Senin, 21 Oktober 2013

Tahu kah anda, bagaimana cara membuat Penjor ? Ala My Lovely Amazing Handsome Bodyguards, My Brondong...., 21/10/2013



Tahukah anda, bagaimana caranya membuat Penjor?? dan... ini yang dilakukan oleh My Lovely Amazing handsome Bodyguards, My Brondong, alias..... anak-anakku, Adi dan Yudha. Tikar digelar di halaman, di atasnya tersedia semat yang dibuat dari kulit bambu, ilalang kering, busung atau daun kelapa.



Namun, anak-anak, tetaplah anak-anak, dengan segala jiwa dan semangat anak-anak mereka. Lagipula, bukankah, kita semua adalah orang dewasa dengan jiwa kekanakan? Bikin Penjor pun, mereka membuatnya dengan semangat anak-anak. Intinya, bukan hasil yang dijadikan acuan patokan / tolok ukur, namun proses yang mereka jalani bersama dalam kerjasama dengan beragam nuansa suka dan duka. Yeaahh, tetap saja, anak-anak....



Maka, mereka bergelut bercanda, tertawa, protes bila dirasa kurang pas dengan selera dan keinginan mereka. Hmmmm, enjoy saja dah. Lagipula, bukan hasil yang menjadi acuan tolok ukur / kesuksesan, namun dari proses yang mereka jalani, bersama-sama, bekerjasama dalam menyelesaikan tugas, dalam suka dan duka, dalam semangat bersaudara, dan, dalam semangat yang ada pada diri mereka, untuk tumbuh kian dewasa, kian bijak dan shantih.



Kusediakan pisang rebus, teh dan kopi, juga busung / janur / daun kelapa..... dan biarkan mereka berkreasi menuntaskan kewajiban..... Hasilnya, ehm, jangan biarkan hasil mengikat....  Aku bisa dengan tenang pula menuntaskan mencuci pakaian dan memasak di dapur, sementara mereka bekerja di halaman. My Lovely Amazing Handsome Bodyguards, My Brondong bersiap bikin Penjor.  



Tatkala kuhidangkan tempe goreng tepung sebagai hidangan bagi mereka, kulihat gulungan dari busung telah selesai mereka kerjakan. Kami bersama merakitnya pada bambu untuk penjor. Kami tambahkan perlengkapan padi, menggantung pisang dan jaje bali, sepotong kain putih bertulis Omkara. Kemudian terakhir, kami gantungkan Sampian Penjor yang telah tuntas kubuat kemarin. Akhirnya....... Penjor kami tegak menjulang angkasa. Begitu sederhana, namun, inilah buah karya kami sekeluarga, sebagai Yadnya menjelang hari raya Galungan dan Kuningan.








Situs Parisada menjelaskan http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1150&Itemid=107
Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan

Dilihat dari segi bentuk, penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan.

Rujukan mengenai Penjor dapat dilihat pada Lontar “Tutur Dewi Tapini" “Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha, Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala, Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan, Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading, Hyang Sangkara Meraga Phalem, Hyang Sri Dewi Meraga Pari, Hyang Sambu Meraga Isepan, Hyang Mahesora Meraga Biting


Terdapat dua jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll.

Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang dapat diberikan arti sebagai, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian, ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”.

Oleh karena itu, membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama. Unsur-unsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut:
- Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.
- Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma.
- Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra.
- Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa.
- Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
- Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu.
- Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu.
- Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa.
- Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa


Selamat Galungan dan Kuningan, semoga semangat Galungan akan senantiasa menjaga kedamaian di bumi dan di hati, akan membuat kita kian dewasa, kian bijak dan shantih......

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar