Selasa, 11 Januari 2011

Beratnya beban pelajaran bagi anak2....


Selasa malam, 11 Januari 2011. Pangeran sulung bersama suami tercinta sedang keluar, jahit celana yang kebesaran. Si bungsu sedang mengerjakan sesuatu di komputer, selalu saja ada yang mereka kerjakan. Hmmm, sungguh probadi-pribadi yang ga bisa diam, aktif melulu. Simbok sedang sekolah, karena dia mengikuti paket kejar C, bagi SMA. Sedang aku? Nyungkrug di bawah selimut, berbaring karena kepala sakit, demam akibat kehujanan kemarin, dan tidak langsung mandi keramas untuk menetralisir suhu tubuh dengan udara di luar.

Terdengar suara memanggil dari luar. Segera ku beranjak ke luar. Ah, kulihat Gek Tata bersama Gek Lia, anak tetangga. Mereka mengajak si Yudha, putra bungsu, untuk membesuk sahabat mereka pula, yang sedang sakit. Kak Prima. Katanya, muntah-muntah.

Hmmm, ini sudah pukul 8 malam. Kukatakan untuk besok saja membesuknya. Tak kuijinkan anakku keluar. Dan... lagipula, lebih baik besok bersama-sama jika ingin mengunjungi sahabat. Infonya belum juga jelas, sakit apa, karena apa, apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya.

Tak berapa lama kemudian, si sulung tiba bersama ayahnya. Tanpa disuruh lagi, mereka menghaturkan banten, bersembahyang seperti biasanya rutin mereka lakukan berdua. Masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan putraku ini. Dia terkadang mengeluhkan, betapa banyaknya beban pelajaran yang harus dihadapi. Hmmm.... Lalu kemudian anak-anakku ini merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Kami hanya memiliki satu kamar tidur. Ya. Tipe rumah kami adalah tipe 21, dengan satu kamar. Maka, kamar tamu kami jadikan kamar tidur pula. Sehingga aku bisa dan terbiasa bekerja sambil tetap berada bersama mereka. Terkadang memang menimbulkan masalah, karena adakalanya kami membutuhkan privacy kami masing-masing. Namun apa mau dikata? Perlahan lah selesaikan problematika ini. Toh kami sudah harus bersyukur atas segala anugerah yang kami dapatkan dari hari ke hari. Dan masih jauh lebih banyak orang yang menderita karena tidak memiliki rumah dan makanan layak, bahkan untuk hari tersebut.

Balik ke kisah anakku.... Anak sulungku jatuh tertidur, lalu mengigau, berceloteh tentang beratnya pelajaran dan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Si bungsu bertanya, kenapa seseorang bisa mengigau, kenapa kakaknya mengigau, apakah tidak ada obatnya agar orang tidak mengigau, lalu apa yg akan terjadi jika seseorang mengigau. Hmmmm.

Dari anak tetangga yang muntah dan mual yang ternyata karena kelelahan akibat beban pelajaran tinggi, dan kini, anakku juga alami hal sama, mengigau karena selalu membayangkan beban pelajaran tinggi. Ah... sungguh tidak tega rasanya melihat mereka menderita. Namun, bukankan mereka juga harus terbiasa menangani dan mengatasi permasalahan mereka sendiri? Hidup di dunia sungguh berat jika kita tidak siap hadapi berbagai problematika. Jika terbiasa dibantu, selalu ada yang siap sedia menolong, jarang hadapi beban pelajaran dan pekerjaan, maka justru seseorang tidak pernah siap, akan jadi orang manja dan selalu tergantung pada orang lain. Belum lagi, jika mereka nanti menikah, hadapi problematika dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Ahhh,
apapun itu, semoga mereka akan baik-baik saja. Tidak pernah bisa kita janjikan hidup yang bakal selalu indah dan mudah bagi mereka. Namun, sejauh mereka benar-benar memiliki tekad kuat dan berusaha mewujudkan impian mereka, semoga Tuhan membantu mereka dengan mempermudah jalan mereka.....

2 komentar:

  1. Beratnya beban pelajaran itu karena kita menggunakan parameternya dengan apa yang kita alami dulu.

    Tapi, coba kita lihat sekarang, apakah tantangan hidup sekarang sama dengan ketika kita waktu kecil?? Itu yang membedakannya.

    Apa yang harus dialami anak-anak kita sekarang sebagai bekal kelak untuk menghadapi tantangan hidup yang jauh lebih berat dari sekarang.

    Ukuran bumi tidak membesar dan semakin menua, tetapi penghuninya semakin banyak dan tambah banyak. Titik kesetimbangan akan terjadi.

    Terimakasih boleh berkomentar, Mba.

    BalasHapus
  2. Trims, Pak Ferry.

    Benar sekali... kasihan anak2 kita yg wajib mengejar target kurikulum semata....

    BalasHapus