem, ada yang dengan menikmati suasana di sekeliling wantilan dan Pura.

Pukul 9.00 lebih sedikit, rombongan kami yang terdiri dari 11 mobil sewaan berangkat bersama, bergerak beriringan menuju pelabuhan untuk menyeberang kembali ke pulau Bali. Tuhan Yang Maha Agung, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Entah kapan lagi, aku bakal bisa jejakkan kaki untuk melangkah memasuki rumahMu ini di sini. Jangan pernah tutup pintuMu dariku, walau bakal lama lagi baru kutiba disini, jangan tolak aku, Tuhan, jangan pernah abaikanku, jangan tinggalkan aku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar