Rabu, 16 April 2014

Mrsi Ghana, Me Rshi Ghana, Ngrsi Ghana @Batubulan, Buda Kajeng Kliwon Gumbreg, Rabu 16 April 2014





Setiap orang inginkan kebahagiaan dan kepuasan. Beragam cara, gaya, dan usaha yang dilakukan dalam menggapai kebahagiaan tersebut. Entah itu secara eksternal maupun internal. Entah itu dengan berdoa, meditasi, mandi, melukat, merapikan rumah dan pekarangan, mendatangi berbagai tempat yang diyakini bisa memberi kepuasan atau kebahagiaan, mengunjungi orang yang bisa menjadi sumber bahagia, dan berbagai aktivitas lainnya lagi. Dan salah satu upaya tersebut yang telah dilakukan semenjak dahulu oleh leluhur adalah Mrsi Ghana, Me Rshi Ghana, Ngrsi Ghana.


Hari Rabu sore, Buda Kajeng Kliwon Gumbreg, 16 April 2014, aku kembali mendapat kesempatan menyaksikan rangkaian upacara dan upakara Ngrsi Ghana, di rumah iparku, pak Wayan Suda Arsana, di Batubulan.



Umumnya, ritual Rsi Ghana disebut caru. Namun, kalau diteliti lebih lanjut penyebutan kata caru tidak tepat. Caru adalah ritual yang ditujukan untuk nyomia Bhuta Kala “menempatkan Bhuta Kala  pada tempat-Nya”.  Dalam ritual Rsi Ghana  persembahan dan permohonan ditujukan kepada Dewa Ghana sebagai Dewa Wighnaghna halangan’. Oleh karena itu, ritual Rsi Ghana  itu lebih tepat kalau disebut ritual penolak baya ‘penolak mara bahaya’, agar kita terhindar dari berbagai halangan dalam hidup ini (Wiana, 2001:198-199)



Ritual ini telah dilakukan semenjak lama dan merupakan kearifan lokal yang telah diwariskan leluhur. Para tetua melakukan rangkaian upacara keagamaan agar kebahagiaan tercapai, agar manusia terhindar dari bahaya dan konflik, agar kesembuhan di peroleh, agar keselarasan hubungan terjaga. Upaya untuk menyeimbangkan alam dan manusia, sesama umat manusia, dan manusia dengan Tuhan, hingga tercapai harmoni.



Rsi Ghana berarti golongan atau kelompok resi (Mardiwarsito, 1978:279). Rsi Ghana terdiri atas kata rsi dan ghana. Rsi berarti ‘pendeta; dewa’. Ghana berarti  ‘makhluk setengah dewa; angkasa; langit’ (Suparlan, 1988:38,79). Yang dimaksud dengan kelompok resi adalah kekuatan Dewata Nawa Sanga yang bergabung menjadi satu dalam tubuh Dewa Ghana. Makhluk setengah dewa dimaksudkan sebagai wujud Dewa Ghana yang berupa manusia berkepala gajah yang datang dari langit dengan kekuatan para dewa. Jadi, Rsi Gana berarti Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Ghana yang turun ke dunia sebagai penghalau rintangan atau penyelamat. Ritual Rsi Ghana dimaksudkan sebagai sebuah ritual dengan menghadirkan Dewa Ghana sebagai penyelamat atau pelindung.


Rsi Gana memiliki beragam tingkatan (Wiana, 2001:201; Wikarman,1998:17), seperti nista / alit “sederhana”, madya “menengah”, dan utama. Tingkatan  Rsi Gana Alit diikuti dengan caru ekasata yang lazim dikenal dengan sebutan ayam abrumbunan (seekor ayam dengan bulu lima jenis warna).


Ritual Rsi Ghana umumnya dikenal sebagai Caru Rsi Ghana. Menurut Mardiwarsito (1978:49), kata caru diartikan sebagai ‘kurban’. Kata caru  identik dengan upacara bhuta yadnya yang berarti kurban suci yang ditujukan kepada para bhuta  atau bhuta kala.  Rsi  adalah orang atas usahanya melakukan tapa, yoga, dan semadi, memiliki kesucian yang dapat menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi sehingga dapat melihat hal-hal yang sudah lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang (Wiana, 2001:16). Ghana adalah  simbol dewa bencana (vighnesvara), mahatahu (vinayaka), dan pengelukat (pengeruat) (Atmaja, 1999: 35-90).


Caru Rsi Ghana  adalah usaha manusia untuk membuat hubungan yang harmonis antara keadaan diri, lingkungan, dan Tuhan, yang diwujudkan dalam bentuk atau wujud sesaji dengan menghadirkan manifestasi Tuhan sebagai Dewa Ghana.

Hal ini memberi gambaran, bahwa manusia melakukan berbagai upaya untuk menggapai kebahagiaan, baik eksternal maupun internal, untuk memelihara hubungan, dengan sesama umat manusia, dengan alam sekitar dimana mereka berada, dan dengan Tuhan.

Sumber Referensi: 


Atmaja, I Nengah Bawa. 1999. Ganesa sebagai Avighnevara, Vinayaka, dan Pengelukat. Surabaya: Paramita

Mardiwarsito. 1978. Kamus Jawa Kuna (Kawi)—Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Wiana, I Ketut. 2000. Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan. Surabaya: Paramita.

Wiana, I Ketut. 2001. Makna Upacara Yadnya dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.

Wikarman, I Nyoman Singgih. 1998. Caru Palemahan dan Sasih. Surabaya: Paramita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar