Rabu, 02 Januari 2019

Pontianak, I'm in Love (1)




Pontianak, I’m in Love

Setelah bertahun tidak bisa berkumpul bersama, kali ini kami bisa berkumpul sekeluarga. Keluarga besar ? tidak juga. Hanya kami, berempat bersaudara, juga ibu tercinta. Berlibur ? Tidak juga. Ada beberapa urusan penting yang harus kami tuntaskan, dan membutuhkan kehadiran kami bersaudara.



Sudah semenjak bapak meninggal tahun 2008, kami meminta ibu beristirahat, berhenti bekerja, dan fokus pada kesehatan diri. Namun, bukan ibu jika bisa semudah itu beralih kegiatan, berhenti total dari seluruh aktivitas sehari-hari. Lagi pula, bukankah orangtua akan jauh lebih sehat bila tetap beraktivitas dalam kesehariannya.



Berangkat dari Denpasar, Bali, pada hari Senin, 24 Desember 2018, maka kulewatkan Hari Suci Galungan. Tidak bisa bersembahyang bersama keluarga kecilku di Bali. Tiba di Pontianak pada hari Senin, 24 Desember 2018, malam hari, aku berkumpul bersama ibu, kakakku, Ni Desak Putu Evi Suandani, dan kedua adikku, I Dewa Komang Diwya Artha Kesuma, dan I Dewa Ketut Karma Susatia. 


Kami lewatkan malam malam terakhir di Apotik Antara, yang terletak di depan Gereja Kristen Immanuel, Jalan Raya Adisucipto, Km. 1,1. Pontianak. Malam-malam terakhir ? Ya, karena rumah ini akan dijual, dan ibu tinggal bersama adikku juga keluarganya. 



Rumah ini bukanlah rumah pertama kami. Dahulu kami menempati perumahan tentara bagi para anggota TNI Tanjung Pura, sehingga sempat pula mendapat gelar anak kolong. Kami tinggal di perumahan hingga bersama saudara lain kutamatkan SMP di Santo Petrus yang terletak di Kota Baru. Kemudian keluarga kami pindah ke rumah yang terletak di Jalan Johar, di tengah kota Pontianak. Aku beserta kakan dan adik-adik melanjutkan pendidikan ke kota Malang, menempuh pendidikan di SMA Santo Yusuf. Terakhir, keluarga kami pindah ke rumah yang terletak di Jalan Raya Adisucipto ini. Dan kini, rumah ini dijual. Kami sekeluarga berkumpul untuk menyelesaikan administrasi yang diperlukan.


Perlahan, airmata bergulir mengenang masa-masa yang begitu berkesan. Setelah beberapa kali berpindah rumah, pertemuan yang tidak mungkin sesering dahulu, karena kami berkembang, menikah, berkeluarga, dan disibukkan oleh berbagai macam kegiatan. Aku di Bali, Kakakku beserta adik bungsu di Jakarta, dan adik nomer tiga tinggal di kota yang sama dengan ibu, Pontianak, namun dengan rumah yang terpisah.



Pontianak, dengan kenangan masa kecil saat berdiam di perumahan tentara, berenang di sumur besar di belakang rumah kami, berjualan es lilin hingga manisan buah mangga berkeliling di perumahan, berangkat sekolah bersama kakak dan adik naik truk tentara, hingga berantem dengan anak cowok karena mereka mengganggu kakak dan adik-adikku.



Pontianak, dengan kenangan tentang banjir rob yang bisa terjadi karena air laut naik, dan kami sibuk berlarian dengan harapan air terciprat bisa membuat kebahagiaan kami bersama. Kenangan tentang saat saat hari suci umat beragama, dan kami saling mengunjungi antar tetangga, bertukar makanan, memberi salam dan doa bagi yang lainnya.


Pontianak, dengan curahan air mata berkepanjangan saat bapak berpulang, tanpa sempat kujenguk atau kurawat semasih hidup, dan upacara ngaben dilaksanakan di tempat yang dibangun pertama kali oleh bapak bersama umat Hindu kota ini untuk pelaksanaan ngaben.



Pontianak, my love will always be here……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar