Sabtu, 14 Mei 2011

Managing Future Business of Bali, APM DIV ADH C/8


Sabtu, 14 Mei 2011. Kampus STPNDB meriah di hari libur. Hari ini adalah pelaksanaan program Aplikasi Manajemen Mahasiswa Program Studi Administrasi Perhotelan C semester 8. Topik yang mereka pilih adalah Managing Future Business of Bali. Pembicara yang mereka pilih adalah Putu Putrayasa dan Mr. Joger. APM ini di gawangi oleh Brilly Zaki sebagai manajer yang mereka pilih.


Program Aplikasi Manajemen yang mereka lakukan telah melalui serangkaian tahap, mulai dari upaya pengumpulan dana melalui bazaar yang mereka lakukan pada semester empat, upaya menggebu-gebu diskusi dan komunikasi berkali2 semenjak bulan Februari dengan para Ketua Program Studi, baik KPS Administrasi Perhotelan, KPS Manajemen Tata Boga, dan KPS Manajemen Tata Hidangan. Hingga proses pengajuan proposal kegiatan, presentasi di depan para pejabat dan dosen pembimbing. Ya, karena dengan program Aplikasi Manajemen, mereka belajar mengenai bagaimana sesungguhnya sebuah kegiatan berjalan, dengan standar norma dan pakem yang berlaku, dengan perencanaan maksimal, dan proses evaluasi di setiap lini, sehingga konflik dan hal negatif lain bisa di antisipasi atau di eliminir, bahkan sejak dini. Juga karena Program Aplikasi Manajemen membawa nama baik kelas mereka, nama baik lembaga, melibatkan berbagai pihak, baik internal lembaga, maupun eksternal lembaga.

Benar, pelaksanaan kegiatan tidak akan sukses jika hanya berjalan sendiri, tanpa melibatkan banyak pihak. Maka, sebuah planning yang tepat dan teliti sungguh diperlukan. Tidak hanya mau dan kemampuan seorang Manajer handal, namun ada banyak orang sukses dibelakang layar. Ada rekan-rekan se kelas, ada keterlibatan kelas-kelas lain, baik sesama semester 8 atau para adik kelas mereka, Administrasi Perhotelan, Program Studi lain, seperti Manajemen Tata Boga, Manajemen Kantor Depan, Manajemen Konvensi Hotel, Manajemen Tata Hidangan, Kelas Sore, yang juga telah membeli tiket mereka dengan menyisihkan sebagian uang saku. Ada berbagai pihak yang menjadi sponsor bagi kegiatan mereka, para alumni STPNDB, berbagai pihak manajemen Hotel dan Restoran yang telah mereka undang, juga instansi lainnya.

Mulai dari keterlibatan berbagai pihak internal lembaga sendiri, seperti Maintenance, Rumah Tangga, Security, Hotel Kampus, berbagai Program Studi, pihak manajemen, dosen dan pegawai. Hingga pihak eksternal di luar kampus, seperti orang tua murid yang mungkin akan dimintai pemahaman mengenai kesibukan sang anak karena mengurus kegiatan ini dalam hal waktu, biaya dan tenaga yang tercurahkan, berbagai pihak sponsor yang memberikan sumbangan dalam berbagai bentuknya, pengurusan ijin kegiatan, pembicara, penyiapan transportasi, pengurusan tiket, perlengkapan dan lain sebagainya.

Maka, hari-hari bahkan terasa berlalu begitu cepat. Penyebaran pamflet, promosi, pangsa pasar dan penjualan tiket, pemasangan spanduk, konfirmasi kehadiran, materi seminar, persiapan seminar kit, penataan ruang yang masih perawan, kursi, sound system, susunan acara, juga para mahasiswa yang bertugas pada berbagai seksi dan di berbagai lini. Pergerakan dari satu rapat ke rapat lain, dari satu lokasi ke lokasi lain, dari satu kondisi ke kondisi lain, sungguh menyita waktu, biaya juga tenaga mereka. Berkali, benturan emosi nyaris tidak terelakkan. Toh, satu hal yang patut disyukuri seluruh panitia adalah seluruh 400 tiket terjual habis, dengan berbagai cara dan jalan yang dilakukan oleh mereka demi keberhasilan ini.

Dan... inilah hari dimana segalanya sungguh diuji untuk berjalan lancar sesuai rencana. Pagi hari yang cerah. Pukul 8 pagi. Pak Dewa Sujatha dan Pak Gusti Ngurah Budiasa menyapa para peserta seminar di anak tangga Gedung Widyatula MICE. Pukul 9.45 para peserta seminar dihibur oleh Semar Band (maaf klo saya salah nulis ya?). Tepat pukul 10, Pak Putu Putrayasa mengawali aktivitas di depan peserta, dengan moderator bapak Lukman Hakim.

Putu Putrayasa adalah seorang pembelajar autodidak sejati, praktisi Sales and Marketing, Public Speaking, Business Coach, Leadership, Motivator, Penulis buku dan Entreprenuer sejak usia masih belasan tahun. Di usia 25 tahun, ia telah mendirikan dan memimpin belasan perusahaan computer retail. Di usia yang masih sangat muda juga, ia telah mendirikan sekaligus memimpin Perguruan Tinggi. Ekspansi bisnis yang luar biasa cepat itu, harus dibayarnya dengan lima macam penyakit yang bersarang ditubuhnya, karena beban hutang lebih dari 3,5 milyar.

Karena kebutuhannya terhadap produk kesehatan, akhirnya ia bergabung dengan sebuah perusahaan Network Marketing, sambil tetap memimpin revitalisasi bisnisnya. Dalam perjalanannya meraih sukses itulah ia merasakan bahwa sukses bukan hanya uang. Hasil risetnya ia tuangkan dalam buku pertamanya “Kaya dan Bahagia Modal Ngobrol”. Buku best seller yang di bulan pertama 3000 eksemplar langsung habis terjual. Sekarang aktifitasnya sebagai motivator dan business coach, berkeliling ke berbagai kota di Indonesia untuk melatih SDM di group bisnisnya yang bergerak di bidang kesehatan, pendidikan dan IT.


Hmmm, sungguh sebuah perjuangan yang tidak mudah menggapai sukses bagi tamatan Teknik Sipil UGM ini. Salut terdalam bagimu, Pak.

Namun, satu hal yang harus diantisipasi dan diperhatikan panitia lain kali adalah, pukul 13,15 adalah terlalu siang bagi sebagian orang, terlebih, bagi yang tidak sempat sarapan pagi. Bahkan, saya harus terbirit2 melarikan diri sejenak ke warung terdekat untuk mencari makan, karena dari kemarin malam belum makan. Ada baiknya mereka menambahkan snack dalam barang yang diberikan pada para peserta. Atau mungkin, mereka sebenarnya bisa menambahkan roti dalam daftar dagangan mereka untuk meningkatkan keuntungan penjualan. Juga mike yang sering ngadat, dan sound system yang mendadak diluar kendali, besar dan kecil mendadak volumenya. Pengaturan cahaya tatkala fokus peserta seminar diharapkan pada layar tancep. Antisipasi tempat sampah pada gedung yang masih perawan ini, khususnya di toilet.


Setelah istirahat makan siang, kami melanjutkan Seminar dengan pembicara Pak Joger.

Mr. Joger atau Pak Joger bernama Joseph Theodorus Wulianadi. Joger memiliki salam khas Selamat Pagi, tidak peduli apakah hari sudah siang atau malam. Nama Joger sendiri merupakan singkatan dari namanya, Joseph dan Gerhard Seeger. Gerhard adalah teman sekolahnya ketika di Jerman yang memberi US 20.000 sebagai hadiah pernikahannya.
http://www.jualanbuku.com/2009/02/01/kisah-sukses-brand-joger/

Usaha Mr Joger dimulai dengan modal 500ribu pada bulan Juli 1980. Beliau mulai merangkai kata-kata sendiri, disablonkan kepada orang lain, memasarkan sendiri door to door, gedor-gedor rumah orang dan hasilnya sekarang pembeli yang harus ngantri di Joger. Produk yang paling pertama ia hasilkan adalah kaos. Kaos itu dibuat dengan kata-kata, “Belanja tidak belanja tetap thank you”. Waktu itu masih menggunakan desain manual.

Menurut cerita Mr. Joger, 19 januari 1981 usahanya mulai menanjak. Ini ditandai dengan membuka toko di Jalan Sulawesi 37, Denpasar dengan nama Art & Batik Shop Joger. Kemudian selanjutnya Tahun 1983 membuka toko lain di jalan yang sama. Terakhir tahun 1986, Mr. Joger membuka toko di Jalan Raya Kuta hingga saat ini. Namun Mr Joger malah ‘bertobat’ dan membatalkan niatnya untuk menjadi konglomerat. Dua toko di Jalan Sulawesi akhirnya ditutup Mr. Joger pada Tahun 1987 walaupun secara materi menguntungkan. Walaupun demikian saat ini sedang dibangun pusat Joger lainnya di daerah Baturiti, Tabanan Bali. Ini semata-mata karena toko Joger di jalan raya Kuta sudah terlalu sempit untuk menampung ribuan pengunjung tiap harinya.

Konsistensi Joger untuk mempertahankan Brand Joger di pulau Bali juga mampu mempertahankan hidup brand dan keaslian brand tersebut. Joger tidak bisa dibeli di luar pulau Bali, sehingga jika orang menggunakan Joger berarti pernah berlibur ke Bali. Kualitas kainnya pun tidak kalah dengan brand luar negeri seperti Billabong dan Quick Silver, namun harga merakyat untuk orang Indonesia.

Sekalipun begitu terkenal dengan limpahan materi yang cukup. Baginya itu tidaklah seberapa. Sukses tidak bisa diukur dari kekayaan materi. “Sukses itu adalah ketika kita bisa merasakan bahagia. Walau kaya dengan materi segunung kalau belum bahagia itu namanya belum sukses. Apalagi miskin dan tidak bahagia,” lontarnya sambil terkekeh.

Cara mengelola usahanya sendiri, Mr Joger mengaku tidak seribet dengan usaha lain. Dia seringkali membuat manajemen berjalan dengan sendirinya. Yang ada adalah pembagian kerja dari masing-masing ‘anggota keluarga’. Karena katanya, setiap orang adalah pemimpin. Mereka tahu tanggung jawabnya dan tahu maju mundurnya perusahaan ada di tangan masing-masing. Usaha Mr Joger ini umumnya dikelola dengan sistem yang bertentangan dengan keumuman usaha. Misalnya dalam setiap produk dari usahanya selalu dibilang jelek. “Joger jelek,” tapi yang seperti ini justru yang disukai pembeli. Dengan strategi pemasaran yang sering bertentangan dengan kelaziman, ternyata karir Mr Joger terus menanjak. Bahkan, hingga kini ia mengaku tidak pernah mengalami kemunduran. ‘Nggak pernah mundur. Malah maju terus,” tandasnya.

Di atas itu semua..... Congrats bagi kalian semua, seluruh panitia program Aplikasi Manajemen DIV Administrasi Perhotelan C semester 8. Ingat, jangan jumawa. Setiap keberhasilan timbul dari usaha dan kerja keras berbagai pihak lain, sekecil apapun itu keterlibatan mereka. Kita adalah satu. Diatas segala derita dan bahagia yang kalian jalani bersama. Kini saatnya waktu, tenaga kalian dicurahkan bagi skripsi. Jangan terlena karena bahagia semata. Perjalanan masihlah panjang dan jauh. Sempatkan bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan Yang Maha Esa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar