Minggu, 09 Desember 2018

Nangluk Merana, Genius Local Wisdom




Nangluk Merana termasuk dalam Bhuta Yadnya yang diselenggarakan pada sasih kanem. 

Leluhur kita di nusantara memiliki kearifan lokal yang sungguh luhung. Salah satunya adalah  Tolak Bala, Peneduh Jagat, Pamilayu Bumi, Bumi Pada, atau Nangluk Merana. Hal yang membahas ini terdapat pada Naskah Roga Sanghara Bhumi, Lontar Purwaka Bumi, “Perembon indik ngaben tikus, Lontar Sri Purana (Pemda Tingkat I Bali 1989), Lontar Dukuh Jumpungan.

Prosesi tradisi memohon maaf dan keselamatan pada penguasa semesta (Tuhan Yang Maha Kuasa) ini bertujuan untuk menetralisir berbagai bencana alam, musibah, mala petaka dalam kehidupan.



Mardiwarsito (1981: 507) menjelaskan bahwa kata Roga barasal dari bahasa Sanskerta yakni penyakit, sakit, cacat badan. Sanghara / Samhara berarti menarik kembali, meniadakan, memusnahkan sakit, melebur, membinasakan. Kata Bhumi merujuk pada bumi.  Maka, rangkaian upacara ini bertujuan untuk menetralisir, meniadakan bencana di muka bumi.

Lontar Widhi Sastra menjelaskan bahwa masyarakat Bali setiap lima tahun sekali melaksanakan Tawur Agung (Pancawalikrama) di Pura Besakih, sebagai sabda Bhatara Putrajaya yang berstana di Gunung Agung. Upacara ini bertujuan menyucikan  alam semesta, menyucikan kembali pikiran manusia (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika) dari cemer ikang bhuwana, agar bumi menjadi bersih dan suci (kaparisudha).


Upacara penyucian yang bisa dilakukan menurut Roga Sanghara Bhumi adalah (1) upacara Prayascita, yaitu upacara penyucian bumi pada tatanan yang kecil seperti bangunan pribadi, kebun, dan sebagainya, (2) Guru Piduka, yaitu permohonan maaf pada para dewa karena ulah manusia bumi menjadi kotor (cemer), (3) Labuh Gentuh, yaitu upacara penyucian bumi yang tingkatnya lebih tinggi dari prayascita.

Berbagai upacara penyucian bumi ini dilakukan sesuai dengan tingkatan, mulai dari rumah tangga, tingkat desa, kota, kabupaten, dan propinsi. Dalam perkembangan selanjutnya, upacara ini memanfaatkan kearifan local yang disesuaikan dengan Desa, Kala, Patra. Hingga kemudian terdapat istilah sebagai implementasi dari lontar Roga Sanghara Bhumi, seperti: Peneduh Jagat, Pamilayu Bhumi, dan Nangluk Merana.

Peneduh Jagat merupakan upacara yang diselenggarakan pada hari Kajeng Kliwon pada Sasih Kapat, sesuai dengan Lontar Pemaculan, Lontar Roga Segara Bhumi, bila terdapat ciri seperti gempa bumi, wabah penyakit, gerhana, manusia meninggal tanpa sebab, manusia tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk, bertujuan agar bumi aman, damai dan tentram. 

Pamilayu Bumi merupakan upacara permohonan agar diberikan berkah kerahayuan jagat dan terbebaskan dari bencana alam atau konflik sosial, terjadi di luar daya nalar atau akal sehat umat manusia, disikapi dengan menggelar “Pamilayu Bumi” agar terwujud keselamatan jagad.

Nangluk Merana merupakan Upacara Yadnya sebagai permohonan Kepada Tuhan agar berkenan menangkal atau mengendalikan bencana, gangguan yang mengakibatkan kehancuran, penyakit pada tanaman, mala petaka atau mara bahaya bagi umat manusia. “Nangluk” berarti empangan, tanggul, pagar, penghalang, “Merana” berarti hama atau bala penyakit, mara bahaya.

Upacara Nangluk Merana, Pecaruan Sasih Kaenem, Sudha Bumi Jagat taler Pemelaspas, Mendem Pedagingan lan Rsi Gana ring Pelinggih Catus Pata, Desa Adat Pekraman Nyalian,  di Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Jum’at, 7  Desember 2018.

Upacara Nangluk merana Ring Pura Dalem Gede Blahkiuh, Jum’at, 7 Desember 2018

Upacara mecaru Sasih Kaenem di Desa Tonja dan Banjar Bantas Denpasar, Kamis, 6 Desember 2018

Upacara nangluk Merana Banjar Adat Subamia Dencarik dan Subamia Ambal-ambal, Tabanan.

Upacara Nangluk Merana di Pura Dalem Gede Desa Pekraman Senapahan, Senapahan Kaja dan Senapahan Kelod, Sengauk Petung, Tanah Bang, Ngelanglang Buana, Ngider Desa.

Upacara Nangluk Merana Desa Adat Kuta, Kamis, 6 Desember 2018

Upacara nangluk Merana ring Desa Wanasari

Upacara nangluk Merana, Ida Ratu Sesuhunan mececingak ring wewidangan Desa Pekraman Petiga, Semiga, Marga, Tabanan.

Upacara Nangluk Merana berdasar sastra Lontar Purwaka Bumi, agar terhindar dari mara bahaya, memohon berkah kesuburan, pada Sasih Kaenem. Karena Sasih Kaenem merupakan fase pancaroba, peralihan musim dari kemarau ke hujan, curah hujan lebih lebat, berdampak pada kondisi alam, perubahan cuaca yang ekstrim, merebaknya hama atau penyakit, sehingga upacara ini bertujuan untuk menetralisir dan memberikan kedamaian serta keselamatan lahir dan batin.

Upacara Nangluk Merana ring Desa Lukluk

Ida Ratu Sesuhunan Pura Dalem Penataran lan Kahyangan Tibung melancaran ring wewidangan Desa Adat Padang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar