Sabtu, 03 Agustus 2013

Berbicara mengenai gelisahku akan DUPAK



DUPAK.....
Daftar Urutan Kepangkatan, untuk Penetapan Angka Kredit. berkas-berkas yang harus kami kumpulkan helai demi helai, data demi data, tahun ke bulan ke minggu ke hari...... Rumit dan melelahkan, namun kami semua tentu ingin berjuang untuk segala hak, setelah semua kewajiban dilakukan dengan baik. Maka, perjuangan meliputi segenap proses dan langkah yang mungkin kami lakukan.



Kami baru saja menuntaskan Pengamas, Pengabdian Masyarakat, sebagai tugas dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, Program Diploma IV, Program Studi Administrasi Perhotelan, melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat ke Desa Petang, pada hari Jum'at, 19 Juli 2013. Seluruh rangkaian kegiatan kami berakhir sore hari. Termasuk dengan rafting / arung sungai. Sungguh sebuah rangkaian kegiatan yang melelahkan. Namun perjuangan lain telah menanti konsentrasi kami. Maka, Sabtu, 20 Juli 2013, meski kegiatan kampus libur, kami tetap tiba pada pagi hari untuk lembur demi menuntaskan urusan DUPAK ini......




Dari ibu Irene Hanna Sihombing, SE., MM., yang dilanda diare hebat sehabis acara Pengamas ADH kemarin, ibu Ni Luh Gde Sri Sadjuni, SE., M.Par., CHT., sang ketua Prodi ADH yang juga sibuk dengan urusan pertukangan membangun rumah, ibu Dra. I Gusti Ayu Mirah Darmayanty, M.Si., yang biasanya di akhir minggu mengurus ibunya yang sudah sangat sepuh, ibu Ni Nyoman Sukerti, SE., M.Si., yang tak sempat berlibur akhir pekan bersama anak balitanya, Ibu Luh Nyoman Tri Ariani, S.Sos., M.Si., yang ragu-ragu untuk maju mengurus DUPAK karena tidak yakin akan kemampuan dirinya,  hingga Pak Ir. I  Nyoman Sukana Sabudi, M.P., yang telah setahun bersiap untuk pengurusan DUPAK, bahkan, konon, telah menghabiskan 700 ribuan untuk biaya menggandakan berkas-berkas yang kami butuhkan sebagai bukti, contohnya, buku-buku yang telah kami hasilkan, jurnal sebagai bukti tulisan karya kami, kertas kerja, surat keputusan, nota dinas, surat undangan seminar dan beragam sertifikat seminar yang telah kami ikuti selama ini.

Contohnya aku sendiri, selama hampir 10 tahun tidak naik pangkat, telah kumiliki hampir seratusan sertifikat seminar, namun tentu saja, tidak bisa semua bukti tersebut diikutsertakan, karena ada lagi prosentase yang diperbolehkan. Misalnya, untuk bukti pendidikan dan pengajaran yang telah kami lakukan, harus berjumlah 40 % dari total jumlah point yang kami ajukan dalam suatu periode waktu pengusulan kenaikan pangkat.



Bahkan, ibu Ni Ketut Iswarini, SE., M.Si., yang belum berhak mengajukan DUPAK ke Lektor Kepala juga turut hadir memotivasi kami semua, sambil membawakan arsip berkas laporan hasil penelitian kami yang hilang entah dimana.




Hari demi hari yang kami lakukan demi kepengurusan DUPAK, tenggat waktu yang diberikan, deadline hingga hari Senin, 22 Juli 2013. Kami berhasil menuntaskannya. Namun ibu Lukia sudah berangkat dari kampus STPNDB menghantar berkas pada pukul 12 siang ke rumah Profesor Dr. Gede Anggan Suhandana yang terlatak di Batubulan, perumahan Dosen. Sedang kami menuntaskan pada pukul 12.30.

Menyerah kalah??? No way, kami sudah berjalan sejauh ini, namun perjuangan takkan berakhir. Maka, kami masukkan seluruh berkas file ke dalam ordner yang tersedia, juga kantung hijau Go Green yang kumiliki. Segera, kami meluncur menyusuri jalan raya panas berdebu, Nusa Dua -  Denpasar - Batubulan. Empat ordner besar yang kumiliki kuletakkan di bagian belakang motor, kuikat dengan tali kuat-kuat. tiga ordner lagi milik ibu Tri Ariani kuletakkan di bagian depan motor, juga ransel yang biasa kubawa. Bu IGA Mirah dibonceng oleh ibu Sukerti, dengan berkas mereka masing-masing. Ibu Irene dan ibu Sri Sadjuni juga menitipkan berkas pada kami.

Kami tiba pukul 15.30 sore, dan diterima dengan ramah oleh bapak Profesor Anggan. Di ruang tamu beliau yang mungil, sudah bertumpuk-tumpuk berkas milik rekan kerja kami lainnya, mulai dari pak Teguh Hadi Sukarno, ibu Lukia Zuraida, ibu Indah Kusumarini, ibu Dewa Ayu Rai Sumariati, ibu Ida Ayu Indrawati, Pak Dewa Ketut Sujatha, Pak Nyoman Sukana Sabudi, Bu Ida Ayu Kalpikawati, bu Irene HS., dan juga teman2 lainnya.

Parahnya lagi, baru kusadari, aku belum mencetak lembaran pengesahan yang bakal diisi komentar dan keterangan apakah kami berhak lanjut ke pengurusan berkas ke kantor pusat Kemenparekraf di Jakarta, kemudian ke Dikti. Aku bersyukur, diperkenankan meminjam laptop dan printer oleh anak dari sang Profesor yang baru menuntaskan ujian skripsi di Universitas Udayana. Kuketik selembar halaman pengesahan tersebut. Dan kami segera pamit pergi, agar sang Profesor bisa beristirahat sejenak sebelum mulai mengoreksi berkas-berkas kami.






Hari demi hari yang kami lakukan demi kepengurusan DUPAK ini terkadang menuntut stamina tinggi dan stabilitas emosi pula, karena terkadang tidak terhindar dari konflik yang terjadi. Contohnya, karena membantu ibu Mirah pula untuk mengurus data pada komputerku, bahkan tanpa kusadari data milikku tertumpuk oleh data ibu Mirah, sehingga dampaknya, dua hari pula kubutuhkan untuk mengetik ulang data milikku. Data tersebut, mulai dari data mengajar di kelas, untuk prodi dan semester, serta nama mata kuliah yang kuasuh, data menguji dan membimbing skripsi, data membimbing praktek kerja nyata para murid, dan beragam data rumit lainnya......


Bahkan, tak jarang kami harus menguber-uber tanda tangan para pejabat yang dibuuhkan, bila itu ada berkas yang masih kurang. Contohnya, deadline bahwa kami harus mengumpul berkas paling lambat hari Jum'at, 26 Juli 2013, pukul 12.30. Dan masih harus ditambah dengan berkas-berkas SK pangkat terakhir yang dilegalisir ketua STPNDB, fotokopi ijasah pascasarjana kami yang dilegalisir oleh direktur pascasarjana atau rektor universitas dimana kami menempuh pendidikan pascasarjana S2.

Hal ini tak jarang membuat ujian mental berkepanjangan, juga ketangguhan fisik teruji. Contohnya, demi tandatangan pak ketua STPNDB, setelah kami lembur hingga pk 6 sore, aku melaju menuju Klungkung, dimana beliau sedang odalan hari Jum'at, Juli 2013, dan Sabtu akan bertolak menuju Timor Leste hingga hari Rabu, sedangkan berkas harus segera selesai. Hari Jum'at, aku kembali ke Klungkung,





Hari Sabtu, 20 Juli 2013, kami kembali berkumpul. Kali ini di PGSD Pegok, Sesetan. Prof. Dr. Gde Anggan Suhandana dan juga Prof. Dr. Nyoman Natawijaya, M.Pd. menyerahkan berkas penilaian rekan-rekan yang masih beliau bawa. Bersama kami juga berkumpul, ibu IGA Mirah, ibu Sri Sadjuni, ibu Ida Ayu Indrawati, bapak Dewa Ketut Sujatha, bapak Ketut Muliana.


Setelah selesai dari Pegok, aku pulang untuk mengambil printer yang rusak, dan membawanya ke Rimo. Setelah selesai urusan di Rimo, segera melaju ke Nusa Dua, kembali lembur di STPNDB mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan untuk melengkapi jumlah total angka yang disetujui para Profesor ini.

Hari Minggu, 28 Juli malam hari, setelah lembur hingga pk 21.30 malam hari di STPNDB, aku dan ibu IGA Mirah mampir ke rumah ketua STPNDB, membawa berkas yang harus ditandatangani beliau berkaitan dengan lembaran legalisasi bagi DP 3 kami. Hmmmm, sungguh tidak enak rasanya, bertamu ke rumah orang di malam hari. Namun bagaimana lagi, berkas ini kami butuhkan segera, sebelum dikirim ke Jakarta pada hari Senin, 29 Juli ini. Dan, bukankan ini resiko jadi pejabat penting ? Hidupnya menjadi milik orang banyak......



Juli 2013, kembali dengan sepenuh semangat aku beranjak di pagi hari ke kapus pascasarjana UNUD di jalan Sudirman, demi mengambil berkas legalisir fotokopi ijasah dan transkrip nilaiku. Kutemui ibu Ni Luh Putu Citrawati, SE., M.Si, yang juga melakukan legalisir ijasah.

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar