Senin, 31 Januari 2011

Cintaku PadaMu...


















Jika cinta hadir menggoda..... dia tidak akan bicara tentang alasan apapun. Hanya hadir menyapa, dan kita terdiam tanpa banyak kata, tak perlu lagi segala bicara dan gaya, karena ternyata kita adalah sama di mata Nya...
As they said: It’s hard to pretend you love someone when you don’t, but harder to pretend you don’t love someone when you do.

Maka.....
Kujelang cintaku padaMu, Ida Sang Hyang Widhi Wasa,
berangkatku menghampiriMu di Pura Lempuyang Luhur.

Tiba pertama kali, kucakupkan kedua tangan bersujud padaMu, di Pura Penataran Agung. Pura pertama kami menjejakkan kaki di areal Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur. Masihkah berarti, segala angkara dan nafsu di hadapan Hyang Widhi Wasa?
Berikut adalah Pura Telaga Mas di areal Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur. Setelah berpuluh tahun menanti, akhirnya... kutaklukkan segala takut dan malu, meraih kesempatan bertekuklutut di ujung jemari kakiMu, hidup dan cintaku kupersembahkan untukMu....
Selanjutnya... Pura Telaga Sawangan di areal Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur. Hmmm, setelah ratusan kilometer dengan kendaraan, berkilometer undagan anak tangga curam demi menghadap dan memohon kemurahanMu...... Siapalah diriku yang hina dan nista ini....
Lalu langkah kaki beranjak menuju Pura Lempuyang Madya di areal Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur. Dan... masihkah mampu kurengkuh kedalaman hati di ujung hidupku, senantiasa memuliakan namaMu?
Lintasan perjalanan kami dari Pura Pucak Bisbis di areal Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur menuju Pura Pasar Agung. 600 meter jalan setapak tanah yang curam dengan akar pohon berpuluh dan ratusan tahun. Swaha....
Ah Tuhan...... Terpana ku menatap ini semua. Sepakat pada pepatah yang berkata.... "please fall in love only when you're ready, not when you're lonely". Sekian lamanya waktu yang kubutuhkan untuk menggapai salah satu rumah Mu di sini...

Akhirnya kami tiba di Pura Pasar Agung di areal Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur. Canangsari, dupa dan doaku bagi damai semesta. Begitu kecil hamba di gelaran kebesaranMu.....

Dengan bangga kukatakan, kutitipkan masa depan negeri ini pada mereka, para pejuang muda, untuk menegakkan dharma.... Tak kujanjikan hidup yang selalu indah dan bakal mudah, namun dengan tekad untuk maju melangkah, kuyakin mereka bisa...
1700 anak tangga berbatu berbilang kilo meter, jalan tanah curam dan terjal di daki.... hanya untuk memenuhi ego semata???!! Masihkah kita berpikir tentang hal lain.. selain cinta dan syukur pada segala kemurahanNya?
Bersujud ku di Pura Lempuyang Luhur..... Meraung dan mengaum..... Dan, masihkah kita berdebat tentang segala beda, tua dan muda, sehat dan sakit, kaya dan miskin, profesor dan tiada berpendidikan, si tampan dan si buruk rupa.... jika ternyata, di mata Tuhan kita adalah sama ??

Minggu, 30 Januari 2011

Astungkara... kaki gempor, pantat tepos, dan... kecurian


Minggu pagi, 30 Januari 2011. Setelah selesai urusan di rumah, aku dan simbok bersiap untuk sebuah perjalanan spiritual lain. Anak2 dan suami tidak bisa ikut serta. 2 pejati sudah kupersiapkan. Ransel berisi kain dan pakaian ganti, dompet dan surat kendaraan lengkap berada di dalamnya. Motor astrea 800 melaju menyusuri jalan Imam Bonjol, Teuku Umar, Sanur, lalu Gerbang By Pass Prof. IB Mantra. Disana bergabung sepasang muda-mudi, Putu dan GekWi.

"Hla, ibu kok gak pakai kain sih?" Kata Putu, anak asuhku ini. Hwalah, 2 hingga 3 jam naik motor menuju tujuan? Kupilih mengenakan pakaian kebesaranku, celana gombyor berkantung banyak, jaket, dan helm, tak lupa, kacamata cengdem dan sarung tangan, juga kaus kaki. Kami lalu memacu motor menuju ke arah Karangasem. Tujuan kami adalah Pura Luhur Lempuyang.

(Ngurah Suastra menjelaskan dalam http://semeton.blogspot.com/2008/08/tangkil-ke-pura-sadkahyangan-lempuyang.html )

Pura SadKahyangan Agung Lempuyang Luhur adalah Pura Penyungsungan Jagat Bali Hindu. Kalau ditinjau dari sisi topografi terletak di ujung Timur Pulau Bali, pada suatu dataran tinggi (pegunungan), jelasnya : Di Banjar/Desa Adat Purwayu, Desa Tista, Kec. Abang, Kab. Karangasem, Bali.

Bila akan memedek ke Pura Sadkahyangan Agung Lempuyang Luhur, melalui Kec. Abang, ada dua jalur, yaitu :

1. Jalur Kemuda/Purwayu : melalui Desa Ngis Tista, Kemuda, Penataran Agung Lempuyang Luhur di Purwayu, Telaga Mas, Pasar Agung dan akhirnya sampailah di Lempuyang Luhur.

2. Jalur Basangalas; melalui Desa Ngis Tista, Basangalas, Desa/Banjar Gamongan, Telaga Sawangan, Lempuyang Madya (Parahyangan Mpu Gni Jaya) lanjut menuju luhuring Lempuyang Madya, Pucak Bisbis, sampai di Pasar Agungdan dan akhirnya sampai di Lempuyang Luhur.

Ida Bhetara yang berstana disana sering disebut Ida Bhetara Hyang Agnijaya yang juga disebutkan mengemban Ida Bhetara Hyang Iswara.


Dalam perjalanan menuju Pura Sadkahyangan Lempuyang Luhur, kami berhenti sejenak di Pura Gowa Lawa, menghaturkan canang dan mencakupkan tangan berdoa. Udara cerah di pagi hari dan hembusan angin laut membawa aroma segar bagi diri ini. Hmmm, ingin segera tiba di Rumah Tuhan.

Sungguh beruntung kami mengendarai motor, hingga bisa tiba di pelataran parkir Pura Penataran Agung. Segera kukenakan kain sembahyang, dan mengawali doa di Pura dasar dari tujuh pura yang ada di areal Pura Sadkahyangan Lempuyang Luhur ini.

Berikutnya adalah Pura Telaga Mas. Motor kami harus diparkir disini. Kami harus melanjutkan perjalanan dengan menyusuri sekitar 1700 anak tangga. Selama mengantri giliran bersembahyang, seorang ibu menghampiri, meminta diijinkan untuk membawa banten pejatiku. Well, kuangsurkan banten dengan harapan dia akan membawanya hingga ke Pura Lempuyang Luhur, sekaligus menjadi guide kami...

Selesai berdoa di Pura Telaga Mas, kami bergerak menuju Pura lainnya. Setelah sekitar 100 anak tangga kami daki semenjak dari Pura Telaga Mas, terdapat persimpangan, dan sang guide, mengarahkan kami untuk mengambil langkah berbelok ke kanan. Setelah berjalan menyusuri anak tangga berbatuan sejauh 600 meter, akhirnya kami tiba di Pura Telaga Sawangan. Ini merupakan pura ke tiga sebelum kami memasuki Pura Lempuyang Madya. Rombongan yang bersamaku semenjak dari Pura Telaga Mas, mengakhiri perjalanan mereka hanya di sini. Sedangkan kami berempat melanjutkan perjalanan mengitari pura, bergerak menaiki undagan menuju Pura Pucak Bisbis. Sebelum tiba di Pura Pucak Bisbis, kami kembali beristirahat yang ke sekian kali, membeli dua gelas kopi, dua botol air minum, dan kacang goreng. Hmmm, entah anak tangga yang ke berapa, dari 1700 anak tangga yang harus kami tuntaskan dalam perjalanan menuju Pura Luhur Lempuyang ini.....

Di Pura Pucak Bisbis sudah tidak ada pemangku, mungkin karena sedikitnya pemedek dan dikira, tidak ada yang melanjutkan hingga ke Pura ini lagi. Ah ha... tidak mengapa, kuminta Putu memimpin doa. Setelah selesai, dia yang memercikkan tirta bagi kami semua.

Berikutnya, menyusuri jalan pintas menuju Pura Pasar Agung. Hmmm, sungguh indah jalan setapak yang tidak lagi berupa undagan berbatu, namun hanya jalan tanah, dengan akar-akar pohon berusia ratusan tahun yg menyembul. Setengah jam berjalan menyusuri jalan tanah terjal dan licin, akhirnya kami tiba kembali di jalan berundag bebatuan. Kembali menaiki sekitar 200 anak tangga, tibalah kami pada Pura Pasar Agung. Serombongan orang sedang berdoa dengan dipimpin oleh seorang mangku. Tampak tidak kurang dari 10 ekor monyet bergelayutan di atas pepohonan. Wah, harus waspada agar banten dan tas tidak direnggut oleh mereka.

Selesai di Pura ini, kami kembali menyusuri sekitar 300 anak tangga menuju Pura Lempuyang Luhur. Sungguh banyak monyet yang berada di sepanjang jalan Pura Pasar Agung menuju Pura Lempuyang Luhur. Kubawa kayu buat ngusir monyet, malah nyeleketik kena bag. putih mata, ransum makan siangku dirampas se gerombolah monyet, dan... 12 telur rebus, nasi, tum pindang, botol kecap asin, melayang, hiks.....

Hmmm,
Namun astungkara.... akhirnya berhasil pula kami tiba di Pura Lempuyang Luhur ini. Aahhh, Ida Sang Hyang Widhi Wasa,
"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati." OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore hari saat kami tiba kembali di parkiran di samping Pura Telaga Mas. Bubar di parkiran bersama Putu dan GekWi, aku memacu motor astrea 800 tercinta, menuju Denpasar, tak lupa, membeli ikan tongkol, lalu mampir menghantarkan ikan tongkol pada mertuaku, sekalian mengunjungi ipar dan para ponakan.

Ah ha, satu hari lagi terlewati dengan sepenuh doa dan semangat menjalani hari-hari.....


Sabtu, 29 Januari 2011

Cinta Gak Pernah Keliru....


A kiss is nature's lovely trick to stop speech
when words become superfluous
(Ingrid Bergman via Plurk)
Terkadang tidak ada gunanya banyak berkata,
bagai sia-sia belaka.
Karena bukankah.....

People will forget what you said,
people will forget what you did.
But people will never forget how you made them feel.

Cinta 'kan menghantarku PadaMu


Sepenuh pertimbangan,

duduk termenung di batas malam,

berdoa melantunkan dawai cinta.

Tidak ada yang salah dengan cinta, sayangku.

Itu yang terlahir dari batinku.

Tidak ada yang salah dari cinta kita.

Sejauh bukan terseret jerat nafsu birahi dan emosi semata......

Maka, kenapa harus ada ragu ini?

Bisakah? Tidakkah? Bisa tidak? Tidakkah bisa?

Namun, kerinduanku begitu memuncak...

Tuhan, jangan berpaling untuk pergi

Karena akan kuhantar anak2ku

Kan kuhampiri RumahMu

Wlo hanya berbekal pejati dan canang sari

Serta sang astrea 800 numero uno

Dan kisah tentang 1700 undag berkelok

Anak tangga yg bakal bikin gempor

karena...

Cinta 'kan menghantarku padaMu

Pura Luhur Lempuyang, ku 'kan hadir

Jumat, 28 Januari 2011

Aku dan Anak Tetangga.....

Namanya Liliasari, anak pak Made Mertayasa. kami sering saling guyon bersama, saling ledek. Dia sering curhat hingga larut malam, dan nangis dalam diam. Dan, pagi ini, Jum'at 28 Januari 2011, dia mengirim sms. Kuterima saat sedang menguji skripsi. Dia minta bantuan untuk dijualkan modem plus kartunya yang dia miliki. Ternyata, IM3 tidak cocok dengan lokasi perumahan kami. Baru dia beli total Rp 700 ribu.

Permohonannya baru bisa kupenuhi dengan mengumumkannya di wall facebookku saat pulang dari kampus. Setelah mampir di kantor cabang Telkomsel, lalu kemudian mampir di Gallery Indosat, dan dapat kesempatan ber wifi an sambil menunggu nomer antrean.... Kuumumkan via Facebook. Beberapa orang merespon, termasuk Made Uya. Segera kuminta mereka saling kontak, berkenalan dan membuat janji sendiri.

Kemudian, kuhubungi Liliasari yang sering kupanggil pula dengan sebutan Kak Lilik, bahwa kemungkinan si Made Uya ini bakal menghubunginya. Ini catatan pembicaraan kami via short messaging service di mobile phone....


Lilik : Telpon ibuk ya dia nanti? Bagus buk. Klo mau harga sekian dia nya, lebih bagus dah.
Nanti ibu dapat juga bagian deh. hehe....

Santi: Dia bakal nelpon kak Lilik

Lilik : Owww. Ganteng gak bu? hohoho...

Santi:Banngggeeeeettttt

Lilik :Udah punya pacar belum? Hahaha...

Santi:Aahhhh, baru juga 5 sekaligus

Lilik :Boleh dah, saya jadi yang ke enam. Hahaha....

Santi: Bukan. Yg ke 20. Masih ada 14 yg ngantre.

Lilik : Wah, boleh deh, yang penting dapat jadi pacarnya. Hehehe...

Santi: Hiiiiiii.....



Hohoho....
Cewek cantik yang sudah bekerja sebagai guru di salah satu SMP favorit, jago menyanyi dan rajin sembahyang ini sudah punya kekasih yang tampan dan baik hati. Kekasihnya sedang bekerja di luar negeri. Dan mereka akan menikah pertengahan tahun ini.

Dia juga terkenal humoris, bijak, namun, dalam beberapa hal, masih kekanakan. hahaha....

7 Keajaiban Dunia

Eka Subratha sahabatku jelaskan ini.....
Seorang guru memberikan tugas kepada siswa-siswanya untuk menuliskan Tujuh Keajaiban Dunia. Tepat sebelum kelas usai, siang itu, semua siswa diminta untuk mengumpulkan tugas mereka masing-masing. Seorang gadis kecil yang paling pendiam di kelas itu, mengumpulkan tugasnya paling akhir dengan ragu-ragu. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan hal itu…

Malamnya sang guru memeriksa tugas siswa-siswanya itu. Sebagian besar siswa menulis demikian:

Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Piramida
2. TajMahal
3. Tembok Besar Cina
4. Menara Pisa
5. Borobudur
6. Menara Eiffel
7. Pulau Komodo

Lembar demi lembar memuat hal yang hampir sama. Beberapa perbedaan hanya terdapat pada urutan penulisan daftar tersebut. Tapi guru itu terus memeriksa sampai lembar yang paling akhir…

Tapi saat memeriksa lembar yang paling akhir itu, sang guru terdiam. Lembar terakhir itu milik si gadis kecil pendiam…
Isinya seperti ini:

Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Bisa melihat
2. Bisa mendengar
3. Bisa menyentuh
4. Bisa disayangi
5. Bisa merasakan
6. Bisa tertawa, dan
7. Bisa mencintai…

Setelah duduk diam beberapa saat, sang guru menutup lembaran tugas siswa-siswanya.. Kemudian menundukkan kepalanya berdoa.. Mengucap syukur u/ seorang gadis kecil pendiam di kelasnya, yg telah mengajarkannya sebuah pelajaran hebat..

Tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban. Keajaiban itu ada di sekeliling kita ......

You are so Blessed

If you woke up this morning
with more health than illness,
you are more blessed than the
million who won't survive the week
(Jika kita terjaga di pagi hari dg kondisi sehat,
bersyukur lah, krn banyak org yg bahkan ga bisa bertahan lebih dari seminggu lagi)

If you have never experienced
the danger of battle,
the loneliness of imprisonment,
the agony of torture or
the pangs of starvation,
you are ahead of 20 million people
around the world.

(Jika kita ga pernah alami peperangan, sendirian di penjara, maka sungguh beruntung dibanding 20 juta org lain di dunia)


If you have food in your refrigerator,
clothes on your back, a roof over
your head and a place to sleep,
you are richer than 75% of this world.

(Jika masih punya makanan di kulkas, pakaian di badan, atap di atas kepala, tempat tinggal, maka kita lebih kaya dibanding 75 % org di dunia ini)

If you have money in the bank,
in your wallet, and spare change
in a dish someplace, you are among
the top 8% of the world's wealthy.

(Jika punya uang di bank, di dompet, buat makan, maka kita masih termasuk 8 % org yg sejahtera di dunia ini)


If your parents are still married and alive,
you are very rare,
especially in the United States
(Jika masih punya org tua, terlebih jika mereka masih menikah, maka masih beruntung deh, karena sungguh jarang, khususnya di Amrik sonoh)

If you hold up your head with a smile
on your face and are truly thankful,
you are blessed because the majority can,
but most do not.

(Jika masih bisa tersenyum dan bilang terima kasih, maka kita diberkahi, karena mayoritas org pada umumnya sebenarnya bisa tersenyum, namun kebanyakan tidak mau lakukan ini)


If you can hold someone's hand, hug them
or even touch them on the shoulder,
you are blessed because you can
offer God's healing touch.

(Jika kita masih dapat memegang tangan seseorang, memeluknya, bahkan menyentuh bahu mereka, maka kita terberkati, karena dapat menawarkan sentuhan Tuhan yang dapat menyembuhkan)


If you can read this message,

you are more blessed than over
two billion people in the world
that cannot read anything at all.

(Jika kita masih dapat membaca pesan ini, maka kita lebih terberkahi dibanding orang lain karena dua juta orang di dunia tidak dapat membaca apa pun)


You are so blessed in ways
you may never even know.

(Kita diberkati dalam cara atau jalan yang bahkan terkadang tidak kita sadari)


If you are feeling blessed, repay the blessings bestowed unto you and do something for others.

A blessing cannot be kept. If it stops with you, then the blessing will disappear. The blessing will only keep working if it is continuously passed around. If you are a recipient of a blessing, keep the blessing working by being the source of blessing to other people.





Swaha

Lintang lan rembulan kang gumintang....

Bintang dan bulan bersinar cerah

Gemebyar ing dadaku,

memancar di dadaku

sumurupo makecepring wanito iku

Dan, hadirlah wanita itu

swoho ....

Maha Besar Tuhan

Kamis, 27 Januari 2011

Tentang Skripsi

Berhasil atau gagalnya usaha,
Bukanlah sebuah tujuan yg ingin kita capai
Hanya sebuah proses yang harus kita jalani dalan kehidupan, yang mewarnai hidup kita dengan jembatan pelanginya....

Sering kulihat, banyak siswa mengeluh ttg proses bimbingan skripsi, Awal menyusun rencana skripsi, dan saat maju ujian skripsi. Ada bbrp aspek yang harus jadi bahan pertimbangan dalam skripsi.

1. Faktor dari dalam diri
a. Strategi / langkah-langkah
Banyak siswa yang sesungguhnya memiliki bakat, sangat cerdas. IPK tinggi di kelas. Namun kalah trik dalam menyusun langkah / strategi. Mereka ajukan proposal di akhir semester terakhir, malas setor muka, diskusi dan revisi UPP mereka dengan para KPS, dengan para pembimbing dan penguji. Banyak pula mahasiswa yang menempuh skripsi dengan sudah bekerja. Mereka butuh tambahan finansial, peningkatan harga diri dengan bekerja, namun mengalami kesusahan dengan membagi waktu antara bekerja dan selesaikan skripsi
b. Mood
Sebagian keberhasilan skripsi juga ditentukan oleh emosi. Jika sudah emosi jiwa melanda, sedih, kesal, jengkel, malas untuk lihat skripsi, ke perpustakaan, diskusi dengan dosen, takut ditegur, bisa berbulan-bulan tidak hadir untuk diskusikan skripsi mereka.
c. Situasi dan kondisi yang berkaitan dengan diri sendiri
Komputer yang hang, data kurang, analisis mengalami kebuntuan, landasan teori tidak match dengan data dan fakta di lapangan, daftar pustaka diobok-obok / tidak ketemu yg pas.

2. Faktor dari luar diri
a.Lingkungan keluarga dan sahabat
Seorang doktor sahabatku pernah kemukakan ini. 24 % perceraian terjadi saat penyusunan Disertasi di Amrik sana. Hwaladalah..... Konsentrasi demi mengutamakan tugas kuliah justru akan berdampak pada kelestarian keluarga. Demikian pula sebaliknya, Kelestarian keluarga dipengaruhi oleh kelestarian urusan sekolah dan karir. Maka, mungkin ada baiknya, dengan meminta para sahabat dan anggota keluarga. untuk membantu memotivasi mahasiswa agar mencapai prestasi maksimal, segera menuntaskan Tugas Akhir mereka ini.

b.Lingkungan kampus, baik rekan mahasiswa dan dosen
Dosen juga adalah manusia, dengan segala karakter yg dimiliki. 50 % keberhasilan sebuah skripsi ditentukan oleh kemampuan siswa untuk berkomunikasi dg pembimbing atau penguji.
Se samanya hubungan pertalian, tetap ada perbedaan yang bisa memunculkan konflik. Smoga solusi bisa diperoleh demi hasil yang maksimal.

c.Peraturan yang berkaitan dengan skripsi
Mulai dari nilai, pelaksanaan kegiatan, dll


Swaha....
Smoga damai tiba di hati dan di bumi kita semua...

Astungkara... Jas Pinjaman, Bibir Jontor, Nasi Gratis


Jum'at pagi, 28 Januari 2011, selesai dengan urusan RT dan keluarga seperti biasa, meluncur dengan penuh kepercayaan diri di jalan raya. Hari ini akan menguji Ujian Skripsi mahasiswa di PA bareng bu Irene Hanna H. Sihombing, SE., MM, dan Pak I Made Mentra, SE., MM. Ada tiga mahasiswa program studi D IV Administrasi Perhotelan yang bakal kami uji bersama. Hero Gunawan Chandra yang angkatan 2003 dengan topik Barista, Wayan Nuniek Widhyarthi yang angkatan 2006 dengan topik Training & Development, dan juga Christopher Hutajulu yang angkatan 2005 dengan topik Work Force Analysis.

Tiba di jalan raya by pass Ngurah Rai, baru tersadar, jas formal tertinggal di rumah. Whoaaaaa. Terlalu jauh untuk kembali ke rumah. Maka, kucoba keberuntungan dengan tetap melajukan motor astrea 800 tercinta menuju kantor. Bakal pinjam dari teman kantor yang biasanya menyimpan jas biru tua aja ahh. Demi, menghormati murid yang tampil formil tatkala ujian sidang. Mosok sih, dosen tampil lecek?

Tiba di kantor, coba berusaha kontak beberapa rekan dosen wanita. Namun bu MIR (Dra. I Gusti Ayu Mirah Darmayanthi, M.Si) dengan yakin menunjuk pada kantong jas yang ada di lemari. "Pakai itu saja, punya Pak WTA, jas nya kesempitan, dan memang disimpan disini, boleh dipakai siapa saja yang perlu"

Yes, yes, yes..... Astungkara dah. Segera kuambil dan kukenakan, berjalan melaksanakan tugas, menuju Ged. Rektorat, lalu menuju ke Ged. Padma blok A 101. Walau bibir jontor karena ikan teri sambel matah yg kumakan kemarin, dan jas gratis hasil pinjaman (ato curian, krn tanpa ijin?).

Siang hari, sehabis menguji, kami, PakNgah, PakBUD, bu IRN, masih lanjut dengan kerjaan. Sambil makan nasi gratisan, bareng lanjut kerja lain. Dari ngecek jadwal kuliah, buka email ikuti informasi dari ADAK, ditunggu mhs yg antri bimbingan, masukkan data nilai siswa, konfirmasi keikutsertaan dalam seminar di bulan Februari, browse data buat sekolah, dan lainnya lagi.

Senin, 24 Januari 2011

Dan, dia menggelepar terkapar tepat di hadapanku...


Pulang dari kantor, Senin, 24 Januari 2011. Lembur bareng bu Irene dan pak Nengah Sudarma. Pukul 15.45 aku beranjak meninggalkan kampus STPNDB. tepat di depan Setra Dalem, kuburan desa adat Bualu, terjadi benturan antara dua sepeda motor.

Dari arah atas, seorang pria mengenakan jas hujan berwarna cokelat. Dari arah bawah, seorang pria mengendarai motor bersama seorang wanita. Dengan bersinggungan di bagian pegangan motornya, si pria yang mengenakan jas hujan sempat oleng sejenak, sebelum akhirnya tersungkur pula di tengah jalan. Namun dia bisa segera berdiri, dan menuding-nuding pengendara motor yg satunya lagi.

Bagaimana dengan kondisi pengendara motor lain itu? Dia terpental, tertelungkup dengan posisi miring, dengan bagian kepala terlebih dahulu menghantam aspal. Si wanita yang diboncengnya bisa segera berdiri. Mereka berdua tidak mengenakan helm. Terlihat darah segar mengalir di aspal. Suara gumaman tidak jelas, terdengan dari mulutnya. Si wanita berteriak-teriak memohon bantuan, sesekali menggoyangkan tubuh pria yang tergeletak di jalanan tersebut. Banyak orang mulai berhenti dan mendekati. Juga para pengendara motor dan mobil lainnya.

Kuputuskan untuk tidak berhenti. Maafkan aku, Tuhan. Sudah berpaling dari situasi dimana ada orang yang butuh bantuan. Namun, apa yang bisa kulakukan saat itu? Kulihat, sudah banyak orang yang menghampiri dan membantunya, meminggirkan motor, mengangkatnya ke pinggir. Bukan tidak mungkin, aku malah berhenti hanya untuk menunjukkan simpati, tanpa bisa membantu apa pun, hanya menambah kemacetan di jalan tersebut.

Ahhh.....

Sabtu, 22 Januari 2011

Sumpah, Aseli, Copot jantung Gue...

Kakakku tiba Kamis malam, 20 Januari 2011. Dia melaksanakan tirta yatra bersama suaminya. Mereka berdua tinggal di Jakarta. Mengawali perjalanan spiritual di hari Jum'at pagi sejak dari Pura Watu Klotok, Pura Ibu, Pura keluarga / dadia, Pura Dasar Gelgel, Pura Goa Lawa, Pura Lempuyang, Pura Gelap, Pura Pedharman Tangkas Brangsinga, Pura bethare Sakti Wawu Rawuh, Pura Penataran Agung Besakih, dan mekemit di sini. Keesokan harinya lanjut ke Pura Dalem Puri, Pura Pasar Agung, Pura Ulun Danu Batur, Kintamani.


Aku baru bisa bergabung Sabtu malam. Kami berkumpul di Banjar Sasih, BatuBulan pukul 6.30, ditengah rintik hujan. Bersiap berangkat bertiga saja, dengan mobil APV rental yang tersedia. Permasalahannya, aku dan suami kakakku tidak bisa nyetir. Yang kami andalkan hanya sang kakak, yang biasa ngebut di jalanan di Jakarta, dengan mobil matic. Sedang mobil APV ini adalah manual. Namun, bukan si kakak, jika langsung mundur menyerah kalah... Kuyakinkan pula padanya, bahwa dia pasti bisa.


Tanda2 awal mulai terlihat.... buat memutar badan mobil keluar dari posisi parkir, sudah ribet. Keluar dari gang, mesin mati, berhadapan dengan mobil jimny, susah payah memundurkan mobil, terhenti dengan hentakan lumayan keras sepanjang jalan. Mulutku mencoba berceloteh, diskusi tiada henti, namun tangan mencengkeram erat pegangan di samping jendela, mata menatap jalang sepanjang jalan, mengawasi rentang jarak antar mobil dan motor. Aahhhhh.


Akhirnya, tiba pula kami menjelang pukul 9 malam di Batuaji. Anjing menggonggong riang. Membangunkan para sanak keluarga. Namun niat suci akhirnya tercapai. Nangkil ke Merajan Alit dan Merajan Agung, mencakupkan tangan, bersujud, menghaturkan bhakti pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan menunjukkan hormat pada leluhur dan bethare yang berstana disini....


Kembali kami menaiki mobil APV tersebut menuju Denpasar. Kali ini dengan lebih mulus dibanding perjalanan awal, karena si kakak sudah lebih menguasai si mobil dan medan jalan sepanjang Tabanan - Denpasar. Kami mengakhiri perjalanan dengan makan malam di pinggir jalan (Hla iya lah... masak makannya di tengah jalan!??) Kupilih bagiku sendiri, 2 porsi pempek, seporsi sate ayam, dan seporsi capcay. Aku perlu meredam ketegangan otot perut. Hmmmm, ingin relaks, atooo marukh ya?? hahaha...


Padahal, baru tadi pagi kupelajari dan diskusi bareng teman sesama Psikolog.... Betapa, kekuatan pikiran bisa membantu atasi tingkat kecemasan. psikiatrik dan psikologi, secara bersama... sungguh, tiada yang bisa hidup sendiri... Dan, di dunia ini, ku tak ingin hidup sendiri... Wlo, copot jantung, teteup ikut kakak dah, memanfaatkan waktu luang bersama2. hehehe.

Jumat, 21 Januari 2011

psikologi Mashab ke Empat: Psikologi Transpersonal, Genre Baru

Perkembangan ilmu pengetahuan sungguh luar biasa. Banyak temuan baru, para pemikir dan praktisi yang terlibat, juga kemajuan teknologi, telah membuat berbagai kemajuan yang membantu kemudahan manusia memahami dan menjalani kehidupannya. Perkembangan itu sendiri melahirkan banyak sekali diskusi dan interaksi di tengah masyarakat.

Lahirnya Psikologi Transpersonal adalah karena adanya perdebatan mengenai penyakit jiwa, yaitu psikosis (schizophrenia). Pada tahun 60-an, behaviorisme memandang bahwa psikosis itu terjadi karena kesalahan akibat proses belajar yang keliru, kondisi jiwa tidak dibicarakan dalam behaviorisme. Tahun 1970-an, psikoanalisis memandang skizophrenia (penyakit psikosis) diakibatkan pengalaman traumatis, terutama pengaruh seseorang yang menderita kecemasan. Pengalaman traumatis itu terjadi karena represi ke alam bawah sadar, pengalaman spiritual dianggap sebagai perilaku obsesif dan pemenuhan keinginan dari masa kanak-kanak, jiwa diperhitungkan sebagai motif-motif bawah sadar, terutama seks. Dua puluh tahun berikutnya ada penjelasan neurokimiawi tentang skizophrenia, adalah “biologically-based brain disease”, kelompok ini menggunakan obat-obatan untuk penyembuhan skizoprenia

(http://anwarnasrul19.blogspot.com/2009/01/psikologi-transpersonal-genre-baru.html)

Pada tahun yang sama penggunaan obat-obatan ini justru mengantarkan banyak orang pada pengalaman spiritual pada realitas diluar realitas fisik. Sally Ciay adalah satu mantan pasien psikiatris, menulis artikel ”stigma and spirituality”, ia melaporkan pengalamannya selama ia menjadi pasien di Hartford Institute of Living (IOL) ketika ia didiagnosa menderita skizoprenia. Ia berkata bahwa ”not a single aspect of my spiritual experience at the IOL was recognized as legitimate; neither the spiritual difficulties nor the healing that occurred at the end”. Ia membantah bahwa memang ia menderita psikosis pada waktu itu. Tetapi di samping penderitaan karena penyakitnya itu, ia juga mendapat pengalaman spiritual yang dalam. Karena pengalaman ini diabaikan oleh petugas kesehatan, kesembuhannya mengalami hambatan.

Dari kalangan psikiater R.D. Laing dan John Perry mengkritik pandangan profesi mereka yang menganggap kegilaan sebagai penyakit. Menurut Laing, seorang skizoprenia memang gila, tetapi ia tidak sakit. Jiwa secara keseluruhan adalah sebuah lautan luas, yang kebanyakan tidak diketahui ego. Jadi seorang psikosis itu bersentuhan atau bahkan tenggelam didalamnya, ia sedang menempuh perjalanan berbahaya, mengarungi samudera jiwa untuk menemukan makna yang lebih dalam. Laing berkata psikosis bukanlah ”breakdown” tetap ”breakthrough”, bukan kehancuran tetapi terobosan. Laing adalah tokoh utama dari psikologi humanistis-eksistensial.

Pada intinya, setiap orang adalah unik dan berbeda satu sama lainnya. Maka, mereka juga harus diperlakukan berbeda, tidak bisa disamakan. Suatu situasi atau kondisi yang dihadapi, harus dilihat sebagai sebuah proses yang dihadapi dalam hidup ini, bukan sebagai sebuah problema, apalagi masalah yang akan membuat seseorang hancur, menderita selamanya. Jadikan masalah sebagai sebuah peluang dan tantangan yang harus dicari solusinya.

Istilah transpersonal pertama kalinya dipakai oleh Carl Gustav Jung dalam bahasa Jerman, yakni “uberpersnolich” (transpersonal) yang artinya kurang lebih sama dengan collective unconscious. Yakni bentuk ketidaksadaran kolektif yang dimiliki oleh semua orang dari berbagai ras yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam ketidaksadaran kolektif terdapat ribuan arketif, seperti ide tentang Tuhan, anima, animus, arketif Diri dll, yang beberapa di antaranya berkaitan dengan pengalaman-pengalaman spiritual (http://www.himawijaya.org/node/10)

Gagasan dasar dari psikologi transpersonal adalah dengan mencoba melihat manusia selaras pandangan religius, yakni sebagai makhluk yang memiliki potensi spiritual. Jika psikoanalisis melihat manusia sebagai sosok negatif yang dijejali oleh pengalaman traumatis masa kecil, behaviorisme melihat manusia layaknya binatang, humanistik bepijak atas pandangan manusia yang sehat secara mental, maka psikologi transpersonal melihat semua manusia memiliki aspek spiritual, yang bersifat Ketuhanan.

Psikologi transpersonal sebagai kekuatan atau mazhab keempat dalam bidang psikologi itu sendiri dideklarasikan oleh Abraham Maslow. Di tahun 1968, ia mengatakan, “Saya melihat, psikologi humanistik sebagai angkatan ketiga psikologi sedang mengalami transisi, sedang mengalami persiapan menuju psikologi angakatan keempat yang lebih tinggi, transpersonal, transhuman, yang lebih berpusat kepada kosmos dari pada terhadap kebutuhan manusia, melewati kemanusiaan, identitas, aktualisasi diri dan semacamnya.” Maslow menemukan bahwa aktualisasi diri pada beberapa orang memiliki frekuensi puncak atau transendensi, dan pada beberapa orang lagi tidak. Ini menegaskan suatu perbedaaan antara aktualisasi diri dan transendensi diri. Inilah alasaan mengapa ada suatu pergerakan dari psikologi humanistik ke psikologi transpersonal. Ada dua buku Maslow yang membahas masalah ini, yakni Toward a Psychologhy of Being (1968) dan The Farther Reaches of Human Nature (1971).

Lajoie & Saphiro (1992), dua pionir Psikologi Transpersonal mengungkapkan definisi terkini : Transpersonal psychology is concerned with the study of humanity’s highest potential, and with the recognition, understanding, and realization of unitive, spiritual, and transcendent states of consciousness. Psikologi transpersonal mempunyai perhatian terhadap studi potensial tertinggi umat manusia dan dengan pengakuan, pemahaman dan perealisasian keadaan-keadaan kesadaran yang mempersatukan, spiritual dan transenden.

Psikoterapi dalam Psikologi Transpersonal (http://www.himawijaya.org/node/10) mempunyai pengertian terapi yang diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan mental dan emosi, yang dilakukan dengan instrumen psikologi. Tentu saja terapi yang diberikan mempunyai banyak variasi, dengan menginduk kepada teori psikologi tertentu. Ambil contoh untuk psikoterapi analitis, sejenis terapi yang diberikan yang merujuk kepada teori psikoanalisa. Dalam pandangan psikoanalisa, gangguan kepribadian atau mental terjadi karena setiap orang memiliki semacam mekanisme pertahanan diri. Salah satu mekanisme tersebut ialah represi, yakni membawa ke pikiran bawah sadar (unconsciousness) berbagai pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan dan traumatis. Inilah yang menyebabkan gangguan kepribadian. Seorang ahli psikoterapi, jika merujuk teori ini, akan berusaha mengangkat kembali ke alam sadar, trauma dan pengalaman yang direpresi ke bawah sadar. Terapi seperti ini dinamakan asosiasi bebas. Si pasien di buat relaks, terkadang dihipnotis, dan dibiarkan bicara segala hal yang ada di pikirannya. Dari ucapan-ucapannya tersebut, seorang terapis akan menentukan motif-motif bawah sadarnya. Sedangkan psikoterapis behavioral, di mana gangguan mental disebabkan kegagalan dalam merespon stimulus dari lingkungan sekitarnya. Terapi yang diberikan adalah dengan memberikan pengondisian ulang respon-respon pasien terhadap suatu stimulus, agar menjadi lebih efektif dan rasional. Ini dilakukan dengan memberikan penghargaan atas suatu respon tertentu, dan memberikan hukuman atas respon lainnya, sehingga si pasien diarahkan pada kondisi respon yang tepat.

Landasan psikoterapi transpersonal adalah bagaimana memandang klien sebagai mahluk yang mempunyai potensi kesadaran spiritual, dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan semesta. Dalam tataran praktisnya, proses gangguan mental, lebih diakibatkan faktor internal dalam dirinya yang tidak bisa menempatkan diri dalam bagian keseluruhan tersebut. Dalam beberapa metode, jenis terapi yang diberikan ada beberapa kesamaan dengan psikoterapi humanistik.

Konsep bahwa manusia menerapkan bagian yang tak terpisahkan dari semesta secara keselutuhan, sangat kuat dalam pandangan mistik Timur. Dalam agama hindu, kita mengenal konsep Hiranyagarbha, sebagai pikiran universal yang menjadi basis penciptaan dunia. Sehingga dengan mencoba menghubungkan dan menjernihkan pikiran kita dalam pikiran Brahman, dengan sendirinya potensi spiritual kita akan tergali. Dengan kata lain, jika dalam psikologi modern, terapi yang diberikan akan bersinggungan dengan biomedis, dalam psikologi transpersonal, terapi yang dikembangkan akan berhubungan dengan ritual-ritual yang dijalankan dalam tradisi-tradisi keagamaan. Cara pandang yang holistik, terutama dari mistik Timur, pada akhirnya membawa siginifikansi akan adanya pengaruh yang sangat kuat antara tubuh, pikiran dan jiwa. Apa yang memanifetasi dalam tubuh fisik, sebenarnya gambaran keadaan tubuh mentalnya. Demikian juga sebaliknya, gangguan fisik yang terjadi seringkali memengaruhi kondisi mental seseorang.

Dari sini kemudian penurunan lebih lanjut dari terapi dalam psikologi transpersonal adalah bagaimana agar si pasien bisa menyadari kondisi dirinya sendiri, kondisi pikiran dan tubuhnya. Langkah penyadaran diri ini ditempuh dengan pertama kali seorang klien mengidentifikasi proses dan mekanisme di dalam tubunya secara sadar. Terapi seperti ini dinamakan biofeedback. Pada daerah-daerah tertentu dipasang sensor elektronik, misalnya pada otot-otot tubuh. Sinyal elektronik ini diamplikasi menjadi bunyi atau nyala lampu, sehingga klien bisa melihat dan mendengar perubahan-perubahan yang terjadi, baik dalam kondisi normal ataupun abnormal, manakala ia memberikan semacam perubahan dalam proses fisiologi internal dirinya. Dalam beberapa penelitian, terbukti biofeedback sangat efektif untuk tujuan relaksasi tubuh. Menurunkan tingkat stress, dan gangguan-ganguan psikosomatis. Jantung berdebar, napas tidak teratur, tekanan darah tinggi adalah jenis-jensi penyakit psikosomatis yang berhasil disembuhkan dengan terapi ini.

Jenis terapi lainnya dengan tujuan yang sama, untuk relaksasi, ialah meditasi. Tentunya ada beberapa tingkatan meditasi, mulai dari hanya mengatur irama napas, sampai kepada meditasi tingkat tinggi yang membuka kesadaran-kesadaran di luar kondisi normal (altered states of consciousness). Ada juga terapi medan energi, seperti chikung, chkara, aura, yang merupakan badan energi atau benda mental yang juga sekaligus menggambarkan kondisi kesehatan mental seseorang.

Biofeedback dan meditasi adalah jenis-jenis psikoterapi yang sangat umum dipakai oleh para ahli psikologi transpersonal. Tapi ada kecenderungan belakangan ini, terapi yang dipakai sudah agak meluas. Misalnya selain meditasi dan yoga, juga dibarengi dengan terapi menggunakan musik, terutama musik-musik religius, wangi-wangian (aromaterapi) dan visualisasi. Bahkan lebih jauh lagi, teknik-tenik yang biasa digunakan oleh para mistikus dari agama-agama lainnya, juga digunakan untuk terapi mental, seperti zikir, bacaan Kitab Suci, mantra, doa dll.


Kamis, 20 Januari 2011

Dari Ujian Sidang Terbuka Doktoral di Dps, hingga Tugas di Nusa Dua


Terjaga di pagi hari, Kamis 20 Januari 2011. Suami akan berangkat bersama ipar dan ponakan ke Klungkung. Ponakan yang seorang dokter dan bertugas di Bojonegoro ini, saudara sepupu istrinya akan menikah hari ini.

Sebenarnya, aku ingin berangkat di pagi hari menuju STPNDB, di Nusa Dua. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan segera. Namun suamiku meminta untuk menghadiri Ujian Sidang Terbuka / Promosi Doktoral dari sahabatnya yang seorang dosen antropologi di Fak Sastra Universitas Udayana, Drs. Pande Made Suputra, M.Si. "Ambil in satu buku ringkasan disertasi nya yah" Gitu permintaan suamiku. Hmmm, oke deh.

Setelah pangeran sulungku berangkat sekolah pukul 7 pagi, si bungsu bermain bersama sahabatnya di teras rumah, suami berangkat ke rumah ipar, aku pun ingin bergerak. Ternyata.... "Bu, gasnya habis" Olala, kasus lagi muncul. Hmmm, harus keluar dahulu, beli gas dalam tabung berukuran 25 kg ini. Benar-benar deh... dari urusan tabung gas, persiapan anak berangkat sekolah, persiapan bagi diriku sendiri, sungguh suatu morning crazy, jadi seni tersendiri di awal pagi hari dalam sebuah keluarga....

Akhirnya, bisa juga mulai bergerak. Kali ini tujuan adalah Kampus UNUD, di gedung Pasca Sarjana, jalan Sudirman Denpasar. Waktu menunjukkan pukul 9.00. Belum ada orang lain selain Pak Pande, beserta istri dan anaknya di ruang Aula lantai IV Kampus Pasca Sarjana tersebut. Kusempatkan ber basa basi, mengambil foto bersama, dan melihat situasi yang ada. Setelah mendapatkan buku ringkasan, mulai banyak yang hadir di ruang tersebut. Pukul 9.45 ku pamit bergerak kembali. Kali ini arah Nusa Dua. Untung cuaca lumayan ramah menemani sepanjang perjalananku.

Kuselesaikan beberapa tugas di kantor, temui beberapa rekan, dan, menutup aktivitas hari itu di STPNDB dengan merapikan meja. Bersiap bergerak lagi menuju Denpasar, masih cukup waktu untuk kembali mengikuti Ujian Sidang di Ged. Pasca.

Hmmm, Swaha Hyang Widhi. Aku masih diberi kesempatan menjalani hari-hariku dengan penuh arti. semoga tiap jejak langkahku tetap mengarah pada Mu, selalu...

Bu Santi Dilawan... Sing Ade Lawan.... Narsis Abis.


If you realized how powerful your thoughts are,
you would never think a negative thought.

Hmmm,
This morning, January 20 th 2011, i read a letter from tagged. This man, Frank L. wrote to me....


"You are quite pretty...
But you see i am scared of pretty ladies...
Ask me why".

I Asked him, "Why?"

"Yes of course...
Most pretty ladies have empty personalities...
You know they sort of try to cover it up with their looks...
Do you know that? "

Hohohowww....
Darahku langsung mendidih,
Enak banggeet orang ini bicara tentang wanita,
Boleh dah, jika dia punya trauma ttg wanita,
Namun ini sudah negative thinking....
Boleh aja dia memuji gue cantik. Gue juga suka dipuji dan... narsis
Tapi digeneralisasikan demikian?
Aaarrrggghhhh......

Pretty ladies have empty personalities? Ah haha....

"I am a candidates of doctoral programs at cultural studies,

Udayana University, Bali Indonesia...."

Balasku. Dan, hingga kini, dia tidak muncul lagi...

Rabu, 19 Januari 2011

Spiritual Tourism, or Spiritual Life?


Ada orang pernah bertanya..... Ibu, apakah ibu seorang Kristen? Mengapa ibu pernah terlihat sering berdiri menjadi penerima tamu di sebuah Gereja saat akan berlangsung Misa di Minggu pagi? Apakah ibu pernah menjadi Novisiat / calon suster, karena pernah tiga tahun tinggal di sebuah biara susteran di Malang? Ibu, apakah ibu juga seorang muslim, karena sering mengucapkan Gusti Allah. Mengapa ibu berdoa pula dengan khusuk di dalam sebuah Vihara? Mengapa ibu mengunjungi sebuah Kelenteng, dan ikut mencakupkan tangan di sana? Mengapa Thesis ibu mengambil topik tentang Gereja? Hmmm.

Aajin Sang Musafir jelaskan ini dalam dinding Face Book nya. http://www.facebook.com/reqs.php#!/notes/aajin-sangmusafir/doa-dan-mantra/165756616804191, Menjadi spiritual berarti menjadi manusia dewasa yang memutuskan untuk meretas jalan sendiri, bukan atas dasar katanya, kata ulama, pendeta, biksu dan kitab-kitabnya. Dalam perjalanan untuk memenuhi hasrat kelengkapan itu, sebagai mana yang diutarakan oleh Jung, kita berkomunikasi juga dengan alam nirsadar kita yang saling terkoneksi dan bersifat universal. Dalam alam sadar yang bersifat universal, kita melihat bahwa semua pesan agama senyata-nyatanya memang menuju pada pengetahuan diri dan semesta. Semua symbol-simbol dalam agama bukan tujuan pada dirinya sendiri tapi hanya menjadi wadah pembahasaan yang begitu terbatas. Untuk itu lampaui atau tembus semua symbol itu dengan, diantaranya, rasionalitas juga.

Menurut kisah Avatar, Aang si bocah ajaib the living avatar, dalam keadaan tertentu, dalam meditasi, akan ditampaki oleh Roku, sang avatar terdahulu yang telah meninggal. Roku selalu memberikan penembusan makna /insight dan penghiburan pada Aang. Ang sendiri tidak sadar bahwa ia sendiri adalah reinkarnasi dari Roku. Jadi siapakah Aang? Ia adalah inkarnasi dari Roku. Siapakah Roku? Ia adalah idea yang menggerakan Aang. dalam bahasanya orang buddha, Roku adalah tubuh sambogakaya dari si Aang.


Demikian pula dengan legenda buddhis mahayana. Dikatakan bahwa Avalokitesvara-lah yang menyadarkan pertapa Gautama dengan mewujud menjadi pemetik kecapi yang mendendangkan nyanyian pencerahan ketika Gautama sedang tenggelam dalam pencarian pencerahan yang ekstrem dengan cara menyiksa diri.

“Jika senar kecapi ini kendor, mana mungkin akan menghasilkan nada yang indah? Jika senar kecapi ini terlalu tegang, pastilah ia akan cepat putus. Hanya dengan kekencangan yang pas, tidak kendor dan tidak terlalu kencang maka nada yang indah akan tercipta.”

Jadi siapakah Avalokitesvara? Ia adalah idea-idea kesempurnaan dari Gautama. Siapakah Gautama? Ia adalah penubuhan dari idea-idea Avalokitesvara dalam dunia nyata. Dan Avalokitesvara, yang juga sering disebut Nilakanta, Dewa Berleher Biru, adalah simbol arkaik lain dari Shiva dalam kekuasaan dan Vishnu dalam pengayoman. Maka dari itu orang Hindu meyakini bahwa Buddha Gautama sendiri adalah salah satu inkarnasi Vishu.

Loh bagaimana mungkin Visnu sama dengan Avalokitesvara, Avalokitesvara sama dengan Shiva, dan Avalokitesvara sendiri adalah penubuhan dari idea-idea kebudhaan yang dibabarkan oleh Gautama?

Jawabannya karena archetype, mithe dan imagi bukanlah bahasa definitive, melainkan pewadahan idea-idea dalam perspektif si pengusung. Ia bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri, namun suatu lubang kecil untuk menuju dunia kelengkapan.

Jadi siapakah yang anda panggil ketika anda berdoa atau menjapa mantra jikalau kita sendiri adalah Buddha?

Jadi siapakah yang anda panggil ketika anda berdoa atau menjapa mantra jikalau kita sendiri adalah Avalokitesvara – tuhan yang mendengarkan jerit tangis seisi dunia?

Jadi siapakah yang anda panggil ketika anda berdoa atau menjapa mantra jikalau kita sendiri adalah Shiva, Visnu dan Brahma?

Jadi kepada siapakah anda mempersembahkan tegaknya shalat jika kita sendiri adalah Tuhan - Sang hakekat.

Kita sendiri adalah Brahman – substansi dari segala yang ada dimana sang mikro dan sang makro adalah kesatuan yang erat tak terpisahkan, yang sekarang sedang bermain-main dalam suatu alur kreasi dan berhasrat merealisasikan kelengkapan itu.

Aajin Sang Musafir katakan pada dinding Face Booknya, http://www.facebook.com/reqs.php#!/notes/aajin-sangmusafir/doa-dan-mantra/165756616804191, bahwa milyaran umat manusia masih tidak mengerti bahwa ketika mereka berdoa, menjapa mantra, atau memanggil ilah manapun, sebenarnya mereka tidak memanggil siapa-siapa selain kesadaran yang ada pada mereka sendiri.

Dengan anda menderu motor di jalanan yang ramai sambil berzikir, membaca mantra dll, tidak akan ada suatu ilah dari alam lain, atau malaikat atau jin iprit yang akan menolong anda dari ketololan yang anda lakukan seandainya anda menabrak seorang anak.

Kalau anda menampar sembarangan orang, sekalipun anda menjapa mantra manapun, tidak ada dewa yang akan menolong anda dari balas tamparan orang yang anda tampar tadi.

Kenapa? Karena sejatinya memang doa atau mantra bukan untuk memanggil suatu pribadi yang jelas2 mitologis dan hanya eksis dalam dunia mitos.

Doa dan mantra hanyalah suatu alat untuk memfokuskan kesadaran yang selama ini menyebar ke berbagai indra, atau terbelokan oleh banyak pikiran. Dengan anda berdoa, membaca mantra atau mendaraskan suatu teks relijius anda diharapkan menjadi terfokus pada satu hal dan mulai mendapatkan ketenangan dan ketentraman, entah doa apapun atau mantra apapun itu.

Doa, mantra, meditasi bagaikan shock absorber yang meredam ketegangan atau menyalurkannya lagi ke tempat lain. Jadi ini murni bersifat psikologis. Karena agama itu memang cuma permainan pikiran dan kejiwaan. Otak kita memang lebih mudah mencapai suatu ketenangan tertentu apabila distimulir oleh satu nada-nada yang dimainkan dalam irama yang repetitive / berulang-ulang. Dan itulah kenapa suatu mantra dan pembacaan teks-teks relijius dibaca dengan alunan nada-nada tertentu.

Saya pernah tuliskan bahwa manusia itu pada kenyataannya bukan mahluk rasional melainkan mahluk emosi. Dan agama dengan cerdik memainkan peran-perannya dalam dunia emosi kejiwaan kita. Ia menjerat manusia dalam emosi-emosi, sehingga kalau dikritik agamanya, dikritik tuhannya, yang marah bukan tuhannya, tapi malah umatnya. Kenapa tuhan tidak marah? Lha mana mungkin yang tidak ada bakalan marah-marah? Mana mungkin tokoh mitologis mencak-mencak dan mengutuki para pengkritiknya? Selama ini kan yang mencak-mencak cuman manusia pecandu mitos itu khan?

Manusia dewasa melihat agama sebagai apa adanya, yaitu sebagai produk budaya, yang memakai modus operandi pembiasaan, agitasi dan bahkan brainwashing. Apa yang tidak rasionalpun bila terus didengung-dengungkan akan terasa rasional dan factual.

Tidak ada salahnya dengan doa dan mantra, itu hanya alat untuk menyalurkan ketegangan psikologis. Anda bisa pakai yang ini atau yang itu, atau tidak memakainya sama sekali. Anda bisa menggantinya dengan meditasi, atau mendengarkan musik klasik, dalam kadar tertentu itu pun bisa jadi wahana kontemplasi. Yang salah adalah ketika para pemakainya sudah kecanduan dan menjadikannya kebenaran mutlakan yang mengikat dan tidak bisa salah.

-hanya dengan shalat semuanya masalah terselesaikan.

-hanya dengan doa pada yesus semua masalah terselesaikan.

-hanya allah taa’ala dan qurannya sumber kebenaran, yang lain salah , sesat dan menyesatkan. Dsb.

Nah itulah yang salah.

Agama dan kitabnya bukanlah one stop shopping dimana segala kebenaran dan pengetahuan ada di sana. Mau tahu tentang hal ihwal alam semesta tinggal cari di alquran, mau tahu dari mana kehidupan berasal – tinggal cari tahu di alquran, mau tau kapan alam semesta ini berakhir - tinggal baca kitab Wahyu, mau tahu dari mana ras manusia berasal tinggal cari di kitab veda. Tidak bisa begitu friends. Sudahlah jangan terus membodoh-bodohi diri dengan mengias-ias ayat dan mensingkron-singkronkan penemuan sains, dan dengan culun mengatakan bahwa bahwa ini dan itu telah ada sebelumnya di kitab kami, dsb. Jujurlah pada rasionalitas kita. Apa susahnya sih?

Agama bisa diibaratkan restoran cepat saji yang menjajakan ayam goreng. Anda boleh jalan-jalan ke Mc Donalds, CFC, Texas FC atau ayam mbok berek, atau anda boleh menolak yang begituan dan buat sendiri. Apa lagi kalau anda tidak suka ayam, lebih suka sapi, ikan atau bahkan vegetarian.

Pandanglah agama dan ajarannya sebagai…. ya semacam perkumpulan orang-orang dengan ideology yang sama, bahkan kegilaan yang sama, bukan sebagai institusi yang berhak mengungkungi kebenaran dan menjadikannya kemutlakan. Kalau tidak bisa keluar ya gapapa, asal jangan diikuti kegilaannya. anggaplah itu sebagai necessary evil, suatu kejahatan yang masih diperlukan karena memang tidak semua manusia bisa rasional, masih senang mempercayai ada fgur khayalan dii alam sana yang dulu.... dulu...... selali pernah berfirman tapi sekarang cuek beybe dengan umatnya.

Psikologi memberi tahu kita bahwa fenomena kejiwaan kita bagaikan iceberg / gunung es yang terapung di samudera. Hanya sebagian saja darinya yang nampak jelas di atas permukaan laut. Bongkahan terbesarnya ada di bawah permukaan laut. Bagian di atas permukaan laut, yang sedikit itu adalah alam sadar, sedang bagian yang dibawah permukaan laut itu adalah alam bawah sadar / nirsadar.

Baik Sigmund Freuf maupun Carl Gustav Jung mengatakan bahwa gejala kejiwaan yang nampak dalam alam sadar sebenarnya adalah komunikasi antara kedua alam kejiwaan ini, sadar dan nirsadar.

Sigmund Freud menekankan pada libido, yaitu keinginan untuk terus hidup dan hasrat-hasrat pemenuhan keinginan yang bersifat laten spt makan, minum, sex, perlindungan dan keamanan. Apabila hasrat-hasrat ini mendapatkan pemuasan, berakhirlah fasenya. Namun apabila tidak dipuaskan hasratnya , atau direpresi maka kesan-kesan itu dimasukan ke dalam gudang memori nirsadar yang suatu saat akan dikomunikasikan lagi lewat mimpi atau lainnya. Libido itu sendiri dalam tahap tertentu bisa disublimasi ke dalam bentuk-bentuk pemuasan lainnya seperti halnya seni, budaya, bahkan abstraksi idea-idea keindahan, kerapihan, keterjaminan, keteraturan, kesempurnaan yang dilembagakan menjadi hukum-hukum masyarakat dan agama.

Sedangkan Jung menekankan bentuk komunikasi antara alam nirsadar dengan sadar, bukan pada libido, melainkan pada refleksi. Sedemikian rupa alam sadar kita terkondisi dalam suatu ketidak-lengkapan. Pencarian akan kelengkapan itu dicari ke dalam diri sendiri lewat arketipe-arketipe yang bersifat universal seperti halnya idea-idea tentang kesempurnaan, penyatuan / manunggaling kawula gusti atau theosis, perhentian kekal dsb. Apa yang dicarinya dijadikan sebagai yang lain atau liyan yang darinya ia bisa mendasarkan suatu komunikasi ‘aku dan kau’, hamba dan tuan, si pemuja dan pujaannya.

Baik konsep Freud dan Jung saling melengkapi bahwa kerinduan akan kelengkapan itulah yang mendasari pencarian manusia akan hal-hal yang bersifat religious atau spiritual. So it’s all about psychology. Tidak perlu kita berbicara tentang suatu alam di luar sana dimana terdapat suatu ilah yang bertahta mutlak atas alam semesta, dimana terdapat malaikat-malaikat dan bidadari menari-nari di sana-sini. Karena itu semua cuman penggambaran ekstase kerajaan di jaman dahulu. Dengan meningkatnya dialektika material kita, seharusnya kita lebih dewasa dalam menata kehidupan ini, jangan terus menerus mau dibodoh-bodohi dan dikotak-kotakan oleh agama dan dogmanya.

Kalau anda mau melakukan ritual ini dan itu seperti berzikir atau menjapa mantra ya lakukanlah, jadikan itu sebagai wahana refleksif kontemplatif, berkomunikasinya antara si alam sadar dengan nirsadar untuk mengejawantahkan kerinduan kejiwaan anda, tapi tidak perlu memutlakan itu semua sebagai standar baku yang harus dianut oleh semua orang seakan-akan hanya pada keyakinan itulah semua kebenaran bergantung. It’s all about psychology of human.

So friends, dari pada sibuk-sibuk mendiskusikan hal-hal mistik yang tidak berjejak pada kehidupan bersama, atau berdebat dogma-dogma agama tentang surga dan neraka yang tidak terbukti keberadaannya, atau sibuk mengagung-agungkan nabi-nabi, juru selamat atau guru-guru spiritual yang sudah tidak ada dan tidak terbukti kesejarahannya, mengapa kita tidak mendamaikan pikiran kita, menerima hidup ini apa adanya, meretas ke dalam diri sendiri dan sebisa mungkin mewujudkan kebaikan bagi sesama dengan saling mencerahkan dan menyadarkan akan tanggung jawab nyata hidup ini di dunia sebagai satu bagian kecil dari rantai peradaban manusia sepanjang jaman?

Unseen Friends


Although you are a friend of mine
and letters we exchange,
I wouldn't know you on the street,
and doesn't that seem strange?

You hold a place within my life,
unusual and unique;
We share ideals and special dreams,
and still, we do not speak.

I picture what I think you are,
perhaps you picture me.
An intriguing game for both of us
for someone we can't see.

So for this friendship we possess,
we owe this mail a debt,
Perhaps the charm lies in the fact
that we have never met.

Selasa, 18 Januari 2011

Mengapa Saya Naik Motor


Pagi ini, hujan deras turun menyelimuti bumi. Terjaga di pagi hari, kupersiapkan segala keperluan sekolah anak-anak. Si sulung akan berangkat sekolah, kumasukkan sepatu dan kaus kakinya ke dalam tas plastik. Dia akan mengenakan jas hujan dan sandal jepit saja. Sudah sejak minggu lalu dia membawa uang sejumlah Rp 1.050.000 di dalam tasnya. Uang itu akan dipergunakan untuk membayar uang (mereka memberinya istilah, uang komite), namun selalu gagal, karena padatnya jadwal pelajaran sekolah, hingga begitu sekolah berakhir, uang itu utuh dibawa kembali ke rumah. Dan kini kuputuskan, aku lah yang akan datang ke sekolahnya, membayar uang komite tersebut ke ruang pembayaran di sekolahnya, SMAN 1 Denpasar. Dia lalu berangkat dengan mengendarai Yamaha Yupiter MX. Aku akan menyusulnya belakangan.

Namun kini aku harus mengantar si bungsu terlebih dahulu. Dia mengikuti kursus di daerah Seminyak, rumah ibu guru Agung. Suami yang sedang menyusun disertasinya, minta komputer dan printer di set up dahulu... Maka, jadilah ku set up ulang, komputer beserta printer demi suami, agar bisa konsentrasi penuh pada persiapan disertasinya. Lalu kukenakan jas hujan besar, sibungsu melompat naik ke atas motor, di bangku bagian depan. Ku kerubungi kepala dan tubuhnya dengan jas hujan super besarku, simbok membuka pintu pagar besi, dan kami berangkat menuju Seminyak, tempat les anakku.

Selesai mengantar putra bungsuku ke tempat kursusnya, aku bergerak menuju sekolah putra sulung. Kuparkir motor astrea 800 tercinta di halaman parkir SMAN 1 Denpasar, yang terkenal pula dengan SMANSA dan semboyannya, Karmany Eva Dhikaraste Kadacana Maphalecu ini. Jas hujan kubawa hingga ke dalam lobby sekolah. Dan... masuk ke ruang administrasi mereka. Ku hampiri seorang wanita tua yang bertugas menerima uang pembayaran . Setelah sedikit basa - basi, kuserahkan uang sejumlah Rp 1.050.000, untuk pembayaran selama 3 bulan. Kini harus segera meluncur ke Nusa Dua, banyak urusan dan kegiatan yang menanti untuk diselesaikan pula. Hujan masih membabar diri, hingga kukenakan kembali jas hujan, menahan rasa dingin yang menusuk di kulit tubuhku. Kutatap jemari tangan, sudah mulai berkeriput karena hujan dan kedinginan. Hmmm, Maha Besar Hyang Widhi Wasa yang telah memberi berkah hujan ini. Bersyukur sudah dapat hujan. Enjoy aja dah......

Ah ha....
Inilah seninya berkeluarga dan bekerja. Bisa berkumpul bersama anggota keluarga, melewatkan se efektif dan se efisien mungkin waktu bersama mereka, juga bisa tetap berdiskusi bersama para sahabat. Tidak perlu mejeng sejak pukul 7 pagi di pinggir jalan. Padahal lembaga dimana aku bekerja, STPNDB, menyediakan 3 bis untuk mengantar dan menjemput karyawannya dari dan ke Nusa Dua. termasuk beberapa mobil tipe kijang kapsul. Namun kupilih membawa motor sendiri, untuk menghindari kemacetan parah di jalan-jalan seputran Denpasar, juga, memiliki waktu lebih lama dan sering, bersama keluarga tercinta, mengetahui perkembangan mereka dari waktu ke waktu.

Sabtu, 15 Januari 2011

My Friend, This is my letter for you...


My friend,

Life is too short.....
So,
Here are the rules to follow

Forgive everyone
Love slowly
Laugh loudly
and
Never ever forget to smile

Thanks for being such a great friend...

Love and Happiness always

Love all, serve all


Being deeply loved by someone gives you strength,
while loving someone deeply gives you courage (Jake)

Jumat, 14 Januari 2011

My Wish.....


There is always a reason for everything.....
A reason to live
A reason to die
A reason to cry

But if you can't find a reason to smile....
can I be a reason for a while?

That which does not kill us makes us stronger. Friedrich Nietzsche

Your vision become clear only when you can look into your own heart.
Who looks outside, dreams
Who looks inside, awake
(Carl Gustav Jung)

Kamis, 13 Januari 2011

Doaku


Ye yathā mām prapadyante
Tams tathaiva bhajāmyaham
Mama vartmānuvartante
...Manusyāh pārtha sarvataha

“Bagaimanapun jalan (agama) yang dilalui manusia untuk mendekat kepada-Ku, AKU terima wahai Partha (Arjuna). Sungguh semua manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan.”
(Bhagavad Gita :4:11)

Selasa, 11 Januari 2011

Penjual Kursi Kayu


Senin, 10 Januari 2011. Pulang dari kantor, menyusuri jalan Gunung Soputan. Waktu sudah pukul 17.00. Hmmm, ga lama lagi tiba di rumah jumpa seluruh anggota keluarga tercinta. Kulihat seorang bapak tua. Dia duduk di depan kuburan desa, di depannya ada gerobak berisi tempat tidur dari kayu dua buah, kursi kayu dua. Penjual perabot kayu. Kulewati saja dia. Lalu aku berhenti pada sebuah toko bahan bangunan. Bertanya tentang papan triplek selebar 1 cm, harga kayu, paku, dll. Aku ingin membuat rak kayu bagi komputer yang baru kami beli. Namun ternyata... setelah dipikir-pikir, ga yakin deh bisa menyelesaikan rak kayu tersebut. Padahal, sungguh senang membayangkan bisa melakukan proses bertukang bareng anak-anak. Maka kemudian, kubelokkan kembali motor menghampiri penjual perabot kayu tersebut.

Kulihat dia masih duduk melamun di depan kuburan desa banjar Jaba Pura. Setelah coba berdiskusi, akhirnya kuputuskan mengajaknya ke rumah untuk mengukur space yang diperlukan bagi sebuah rak kayu. Dia mendorong gerobaknya ke arah pedagang es kelapa muda, menitipkannya di sana, lalu melompat naik ke boncengan. "Panjenengan mawon..." Demikian katanya, saat kutawarkan dia untuk mengendarai motor. Akhirnya... aku membonceng penjual perabot kayu tersebut ke rumah.

Tiba di rumah, ada suami dan anak2. Mereka sudah maklum, jika sang emak membonceng orang yang tidak dikenal, pria sekalipun. Aku pernah membonceng tukang bangunan di rumah kami, yang masih terhitung paman di kampung, saat dia ingin pulang kampung sejenak untuk melihat keluarga. Aku juga bahkan pernah membonceng seorang pemangku yang akan mengukur dan memeriksa sanggah dadia kami di Nyalian, Banjarangkan Klungkung dahulu.

Selesai bapak si penjual perabot kayu ini mengecek ukuran rak kayu yang pantas bagi perangkat komputer kami, dan juga sebuah rak lagi bagi tempat buku anak-anakku, kuserahkan se kotak bekal nasi bagi si bapak. Tak lupa, sebotol air putih baginya. Aku yakin, dia bahkan belum sempat makan siang, karena belum satupun dagangannya laku terjual, sedang dia sudah mendorong gerobaknya dari Peguyangan hingga tiba di Jalan Gunung Soputan.

Hmmm....
Aku sendiri membutuhkan waktu 30 menit dengan mengendarai motor untuk menempuh jarak tersebut. Apalagi si bapak, dengan gerobak se berat itu. Ahhh, sungguh kasihan. Betapa beratnya usaha untuk menafkahi keluarga.....

Beratnya beban pelajaran bagi anak2....


Selasa malam, 11 Januari 2011. Pangeran sulung bersama suami tercinta sedang keluar, jahit celana yang kebesaran. Si bungsu sedang mengerjakan sesuatu di komputer, selalu saja ada yang mereka kerjakan. Hmmm, sungguh probadi-pribadi yang ga bisa diam, aktif melulu. Simbok sedang sekolah, karena dia mengikuti paket kejar C, bagi SMA. Sedang aku? Nyungkrug di bawah selimut, berbaring karena kepala sakit, demam akibat kehujanan kemarin, dan tidak langsung mandi keramas untuk menetralisir suhu tubuh dengan udara di luar.

Terdengar suara memanggil dari luar. Segera ku beranjak ke luar. Ah, kulihat Gek Tata bersama Gek Lia, anak tetangga. Mereka mengajak si Yudha, putra bungsu, untuk membesuk sahabat mereka pula, yang sedang sakit. Kak Prima. Katanya, muntah-muntah.

Hmmm, ini sudah pukul 8 malam. Kukatakan untuk besok saja membesuknya. Tak kuijinkan anakku keluar. Dan... lagipula, lebih baik besok bersama-sama jika ingin mengunjungi sahabat. Infonya belum juga jelas, sakit apa, karena apa, apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya.

Tak berapa lama kemudian, si sulung tiba bersama ayahnya. Tanpa disuruh lagi, mereka menghaturkan banten, bersembahyang seperti biasanya rutin mereka lakukan berdua. Masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan putraku ini. Dia terkadang mengeluhkan, betapa banyaknya beban pelajaran yang harus dihadapi. Hmmm.... Lalu kemudian anak-anakku ini merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Kami hanya memiliki satu kamar tidur. Ya. Tipe rumah kami adalah tipe 21, dengan satu kamar. Maka, kamar tamu kami jadikan kamar tidur pula. Sehingga aku bisa dan terbiasa bekerja sambil tetap berada bersama mereka. Terkadang memang menimbulkan masalah, karena adakalanya kami membutuhkan privacy kami masing-masing. Namun apa mau dikata? Perlahan lah selesaikan problematika ini. Toh kami sudah harus bersyukur atas segala anugerah yang kami dapatkan dari hari ke hari. Dan masih jauh lebih banyak orang yang menderita karena tidak memiliki rumah dan makanan layak, bahkan untuk hari tersebut.

Balik ke kisah anakku.... Anak sulungku jatuh tertidur, lalu mengigau, berceloteh tentang beratnya pelajaran dan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Si bungsu bertanya, kenapa seseorang bisa mengigau, kenapa kakaknya mengigau, apakah tidak ada obatnya agar orang tidak mengigau, lalu apa yg akan terjadi jika seseorang mengigau. Hmmmm.

Dari anak tetangga yang muntah dan mual yang ternyata karena kelelahan akibat beban pelajaran tinggi, dan kini, anakku juga alami hal sama, mengigau karena selalu membayangkan beban pelajaran tinggi. Ah... sungguh tidak tega rasanya melihat mereka menderita. Namun, bukankan mereka juga harus terbiasa menangani dan mengatasi permasalahan mereka sendiri? Hidup di dunia sungguh berat jika kita tidak siap hadapi berbagai problematika. Jika terbiasa dibantu, selalu ada yang siap sedia menolong, jarang hadapi beban pelajaran dan pekerjaan, maka justru seseorang tidak pernah siap, akan jadi orang manja dan selalu tergantung pada orang lain. Belum lagi, jika mereka nanti menikah, hadapi problematika dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Ahhh,
apapun itu, semoga mereka akan baik-baik saja. Tidak pernah bisa kita janjikan hidup yang bakal selalu indah dan mudah bagi mereka. Namun, sejauh mereka benar-benar memiliki tekad kuat dan berusaha mewujudkan impian mereka, semoga Tuhan membantu mereka dengan mempermudah jalan mereka.....

Minggu, 09 Januari 2011

Megibung....

Senin, 10 Januari 2011. Simbok masih sakit perut melilit karena sedang datang bulan, hingga ga bisa kerja. Pukul tujuh telah selesai kubereskan segala urusan rumah tangga. Mencuci dan menjemur baju, memasak hidangan, dari tahutempe asem manis, ayam goreng bumbu bali, dan sayur jipang. Si sulung sudah berangkat sekolah. Si bungsu baru akan masuk sekolah pukul 12.30 nanti siang. Suami berangkat untuk menyelesaikan urusan administrasi di Gedung Pasca Sarjana Unud dimana dia sedang menyelesaikan S3 nya.

Segera ku berangkat ke kantor. Menyusuri jalan Imam Bonjol, melalui supermarket ALFA yang kini menjadi supermarket Carrefour, dan... di depan BLK, kulihat seorang ibu mengendarai motor. Di atas motornya terdapat muatan berbagai makanan. Kulambai, dia berhenti. Walau telah selesai memasak nasi dan lauk pauk di rumah tadi, namun jarang sekali kusempat memasukkan bekal makan siang ke dalam tas untuk kubawa ke kantor. Hmm, mungkin dengan beberapa bungkus nasi putih dan lauk pauk yang dijual ibu ini, aku bisa megibung bersama teman-teman se ruang, seperti Ibu IGA Mirah, ibu Sukerti, ibu Mareni, ibu Irene, dan teman2 lain....

Aku memilih be siap mesisit seharga seribu rupiah per bungkusnya, sela ungu, sela me urap, sela rebus, nasi, kerupuk. Total semua Rp 16.000 rupiah. Kukeluarkan uang Rp 50.000. Hanya itu yang kumiliki. Namun si ibu menggelengkan kepala dan berkata, tidak memiliki uang kembalian sejumlah Rp 34.000. Dia membuka isi tasnya, dan mulai mengumpulkan uang yang dimilikinya. Hanya terkumpul sejumlah Rp 16.000. Hmmm... Kulirik kiri dan kanan, bertanya pada para pedagang gerobak keliling di sekitar lokasi. Mereka juga baru buka, dan belum memiliki sejumlah uang dimaksud. Aahhh.

Well. untuk tidak memperpanjang urusan... Kasihan juga si ibu, jika kukembalikan seluruh belanjaan. Maka, kuambil lagi sepuluh bungkus sayur daun ubi yang terlihat mengundang selera, pindang bumbu tomat tiga bungkus, dan be siap mesisit. Wah wah.... lumayan deh, bekal megibung di ruang ADH, sambil menyelesaikan mengoreksi Ujian Akhir Semester murid-muridku....

Sabtu, 08 Januari 2011

Anakku, Ingatlah Selalu


Bila tangis terlalu kejam
maka biar kuredam segala duka

jangan pernah ada beku menderu
karena hangat khan selalu tercipta
di antara kita

Bila bahagia disertai tangis
maka biar tangis jadi saksi
bahwa rinduku di kala sendu
tak ingin ku jauh darimu

Jumat, 07 Januari 2011

Tangisku Karenamu

Tangisku karenamu
Berlari di ujung malam
Kudapati terdudukku sendiri

Mencoba memahami arti
Knapa tumbuh cinta ini

Ternyata, bukan cuma lewat semata
Ada sisi yang slalu hampirimu
Kangen di ujung malam.....

Rabu, 05 Januari 2011

Pura Luhur Batukaru, Anggarakasih Paing Pujut


Selasa, 4 Januari 2011. Hujan deras turun menderu semenjak pagi hari. Niatku untuk mengajak simbok jalan bersembahyang ke Pura Luhur Batukaru di Tabanan menjadi terkatung. Pukul 12 hujan mulai mereda. Pukul 13 siang. Adi, putra sulungku, bersiap berangkat ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas sekolah. Yudha, putra bungsuku bersiap pergi bersamaku ke rumah mertua. Dia ingin berkumpul dan bermain bersama dengan Dika, saudara sepupunya. Suami asyik dengan bacaan beberapa buku Sosial Budaya yang baru dibelinya. Simbok mempersiapkan perangkat yang akan kami bawa. Canang dan bokor kecil, berisi se bungkus dupa harum. Dua kain yang akan kami kenakan di Pura Batukaru nanti.

Ya...
Aku hanya punya motor, dan, niat untuk sembahyang, sekaligus jalan-jalan sungguh besar. Masih libur dalam rangka tahun baru an, dan Siwaratri, seluruh sekolah dan instansi pemerintah di Bali libur. Maka, pukul 13.30 kami berangkat. Tujuan pertama, mengajak si bungsu ke jalan Antasura, rumah mertua, baru kemudian aku dan simbok akan berangkat ke Pura Luhur Batukaru. Namun, tiba di rumah mertua, tidak ada orang di sana. Berteriak dan mencari, tidak berjumpa seorangpun.

Hmmmm. Kuputuskan untuk mengajak serta si bungsu ke Pura Luhur Batukaru. Kami harus mampir dahulu ke sebuah toko baju untuk membelikan anakku celana panjang, karena dia hanya kenakan celana pendek. Sebuah celana seharga Rp 20.000 kubeli di jalan antasura. Dan, langsung kukenakan padanya. Kamipun bersiap melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalan Darmasaba, tembus ke arah jalan raya Denpasar - Gilimanuk, di Kapal, terus lurus, hingga kota Tabanan. Kami lalu mengambil arah ke Gunung Batukaru.

Memasuki Desa Jegu, hujan mulai turun, makin lama makin deras. Kupinggirkan motor astrea 800 untuk mengenakan dua buah jas hujan yang kubawa. Simbok menolak untuk kenakan jas hujan. Dia tipe orang yang tidak bisa mengenakan jas hujan. Kukenakan satu jas hujan lagi pada anakku yang duduk di depan, Dan, kami melanjutkan perjalanan. Satu jam 30 menit, waktu yang kami perlukan untuk menempuh Denpasar - Pura Luhur Batukaru. Kulihat Pura Jero Taksu di bagian depan jalan menuju Pura Luhur Batukaru, lalu melintasi Pura Jero Pengajum, dan tiba di ujung kaki Pura Luhur Batukaru.

Kami lalu mempersiapkan diri menghadap Beliau, mulai dari pembersihan diri di Beji, lalu memasuki Pura Beji Kangin... Dan akhirnya mengakhiri persembahyangan di Pura Luhur Batukaru. Hmmm. Sungguh sebuah anugerah kebesaran Tuhan. Tidak sedikitpun hujan turun selama kami berada di lingkungan Pura Luhur Batukaru, menuntaskan sembah sujud kami pada Tuhan.

Ah, astungkara Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Masih Kau ijinkan kami selalu memujamu di Pura Batukaru, berkali dan berkali.....

Dan... Kita Gak Bisa Hidup Sendiri, Sayangku.....


Paulo Saukko pun katakan, kita gak bisa hidup sendiri, sayangku.....

(Doing Research in Cultural Studies, 2003)

Wacana, pengalaman hidup, teks, dan konteks sosial dengan menggunakan analisis yang luas mengenai interaksi antara ‘yang hidup’, yang dimediasi, keberyakinan (agama), etnik, tergenderkan, serta adanya dimensi ekonomi dan politik dalam dunia jaman sekarang (modern/kapitalis).

Bagi Saukko, hal yang paling fundamental dalam “kajian budaya”, pertama, ketertarikan dalam budaya yang secara radikal berbeda dari budaya yang ada (high culture to low culture/popular), kedua, analisis dengan kritis budaya yang menjadi bagian integral dari pertarungan dan budaya (teks dan konteks sosial). Hal yang harus dipenuhi dalam memandang konteks sosial adalah sensitifitas pada konteks sosial dan kepedulian pada kesejarahan.

Maka, pahami dirimu, pahami orang lain, dan hiduplah bersama-sama dengan segala keunikan yang ada pada diri kita....

Dek Tut dan Kakinya yg Harus Diamputasi


Senin, 3 Januari 2011, pukul 12.30 siang. Dek Tut, nama lengkapnya Ketut Adi, masih duduk di kelas 4 SD, bermain bersama Komang Larasati, dipanggil Mang Raras, masih kelas 4 SD. Mereka mendorong motor ibu Mang Raras ke depan rumah. Mang Raras lalu minta Dek Tut duduk di atas motor yang sudah dihidupkannya, dan disuruhnya temannya mengendarai motor tersebut.

Aahhh,
Bahkan, Dek Tut, kakinya pun belum sampai untuk dijejakkan di tanah tatkala duduk di atas motor. Hmmm, anak2 tersebut. Akhirnya, bener dah, kejadian. Mobil pak Rudi yang sedang parkir di depan rumah, ditabrak oleh dek Tut di bagian belakangnya, dia sendiri mental ke got, ditimpa motor ibunya Mang Raras.

Dek Tut masih sempat berlari pulang dan sembunyi di dalam kamar, darah berceceran di jalan dan di dalam rumahnya. Sedang bu Rudi mencari rumah DekTut, menemui ibu Ketut Sumerta, mencari rumah Mang Raras, menemui ibunya, ibu Jero. Ahh, anak-anak dan segala ulah mereka.

Akhirnya, pukul 3 Dek Tut bersama ibu dan kakaknya, Agus, pergi ke RS Kasih Ibu. Disana mereka berjumpa dengan bapaknya. Dokter memutuskan harus mengamputasi jari kaki kanan bagian kelingking, karena seluruh dagingnya sudah hilang, termasuk kukunya. Bu Jero harus mengeluarkan uang ratusan ribu untuk perbaiki motornya. Bu Rudi mengeluarkan uang hampir 2 juta buat perbaikan mobilnya, yang belum diketahui, akan diganti oleh siapa.

Hmm, suatu pembelajaran yang sungguh berharga, mereka harus tahu peraturan dan tata tertib. Keluarga dan orangtua juga harus mengawasi perkembangan anak2 mereka sendiri, mengarahkan anak2 nya untuk lebih berhati dan bertanggungjawab

Senin, 03 Januari 2011

The Secret Society and Conspiracy Theory

Conspiracy Theory... Adakah yang bisa menambahkan informasi ini?The Secret Society.... Kumpulan orang2 / klg besar yang bergerak di belakang layar, namun berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian dunia, situasi dan kondisi di berbagai belahan dunia, bahkan, hingga ke ruang paling privacy sebuah keluarga. Hmmm, Conspiracy Theory... Adakah yang bisa menambahkan informasi ini?

Search di google, 2 - 5 th lalu, The Secret Society ini begitu detil... Namun kini sudah masuk ke ranah fiksi, disamarkan.


AEFH nimbrung.... Apakah ada yg tahu bahwa orang penting di Indonesia yg namanya sama sekali tdk pernah muncul di me...
dia massa..tapi memegang peranan penting dalam roda perekonomian dan politik kita? Bahkan utk pemilukada saja..banyak orang2 informal ini memegang peranan penting atas dipilih atau tdknya..

Terkadang mereka juga melakukan lelaku spiritualitas yg rutin, ada yg bermodal besar. Hmmm, semacam usaha menggapai Balance of Life? Withdrawal /semacam pelarian diri? atau krn didorong rasa bersalah... di satu sisi melakukan kejahatan, maka merasa perlu melakukan kebaikan pula ....

Ehm... sungguh menarik...