Sabtu, 19 Oktober 2013

(3) Sepang, I'm in Love...My Love for All of you



Jum'at, 18 Oktober 2013. Sukra Kajeng Kliwon Sungsang. Aku pulkam ke Sepang. Meski hanya pulang pergi sehari saja, namun usaha untuk terlibat menyaksikan, merestui dan memberi bantuan bagi kerabat ku di kampung halaman.















Mecaru di rumah ipar, Simbok dan Bli Wayan Tinggal. Kemudian di lanjutkan dengan mecaru dan melaspas di rumah ponakanku, Ketut dan Nyoman Muliawan. Berangkat semenjak pagi hari, setelah kutuntaskan urusan rumahtangga di Denpasar, menuju ke Sepang. Aku berharap akan bisa tiba sore hari pula di Denpasar.



























Well, aku bahkan tidak dapat memberikan sumbangan dana bagi mereka semua berkaitan dengan upacara mecaru dan melaspas ini. Namun upayaku memberikan perhatian sebagai bukti kasih sayang pada seluruh kerabat, meski kami tidak memiliki ikatan sedarah kandung. Mereka lah saudara-saudaraku pula. Aku bahkan telah bertahun-tahun tidak bisa menjumpai ibu kandungku yang kini tinggal sendirian di Kalimantan, juga para saudara kandungku beserta anggota keluarga yang tersebar dimanapun berada. Namun inti dari kisah kehidupan ini adalah bahwa hidup adalah sebuah pilihan, dan kita yang memilih untuk menjalani dengan sepenuh cinta kasih, sekaligus bersyukur terhadap beragam aspek kehidupan yang ada, baik suka dan duka, lara juga pati. Dan, daripada mengutuk situasi yang kita hadapi, aku memilih mencintai dan menikmati dengan bersungguh, disertai dengan usaha dan kerja keras untuk menjadi semakin baik dan damai, juga menjadi kian dewasa serta bijak....

Dua setengah jam mengendarai motor di jalan raya, dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus jalan setapak dari rumah tua menuju rumah iparku yang melaksanakan upacara melaspas, lalu kembali berjalan menuju rumah ponakanku yang melaksanakan uacara mecaru juga melaspas. Kemudian kembali berkendara dengan motor tua ku tercinta selama dua setengah jam untuk kembali ke Denpasar.

Capekkah aku?? Hmmm, sudah tentu, karena aku juga hanyalah manusia biasa, yang teramat sangat biasa pula. Namun, semua karena cinta, demi cinta, dan, oleh cinta pada siapa pun. Cinta, yang membuat aku menikmati dan mencintai setiap detik yang ada dalam hidupku pula. Maka..... Sepang, I'm in Love. Tuhan, buatlah aku menjadi kepanjangan tangan Mu, dalam memelihara cinta yang tumbuh di dalam dada, juga menebar cinta bagi semua mahluk di dunia......

Menurut Ida Pandita Sri Bagawan Dwija dalam situs http://stitidharma.org/melaspas-rumah/
Di saat proses membangun rumah, dan pemiliknya menunda upacara melaspas rumah & sanggah karena keterbatasan anggaran dana, padahal sebentar lagi Galungan, maka diperkenankan di dalam rumah dibuatkan pelangkiran dan diaturkan banten prascita. Langkahnya adalah dengan membuat banten prayascita, dan kemudian memohonkan tirta prayascita kepada Sulinggih, yang kemudian dipercikkan pada rumah yang masih dalam proses pembangunan tersebut.

Upacara dan upakara yang alit/ sederhana sebagai berikut:
1. Caru dengan nasi Panca Warna: putih, merah, kuning, hitam, dan brunbun (campuran keempat warna itu). Nasi diwarnai dengan pewarna seperti membuat kuwe.
Letakkan urutan warna itu dari kiri memutar/ melingkar ke kanan, di mana warna brunbun di tengah-tengah. Letakkan di atasnya irisan isen, jahe, dan bawang merah. Diisi juga sedikit arak dan berem (anggur merah).
Semuanya letakkan dia tas daun pisang, dialasi piring, di mana nasi warna putih di arah timur. Caru ditaruh di bawah (di lantai bangunan), dihaturkan kepada Bhuta (alam semesta).
2. Banten (upakara): pengurip-urip, banyuawang, dan prayascita. Bila ini sulit membuat, pakai canang sari saja dengan dupa.
3. Setelah banten dihaturkan, sapu tiang-tiang bangunan/ sebagian atap dengan air laut. Alat penyapunya: daun ilalang dan daun dap-dap. Air laut adalah symbol dari Sapta Gangga. Bila ada air asli dari Sungai Gangga, bisa gunakan itu, sangat bagus. Bila sulit mencari ilalang dan daun dap-dap, gunakan bunga gemitir atau bunga lain.
4. Semua tiang di-torek dengan cat berwarna: merah, putih, hitam berurutan dari atas ke bawah (torehannya kecil-kecil saja)
5. Tirta mohonkan di Padmasari yang ada di rumah, atau di pelangkiran kamar suci anda. Tirta disiratkan ke bangunan baru itu.
6. Puja, gunakan bahasa biasa saja, intinya memohon kepada Hyang Widhi agar bangunan disucikan yaitu bahan-bahannya “dihidupkan/ diurip” agar tidak “ngeletehin” kita.
7. Setelah itu  sembahyang seperti biasa.


http://paduarsana.com/tag/mecaru/
menjelaskan bahwa :
Melaspas wajib dilakukan bagi keluarga Hindu yang telah selesai mendirikan rumah tinggalnya. Selain rumah tinggal upacara melaspas juga dilakukan terhadap bangunan lain seperti bangunan suci(pura,merajan dll) hotel, kantor, toko bahkan kandang. Upacara melaspas bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan bangunan secara niskala sebelum digunakan atau ditempati. Melaspas dalam bahasa Bali memiliki arti Mlas artinya Pisah dan Pas artinyany Cocok, penjabaran arti Melaspas yaitu sebuah bangunan dibuat terdiri dari unsur yang berbeda ada kayu ada pula tanah(bata) dan batu, kemudian disatukan terbentuklah bangunan yang layak(cocok) untuk ditempati.

Upacara Melaspas wajib dilakukan Umat Hindu di Bali dan telah menjadi tradisi hingga kini, Melaspas dilakukan bertujuan untuk terciptanya ketenangan dan kedamaian bagi anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut terhindar dari hal-hal yang tidak diiginkan.
Tingkatan upacara melaspas, seperti halnya upacara-upacara lainnya yaitu:
  1. Kanista, upacara yang dilakukan paling sederhana
  2. Madya, Upacara yang dilakukan tergolong sedang.
  3. Utama, Upacara yang dilakukan tergolong besar.
Sebelumnya dilakukan upacara Melaspas, dilakukan terlebih dahulu mecaru.
  • Nedunang Bhutakala
  • Menghaturkan Labaan
  • Mengembalikan ketempatnya masing-masing.
Selanjutnya baru dilakukan upacara Melaspas, Rangkaian upacara melaspas sebagai berikut:
  1. Mengucapkan orti pada mudra bangunan
  2. Memasang ulap ulap pada bangunan, ulap ulap dipasang tergantung jenis bangunan ( ulap ulap kertas yang ditulis dengan hurup rajahan ).
  3. Bila bangunan tersebut tempat suci maka dasar banguan digali lubang untuk tempatkan pedagingan, kalau bangunan utama di isi pedagingan pada puncak dan madya juga, pada bagian puncak diisi padma dari emas.
  4. Pangurip urip,arang bunga digoreskan pada tiap tiap bangunan (melambangkan tri murti, Brahmana, Visnu, Iswara), jadi umat Hindu Bali percaya bahwa bangunan yang didirikan tersebut menpunyai daya hidup.
  5. Ngayaban banten ayaban dan ngayaban pras pamlaspas yang didahului memberikan sesajen pada sanggah surya ( Batang bambu yang menjulang tinggi)
  6. Ngayaban caru prabot
  7. Ngeteg-Linggih. Bila yang di Melaspas adalah tempat suci (palinggih), lalu upacaranya di tingkat madya dan nistaning utama bisa dilaksanakan sekaligus. (Drs.I Nyoman Singgih Wikarman)
Puncak upacara melaspas umumnya disertai dengan menancapkan tiga jenis bentuk banten yang disebut ”Orti”. Tiga jenis banten Orti itu adalah Orti Temu, Orti Ancak dan Orti Bingin. Tiga Orti ini menggambarkan makna dari rumah tinggal tersebut. Orti Temu sebagai simbol yang melukiskan rumah tinggal itu setelah dipelaspas bukan merupakan rangkaian bahan-bahan bangunan yang bersifat sekala semata yang tak bernyawa, tetapi sudah ditemukan dengan kekuatan spiritual yang niskala dengan upacara yadnya yang sakral. Ini artinya rumah tinggal itu sudah hidup atau ”maurip” secara keagamaan.
Kesimpulannya, Upacara Melaspas dilakukan bertujuan untuk memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar bagunan yang akan ditempati diberikan anugerah keselamatan dan kerahayuan bagi semua yang ada didalamnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar