Rabu, 02 Januari 2019

Anak Agung Gde Oka Dalem, Sang Maestro Seni Tari dan Seni Tabuh




“Modernitas secanggih apapun juga tak akan berdiri kokoh jika tidak dilandai prinsip yang berlandaskan berdasarkan moral dan spiritual. Seni, akan selalu menyadarkan kita tentang nilai-nilai hidup yang luhur” (Guruh Soekarno Putra)






Anak Agung Gde Oka Dalem menyelesaikan studi pada Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Udayana. Lahir di Puri Kaleran Peliatan, 5 Mei 1954, dari sang ayah, Anak Agung Gede Mandera, dan ibu Jero Wiraga. Multi talenta beliau terlihat tidak hanya pada teknik arsitektur, namun juga pada kepiawaian di bidang seni tari dan tabuh. Berkat didikan sang ayah dan juga guru tari Baris, I Made Jimat.  Tidak hanya pementasan untuk sosial, di Pura, namun juga bersifat komersial, berupa pegelaran di berbagai pelosok nusantara hingga mancanegara, seperti Australia (1971), Meksiko (1980), Jepang (1985 – 1997), Amerika Serikat (1989), Rusia (1994), dan India (1997).


Tesis Ni Komang Ayu Anantha Putri menjelaskan (2017) bahwa Anak Agung Gede Oka Dalem merupakan pribadi yang sungguh unik. Tidak hanya berlatar belakang keluarga seniman yang telah membentuk kepribadian sebagai seniman tangguh dalam seni pertunjukan, seni tari dan tabuh gaya Peliatan, namun sikap yang ditempa pengalaman sebagai sosok dengan jiwa entrepreneur seni pertunjukan dengan kemasan pariwisata yang di kelola secara professional. Kemampuan ini berkat adanya kemauan dan motivasi tinggi, dengan dipengaruhi faktor eksternal juga internal,  dari dalam diri, juga lingkungan. 


Hal ini memberi gambaran sebagai seorang seniman yang me taksu, memiliki spirit dan semangat seniman tari dan tabuh, Anak Agung Gede Oka Dalem ditempa dari dalam diri juga lingkungan, selama berpuluh tahun, menjadi seniman ahli, juga professional, dengan kemampuan pengelolaan serta teknik yang tinggi dalam berkolaborasi dengan berbagai pihak.


Kontribusi Anak Agung Gede Oka Dalem sebagai tokoh penggerak kesenian, terutama seni pertunjukan pariwisata,  juga dirasakan oleh masyarakat Desa Peliatan. Hal ini terlihat pada segi ekonomi masyarakat, segi sosial, dan pelestarian seni pertunjukan tradisional desa setempat.


Balerung Mandera Srinertya Waditra berdiri semenjak tahun 2000 dengan maksud melestarikan seni tari / tabuh khas Peliatan, seperti Palegongan klasik Peliatan, tempat pendidikan bagi para generasi penerus, melahirkan seniman tari / tabuh yang berkualitas, perkembangan karya seni untuk masa yang akan datang sesuai dengan perkembangan jaman, melaksanakan pengabdian di bidang seni terkait upacara, adat istiadat, sosial dan komersial.


Balerung berarti bangunan yang besar atau megah. Mandera adalah nama tokoh seni tari sekaligus tabuh di desa apeliatan yang merupakan tonggak awal berdirinya Gong Kebyar di Peliatan, pada tahun 1926. Srinertya berarti seni tari, Waditra berarti seni tabuh. Seni tari dan tabuh gaya Peliatan terkenal di dunia semenjak tahun 1931. Seni tabuh dan tari gaya Peliatan ini merupakan cikal bakal tumbuh berkembangnya organisasi atau sekeha seni lain di Peliatan atau daerah lain di Bali.


Balerung Mandera Srinertya Waditra merupakan suatu wadah gabungan dari beberapa sanggar seni tabuh dan tari, baik yang klasik maupun modern. Terdapat lima sanggar seni tari dan tabuh, di antaranya Tirta Sari (Semara Pegulingan), Mekar Sari (Ladies Gamelan Orchestra), Genta Bhuana Sari (Young Dancers & Musicians), Padma Kumara Sari (Children Gamelan Group), dan Padma Nara Swara (Modern Dance Group) (Sri Ardhini, 13/9/2017, https://www.cybertokoh.com/news/2017/09/13/6856/anak-agung-gde-oka-dalem-tampilkan-barungan-palegongan-kekebyaran-style-peliatan.html


Gung Oka Dalem menjelaskan “Sudah menjadi kewajiban kami sebagai generasi penerus, untuk melestarikan dan mengembangkan seni tabuh dan tari gaya Peliatan, mengemasnya dalam berbagai bentuk yang variatif dan juga dinamis, terkait perkembangan dunia saat ini”

Autobiografi singkat beliau menjelaskan bahwa telah banyak aktivitas dan beragam upaya dilakukan terkait pelestarian dan pengembangan seni tari juga seni tabuh, khususnya yang bercorak ragam Peliatan. Beliau pula berkolaborasi dengan Guruh Sukarno Putra beberapa kali, dalam menghasilkan karya seni tari juga tabuh, pada tahun 1982, 1984, 2007 . Berkolaborasi bersama Denny Malik dalam menghasilkan Tari Topeng.  Berkolaborasi bersama Anak Agung Bagus Mandera Erawan menghasilkan Legong Lanang Baru, yakni  pada tahun 2013 Legong Lanang Nandira “Jaya Pangus”, pada tahun 2015 Legong Lanang Nandira “Indra Maya”, dan pada tahun 2017 Legong Lanang Nandira “Raja Bedahulu”. Pada tahun 2017, beliau menghasilkan karya seni Janger versi baru yang dipentaskan di saat Pesta Kesenian Bali ke 39 di Art Center, Denpasar Bali.



Peranan beliau sebagai Direktur Artistik berkat tempaan belasan tahun pengalaman, baik di dalam maupun luar negeri, telah terbukti dan teruji kualitasnya. Berbagai event terlaksana dengan apik berkat penanganan seorang dengan multi talenta tinggi, Ir. Anak Agung Gede Oka Dalem. Sebelumnya juga pernah digelar  Barungan Palegongan dan Kekebyaran Style Peliatan pada tanggal 27 – 28 Agustus 2017. Yang terakhir adalah pementasan seni tari dan seni tabuh di hadapan rombongan dari IMF World Bank Annual Meeting, pada tanggal 28 Oktober 2018 di Balerung Stage Peliatan, Sanggar Balerung Mandera Srinertya Waditra.

Pagelaran kali ini sekaligus sebagai wadah mempererat jalinan komunikasi para seniman seni tari dan seni tabuh, khususnya Peliatan, memperlihatkan kematangan dalam proses latihan berkepanjangan,  ujian sebelum tampil pentas di luar Bali, yakni Jakarta, dalam rangka Hari Suci Galungan dan Kuningan, Natalan, juga Tahun Baru. Dan, Inilah seni tari dan seni tabuh Bali, baik klasik maupun modern, Sanggar Balerung Mandera Srinertya Waditra, di Balerung Stage Peliatan. Sebelumnya juga pernah digelar  Barungan Palegongan dan Kekebyaran Style Peliatan pada tanggal 27 – 28 Agustus 2017.
Banyak tarian sudah dimainkan, banyak tarian sudah diciptakan oleh beliau, namun Anak Agung Oka Dalem tidak akan berhenti hingga disini. Beliau ingin seni tabuh dan seni tari dilestarikan, berkembang di tengah masyarakat, sehingga jauh lebih banyak lagi naggota masyarakat yang terlibat, menyaksikan, menikmati dan mencintai seni pertunjukan, khususnya seni tari dan seni tabuh.

“Modernitas secanggih apapun juga tak akan berdiri kokoh jika tidak dilandai prinsip yang berlandaskan berdasarkan moral dan spiritual. Seni, akan selalu menyadarkan kita tentang nilai-nilai hidup yang luhur” (Guruh Soekarno Putra)


Pesona Legong Peliatan : Barungan Palegongan Programme, Minggu, 23 Desember 2018

Genta Bhuana Sari
1.Pawai Penyambutan Lambang Sari
2.Tabuh Ujan Mas
3.Tari Legong Keraton Prabu Lasem
4.Tabuh Gambang Suling
5.Tari Trompong
6.Tari Kecak

Sekeha Gong Tirtasati
1.Tabuh Instrumental
2.Tari Legong Semarandhana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar