Sabtu, 12 Januari 2019

Pontianak, I'm in Love (2)



Bila berkunjung ke suatu daerah, nikmatilah makanan asli daerah tersebut. Telaah bagaimana mereka mengolahnya, menyajikan hingga ke depan kita, rasa yang hadir di lidah, bahkan, sensasi yang dialami setelahnya. Bila perlu, mencoba memahami bagaimana mereka mendapati makanan tersebut, proses penanaman, pembibitan, panen, dan mata rantai produksi berbagai bahan makanan terkait hidangan tersebut. Maka, akan kita pahami karakter asli penduduk di daerah tersebut, hasrat, ego yang ada, emosi yang meliputi mereka, kebiasaan, ritual terkait hidangan tersebut, dan perjuangan mereka memelihara keberadaan hidangan hingga selanjutnya (Santidiwyarthi, 13 Januari 2019).


Itu pula yang selalu kulakukan bila mengunjungi suatu daerah tertentu. Termasuk kali ini, kembali ke kampung halaman, Kota Pontianak. Kota dimana aku dilahirkan. Kota dimana aku dibesarkan. Kota dimana kulalui sebagian usia di sini, menempuh pendidikan semenjak TK, SD dan SMP, bersama anggota keluarga, para kerabat, sahabat, guru…..


Tidak hanya melepas rindu bersama ibu, kakak dan adik yang telah bertahun tidak kutemui, tidak sekedar mengobati rasa kangen yang sering menyeruak hadir akan berbagai relung kota yang akrab dalam dada, kusempatkan mengunjungi berbagai tempat yang menyajikan aneka hidangan khas Pontianak, mencicipi berbagai hidangan yang membuat selera terbit senantiasa, hingga menetes air liur…….


Dari saat kunjungan di akhir tahun 2018, pada hari Senin hingga Minggu, tanggal 24 hingga 30 Desember 2018, juga saat kunjungan di awal tahun 2019, hari Senin hingga Rabu, tanggal 7 hingga 9 Januari 2019, kusempatkan mengunjungi berbagai lokasi, baik pasar dan warung makan, dan mencicipi berbagai jenis hidangan.


Kucicipi ketupat sate kuah sayur di pasar Parit Baru yang begitu menggugah selera. Sebenarnya, banyak tempat pula di Denpasar dan di pelosok Bali yang menjual ketupat sate yang disiram kuah sayur. Namun sudah tentu terdapat beberapa perbedaan. Kita bisa memilih tambahan lauk yang diinginkan, mulai dari ayam goreng suwir, jenis sate yang tersedia, apakah sate ayam atau sapi, tambahan kacang goreng di atasnya, dan saos cabe khas Pontianak.


Di saat lain, kunikmati bikang asli kota Pontianak, mulai dari bikang rasa cokelat, bikang rasa nanas, bikang aseli. Semasih hangat, baru keluar dari oven langsung dari tempat pembuatnya yang sekaligus menjadi satu dengan warung berjualan sang pembuat.


Atau, bisa memilih menikmati hidangan Chaipan, atau Chaikue, dengan isi di bagian dalamnya, irisan tipis daun bawang, bengkuang yang diiris tipis, keladi parut, ditabur udang ebi halus, dan siraman saos cabai. Keahlian pengolahan tekstur kulit Chaipan dan citarasa dari makanan ini memperlihatkan kematangan pengalaman seorang juru masak. 


“Dalam satu hari saya bisa membuat hingga 1000 buah Chaipan aneka rasa. Banyak tamu yang membawanya sebagai oleh-oleh ke luar kota Pontianak, hingga ke luar negeri”. Ujar Aleng dengan bangga. Aleng adalah seorang pembuat dan pedagang Chaipan atau Chaikue di Parit Baru, Pontianak.
Ada pula saat dimana kami berkumpul bersama keluarga setelah disibukkan urusan administrasi dan berbagai kesibukan lain, kami menikmati hidangan berupa Kwetiaw, Nasi Hainan dan air rebusan tahu. Kwetiaw adalah mi tipis putih berukuran selebar jari tangan, yang diolah, baik dengan cara direbus atau digoreng, bias juga dengan menambahkan berbagai jenis daging dan sayuran. Nasi Hainan dikenal dengan siraman kaldu daging. Nasi yang telah ditata dengan berbagai pelengkap, seperti daging, irisan caisim, timun, kemudian disiram kuah kaldu.


Tidak lengkap rasanya bila tidak mencicipi kuliner berupa aneka jajanan khas kota Pontianak. Ada kue lapis aneka warna dan aneka rasa, ada kue lumpur, kue keranjang atau dikenal pula dengan kue bulan, pie susu. Well, mungkin saja hidangan aneka jajanan ini sama pula dengan daerah lainnya. Namun tentu berbeda, karena kunikmati di kota Pontianak, bersama anggota keluarga, sambil merasakan atmosfir kota yang begitu akrab denganku selama bertahun tahun melewati masa kecil hingga remaja di kota ini.


Memang benar pepatah yang mengatakan, cinta bisa hadir lewat hidangan yang kemudian kita makan, meresap melalui susunan syaraf dalam tubuh, membuat kita bernafsu menikmati hidangan. Inilah cinta yang hadir lewat perut, merasuk ke hati, mengalir lembut ke seluruh organ tubuh kita, hingga tak bisa terlupa, membuat rindu untuk selalu mengulanginya kembali…..


Kerinduan ini akan selalu ada. Entah dimana pun aku berada, akan selalu kurindukan kota Pontianak. Sebagian dari belahan  jiwaku ada di sini, aku memiliki garis keturunan berdarah Kalimantan dari ibuku. Tak kan pernah kulupakan sejarah, akan tetap kuhargai leluhur, kerabat, para sahabat, dan sekaligus juga budaya yang melingkupi kami semua…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar