Selasa, 18 Juni 2013

The Holy Journey, Stairways to Heaven with World Hindu Summit Yatra 2013




Hari kelima, hari terakhir The World Hindu Summit 2013, Senin 17 Juni 2013.




Hari ini delegasi The World Hindu Summit 2013  akan mengikuti agenda kegiatan berupa Yatra, perjalanan suci, ke beberapa tempat yang telah direncanakan oleh panitia. Rencana semula adalah robongan akan berangkat menuju ke Pura Gowa Lawah untuk mengadakan persembahyangan bersama, kemudian mengunjungi Museum Kerta Gosa, dan menikmati makan siang disana, sebelum akhirnya ditutup dengan persembahyangan bersama dan juga pesta perpisahan di Pura Taman Ayun.



Yatra direncanakan berawal dari Inna Bali Beach Hotel pukul 8.00.Sesuai dengan yang telah diumumkan oleh master of ceremony berkali kemarin, di ruang Ksirarnawa. Namun kemudian mundur menjadi pukul 10.00. Dan tidak semua peserta bisa ikut serta, karena ada beberapa yang telah kembali ke negaranya, atau melangsungkan kegiatan lain, seperti Ibu Dr. Mabel Scaroni Fisher & bapak Dr. David Fisher, si pakar bioekologi yang akan berbicara di depan forum Ekologi & Lingkungan, di Denpasar.






Kusempatkan mengambil foto para delegasi The World Hindu Summit 2013, yang berencana ikut dalam Yatra kali ini. Ibu IGA Puspasari, yang merupakan adik kandung dari bapak Prof. Dr. IGA Suryadarma, seniorku waktu menempuh pendidikan di UGM dahulu, sekaligus kakak kandung dari penari legendaris, IGA Panji Tisna.




Ibu Dr. Mabel Scaroni Fisher & bapak Dr. David Fisher, si pakar bioekologi yang akan berbicara di depan forum Ekologi & Lingkungan, di Denpasar, sehingga tidak bisa bergabung dengan rencana Yatra.




Kusempatkan pula berfoto bersama pensiunan Mayor Jenderal di India, bapak Kulwant Singh. Sungguh tampan sekali dia mengenakan sorban putih tersebut. Penampilannya kalem dan sangat berhati-hati dalam berbicara.



























Rencana rombongan delegasi untuk bergerak menuju ke Pura Gowa Lawah, berubah menjadi menuju ke Ashram Brahma Khumaris yang terletak di jalan Gatot Subroto, sekaligus untuk melihat Pameran Lingga Yoni yang ada di sana. Rombongan yang terdiri dari lima bis, lima mobil pribadi di kawal oleh mobil polisi. Dan kami diterima oleh Sister Janaki bersama anggota ashram lainnya.













Sungguh, sebuah nuansa penuh ketenangan yang kami lihat. Kami disambut sepenuh keramahan, disapa, dan ditandai dengan olesan dari ramuan rempah di kening, sebelum memasuki area ashram. Dengan melepas alas kaki, kami memasuki ruang pameran yang terdiri dari deretan lingga dan yoni.

















Pada masing-masing penempatan lingga dan yoni, disertai dengan keterangan berasal dari pura manakah lingga dan yoni tersebut. Meski pada pintu masuk ke dalam ruang pameran tertera permohonan bagi para pengunjung untuk tidak membawa kamera dan mengambil foto, namun pada saat kunjungan delegasi World Hindu Summit 2013, kami diperkenankan membawa kamera dan melakukan pengambilan foto.




























Pukul 11.00 tiba di Ashram jalan Gatsu tersebut, kami berada hingga pukul 12.00, dan kembali bergerak menuju Klungkung, Pura Gowa Lawah.Namun laju kendaraan rombongan World Hindu Summit 2013 terhenti di jalan raya, 2 km lagi dari pura Gowa Lawah.


Kemacetan parah karena adanya prosesi meajar-ajar, bertepatan dengan pelaksanaan upacara keagamaan. Lalu, bagaimana kemudian ? Sebagian besar rombongan turun melanjutkan perjalanan 2 km dengan berjalan kaki menuju pura.













































Dan... ada anak yang digendong oleh oleh orangtuanya untuk menempuh perjalanan, ada yang berjalan sesuai dengan kemampuan, perlahan dan sambil menikmati pemandangan.


Dua kilometer berjalan kaki, sungguh sebuah pengalaman tidak terlupakan. Para Swami ji, para maharaj, para tokoh spiritual, para pemuda Hindu, para lansia, para pinandita, bahkan menikmati kebersamaan di antara kami, diantara deru dan debu jalan beterbangan, beragam kendaraan yang memenuhi jalan raya, jalanan rerumputan yang becek karena habis turun hujan di pagi hari. Sungguh, sebuah wujud nyata dari Tri Hita Karana, Desa - Kala - Patra..... memperlihatkan kemampuan dan kemauan para tokoh spiritualis terkemuka ini, berbaur dengan masyarakat, dimana mereka berada, kesungguhan dalam beradaptasi tanpa tuntutan ekslusif bagi diri mereka.

45 menit berjalan kaki bersama, kami tiba di bale jaba Pura Gowa Lawah. Kami disambut jajaran dan jejeran pemda Kabupaten Klungkung, pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia cab. Klungkung. 

Setelah menikmati kopi dan teh serta beragam kue yang tersaji, kami melanjutkan dengan persembahyangan bersama di dalam Pura Gowa Lawah.

















Aroma wangi dupa yang menyeruak ke udara, canangsari dan kwangen dalam bokor kecil tertata di hadapan kami, dan mantram penghantar doa yang terujar, sungguh membuat sanubari tersentuh untuk selalu memuja dan memuji Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa...... Tanpa terasa, air mata bergulir perlahan.






Para Swami ji, para maharaj, para tokoh spiritual, para pemuda Hindu, para lansia, para pinandita, tua dan muda, perempuan dan lelaki, bersimpuh bersama di hadapan Beliau, menghaturkan panca sembah, dan kemudian memperoleh berkah dalam perlambang tirta suci dan bija dari para pemangku Pura Gowa Lawah......

Selesai persembahyangan, kami menyempatkan diri dengan berfoto bersama. Kemudian sejenak menikmati pemandangan areal pura.












Pukul 13.30 kami melanjutkan dengan makan siang bersama, menikmati hidangan yang tersedia di bale pertemuan di jaba pura.



Pukul 14.30 kembali rombongan bergerak. Kali ini kami bergerak menuju Penglipuran, sebuah desa unik yang mempertahankan situasi dan kondisi di kampung mereka, dengan menggunakan angkul-angkul / pintu masuk gerbang ke dalam rumah, dan jalan setapak yg indah di lingkungan desa.














Tiba pukul 15.30 di desa Penglipuran, kami berjalan bersama mengikuti panduan dari para pemandu kami. Ku ambil arah menuju ke kanan, ke Pura Desa Penglipuran, dengan jalan setapak di pedesaan tersebut. 
















Para delegasi The World Hindu Summit 2013 peserta Yatra asyik menikmati perbincangan dengan para penduduk desa Penglipuran, mengenai beragam situasi dan kondisi yang berkaitan dengan desa mereka. Juga dibantu oleh pemandu, bapak Ida Bagus Adnyana.





Sempat pula kutemui bapak I Wayan Mertha, SE., M.Si., rekan satu kantor yang ikut aktif dalam pengembangan desa wisata Penglipuran ini. Dia sedang melakukan kunjungan dinas bersama beberapa pejabat instansi terkait. Kami bersama-sama sedang menempuh pendidikan program Doktoral, di Universitas Udayana.

Hingga pukul 16.00 berada di Desa Penglipuran, kami berpamitan pada para penduduk desa.





Berikutnya kembali delegasi The World Hindu Summit 2013 peserta Yatra bergerak menuju ke Taman Ayun Temple, untuk mengikuti persembahyangan dan pesta perpisahan.

Sepanjang perjalanan menuju ke Pura Taman Ayun, kami kembali diguyur hujan deras. Hingga akhirnya tiba di pelataran parkir.



















Hujan lebat yang menyambut kami sungguh indah menyirami sekujur tubuh, seolah Tuhan merestui rangkaian World Hindu Summit 2013 yang telah berjalan.







































Sebuah contoh sederhana, betapa delegasi dari berbagai negara peserta The World Hindu Summit 2013 menerapkan Desa, Kala, Patra, dan Tri Hita Karana, adalah, mereka mengikuti prosesi keagamaan yang ada, agama Hindu, dengan turut bersila atau bersimpuh, mencakupkan tangan, melantunkan mantram, dan melakukan Panca Sembah, lalu mendapatkan percikan tirta suci dari para pemangku Pura bersangkutan, dan kemudian memperoleh bija yang terbuat dari beras.....


































Hmmm, smoga damai selalu ada, dan hanya shantih yang tersisa, di bumi dan di hati tiap insani...... Sampai jumpa pada World Hindu Summit 2014 yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar