Minggu, 13 Januari 2019

Pontianak, I'm in Love (4)



Sama seperti berbagai daerah perbukitan dengan penghasil kopi, Pontianak juga terkenal dengan olahan kopi. Salah satu jenis kopi yang dihasilkan adalah Robusta. Bila anda berkunjung ke rumah-rumah penduduk di kampung, mereka akan menyapa ramah dan menghidangkan suguhan kopi bagi anda. Istilah “sepok” diberikan bagi orang yang dianggap kampungan. Oopps, namun jangan keliru! Istilah ini bahkan diberikan untuk menamai kopi bubuk dalam kemasan yang bahkan sudah diekspor. Dibandrol dengan harga Rp. 65.000, kemasan ini bahkan laris manis dibawa sebagai buah tangan, alias oleh oleh khas Pontianak.

Tidak hanya kopi. Masyarakat juga mengemas berbagai bahan olahan lain terkait minuman yang sudah dikeringkan berupa serbuk, dengan khasiat menyegarkan anggota tubuh, seperti jahe merah, buah dewa, kunyit, sari kencur, buah asam. Ya, mereka menerapkan pengetahuan dan pengalaman dalam bidang manajemen dan dunia pemasaran, mengemas produk se menarik mungkin, se efisien mungkin, hingga memenuhi kualitas  pelanggan dan bisa menarik penjualan.



Industri kopi nusantara termasuk dalam 20 puncak industri kopi ternama kelas dunia. Hal ini memberi gambaran bahwa mulai dari perencanaan, pembibitan, penanaman, pengolahan, pengemasan, juga pemasaran dan kontrol kualitas layanan industri kopi nusantara ini telah diakui dunia. Sejumlah agenda kegiatan, baik festival, event, perlombaan, digelar sepanjang tahun di seluruh nusantara. Baik itu melibatkan para petani kopi, pengusaha, pemerintah, masyarakat luas, kalangan pendidik, kaum muda, hingga para pengambil kebijakan tingkat dunia. 

Demikian pula hal nya yang dilakukan oleh Kubu Raya, salah satu kabupaten muda di Propinsi Kalimantan Barat. Beragam pengemasan yang terpampang disini memperlihatkan aneka kreativitas produsen Instan Hijriah dalam menarik minat pembeli kopi. Perkembangan pariwisata yang signifikan mulai terlihat nyata diiringi oleh berbagai produk pariwisata, termasuk produk berupa barang, yakni kopi. Kopi lokal Kalimantan Barat tampil menarik dan cantik menggugah selera di berbagai hotel dan restoran ternama, bahkan dibawa sebagai tanda cinderamata oleh para wisatawan.
Selama lebih dari dua dekade, kopi merupakan produk pangan yang paling kompleks. Kopi tidak lagi hanya sekedar pemuas dahaga atau pemasok kafein bagi tubuh, namun telah menjadi penanda strata sosial. Kopi bukan lagi hanya sekedar diseduh dengan air panas, dihidangkan begitu saja di depan kita. Ini merupakan masyarakat penikmat kopi Generasi Gelombang Pertama (The First Wave) dari serangkaian evolusi konsumsi kopi (Meilani, 2017). 


Gegerasi Gelombang Kedua (The Second Wave) merupakan generasi masyarakat penikmat kopi yang telah mendekati puncak evolusi gastronomi kopi, menikmati kopi yang berkualitas, seperti kopi arabika segar, beraroma menarik. Kopi ini merupakan kopi special bagi penikmatnya, memiliki sertifikasi Fair Trade Coffee, dengan Organic Certification, Shade / Bird – Friendly Certification, disajikan dengan penuh Creativity & Eco – Friendly, dan berbagai persyaratan lain.

Sedangkan Generasi Gelombang Ketiga (The Third Wave) adalah generasi masyarakat penikmat kopi ekstrim yang lebih radikal, berani merogoh kantong dengan dalam, mengeluarkan biaya dan tenaga, demi mendapatkan kopi yang berkualitas menurut mereka. Kopi yang menurut mereka memiliki cerminan cita rasa tinggi peminumnya, berasal dari daerah tertentu, diminum hanya pada resto tertentu, kopi yang memiliki teknik brewing tersendiri, menghasilkan aroma unik dan khas. Bahkan, membuat peminum kopi tersebut merasa bangga, karena tidak semua orang bisa meminum kopi tersebut.


Agus dari Caswell (2017) menjelaskan bahwa Indonesia menduduki posisi ketiga sebagai penghasil kopi terbesar dan terbaik di dunia. Namun sayang sekali, kopi yang bagus dan berkualitas yang kita miliki tersebut justru lebih dikenal dan dipahami oleh orang luar negeri.Proses sangrai (roasting), istirahat / pendinginan (resting), penggilingan, dan penyeduhan (brewing) kopi membutuhkan teknik memadai melalui serangkaian uji. Ini yang kelak menentukan tebal atau tidaknya rasa dan aroma kopi. Hal ini sungguh membutuhkan kesabaran dari berbagai pelaku. 



Proses brewing atau penyeduhan terdiri dari tiga, yakni dengan menggunakan Metode tradisional : kopi tubruk, kopi kertup, kopi saring, kopi tarik, dan sebagainya. Metode manual brew: menggunakan Mokapot, Aeropress, Vietnam Dripp, Frech Press, Rockpresso, dan Cold Brew. 

Metode Espresso Base, yakni dengan menggunakan mesin espresso. Kopi yang dihasilkan juga antara lain: espresso, latte, cappuccino, dan Americano.

Jadi, kopi mana yang akan anda pilih ?? mari angkat gelas kopi tinggi, dan, bersama kita seruput……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar