Kamis, 06 Juni 2013

Menarilah dan terus tertawa, Meski dunia tak seindah surga......



Putu Ugi Narendra,  adalah putra pertama dari Ibu Luh Nyoman Tri Ariani, S.Sos., M.Si. Ugiek, demikian kami biasa memanggilnya, terlahir 24 Agustus dan menikah dengan seorang gadis cantik, Dewi Maharani, bulan Mei 2012 lalu.



"Cepet sehat yo Kiting", seru teman-temannya selama masa kritis yang dilalui ugik. Dia terserang penyakit kanker kelenjar getah bening berdasar hasil diagnosa dokter pada pertengahan tahun 2012.



Sahabatnya yg lain, Taufik Hidayat, menyampaikan doa dari 90 an temannya se angkatan di STAN dahulu.... "For my bro Ugik Narendra, kita gak akan pernah tahu apa yg tuhan rencanakan buat kita.., tp pliss.., keep fight..., tetep berjuang bro.., kami 90 org angkatanmu senantiasa berdoa untuk kesembuhanmu, please..., demi kami, demi keluargamu.., jangan pernah sekalipun berpikiran untuk menyerah....!!!!!"



Seberapa dalam makna Ugik bagi para sahabatnya adalah salah satu pendapat yang dilontarkan seorang sahabatnya, Yun Margaheni, "Biz baca2 email jadul...,trnyata org yg slalu mnemani n berbagi saat ak paling trpuruk krn 'cinta buta' adl dirimuuu Ugik Narendra...



Dengan nada sedih dan pasrah, istri tercintanya memohon doa di larut malam, 5 Juni 2013.... "Mohon doa para sahabat Keluarga ....dan semua umat, untuk kesembuhan suami saya yang sedang berjuang melawan kankernya .... aku merindukanmu .... tetap berjuang my love ....."



Namun Tuhan memiliki rencana indah baginya, bagi Ugik Narendra, bagi seluruh keluarga besar, bagi para sahabat yang ditinggalkan. Beliau memanggilnya untuk bersatu dengan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pukul 8 pagi, Kamis, 6 Juni 2013, Putu Ugi Narendra meninggal di rumah sakit Sanglah, setelah berkali rangkaian chemotherapy yg menyakitkan yang harus dijalani...... berkali berpindah rumah sakit  di kala sesak nafas kumat sementara ruang ICU di tiap rumah sakit terbatas...... Ahhh, tubuh tangguh nan tegar itu kini tinggal tulang terselaput kering, dengan semangat menyala berkibar di matanya kala kupandang. Amor ring acintya, Ugik tersayang. Doa kami semoa akan menghantar mu dalam damai Tuhan.

Tak terbayang sedih yang mendera ibu Tri Ariani..... dia sahabatku sekaligus rekan satu kantor di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Bedanya, aku masuk dalam jajaran dosen Program Studi Administrasi Perhotelan, dia pada Program Studi Manajemen Divisi Kamar. Kehilangan putra tercinta, meski telah melakukan banyak upaya, dari usaha secara sekala dan niskala, meski menangis darah ditempa banyak masalah, dia masih mencoba untuk tegar dan selalu menebar senyum.....



Berpuluh tahun kami bersama, aku dan bu Tri, juga beberapa dosen STPNDB lain, bahkan menempuh program pendidikan master pada Program Pascasarjana Universitas Udayana, tahun 2006 - 2008 lalu. Betapa..... perempuan ini sungguh tabah jalani setiap ujian dan tantangan yang terkadang bikin trenyuh dan denyut emosi bisa memuncak....

Tetaplah tegar dan tabah, bu Tri...... Meski hidup terkadang tidak seindah surga, tersenyum lah, dan teruslah melangkah...... Doa kami bagimu jua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar