Minggu, 18 Agustus 2013

dari melaspas hingga ngotonin demi keluarga, 10 - 11 Agustus 2013




Tanggal 10 Agustus 2013, hari raya Saraswati bagi umat Hindu. Hari ini adalah simbol dewi pengetahuan, dimana kita menghargai Tuhan yang hadir dalam manifestasi sang dewi kebijakan dan kebajikan, agar umat manusia berkembang semakin dewasa dan bijak dalam bertindak.

Sedari pagi telah kutuntaskan persembahyangan di rumah. Anak-anakku berangkat bersembahyang Saraswati di sekolah masing-masing. Adi baru pulang dari mekemit di pura Niti Bhuwana kampus STPNDB, dan nanti sore bakal kembali kesana. Yudha berangkat sekolah pagi-pagi. Suami ku masih sakit radang tenggorokan, batuk berdahak. Mereka berbekal banten Saraswati yang telah kupersiapkan.

Setelah tuntas urusan di rumah, aku berangkat menuju Nusa Dua dengan motor tercinta. Bersembahyang bersama rekan-rekan para pegawai Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, juga anggota keluarga mereka.

Rangkaian upacara tuntas pukul 13.30. Aku segera berpamit menuju ke Sesetan, Pulau Moyo VI. Ada rangkaian upacara melaspas rumah keponakanku di sana, dan keluarga dari kampung, Asah badung, Buleleng, ikut hadir juga.
















Well...... keluarga, takkan pernah dapat tergantikan dan hilang dihapus dari ingatan, meski berada jauh entah dimana. Tidak pernah ada mantan saudara atau mantan keluarga. Maka, meski agak lelah, aku berusaha mewakili keluarga kecilku untuk datang, menghormati mereka semua.




Pukul 17.30, rangkaian kegiatan di Sesetan ini tuntas. Rombongan dari Asah badung, desa Sepang Kelod, Buleleng, kembali ke Buleleng. Mangku lanang dan istri bersama mobil pick up berisi banten melaspas. Rombongan lain bersama dengan mobil penumpang berkapasitas 15 orang. Turut pula bergabung, ponakanku, Nengah Mulyawan beserta keluarga, yang baru tiba kemarin malam, dari Pontianak, dan akan melangsungkan upacara otonan putri bungsu mereka di kampung halaman, pada hari Senin 12 Agustus 2013, bertepatan dengan hari raya Soma Ribek, dan juga odalan di Pura Subak.



Keesokan harinya, Minggu, 11 Agustus 2013, aku kembali bergerak ke Singaraja. Mengendarai motor sendirian, kutinggalkan keluarga kecilku di Denpasar. Bila panggilan datang, sedang suami dalam kondisi sakit, anakku masih lelah setelah rangkaian hari raya Saraswati kemarin, maka, harus tentukan skala prioritas dan melakukan kerja sama. Tidak perlu egois dan merasa gengsi, sang istri bisa mengambil alih peran sebagai kepala keluarga untuk sementara.




Dua jam dengan kecepatan tinggi di jalan raya menempuh jarak Denpasar - Singaraja, kampung halaman, dengan kondisi jalan hancur lebur. Aku tiba di babakan Asah Badung. Mampir di tempat keponakanku, Wayan Karyawan, istri nya Ketut Miasti, dan anak mereka yang kelas enam SD, Putu Dita. Mereka sedang membangun rumah. Belajar mandiri dari sekarang, tinggal terpisah dari orang tua, aku salut. Berat sungguh, namun ini akan membuktikan kebijakan dan kedewasaan mereka dalam menentukan sikap ke depannya.
















Kuingatkan pula kepada mereka, bahwa, apapun, siapapun, kapan dan dimana, serta, entah dengan cara bagaimana.... tetap harus menanamkan dalam diri mereka, untuk menghargai para leluhur, orangtua, dan lingkungan sosial dimana mereka berada. Mengunjungi para saudara dan sanak keluarga secara rutin, saling mendukung sebagai keluarga utuh, dengan segala kekurangan dan kelebihan satu sama lain.

Berikutnya, aku kembali bergerak ke Pangkung Singsing, rumah tua kami. Disini akan dilangsungkan upacara otonan putri bungsu dari keponakanku, Nengah Mulyawan. Para iparku sudah berkumpul membantu upacara yang bakal berlangsung. Segera aku bergabung dengan mereka.























Bli Ketut Carma yang membantu melaksanakan proses memasak babi guling, hingga mbok Ketut Sukati  dan mbok Wayan Nuka yang membantu menyusun banten otonan. Ada pula Meme Nyoman Tamas, bersama kami menuntaskan banten ini.






Dari banten sesaudan, hingga taman sari, yang melambangkan aneka ragam aspek kehidupan yang bakal melingkupi sang anak....



































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar