Sabtu, 04 Juni 2011

Kenangan Indah Perjalanan Kami....(3)












Pontianak di pagi hari. Walau baru tertidur pukul 2 larut malam, aku telah terjaga pukul 5 waktu setempat. Anakku juga terbangun dari tidurnya. Well, kami tidur bertiga bareng emak di lantai dua rumah, di atas lantai kami gelar karpet, asyik bertukar cerita hingga pagi menjelang. Emak terbiasa bangun pagi hari, berjalan kaki menuju pasar sekitar 300 meter dari rumah, mandi dan bersih-bersih seisi rumah. Emak tidak pernah bisa duduk bersimpuh lagi, karena asam urat dan kecelakaan yang membuat beberapa tulang tidak bisa kembali sempurna. Namun tidak pernah bisa duduk diam dan hanya berpangku tangan. Hingga kini emak masih mencuci dan menjemur baju sendiri. Tidak ada satupun anak kandung yang bisa mendampingi selalu. Namun emak memiliki banyak anak asuh dan beberapa pegawai yang membantu tugas lainnya.

Pukul 6 pagi, selesai mandi kami bersembahyang di merajan rumah, di lantai dua. Semenjak bapak meninggal dunia dan selesai di aben di Pontianak, emak tidak pernah lupa bersembahyang tiga kali sehari, dan tetap menghaturkan sodan, berupa nasi dan lauk pauknya, juga buah-buahan atau roti, di atas meja makan. Ini emak lakukan sebagai persembahan bagi Tuhan, leluhur dan para dewa sebagai manifestasi Tuhan.

Selesai bersembahyang, kami berangkat menuju kota. Ya, Apotik Antara terletak di Jalan Raya Adisucipto, Parit Baru, pinggiran kota Pontianak, dan kini kami menuju pusat kota. Emak ingin membelikan kami makanan khas yang sering kunikmati saat kecil dahulu. Nasi Hainan dan air tahu. Nasi Hainan sebenarnya adalah nasi campur. Terdiri dari nasi yang diberi sayur sawi yang telah diasinkan, timun, irisan daging babi yang di rebus bersama saos tomat, sepotong ayam yang dimasak dengan kecap, beberapa potongan sosis babi, atau urutan babi, sepotong telur yang dimasak dengan kecap pula, lalu disiram kuah / kaldu. Karena sebagian besar penjualnya adalah orang Cina, maka mereka menamainya dengan daerah asal leluhur mereka, atau dengan nama mereka sendiri.

Setelah usai menikmati sarapan nasi ayam, kami menyempatkan diri berfoto di atas sebuah becak yang kukendarai. Dan lanjut pulang, karena akan segera menjemput adikku yang telah berangkat dengan pesawat Lion Air pukul 6 dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Dewa Ketut Karma Susatia akan tiba bersama si bungsu, Dewa Nyoman Danar yang lahir pada tahun.

Ah, tidak sabar rasanya membayangkan kami akan dapat berkumpul lagi setelah sekian lama tidak berjumpa. Well.... Hidup adalah sebuah perjalanan yang bakal terus bergulir ke berbagai arah. Bapak adalah seorang putera Bali asli. I Dewa Made Tjeteg. Ibu adalah seorang wanita Kalimantan, puteri Dayak dengan campuran darah Melayu dan Banjar. Hmmm, sungguh sebuah keluarga nasionalis. Namun pergerakan ruang dan waktu telah membuat kami terpisah dengan berbagai aktivitas kehidupan kami. Bukankah.... hanya perubahan itu sendiri yang abadi? Kita tidak mungkin selalu stagnan dan berdiam di bawah ketiak orang yang dikasihi dan siang melindungi kita selalu, bukan? Dan, kita semua adalah agen-agen dari perubahan itu sendiri. We are the agents of the changing world.....

Kakak kandungku, Desak Putu Evi Suandani, tamatan Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara, bekerja di sebuah perusahaan asing. Baru saja dia berhenti bekerja, dan kini sedang mencoba peruntungan dengan mengawali bisnis dalam bidang usaha dagang baju. Adikku, Dewa Nyoman Diwyartha Kesuma, seorang peternak lele. Dia pernah bersekolah di Universitas Trisakti, fakultas Teknik Mesin, hingga semester tiga. Sebenarnya semenjak tamat SMA, dia tidak ingin melanjutkan pendidikan. Namun orang tua mana yang sungguh tulus mencintai setiap anak nya yang ingin dan akan memperlakukan anaknya berbeda? Maka dia dipaksa untuk kuliah pula Setiap pekerjaan adalah indah sejauh kita benar2 bersungguh dalam melakukannya untuk mencapai hasil. Lagi pula, aku percaya bahwa bukan seberapa banyak harga yang telah kita capai, namun seberapa bernilai setiap proses usaha dalam mencapai tujuan akhir. Si bungsu, Dewa Ketut Karma Susatya, lulusan Farmasi Universitas Indonesia, dan kini kerja di PT Tempo, sebagai manager di salah satu perusahaan obat terbaik di negeri ini. Aku sendiri, berusaha jadi guru yang baik di STPNDB, dengan dua anak lelaki hebat, didampingi pria yang hebat pula. Ehm.....

Emak dahulu adalah murid di sekolah bidan di Pontianak. Kini melanjutkan usaha bapak. Aku menjadi tangguh juga adalah berkat didikan emak dan bapak. Maka, kuharap, keluargaku juga akan menjadi tangguh dalam menghadapi berbagai perjalanan hidup kami yang entah kapan akan berakhir.

Kehidupan..... akan membuat kita mungkin terpisah jarak ruang, waktu dan tempat. Entah kapan akan bisa berkumpul bersama lagi. Kenangan, indah dan menyedihkan, situasi yang membahagiakan dan mengerikan, tetap memberi arti pada sebuah keluarga. Kekeluargaan tentu akan selalu dipenuhi pelangi beraneka warna. Astungkara.... Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atas segala anugerahmu bagi keluargaku, dan bagi setiap keluarga di muka bumi ini....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar