Sabtu, 19 Oktober 2013

(2) Sepang, I'm in love..... my love for all of you



Rumah tua kami di sisin pangkung, maka dikenal dengan Pangkung Singsing. Terletak di dusun Asah Badung, Desa Sepang Kelod, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng..... Di sinilah suamiku di lahirkan. Di sini pula aku menikah 20 tahun yang lalu. Dan, di sini pula, aku memiliki keluarga besar pula, dengan para tetua, penglingsir, para ipar, para ponakan, para cucu, para kerabat, para tetangga, para sahabat.......

Jum'at, 18 Oktober 2013, aku kembali pulkam. PP sehari saja. Berangkat pagi hari pukul tujuh pagi, setelah anak-anakku berangkat sekolah. Menuju Sepang, berkaitan dengan upacara mecaru dan melaspas di rumah iparku, juga ponakanku. Semoga sore hari nanti aku dapat kembali ke Denpasar.

Orang banyak mungkin akan bertanya-tanya, mengapa bela-bela in untuk pulang pergi, dalam perjalanan jauh, ke Buleleng, sendirian, tanpa ditemani suami dan anggota keluarga lain, naik motor, menembus jalan raya berdebu, panas, berlubang parah, dengan kerikil lepas nan berbahaya, berkelokan curam, tanjakan dan turunan terjal di beberapa lokasi........ Namun, hidup adalah pilihan, sayang. Dan, inilah jalan hidup yang kupilih. Aku masih tetap dapat mengurus keluarga kecilku, mencuci pakaian di rumah, menyiapkan sarapan dan bekal bagi suami dan anak-anak sebelum mereka berangkat sekolah, dan kemudian bepergian mengadakan perjalanan, pulang kampung demi membantu ipar dan ponakan di kampung yang mecaru dan melaspas rumah.



Setelah dua jam tiga puluh menit mengendarai motor menembus jalan raya Denpasar - Pengeragoan, menembus hutan Yeh leh Yeh Lebah di kawasan Desa Bading Kayu, Dapdap Putih, dan akhirnya tiba di desa Sepang Kelod. Kuparkir motor di rumah tua, di Pangkung Singsing. Tidak ada orang di sini. Para ponakan yang tinggal di sini, pasti sedang berada di rumah iparku yang terletak di Utara. Maka, perlahan aku meretas jalan setapak menuju ke pondok mereka, sekitar 500 meter berjalan kaki menembus kebun penuh dengan pohon kopi, cengkeh, kelapa.

Tiba di rumah mereka, kulihat simbok, Ketut Ngempi, dan para ponakan, sedang bersiap untuk melaksanakan upacara mecaru. Bli Wayan Tinggal terbaring lemah. Kakinya terlihat membengkak. Sakit batuk berdahak yang dideritanya, juga demam tinggi, sungguh membuatku iba. Sudah lama aku tidak sempat berkunjung ke rumah mereka, hanya tinggal berdua saja disini. Kuambil alat potong kuku, lalu kupotong ujung kuku jari kakinya yang tidak pernah menggunakan alas kaki. Berikutnya, kuambil minyak urut, dari bahan minyak kelapa, dicampur cengkeh. Perlahan ku urut bahu dan punggungnya. Kupijat pula telapak kaki,, ujung jari kaki dan betisnya. Semoga hangatnya campuran cengkeh pada minyak urut, dan juga pijatan ku, akan mampu membuat aliran dan peredaran darahnya kembali lancar, sehingga bisa kembali sehat.

Bli Wayan Tinggal sungguh tipikal seorang pria desa lugu nan pekerja keras. Semenjak pagi sudah bekerja di ladang mereka, pulang siang hari untuk makan siang sejenak, kemudian kembali pergi ke ladang. Meski mereka memiliki bagian rumah yang bagus, lengkap dengan perabot rumah tangga, namun berdua dengan simbok mereka memilih tinggal di bagian dapur. "Biarlah rumah itu untuk tempat tinggal bila anak-anak pulang". Demikian ujar Bli Wayan. Mereka hanya tingal berdua saja di sini.  Demikian pula halnya dengan iparku yang lain, yang tinggal di daerah Kauh dusun Asah Badung ini, Simbok Ketut Sukati dan Bli Made Miasa. Mereka juga hanya tinggal berdua saja, sementara sang anak sudah berkeluarga dan menetap di Jepang, nun jauh di negeri orang.

Aku bukanlah seorang tukang urut, bahkan, aku tak pernah mempelajari teknik tertentu dalam mengurut. Namun, yang kutahu hanyalah, bahwa dengan memijat bisa membantu memperlancar peredaran darah, dan semoga sirkulasi yang lancar ini akan mempercepat pulih pada kesehatan yang maksimal pula. Semoga Tuhan membantu harapan dan usaha kami semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar