Rabu, 03 April 2013

Purnama, Anggara Wage Dunggulan, Selasa 26 Maret 2013. Kami bersembahyang bersama di Padmasana Perum

Keluarga...... sungguh sebuah anugerah terindah. Meski terkadang jarang waktu bisa bersama. Meski terkadang romantisme tiada, kan kuseret sang romansa untuk hadir di tengah kami bersama..... Kumanfaatkan setiap detik selagi bisa.



Bulan bulat indah, Purnama, Anggara Wage Dunggulan, Selasa 26 Maret 2013. Hari ini juga dikenal sebagai hari Penyajan Galungan, sehari menjelang perayaan Galungan keesokan hari. Setelah tuntas bersembahyang bersama di rumah, kami sekeluarga bergerak ke Pura yang ada di lingkungan perumahan kami. Kubawa serta canang. Banyak warga perumahan, yang merupakan umat Hindu, pulang kampung untuk melaksanakan hari raya Galungan. Hanya keluargaku yang ada di sini. 



Suami dan kedua anakku menghaturkan canang, rangkaian bunga di atas rangkaian janur muda, di bawah Padmasana Pura. Kami lalu duduk bersama, melantunkan puja bagi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.....


Om bhùr bhvah svah (Tuhan yang berada di alam bumi, langit, dan sorga)
tat savitur varenyam (Tuhan yang teramat mulia)
bhargo devasya dhimahi (Hamba pusatkan perhatian pada sinar-Mu yang cemerlang)
dhiyo yo nah pracodayàt (Semoga Ia berikan semangat pikiran kita)

Om nàràyana evedam sarvam (Tuhan, Narayana adalah semua ini,

yad bhùtam yac ca bhavyam (apa yang telah ada dan apa yang akan ada)
niskalanko nirañjano nirvikalpo (bebas dari noda, bebas dari kotoran)
niràkhyàtah suddo deva eko (Tuhan yang Esa, suci, dan tak tergambarkan)
Nàràyano na dvitìyo'sti kascit (Tuhan tiada yang kedua atau yang lain)

 Om tvam sivah tvam mahàdevah (Engkaulah Siwa yang Pengasih, Mahadewa yang Agung)
ìsvarah paramesvarah (Iswara penguasa yang tertinggi)
brahmà visnusca rudrasca (Brahma pencipta, Wisnu pemelihara, Rudra pralina)
purusah parikìrtitah (Sebagai jiwa alam semesta)

Om pàpo’ham pàpakarmàham (Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa)
pàpàtmà pàpasambhavah (diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa)
tràhi màm pundarikàksa (lindungilah hamba Hyang Widhi)
sabàhyàbhyàntarah suci (sucikanlah jiwa dan raga hamba)

Om ksamasva màm mahàdeva (Tuhan, ampunilah hamba)
sarvapràni hitankara (yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk)
màm moca sarva pàpebyah (bebaskanlah hamba dari segala dosa)
pàlayasva sadà siva (lindungilah hamba oh Hyang Widhi)

Om ksàntavyah kàyiko dosah (Tuhan, ampunilah dosa perbuatan hamba)
ksàntavyo vàciko mama (ampunilah dosa perkataan hamba)
ksàntavyo mànaso dosah (ampunilah dosa pikiran hamba)
tat pramàdàt ksamasva màm (Segala kelalaian hamba, ampunilah)

Om.. Shantih, Shantih, Shantih.. Om...
(Tuhan, Semoga Damai di hati setiap mahluk, damai di alam samesta dan damai selalu)


Lalu kami menghaturkan kramaning Panca Sembah

Pertama, 
Om Atma tat twatma suda mam swaha (Tuhan, sucikanlah batin hamba)

Kedua,
Om Aditya sya param jyotir Tuhan, bagai sinar surya nan hebat)
rakta teja namo stute (Yang bersinar merah)
sweta pangkaja madiasta (yang berada di tengah teratai putih)
baskara ya namo stute (Hamba menyembah Mu)

 Ketiga,
Om Nama dewa adistanaya (Tuhan yang bersemayam di tempat yang tinggi)
Sarwa wyapi wai siwa ya (Engkau adalah Siwa yang berada di mana-mana
Padmasana eka pratistaya (Yang bersemayan di atas bunga teratai)
Ardanareswariyai namo namah (Engkau juga Ardanareswari, hamba menyembah-Mu)

Keempat,
Om anugraha manohara (Engkau yang memberi anugrah pada kami)
Dewa data nugrahaka (Augrah Tuhan)
Arcanam sarwa pujanam (Segala pujian bagi Mu)
Namah sarwa nugrahaka (Hamba menyembah Mu yg memberi anugrah)

Dewa dewi mahasidi (Tuhan yang maha siddhi, maha kuasa)
Yajnanga nirmalatmaka (Yang ber yadnya dan maha suci)
Laksmi sidisca dirgayu (Pemberi kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur)
Nirwidna suka werdisca (Pemberi kebebasan, kegembiraan dan kemajuan)

Om dewa suksma paramacintya ya namah swaha
(Tuhan yang maha tinggi tiada terkira)

 Berikutnya, suami terkasih dan kedua anakku mengambil sapu dan sekop, menyapu dedaunan yang berserakan, mengumpulkannya pada satu lokasi, dan membakar sampah. Kami menunggui hingga semua sisa pembakaran habis, sebelum kembali ke rumah.


























Purnama, Anggara Wage Dunggulan, Selasa 26 Maret 2013. Kami bersembahyang bersama di Padmasana Perum...... Hidup sederhana itu indah.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar