Rabu, 07 Agustus 2013

Pulkam ke Sepang, karena keluarga adalah segalanya, 7 Agustus 2013




Rabu, 7 Agustus 2013. Setelah dua hari berturut tertunda untuk pulang ke kampung Sepang, akhirnya kami jadi juga berangkat ke barat. Hanya Aku bersama si Ayu, sang cucu. Kami mengendarai motor astrea honda keluaran tahun 1993. Perlahan mengarah ke jalan raya Denpasar - Gilimanuk, berbelok ke hutan Yeh Leh Yeh Lebah, Bading Kayu.

Jalanan rusak, berkerikil lepas, dan sedang dalam proses perbaikan, sepanjang menuju ke Sepang Kelod. Sengaja aku tetap menyusuri jalan ini, dan bukan memilih jalur alternatif ke arah Bujak, dengan alasan kami bisa menghemat satu jam perjalanan berkendara.





Akhirnya tiba pukul 12.00 di Pangkung Singsing, sisin pangkung di dusun Asah Badung, Desa Sepang Kelod, Kecamatan Sepang, Kabupaten Buleleng tersebut. Disapa tatapan hangat para saudara, para ipar, simbok Kaja, yang rumahnya terletak di Kaja / Utara, Mbok Ketut Ngempi, simbok Kauh, yang rumahnya terletak di Kauh / Barat, dan Kadek, ponakan ku.










Simbok Kauh kulihat sedang membuat kulit sesayut untuk dipergunakan dalam rangkaian bebantenan, sedang simbok Kaja kulihat sedang membungkus tape ke dalam kantong plastik berukuran kecil. Aku segera bergabung dengan mereka untuk ikut segera menuntaskan pekerjaan ini.









Berkumpul bersama keluarga besar, kami sedang bersiap menghadapi rangkaian kegiatan mecaru / melaspas rumah ponakan yang di Denpasar, dan juga maotonan cucu yang akan tiba dari Kalimantan. Rangkaian banten yang sedang kami persiapkan, rentetan upacara yang bakal berjalan, dikaji ulang berkali, dan dirangkai bersama.
Aku diminta membawa pejati ke rumah Mangku Guru Kain, untuk ngewacakang cucuku, anak dari Nengah Pondal yang Polisi, dan akan tiba dari Kalimantan Barat hari Sabtu malam, tanggal 10 Agustus 2013. Maka, kugandeng simbok Kaja, Mbok Ktut Sukati, dengan pejati terselaput kain, kami naik motor bersama.
Setelah menunggu lumayan lama, karena sang mangku sedang tidak berada di tempat, akhirnya beliau tiba, dan kami beroleh hasil ngewacakang...... "Sane numadi ring Soma Ribek, Sesayut pis bolong 400, beras selem 4 kontong. Nasi selem mecacahan, siap selem mepanggang, mebase embe, mica lan jinten. Sarwa papat, taluh papat, bungan selem papat, bebuahan papat. Penyeneng lan sampian nagasari".
Ngewacakang.....
Adalah sebuah istilah dalam budaya masyarakat Bali yang ingin tahu mengenai latar belakang kepribadian dan kejadian, dengan bertanya kepada orang yang dianggap mampu "membaca / ngewaca".
Ngewacakang adalah sebuah proses atau langkah kita untuk menemui seseorang yang dianggap mumpuni atau ahli, menurut http://idabaguspramana.blogspot.com/2013/04/tugas-kompilasi-pemikirankomunikasi.html seorang yang mempunyai wewenang secara niskala membuka sabda rahasia manusia dengan prakerti ( sifat bawaan), orang yang lahir pada hari tertentu, bagaimana perawakannya, bagaimana sifat-sifatnya, bagaimana rejekinya, sakit apa saja yang akan menimpanya, siapa bhuta kala yang bertugas menagih hutang secara niskala, jika melakukan " Pengelukatan Penebasan Oton ( bayuh Oton ), mantram apa yang dipakai dalam pengelukatan, berapa kali harus melukat penebasan oton dalam hidupnya, 1 kali, 2 kali , 3 kali dsb.
Mantramnya adalah sebagai berikut : “Ong Hyang Widhi, Hyang Yamadipati ngulun minta waranugraha, wenang ngewacakang indik pawetuan manusa lan pekerti kabeh, sane kesejatiannya kapingit olih Dewata kabeh, tan keneng aku raja pinulah, luputa ngulun ring sekancan pastu kutuk, kapedrawwa dewa muang Pitara”.  Bersama dengan ini, Oh Tuhan Yang Maha Kuasa, kami semua memohon berkahMu, ingin mengetahui sesungguhnya makna yang ada dibalik kelahiran seseorang ini, agar tidak kena pinulah, luput dari segala kutuk, dan diberi pencerahan oleh para leluhur........

Ngewacakang..... bagian dari Indigenous Wisdom, Genius Local Wisdom, yang menjaga hubungan kekerabatan dan persahabatan agar tetap terjalin harmonis di era globalisasi ini...... Bisa kubayangkan, bila masing-masing individu bersifat egois, mengutamakan keinginan sendiri, tidak lagi saling memperhatikan dan mengabaikan leluhur, bertemu hanya sebatas perlu saja, tanpa kualitas interaksi dengan sesama.... Aku mungkin bukan seorang pakar budaya, bukan pula seorang yang suci atau sakti mandraguna... namun dengan terlibat, meski kecil, dalam tindakan nyata nan positif, berkaitan dengan budaya, entah ritual atau agama, entah tataran utama atau ning nista sekalipun... smoga hatiku shantih, ujarku shantih, lakuku shantih...
Tuntas tugasku ngewacakang.... bersama simbok, kami kembali ke Pangkung Singsing, berkumpul bersama keluarga besar, dan kembali saling bertukar ceritera bersama.... sebelum aku berpamit kembali ke Denpasar bersama Ayu pukul 6 sore hari, kembali menerobos jalanan berbatu, berkerikil, menembus bukit dan nganai, juga hutan, dan raya gilimanuk - denpasar.... tiba pukul 9 malam di pondok tercinta.
















































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar