Selasa, 06 Agustus 2013

Dan.... Bapak tua itu menghilang begitu saja dari hadapanku, Minggu, 28 Juli 2013



Sesuatu banget setelah menghantar Ibu Dra. I Gusti Ayu Mirah Darmayanty, M.Si., di malam hari..... Setelah bermalam-malam lembur selama dua minggu demi kepengurusan DUPAK yang kami perjuangkan bersama, hari ini, Minggu 28 Juli 2013, waktu menunjukkan pukul 21.00, berarti sudah pukul 9 malam hari. Bu IGA Mirah sudah semenjak pukul 7 pagi berangkat dari Denpasar dengan menumpang bis Sarbagita, jurusan GWK, menanti lama disana sebelum berjumpa bis pengumpan yang melewati kampus kami, STPNDB. Berarti beliau telah seharian berada di ruang prodi ADH demi menuntaskan kerapihan berkas-berkas yang diperlukan.

Lelah setelah seharian berkonsentrasi dengan data dan angka, kami merapikan seluruh berkas yang masih berserakan di atas ketiga meja kerja di ruang Program Studi Administrasi Perhotelan. Tanpa sengaja kutumpahkan segelas air hingga mengalir dengan cepat di lantai, sedang berkas penting milikku kutumpuk di lantai. Dengan cepat, ibu Luh Nyoman Tri Ariani, S.Sos., M.Si., yang ikut lembur bersama kami mengambil berkas kertas tak terpakai, meletakkan di lantai agar menyerap air, sedangkan aku mengangkat berkas file yang hampir basah.

Setelah tuntas, kami mematikan lampu ruang kantor tersebut. Pulangkah aku?? Belum.... Bersama Ibu IGA Mirah, aku menyusuri jalan raya Nusa Dua - Denpasar, Jalan Raya Gelogor Carik, menuju ke rumah Ketua STPNDB. Masih ada beberapa berkas yang membutuhkan tandatangan Ketua STPNDB, padahal berkas akan dikirim ke Jakarta keesokan hari. Seperti berkas legalisasi surat ijin belajarku menempuh pendidikan di program pascasarjana S2 UNUD yang lalu, berkas legalisasi SK penugasan kembali mengajar setelah menempuh pendidikan program pascasarjana S2 yang lalu.

Pukul 10 di malam hari, mobil pak ketua tidak ada, lampu teras sudah gelap, kuajak bu IGA Mirah untuk berlalu pergi, namun beliau tidak ingin menyerah, dan mulai memanggil sang pemilik rumah..... Setelah berteriak menyapa berkali, keluarlah seorang remaja puteri, anak sang bapak ketua. Dia menyampaikan bahwa bapaknya pergi dan belum kembali dari rangkaian kegiatan bersama ibu menteri. Andai ini siang hari, tentu bisa terlihat jelas wajahku yg seperti kepiting rebus memerah karena malu sudah bertandang di malam hari. Namun musti gimana lagi, bukankah, resiko menjadi pimpinan adalah hidupnya menjadi milik banyak orang dan wajib mempertimbangkan kesejahteraan orang banyak pula.... Dan, segera kami angsurkan berkas-berkas yang dimohonkan untuk ditandatangani.

Setelah berpamitan, segera kami kembali meluncur, kuhantarkan ibu IGA Mirah ke rumahnya, yang terletak di daerah Kreneng. Kemudian baru aku beranjak pulang. Menyusuri jalan raya, masih sempat kuterima telepon anaknda tercinta...... "Ma, beli in Yudha dan bapak, nasi kuning ya?", dheuuh, rayuan anak2ku..... dimana harus kucari nasi kuning di malam hari begini???

Berpikir berkali, kusempatkan mampir di minimarket dekat rumah. Di minimarket di sebelah Mahavihara ini, kubeli beberapa es krim batangan bagi anak dan suami, dan beranjak menuju ke arah kasir. Seorang bapak tua renta, tanpa beralas kaki, dengan baju lusuh, dan dengan langkah kaki terseret, masuk dan bertanya pada sang kasir, letak tempat permen..... Dia ingin beli permen untuk bekal makanan ringan sambil mencari air, istilah bagi para petani yang ingin mengairi sawahnya di malam hari. Kulihat, dia hanya memegang uang selembar, Rp 2.000 an. Dheeuuhh.....

Aku bukan orang kaya, namun tak tega ku melihatnya. Maka, kuhampiri dia, kuajak berjalan ke arah deretan permen, kuambil tiga pak permen, dan kuangsurkan kedalam genggaman tangannya. Dia mengangsurkan uang dua ribu an miliknya. Kutolak, dan kuminta dia langsung keluar dari minimarket tersebut..... "Jangan dihabiskan sekaligus ya, kasih juga anak dan cucu", ujarku padanya. Kemudian kubayar barang-barang yang kubeli bagi anak dan suami. 

Begitu aku berpaling keluar, si bapak tua renta, berpakaian lusuh tersebut sudah tidak ada. Aku bergegas berjalan ke arah jalan raya, melihat sepanjang jalan sepi di malam hari tersebut, tak ada siapa pun. Hmmm, waktu menunjukkan sudah pukul 22.30 malam, sudah jelang tengah malam. Tak mungkin secepat itu sang bapak tua berjalan. Sawah??? Ahhh, tak ada sawah di dekat situ, dia harus berjalan agak jauh, sebelum ada jalan tembus ke arah persawahan.

Entahlah..... si Bapak menghilang begitu cepat, dia menghilang dari hadapanku..... Aku cuma berpikir, entah siapa pun dia, bila kita tidak mengganggu, tidak memiliki niat jahat, biar sajalah segala sesuatu berjalan apa adanya, meski terkadang tidak bisa diterima oleh logika kita..... Hmmm, sesuatu banget di malam hari yang kualami hari ini, Minggu 28 Juli 2013.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar