Sabtu, 12 Januari 2019

Pontianak, I'm in Love (3)




Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah penghasil buah durian terbaik di Indonesia. Selain untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri, durian asal Kalimantan Barat ini juga diekspor ke Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei. 


Sungguh suatu keberuntungan pula, di saat kunjungan ku ke Kalimantan, sedang panen buah durian. Buah durian beraneka jenis tersedia di berbagai lapak, mulai dari Kota Baru, Parit Baru, Pusat Kota. Para pengunjung bisa menikmati buah durian yang telah mereka beli sepuasnya sambil duduk bersantai di kursi dan meja yang tersedia.


Berbagai olahan buah durian dilakukan oleh para produsen, memperlihatkan kreativitas masyarakat, baik pengusaha, pemerintah, dan pihak yang terlibat. Salah satunya adalah Lempok (Lempog atau dodol) durian, cokelat durian, es buah campur durian. Beraneka cita rasa ini memperkaya kulinari nusantara. Termasuk pula dengan tampilan kemasan beraneka rupa, beragam tingkatan harga, dan olahan hidangan berbahan baku durian.
 



Pemerintah memberikan dukungan terhadap panen buah ini dengan menyelenggarakan festival, yakni Festival Durian Borneo, yang terselenggara pada hari Sabtu dan Minggu, 12 dan 13 Januari 2019. Berbagai kegiatan menyertai Festival Durian tersebut, mulai dari pesta makan durian gratis sepuasnya, Kirab Durian, Hiburan Kesenian Rakyat, Kunjungan ke sentra penghasil durian, Lomba olahan makanan dari durian.


Berbagai olahan terus senantiasa dikembangkan oleh masyarakat memperlihatkan bahwa dinamika kreativitas dan kompetensi terkait durian akan selalu ada, termasuk kemasan dan pemasaran hidangan berbahan dasar durian dari Kalimantan Barat ini. 



Salah satunya adalah dodol cokelat durian yang dibandrol dengan harga Rp. 30.000 ,- per kemasan. Bahkan, bukan hanya dodol cokelat bercita rasa durian. Produsen Gabysco Pangan juga menciptakan dodol cokelat beraneka rasa, mulai dari dodol cokelat macha green tea, dodol cokelat ubi jalar ungu, dodol cokelat kopi, dodol cokelat ketan, dodol cokelat gula merah, dodol cokelat nanas, dodol cokelat lidah buaya. Cobalah, dan rasakan sensasi cita rasa aneka rupa yang pecah di lidah dan dijamin akan membuat anda ketagihan.



Suwandi, Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 27 Juli 2018 menyatakan mengapresiasi Pemerintahan Propinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Sanggau yang menyelenggarakan berbagai Kontes juga Festival terkait panen raya durian di tengah masyarakat dalam rangka mengembangkan kreativitas juga kompetensi di tengah masyarakat itu sendiri. Bahkan, pemerintah, melalui Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjalin berbagai program kemitraan pelaku usaha dengan petani, sehingga tercipta hubungan yang saling menguntungkan, dalam rangka membangun kawasan pertanian dan mensejahterakan petani, khususnya durian.


Kualitas buah durian bias diukur dari berbagai macam sisi. Beberapa di antaranya adalah cita rasa buah durian, warna daging, penampilan, tekstur, ketebalan daging buah durian, rendemen buah (kadar air), potensi hasil, bobot dan struktur, aroma buah durian, rasa yang unik atau khas.


Beberapa daerah lain yang juga penghasil buah durian, misalnya Kabupaten Sanggau, dengan varietas lokal daerah nya : Kelomui, Keropu, Binong, Kulit Sapi, Tembaga, Bari, Nijou, Tajau, Belimbing, Kabau, Kerona, Bakul, Bay Patek, Merah, Singku, Karois, Srombut.


Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat, Heronimus Hero menjelaskan kebijakan pemerintah yang berupaya menjaga dan mengembangkan kawasan sentra durian dengan induk tanaman yang gelah berusia puluhan tahun, sehingga kualitas senantiasa terjaga dan selalu ditingkatkan.



Karim Aristides, pakar sekaligus pengusaha durian tingkat dunia mengatakan bahwa durian terbaik bukan berasal dari sentra pembibitan durian, namun dari perkebunan kecil atau pohon durian yang terdapat di hutan. Hal ini karena terkait dengan skema penyerbukan alami dan jenis tanah daerah yang bersangkutan, salah satunya adalah durian dari Balai Karangan, Kabupaten Sanggau. 


Durian bahkan tidak terdapat di benua Afrika. Masih menurut Aristides, durian lokal unggul dari Kalimantan Barat mengalahkan durian yang berasal dari daerah lain nusantara, seperti Aceh dan Papua. Daerah sentra unggul durian hasil pengembangan varietas durian lokal nusantara meliputi Srombut dari Kabupaten Sanggau, Bawor dari Kabupaten Banyumas, dan Pelangi dari Papua. Tidak hanya jenis Srombut, daerah Balai Karangan juga menjadi sentra pembibitan varietas unggul seperti durian Musangking, durian Yorens, durian Superlembaga Junfung, durian Plakin, hingga bahkan, terdapat 18 jenis varietas unggul pohon durian dari Balai Karangan di Kabupaten Sanggau ini.


Pada tahun 2017, Indonesia telah melakukan ekspor sebesar 207 ton durian ke berbagai belahan dunia, seperti Hongkong, Thailand, Vietnam, Saudi Arabia, Unik Emirat Arab, Belanda dan Australia. Durian Srombut bahkan mengalahkan durian Ochee (durian hitam) asal Malaysia. Dengan besar produksi durian nasional pada tahun 2017 sebesar 795.000 ton, Susenas yang dilakukan BPS pada tahun 2017 memperlihatkan kebutuhan konsumsi per kapita sebesar 0,417 kg per kapita. Pemerintah melakukan pemusatan / sentra pembibitan dan pengembangan pohon durian di berbagai kawasan nusantara seperti Sumatera, Deli Serdang, Lampung. Jawa, yakni Serang, Pandeglang, Bogor, Majalengka, Semarang, Pati, Gunungkidul, Kulonprogo, Ponorogo, Trenggalek, Kebumen, Gresik. Kalimantan meliputi Nunukan, Balai Karangan. Papua, di Sorong.


Bila berkunjung ke suatu daerah, nikmatilah makanan asli daerah tersebut. Telaah bagaimana mereka mengolahnya, menyajikan hingga ke depan kita, rasa yang hadir di lidah, bahkan, sensasi yang dialami setelahnya. Bila perlu, mencoba memahami bagaimana mereka mendapati makanan tersebut, proses penanaman, pembibitan, panen, dan mata rantai produksi berbagai bahan makanan terkait hidangan tersebut. Maka, akan kita pahami karakter asli penduduk di daerah tersebut, hasrat, ego yang ada, emosi yang meliputi mereka, kebiasaan, ritual terkait hidangan tersebut, dan perjuangan mereka memelihara keberadaan hidangan hingga selanjutnya (Santidiwyarthi, 13 Januari 2019).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar