Senin, 08 April 2013

Piodalan dan Kuningan, 5-7 April 2013 Denpasar - Sepang - Denpasar.... Sesuatu banget bersama Mu.

Jumát, 5 April - Minggu, 7 April 2013.
Setelah tuntas bersembahyang di rumah bersama keluarga, kami bersiap pulang kampung. Bersama dua motor. Suami dengan si bungsu, Yudhawijaya, di atas motor Yamaha Yupiter MX. Dan aku bersama si sulung, Adi Pratama, di atas motor Honda Astrea Grand. Kami menyusuri jalan sepanjang 350 km, selama hampir dua setengah jam berkendara. Adi, walau sudah duduk di bangku SMA kelas tiga, dan pengendara motor handal, nmun dia baru berusia 16 tahun. Belum dimilikinya SIM C, maka aku yg ada pada bagian pengendara motor kami.

Berhubung jalanan sepanjang Hutan Yeh Leh Yeh Lebah di daerah Bading Kayu hingga Desa Sepang Kelod mengalami rusak parah di beberapa lokasi, suami berkeinginan kami melewati jalur Pupuan. Lebih lama lagi satu jam berkendara. Namun aku bersikeras menembus rute biasa, dengan alasan sudah pukul dua siang, tak ingin malam tiba di kampung. Dan langit menunjukkan tanda kurang bersahabat, mendung tebal menggelayut. Lagipula, baru minggu lalu kulewati rute sama, Hutan Yeh Leh Yeh Lebah di daerah Bading Kayu hingga Desa Sepang Kelod, dan sangat kuyakini, kami akan mampu mengatasi hal ini.



Jalan curam dan tebing terjal, kerikil lepas dan lobang menganga yang mengancam perjalanan, membuat anakku harus berhenti berkali, turun dan berjalan kaki, sementara kukendarai motor melewati perjalanan dengan medan berat. Hmmm, sungguh, aku angkat topi pada para pengendara yang melalui jalan ini setiap hari, berkali-kali...... karena perjuangan mereka ini lah yang sesungguhnya membuat mereka layak menyandang gelar jago jalanan. Bukannya mereka yang hanya bisa kebut-kebutan di jalan raya, menggeber motor dengan suara keras, trek-trekan dengan gaya arogan belaka sepanjang jalan raya nan mulus.












 Dua ransel berisi perlengkapan kami selama di kampung kuletakkan di bagian depan motor, sehingga anakku bisa menjaga keseimbangan duduk nya di belakang. Well, kami bukan lah orang kaya yang mampu membeli mobil, namun selalu ada dorongan di hati, untuk pulang kampung, meski hanya sekedar mencakupkan tangan, menghaturkan sembah bakti pada Hyang Widhi, juga menyapa para sanak saudara di kampung.

Malu karena tak mampu punya mobil?? Ah ha ! Hanya mampu punya motor, kenapa harus memaksa diri untuk punya mobil dengan menambah hutang?? Hehehe.... enjoy saja lah. Sedari dini kutanamkan pada anak-anakku, tak perlu malu pada apa yg kita miliki. Meski terkadang, hidup tidaklah semudah dan seindah impian serta harapan kita.... Daripada besar pasak dibanding tiang nya.







Akhirnya...... setelah terguncang-guncang sepanjang perjalanan panjang sepanjang siang, tiba juga kami di kampung halaman, Desa Sepang Kelod, Dusun Asah Badung, daerah Pangkung singsing, rumah tua. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Hmmm, segelas kopi bali asli menyambut kedatangan kami.

Pukul 6 sore, bersama si bungsu, aku beranjak menuju ke rumah ipar. 500 meter perjalanan menuju ke arah atas perbukitan. Suami menyusul kemudian dengan si sulung. Beli Made Miyasa, beserta simbok Ketut Sukati, tinggal hanya berdua. Anak semata wayangnya menikah dengan orang Jepang, dan menetap disana dengan kedua anak mereka. Betapa.... kerinduan akan hadirnya keramaian di rumah mereka, membuat mereka begitu memanjakan anak-anakku. Dari durian, manggis, ceroring, semua digelar demi kedua anakku. Bahkan, menghidangkan semua makanan yang mereka miliki, dari sosis goreng, rawon, sambel tingkih, hingga buru-buru masak nasi lagi karena kedua anakku makan dengan lahapnya hingga bahkan tambah dan tambah lagi......



















 Menjelang larut malam, kedua anakku bermain gamelan yang dimiliki iparku ini. Hmmm, menyenangkan juga melihat mereka akur bersaudara, saling mengisi dan bermain bersama..... Entah, hingga kapan, hingga mereka saling melanjutkan garis kehidupan masing-masing, namun aku bersyukur, mereka memiliki masa indah bersama, dalam suka dan duka, terkadang ribut, terkadang ramenya.....





























 Pagi hari tiba, Sabtu Kuningan, tertanggal 6 April 2013. Cerahnya alam pegunungan menyapa kami. Hari ini adalah hari piodalan bagi sanggah di rumah tua kami. Namun sebelum kami beranjak kembali ke Pangkung Singsing, simbok ipar meminta kami sarapan terlebih dahulu. Maka kembali kami menikmati suasana sejenak, diantara anglo / tempat memasak dengan kayu bakar yang menyala, kokokan ayam menyapa, dan hawa kebun cengkeh dan kopi terhampar disekeliling kami.







Selesai dengan semua ini, simbok iparku mulai dengan prosesi mebanten di rumah beliau. Kami bergerak untuk kembali ke rumah tua, Pangkung Singsing.














Suami memikul buah ceroring / langsat yang dibungkus kardus, kedua anakku mengiringi di bagian belakang. Mereka bergerak perlahan, menuruni jalan tanah yang licin karena embun pagi.


















 Di rumah Pak Tut Tadra, kulihat I luh, bersama kedua anaknya, sedang mebanten dalam rangka Kuningan. Hmmm, menyenangkan melihat wajah-wajah ramah dan polos mereka. Betapa.... keramahan orang desa membuatku ingin berlama tinggal disini, tak perlu sibuk dengan urusan kantor dan kemacetan jalan raya.















 Akhirnya......
setelah perjalanan membawa kardus berisi manggis, ceroring, dan durian, kami tiba kembali di rumah tua. Aku mendapat kejutan dari kedua anakku tercinta, sepotong kue kecil, berisi lilin bertulis angka 44 tahun, dan bros indah. Well, sederhana namun sungguh berkesan. Kucintai setiap anggota keluargaku dari hari ke hari....



Kuciumi tangan suamiku, kusuapi sepotong kue kecil baginya, kubagi bersama para keponakan lain, dan kami lanjut bersiap untuk bersembahyang dalam rangka Kuningan dan Piodalan di sanggah keluarga kami. Ternyata..... sudah 44 tahun usia ku kini. Sudah tua juga ya??? Hahaha. Rasanya baru kemarin berlarian dengan rambut berkuncir, berkeliling dari satu sudut rumah ke sudut lainnya.
























































 Keluarga........
Entah dimana pun berada, entah apa pun yang kita lakukan masing-masing, entah berapa banyak harta dalam genggaman kita...... Takkan pernah ada yang namanya mantan keluarga. Baik suka dalam duka, sedikit maupun banyak, tua atau muda, sehat maupun sakit, entah dengan jabatan dan gelar apa pun...... semoga kita semua akan selalu dalam harmoni dan menjaga kebersamaan, dengan cara bagaimanapun bentuknya.
























































 Selesai persembahyangan bersama...... Atas inisiatif mereka sendiri, kedua anakku memijat paman mereka yang terserang penyakit asam urat. Hmmm, semakin bangga akan kedua anakku, yang begitu peduli pada anggota keluarga. Ku sebut mereka selalu, My Lovely Amazing Handsome Bodyguards, My Son.... Wayan Adi Pratama, yang terlahir 1 Juli 1996, dan Made Yudhawijaya, yang lahir pada 15 Mei 2003, dari suami terkasih, Drs. Wayan Tagel Eddy, M.S. Lengkaplah sudah kebahagiaanku. Meski terkadang, jalan kami tidak sama, tidak selalu indah, dengan segala riak yang mewarnai kami dalam kehidupan ini.... takkan kubiarkan setiap detik berlalu percuma begitu saja.

























































































Minggu pagi, 7 April 2013, kami bersiap bergerak kembali menuju Denpasar. Segala kesibukan menanti di sana. Terbayang perjalanan kali ini yang akan kami tempuh selama 3 jam, kali ini dengan rute Desa Sepang Kelod, menuju ke Desa Pucak Sari, Pupuan, Tabanan, Denpasar. Kami kembali mencakupkan tangan di sanggah keluarga, berpamitan sebelum berangkat. Hati kami akan selalu ada di sini, di kampung halaman.......


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar