Jumat, 22 Februari 2013

Titin Damayanti, sahabat muslimku

Sedari pagi, setelah anak2ku berangkat sekolah, hujan disertai angin menyelimuti bumi. Namun aku harus berangkat kerja, beberapa tugas menanti. Maka, kubungkus tas dengan selaput khusus bagi ransel ku. Kukenakan jas hujan, dan menembus jalanan panjang Denpasar - Nusa Dua. 

Celana panjang ku basah kuyup terkena cipratan air hujan dan lumpur jalanan. Dheuh...... hujan di penghujung musim ini sungguh indah bila kita bisa bersyukur atas segala anugerah Tuhan. Mosok, dikasih panas berdebu, ribut..... dikasih hujan angin juga ribut....

Tiba di kantor, di anak tangga gedung rektorat, kujumpai Bu Titin. Sahabat muslim rekan kerja ini berjalan terseok menaiki undakan tangga menuju ruang Ketua STPNDB. "Saya barusan terjatuh tatkala mengendarai motor", ujarnya..... Dheuh, hujan lebat, dia terjatuh dan tersungkur di tengah perempatan jalan, karena jalanan aspal yang amblas, pakaiannya basah kuyup, tas laptop juga basah.  Kebetulan pula daerah tersebut sudah dekat dengan kampus kami, sehingga banyak para murid dan sahabat kerja yang membantunya. Sementara dia diantar ke rumah sakit Kasih Ibu oleh seorang supir yang mengendarai bis pariwisata, ada mahasiswa yang membawa motornya ke pinggir. Beberapa rekan kerja yang mendapat info bu Titin mengalami kecelakaan juga segera bergerak menuju ke RS Kasiih Ibu.

Permasalahan nya kini adalah.... Bu Titin tidak mengetahui, siapa kah mahasiswa yang membawa kunci motornya. Sedangkan ia ingin segera pulang ke rumahnya, di Denpasar. Sudah kucoba mengecek petugas satpam kami, juga rekan2 kerja di prodi MAH, namun belum ada mahasiswa yang mengembalikan kunci motor bu Titin. Permasalahan lain..... sound system yang membantu manajemen STPNDB untuk menyampaikan informasi dari pusat Humas sedang tidak berfungsi. "Sudah berbulan rusak", kata mahasiswa yang sedang praktek kerja di sana. Kampus kami sungguh luas, dengan adanya puluhan ruang kelas, ribuan mahasiswa, belum lagi yang sedang praktek di hotel Langoon, yg sedang praktek di dapur sekolah, yang sedang praktek di restoran, yang sedang praktek di lab. komputer. Hweleh wheleh....... Hmmm..... Apa yang harus kulakukan???? That's what friends are for..... forever friendshipness.

Kuminta dia duduk di dalam ruang kerjanya, aku segera bergerak menuju gedung-gedung perkuliahan kami. Pertama, ke Gedung Lontar, di blok A, lantai satu, ruang kelas pertama / 101, lalu ruang kelas kedua / 102, lalu bergerak ke lantai dua, ruang kelas pertama / 201, lalu ruang kelas kedua / 202,  kemudian berpindah ke blok B, lantai satu, ruang kelas pertama / 101, lalu ruang kelas kedua / 102, lalu ruang kelas ketiga / 103, lalu bergerak ke lantai dua, ruang kelas pertama / 201, lalu ruang kelas kedua / 202, dan ruang kelas ketiga / 103. Kalimat sama yang kuulangi, "Permisi, selamat pagi semua, maaf saya mohon perhatian. Ibu Titin mengalami kecelakaan, dan adakah mahasiswa disini yang membawa kunci motor beliau?? Karena sudah saya cek di ruang satpam, juga di ruang prodi Manajemen Akunting Hospitaliti, belum ada mahasiswa yang mengembalikan kunci motornya. Sedangkan ibu Titin akan pulang ke rumahnya untuk beristirahat....".

Berikutnya bergerak ke Gedung perkuliahan Rebab, di blok A, lantai satu, ruang kelas pertama / 101, lalu ruang kelas kedua / 102, dan ruang kelas ketiga / 103, lalu bergerak ke lantai dua, ruang kelas pertama / 201, lalu ruang kelas kedua / 202, dan ruang kelas ketiga / 103, kemudian berpindah ke blok B, lantai satu, ruang kelas pertama / 101, lalu ruang kelas kedua / 102, dan ruang kelas ketiga / 103, lalu bergerak ke lantai dua, ruang kelas pertama / 201, lalu ruang kelas kedua / 202, dan ruang kelas ketiga / 103. Tetap, tak kutemui mahasiswa yang dimaksud. Dheuuhhh, rasa lelah mulai mendera.

Beranjak ke Gedung Padma, aku berjumpa dengan Dayu. Ida Ayu Suryatini. Mahasiswa DIV Administrasi Perhotelan ini sedang berjalan beriringan dengan sahabatnya. Kuminta bantuannya untuk menyampaikan pengumuman di Gedung Padma blok B, dan aku di Gedung Padma blok A. Dari seluruh ruang di lantai satu, ruang kelas pertama / 101, lalu ruang kelas kedua / 102, dan ruang kelas ketiga / 103, tidak ada mahasiswa di ruang tersebut. Artinya, mereka sedang praktek. Beranjak ke lantai atas, kutemui pak Sabudi. Beliau mengatakan, mahasiswa yang baru diajarnya ada yang datang terlambat, dan mereka menyatakan baru menolong bu Titin. Well, titik terang pun tiba.

Akhirnya..... kutemui mahasiswa tersebut. Mereka sedang mengikuti perkuliahan Bapak Iswayana di Gedung Genitri A lantai 2. Deuh...... astungkara. Bu Titin bisa kembali ke Denpasar dengan tenang, dihantarkan oleh mobil kantor kami.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar